BERANDA

Kamis, 23 Maret 2023

SOLUSI CERDAS BAGI GURU UNTUK MENGATASI KESULITAN SISWA DALAM MENULIS PUISI

SOLUSI CERDAS BAGI GURU UNTUK MENGATASI KESULITAN SISWA  DALAM MENULIS PUISI

Tujuan pembelajaran menulis di Sekolah Dasar (SD) diarahkan pada tercapainya kemampuan mengungkapkan pendapat, ide gagasan, pengalaman, informasi pesan, menggunakan ejaan dan memanfaatkan unsur-unsur kebahasaan karya sastra dalam menulis. Pencapaian tujuan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah metode pembelajaran. Metode pembelajaran dapat meningkatkan motivasi siswa dalam menciptakan suasana belajar kolaboratif dan membuat siswa aktif. Salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas siswa adalah metode Discovery – Inquiry. Melalui metode pembelajaran ini diharapkan siswa mampu menulis puisi dengan benar. Metode ini memberikan peluang kepada siswa untuk aktif terlibat langsung dalam proses pembelajaran dengan menemukan sendiri materi yang sedang dipelajarinya. Dengan demikian, pengalaman siswa akan bertambah banyak yang bisa menjadi kosakata dalam menulis puisi. 

Dalam penyajian pembelajaran puisi  anak difungsikan  sebagai media hiburan yang mendidik yang akhirnya akan mengasah empati, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberikan wawasan terkait keterampilan praktis kepada mereka. Dalam hal ini pengenalan menulis puisi  pada  anak sejak dini dapat membantu untuk  membentuk kepribadian anak serta meningkatkan kecerdasan emosinya. 

Pembelajaran dimulai  dengan mengenalkan, pada  peserta didik untuk memahami dasar dari puisi. Perlu dipahami bahwa puisi adalah kata-kata indah yang memiliki banyak makna, bersifat konotatif serta dalam pembuatanya tidak mengikuti kaidah. Suliani (2011:84-85) mengemukakan ”Puisi adalah buah pikiran, perasaan dan pengalaman penyair yang diekspresikan dengan media bahasa yang khas dan unik”. Suliani juga mengemukakan bahwa ”puisi adalah buah pikiran, perasaan dan pengalaman penyair yang diekspresikan dengan media bahasa yang khas dan unik”. Sampaikanlah elemen struktural yang membentuknya, seperti tema, pengimajinasian, rima, irama, dan diksi. Dalam  penyampaian materi harus  diselingi dengan kegiatan pelatihan dalam pelatihan tersebut  peserta didik diminta untuk menulis dan membaca puisi yang telah mereka buat. Kegiatan ini diharapakan dapat melatih dan mengasah kemampuan mereka dalam berimajinasi dan berkreativitas.

Peserta didik menulis puisi biasanya hanya hanya berdasarkan yang ia senangi dan yang ia rasakan. Sehingga dalam menentukan tema puisi anak itu berkisar di antara kehidupannya sebagai anak kecil. Misalkan mereka senang binatang pasti akan menulis binatang itu atau senang pemandangan alam lainya dan cerita tentang cita-citanya masa depannya. Berilah kebebasan pada anak untuk menulis dengan tema yang mereka senangi dan ketahui, bila perlu beri kesempatan untuk mengamati benda-benda yang ada disekitar mereka/dilingkungan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya pengenalan dan pengajaran sastra dengan cara yang interaktif dan menyenangkan akan mendorong rasa keingin tahuan peserta didik  untuk lebih jauh mengenal sastra dan mengasah kemampuan atau bahkan bakat mereka di bidang sastra terutama puisi. Diharapkan   dengan kegiatan belajar seperti ini tidak hanya menambah wawasan dan pengalaman peserta didik terhadap sastra, namun dapat mendorong minat setiap peserta didik untuk lebih jauh mengenal dan mempelajari sastra di setiap jenjang pendidikan yang akan mereka lalui

Agar lebih memahaminya penulis akan memberikan contoh berikut:  yaitu  10 puisi pendek anak SD yang dikutip dari buku Kumpulan Puisi Anak Bianglala karya Fadiya F.A.Z, dkk., dan Puisi Anak-Anak karya Hendrik Eko Prasetiyo.

1. Puisi Anak SD tentang Guru

Terima Kasih Guruku

Guruku...
Kau adalah pahlawan
Telah banyak ilmu yang kau ajarkan kepadaku 
Demi masa depanku yang terang 
Tak kenal lelah kau ajariku 
Dengan sabar kau ajarkanku 
Sungguh besar jasamu wahai guru 
Terima kasih guruku 
Atas bimbinganmu selalu 
Akan kuingat selalu pesanmu 
Wahai guruku...

2. Puisi Anak SD tentang Ibu

Ibu

Ibu...
Sembilan bulan lamanya 
Kau berjuang melahirkanku 
Agar melihat dunia
Kau mengandungku
Ibu...
Terima kasih atas jasamu
Yang telah membesarkanku 
Hingga jadi anak berguna 
Bagi nusa dan bangsa

3. Puisi Anak tentang Alam

Alamku
Dingin menusuk tubuhku
Embun memandikan dedaunan 
Redup yang disambut kicau burung 
Membuka hari penuh ceria
Matahari berjuang penuh harap 
Menembus tebalnya kabut 
Perlahan hangat dan terang
Sambut hari penuh senyum
Nikmat dunia tiada tara
Syukurku pada penciptaku 
Memanjakan umat 
Dengan nikmat karunia-Mu
Tanah Airku Indonesia
Bidang-bidang tanah dengan pematang
Hamparan sawah luas membentang
Laksana permadani hijau mengembang
Di sepanjang pantai
Pucuk-pucuk nyiur melambai pantai
Menghias alam negeri nan permai
Indah subur kaya raya
Tanah Airku Indonesia


4. Puisi Anak SD tentang Lingkungan

Lingkungan

Oh betapa indahnya
Lingkungan rumahku 
Hijau rindang dipandang mata
Pohon-pohon yang ada
Tumbuhan pula
Banyak yang bersemi di sana
Beginilah hidup di desa
Udara terasa sejuk, hidup terasa nyaman

5. Puisi Anak SD tentang Sahabat

Sahabat

Betapa bahagia mempunyai sahabat
Bermain bersama
Tertawa gembira
Berbagi cerita seperti keluarga
Tak hanya bersama dalam suka
Dalam duka pun kami bersama
Saling menghibur dalam duka
Agar duka menjadi bahagia

6. Puisi Anak tentang Kemerdekaan

Indonesiaku

Merah putih yang berkumandang 
Kokoh berdiri tegak dan berkibar 
Bukan secarik lap tangan 
Tapi kain hasil pengorbanan
Indonesiaku engkau sangat indah 
Ada pepohonannya, ada pegunungannya 
Dan ada sungainya 
Pepohonannya indah, pegunungannya 
Sejuk dan sungainya luas
Mari... tegakkan ekapaksi 
Tuk jadikan pegangan hidup bangsa 
Jayalah selalu Indonesiaku 
Merdeka...!!!

7. Puisi tentang Hewan untuk Anak SD

Kelinciku

Kau adalah peliharaanku
Teman di saat ku sendiri
Curhatanku saat tidak ada kawan
Tapi kamu tidak dapat bicara
Aku senang memberimu makan
Karena aku sayang pada kelinciku
Si Hitam
Warna hitam bulunya
Bulat bentuk matanya
Dia senang bercanda
Berlari bermain bola
Meong-meong suaranya
Kala kupanggil namanya
Si hitam kucingku manis
Mengapa kau berkumis

8. Puisi tentang Bunga untuk Anak SD

Melatiku

Warnamu putih
Bungamu kecil
Harummu semerbak mewangi
Banyak kumbang menghampirimu
Kau tumbuh di taman
Tak lupa selalu kusiran
Agar terus berkembang
Menghiasi taman rumahku
9. Puisi Anak SD tentang Keluarga
Keluargaku
Cinta dan kasih sayang 
Dari keluarga 
Dengan segala Canda tawa 
Membuat kubahagia
Keluargaku yang membuatku rindu 
Tempatku mengadu 
Dan segala aduanku 
Aku rindu keluargaku

10. Puisi Anak SD tentang Ayah

Ayahku

Betapa besar jasamu
Tiada kenal lelah bekerja
Membanting tulang demi keluarga
Demi anak-anak dan istrimu
Terima kasih ayahku
Engkau selalu membimbingku
Semoga Tuhan selalu melindungimu
Menghantarkan langkahku
Menuju masa depan yang gemilang

Antusiasme dan minat yang sangat besar dari peserta didik akan  terlihat selama kegiatan berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya pengenalan dan pengajaran sastra dengan cara yang interaktif dan menyenangkan akan mendorong rasa keingintahuan anak untuk lebih jauh mengenal sastra dan mengasah kemampuan atau bahkan bakat mereka di bidang sastra. Kegiatan pembelajaran ini berakhir dengan evaluasi kegiatan, peserta didik menunjukkan bahwa mereka telah cukup memahami materi-materi yang dijelaskan selama pengajaran. dalam pelaksanaan pembelajaran ini  diharapkan  kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan dan pengalaman peserta didik terhadap sastra khususnya puisi, namun dapat mendorong minat setiap peserta didik untuk lebih jauh mengenal dan mempelajari sastra khususnya puisi di setiap jenjang pendidikan yang akan mereka lalui.

Senin, 20 Maret 2023

BIANGLALA CINTA SANG KELANA BAGIAN 11

PELABUHAN HATI SANG KELANA 3

(Undang Sumargana)

Cuplikan cerita sebelumnya

Cahaya mentari yang makin terang seperti ditaburkan dari langit, menciptakan suasana siang di desaku dalam gairah kerja di hati penduduk desa, ada kerinduan pada bunga bunga sehingga bunga itu berputik dan berbuah yang akhirnya menumbuhkan bulir-bulir padi dari hasil keringat dari penghuni desa. Kadang aku merenung untuk memamahi apa sesungguhnya guna manusia hadir di bumi ini. Hanya yang ku dengar dan mulai kupahami bahwa manusia adalah khalipah Allah di muka bumi.

Bumi seperti tersenyum. Langit seperti tersenyum,pepohonan juga seperti tersenyum menikmati percakapan aku dengan istriku, juga percakapn dengan diriku sendiri.

Aku kelana yang telah letih mengembara, yang kini sudah mendapat pelabuhan hati.

(BERSAMBUNG )

Desiran angin sore ini, betul betul menambah kesejukan, sampai aku kadang senyum sendiri. Ombak laut Pangandaran terlihat agak tenang dari biasanya camar laut kepakan sayap, setelah menukik ke bawah dan menjepit ikan diparuhnya, di buritan perahu layar kadang mereka bertengger menikmati hasil jerih payahnya walaupun cuma seekor ikan kecil. Camar itu kadang memandang ke atas mungkin peasaan syukurlah yang terbersit dalam hati sang Camar itu.

“Sayang…! Panggilan istriku padaku, seolah olah seperti anak muda yang baru berpacaran. 

“Lihatlah Camar laut, dapat ikan kecil saja dia selalu bersyukur”

“Iya mah itu pelajaran bagi kita sebagai manusia, bahwa sekecil apapun yang kita dapatkan, sekecil apapun yang kita rasakan, bersyukurlah kepada Allah”.

“Iya sayang, kebanyakan kita suka lupa, dari apa yang kita dapatkan, kadang kita merasa sombong bahwa yang kita dapatkan hanya semata-mata karena kita sendiri, tak sadar di balik keberhasilan manusia ada sang penentu Allah Robbul Ijati”

“Iya mah, lupa itu berarti tidak ingat, sedangkan sombong itu prilaku Iblis. Sebaiknya kita ingatkan, dan kita saling mengingatkan, serta ayo kita perangi sipat sombong yang selalu bersemayan dalam hati masing-masing.

“Mah, Pah,? Tiba tiba Rado putraku dan Rifani putriku yang selalu memanggilku dengan sapaan Papah, sudah berada disampingku, setela mereka bosan bermain pasir.

“Mah, Pah, kita di Pasir Putih ini sampai matahari tenggelam ya, kita lihat sama sama indahnya pemandangan menjelang Mentari tenggelam“      

“Iya cakep, Cantik”, Istriku menjawab sambal mengelus kepala putra-putri kesayanganku itu”.  Keduanya duduk kira-kira tiga  meter disampingku, sedangkan aku dan istriku masih ditempat yang tadi di bawah rindangnya pohon Ketapang. Hari ini aku betul-betul merasa bahagia, jiwaku seakan hidup kembali, sekian lama sang Kelana letih mengembra merasakan tajamnya sayatan-sayatan pisau kehidupan dan terpaan gelombang  yang menghentak menyisakan lebam luka yang mendalam. Tak terasa ada genangan air mata dipelupuk mataku, mungkin air mata kebahagiaan yang bersamaan dengan pancaran rasa syukur dari lubuk hati. 

“Ya Allah kau telah kirimkan widadari dalam wujud istriku dan putra-putriku, terima kasih ya Rob…!” Tiba-tiba aku dikejutkan oleh istriku tangannya yang telah menggenggam tisu mengusap butiran air mata yang mengalir di pipiku .

“Ada apa sayang, apa ada salah yang telah ku lakukan sehingga menangis?” Kupeluk istriku ku tenggelamkan wajahnya dalam dadaku, dan kuusap usap kepalanya dengan rasa sayang yang begitu mendalam”.

“Mah sayang hari ini ayah betul betul bahagia, mendapatkan mamah, dan lihat kebahagiaan putra-putri kita. Perasaanku begitu tulus rasa bahagia rasa haru berbaur menjadi satu

“Sudahlah Yah, mamah juga bersyukur ayah orangnya baik, tanggung jawab dan selalu mneghargai mamah”. Semakin erat ku peluk istriku, tapi itu merupakan pelukan yang betul betul dilandasi rasa sayang yang tiada tara.

“Angin laut terasa mulai menebarkan rasa sejuk, Mentari  perlahan mulai tenggelam, pedaran aneka warna di langit Pangandaran,  seolah olah tebaran bianglala cinta yang terpancar memedarkan cahaya. Sang Kelana yang telah berlabuh di hati wanita pujaannya. Ada riak gelobang  mulai menyentuh tepi hati yang sudah lama kering, pusara buih putih gelombang yang telah membalikkan kehidupan dengan kuasa illahi. Hidup itu memang indah dan mesti indah. Anggapan semula yang ada dalam hatiku  “Wanita itu adalah macan” mulai terhapus dengan kasih sayang istriku. “Istriku adalah bidadariku” itulah yang ada dalam hati sekarang, dia begitu baik dan ketelitiannya  memperhatikan aku dari hal sekecil apapun. Tekadku aku harus berbuat lebih baik dari istriku dalam memperlakukan aku.

Ya Allah , nikmat apa lagi yang kau limpahkan padaku ?  Putriku yang telah begitu nyaman dalam bimbingan ibunya, putraku  berhasil masuk UPI Bandung melalui jalur SMPTN, setelah dia mondok selama 6 tahun di Pesantren Cipasung dan bersekolah di SMP Islam dan MAN Cipasung, ptraku yang bungsu mondok di pesantren Cipasung, yang kina baru kelas 8 di SMP Islam Cipasung. Terlihat begitu gembiranya mereka menikmati liburannya kali ini. Aku ingat pada putraku yang telah bekerja, jauh dariku tapi meskipun tak bersama lagi, aku dan istriku sangat sayang pada dia. Satu prinsip yang ku pegang, mungkin karena kepercayaanku pada pondok pesantran, maka putra-putriku setelah  tamat SD kutitipkan di pesantren sambil bersekolah di SMP dan tamat SLA, setelah tamat SLA kuberi kebebasan mau kuliah di tempat lain ataupun kuliah di Cipasung sambil terus mondok di pesantren  Cipasung itu lebih baik.

“Mamah, Papah tuh lihat sebentar lagi Mentari tenggelam, indah banget tuh warnanya”. Empat pasang mata langsung tertuju, pada pancaran sinar  matahari, seolah – olah tak mau tertinggal sedetikpun, subhanalloh keindahan yang sulit digambarkan oleh kata-kata, paduan warna yang tak mungkin bisa digambarkan oleh goresan kuas oleh  pelukisa manapun. Rupanya itulah lukisan yang terindah yang pernah kusaksikan. Ada kedamaian yang hanyut dalam paduan warna senja, ada binaran cahya ajaib yang merasuk dalam aliran darahku, seolah-olah denyut jantung memacu kekaguman dalam desahan suara pujian pada dzat Illahi.

“Subhanallah, … subhanallah, …subhanallah, ….!” begitu sempurna Kau ciptakan keindahan yang begitu memanjakan pandangan mataku, Yaa Roob.

Akhirnya mentari itu tak terlihat lagi, seperti hilang di telan gelombang, bersamaan dengan itu kedatangan perahu membuat aku dan Istriku serta kedua putra-putriku bergegas untuk naik menyebrang ke pantai sana pantai Pangandaran yang terasa mulai sepi. 

(bersambung)

Kamis, 16 Maret 2023

MENGENANG BUDAYAWAN LEGENDARIS AJIP ROSIDI DENGAN PUISINYA “JANTE ARKIDAM”

 MENGENANG    BUDAYAWAN LEGENDARIS  AJIP ROSIDI

DENGAN PUISINYA “JANTE ARKIDAM”

(Undang Sumargana)

Ajip Rosidi lebih dikenal sebagai  sastrawan Indonesia. Ia memperoleh banyak penghargaan, di antaranya dalam Kongres Kebudayaan tahun 1957 di Denpasar,  mendapat Hadiah Sastra Nasional  untuk sajak-sajak yang ditulisnya tahun 1955-1956  Ia lahir di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938  dan meninggal di Magelang, 29 Juli 2020 pada umur 82 tahun              Ajip Rosidi atau Ayip Rosidi adalah tokoh penting bagi Indonesia. Ia menekuni banyak pekerjaan, mulai dari, penulis, budayawan, dosen, pendiri, dan redaktur beberapa penerbit. Ia adalah pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage. Beliau  telah jauh lebih dari cukup mewariskan pemikiran, kebersahajaan, dan karya yang tak pernah lekang oleh waktu, sangat pantas apabila dia  digelari sastrawan dan budayawan besar Indonesia.

karya legendaris beliau, harum dikenal dan dibacakan oleh banyak orang yang berkecimpung di dunia kesusastraan Indonesia ataupun Sunda.

Beliau bukan hanya sastrawan dan budayawan, melainkan seorang pengajar yang ulet. Tercatat pernah menjadi pengajar di universitas di Jepang tahun 1967, kemudian pada tahun 80-an diundang dan dianugerahi guru besar tamu di Osaka University dalam bidang bahasa asing. Tidak hanya itu, beliau pada tahun yang sama mengajar pula di Kyoto Sangyo University dan Tenri University.

Karya  beliau yang sangat terkenal diantaranya “Jante Arkidam”. Jante Aarkidam merupakan   kumpulan sajak karya Ajip Rosidi. Jante Arkidam diterbitkan di Jatiwangi, Cirebon oleh penerbit Cupumanik pada tahun 1967 dengan tebal 44 halaman. Kemudian, cetakan kedua diterbitkan oleh penerbit Pustaka Bandung pada tahun 1989. Terakhir, kumpulan sajak ini atau cetakan ketiga diterbitkan kembali di Bandung oleh PT Kiblat Buku Utama (seri Girimukti) pada tahun 2008 dengan tebal 66 halaman.          Jante Arkidam adalah awalnya sebuah kumpulan sajak Sunda, tapi kemudian diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia. Jante Arkidam memuat 22 buah sajak yang ditulis oleh pengarangnya antara tahun 1957–967. Jante Arkidam dimuat secara kronologis dan sebelum dibukukan pernah dimuat dalam majalah-majalah terbitan bahasa Sunda. Sajak-sajak dalam Jante Arkidam ditulis di Jatiwangi, Jakarta, Sumedang dan Bandung.

 Jante Arkidam berkisah tentang seorang penjahat atau buronan polisi bernama Jante Arkidam, lengkap dengan semua tindak kejahatan Sang Jante. Sajak Jante Arkidam mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Dalam karya tersebut  Ajip Rosidi menampilkan karakter Jante Arkidam, yang digali dari khasanah budaya Pasundan, Jawa Barat. Pembaca sajak ini akan hanyut  membayangkan dirinya sebagai Jante Arkidam. Pembaca akan berempati dan bersimpati kepada Jante Arkidam, menyanyikan kemenangan dan segala  ketegangan yang dirasakan, yang mengharapkan Jante lolos dari kejaran para pemburunya. Namun, dalam kenyataan, orang akan bertindak sebaliknya, yaitu mengharapkan orang-orang seperti Jante Arkidam tertangkap dengan segera. Ajip Rosidi sabagai penyair yang berpengalaman dengan bijak  dapat menangkap serta merasakan aspirasi masyarakat, yang senang dengan ketokohan Jante Arkidam. Sebagai penjahat yang sakti   Jante Arkidam mampu melakukan apa yang diinginkannya yang tidak dapat diperbuat oleh masyarakat pada waktu itu kepada para pejabat sombong antek-antek penjajah Belanda  seperti mempecundangi mantri polisi dan wedana, Judul buku “Jante Arkidam”, diambil dari judul sajak pertama, yang merupakan  sebuah sajak epik (balada) tentang seorang jagoan, buronan polisi, yang bernama Jante Arkidam, yang rupanya diangkat dari khasanah ceritera rakyat. Sajak ini pernah ditulis pula oleh pengarangnya dalam bahasa Indonesia dan dimuat dalam kumpulan Cari Muatan (1959), serta telah dibicarakan secara panjang lebar oleh A. Teeuw.

Selanjutnya sebagai ilustrasi disini akan disajikan Sajak ”Jante Arkidam” dalam bentuk aslinya Bahasa Sunda dan puisi terjemahan  tersebut:

Sajak Sunda


JANTE ARKIDAM

  Karya: Ajip Rosidi


Panon beureum siki saga

Leungeunna seukeut lalancip gobang

Niplasan badan palapah gedang

Arkidam, Janté Arkidam


Di pangaduan di kalangan ronggéng

Ngan hiji jagoan

Arkidam, Janté Arkidam


Ti peuting angkeub ku mendung

Janté raja alam peteng

Matek aji panarawangan

Manjing ka liang sasoroting sinar

Jaruji beusi pakgadé miley ku ramona


Ti peuting ngadalinding wangi

Janté raja dina tayuban

Ngagakgak seuri ngibingan ronggéng


“ Mantri Pulisi ngalieuk ka dieu !

Bantingkeun kartu Bantingkeun dadu !

Wadana, ulah nundutan di dinya!

Urang ngibing jeung kula – Janté Arkidam !”


Silih teuteup

Wadana jeung Mantri pulisi :

“Janté, Janté Arkidam!

Ngabongkar pak gadé peuting tadi

Ayeuna makalangan di nu tayuban!”


“Enya, kaula Janté Arkidam

Sing saha nu wani maju rék di tigas

Leungeunna kula lalancip pedang!”


Ngahéphép sapanglalajoan

Neuteup ka Janté nu matana ngembang wéra


“Ku naon neuteup ka kula?

Teruskeun ngibing, peuting nyérélék béak”


Ramé deui kalangan, ramé deui pangaduan

Janté masih ngibing nyolémpang saléndang

Nguyup arak sloki ka salapan likur


Waktu beurang datang, Janté ngagolér

Diburu ku Mantri pulisi :

“Janté, Janté Arkidam, Nusa Kambangan!”


Ngagisik hayang sidik

Janté mencrong mantri pulisi:

“Ki Mantri, tindakan andika léléwa bikang

Ngabokong jalma keur tibra!"


Arkidam ditalikung leungeunna dua

Sorot matana ngentab seuneuan


Saméméh béak poé kahiji

Janté minggat nitih cahya

Kaluar ti panjara


Saméméh cuntuk peuting kahiji

Mantri pulisi nyungseb di dasar walungan

Teu nyawaan


“Saha nu jago nungtut béla?

Datang mun kaula nyaring!”

Lalau di bawah ini Puisi terjamahan “Jante Arkidam” dalam Bahasa Indonesia


JANTE ARKIDAM

                                                            Karya: Ajip Rosidi


Sepasang mata biji saga

Tajam tangannya lelancip gobang

Berebahan tubuh-tubuh lalang dia tebang

Arkidam, Jante Arkidam


Dinding tembok hanyalah tabir embun

Lunak besi di lengkungannya

Tubuhnya lolos di tiap liang sinar

Arkidam, Jante Arkidam


Di penjudian, di peralatan

Hanyalah satu jagoan

Arkidam, Jante Arkidam


Malam berudara tuba

Jante merajai kegelapan

Disibaknya ruji besi pegadaian


Malam berudara lembut

Jante merajai kalangan ronggeng

Ia menari, ia ketawa


‘mantri polisi lihat ke mari!

Bakar mejajudi dengan uangku sepenuh saku

Wedanan jangan ketawa sendiri!

Tangkaplah satu ronggeng berpantat padat

Bersama Jante Arkidam menari

Telah kusibak rujibesi!’


Berpandangan wedana dan mantripolisi

Jante, Jante; Arkidam!

Telah dibongkarnya pegadaian malam tadi

Dan kini ia menari!’


‘Aku, akulah Jante Arkidam

Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya

Batang pisang,

Tajam tanganku lelancip gobang

Telah kulipat rujibesi’


Diam ketakutan seluruh kalangan

Memandang kepada Jante bermata kembang

Sepatu


‘mengapa kalian memandang begitu?

Menarilah, malam senyampang lalu!’


Hidup kembali kalangan, hidup kembali

Penjudian

Jante masih menari berselempang selendang


Diteguknya sloki kesembilanlikur

Waktu mentari bangun, Jante tertidur


Kala terbangun dari mabuknya

Mantripolisi berada di sisi kiri

‘Jante, Jante Arkidam, Nusa Kambangan!’


Digisiknya mata yang sidik

‘Mantripolisi, tindakanmu betina punya!

Membokong orang yang nyenyak’


Arkidam diam dirante kedua belah tangan

Dendamnya merah lidah ular tanah


Sebelum habis hari pertama

Jante pilin ruji penjara

Dia minggat meniti cahya


Sebelum tiba malam pertama

Terbenam tubuh mantripolisi di dasar kali


‘Siapa lelaki menuntut bela?

Datanglah kala aku jaga!’


Teriaknya gaung di lunas malam

Dan Jante berdiri di atas jembatan

Tak ada orang yang datang

Jante hincit menikam kelam


Janda yang lakinya terbunuh di dasar kali

Jante datang ke pangkuannya


Mulut mana yang tak direguknya

Dada mana yang tidak diperasnya?

Bidang riap berbulu hitam

Ruas tulangnya panjang-panjang

Telah terbenam beratus perempuan

Di wajahnya yang tegap


Betina mana yang tak ditaklukkannya?

Mulutnya manis jeruk Garut

Lidahnya serbuk kelapa puan

Kumisnya tajam sapu injuk

Arkidam, Jante Arkidam


Teng tiga di tangsi polisi

Jante terbangun ketiga kali

Diremasnya rambut hitam janda bawahnya


Teng kelima di tangsi polisi

Jante terbangun dari lelapnya

Perempuan berkhianat, tak ada di sisinya

Berdegap langkah mengepung rumah

Didengarnya lelaki menantang:

‘Jante, bangun! Kami datang jika kau jaga!’


‘Datang siapa yang jantan

Kutunggu di atas ranjang’


‘Mana Jante yang berani

Hingga tak keluar menemui kami?’


‘Tubuh kalian batang pisang

Tajam tanganku lelancip pedang’


Menembus genteng kaca Jante berdiri di atas atap

Memandang hina pada orang yang banyak

Dipejamkan matanya dan ia sudah berdiri di atas tanah

‘hei, lelaki matabadak lihatlah yang tegas

Jante Arkidam ada di mana?’


Berpaling seluruh mata kebelakang

Jante Arkidam lolos dari kepungan

Dan masuk ke kebun tebu


‘Kejar jahanam yang lari!’


Jante dikepung lelaki satu kampung

Dilingkung kebun tebu mulai berbunga

Jante sembunyi di lorong dalamnya


‘Keluar Jante yang sakti!’

Digelengkannya kepala yang angkuh

Sekejap Jante telah bersanggul

‘Alangkah cantik perempuan yang lewat

Adakah ketemu Jante di dalam kebun?’


‘Jante tak kusua barang seorang

Masih samar, di lorong dalam’


‘Alangkah Eneng bergegas

Adakah yang diburu?’


‘Jangan hadang jalanku

Pasar kan segera usai!’


Sesudah jauh Jante dari mereka

Kembali dijelmakannya dirinya


‘Hei lelaki sekampung bermata dadu

Apa kerja kalian mengantuk di situ?’


Berpaling lelaki ke arah Jante

Ia telah lolos dari kepungan


Kembali Jante diburus

Lari dalam gelap

Meniti muka air kali

Tiba di persembunyiannya.

Dari isi sajak /puisi tersebut   kita dapat menyimpulkan, bahwa   perwatakan dari tokoh Jante dia berasal  dari lingkungan sosial yang pedalaman, masih banyak perjudian, mabuk, ataupun wanita penghibur mepengaruhi keadaan psikis Jante. Dia seorang yang sakti hidupnya  menjadi urakan, hidup semaunya dan dia menjadi preman yang disegani.  Dia orng yang sakti, dengan kondisi fisiknya yang kuat  tegap, matanya tajam digambarkan dengan kata “ matanya merah buah saga,  perwatakan yang garang, sangar yang ditakuti para lelaki, namun banyak dikagumi  kaum perempuan. Hal ini terbukti dari banyaknya para wanita yang jatuh ke dalam pelukan Jante. Mereka seakan terpesona akan charisma  Jante yang gagah lagi sakti.


Sumber Tulisan::

Hartoko, Dick dan Rahmanto. 1996. Pemandu di Dunia Sastra. Yogyakarta: Kansius.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Zaidan, Abdul Rozak, dkk. 2007. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka

Zulfahnur, dkk. 1996. Teori Sastra. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Jumat, 10 Maret 2023

PERMASALAHAN PENGELOLAAN KELAS DALAM PENCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN

PERMASALAHAN PENGELOLAAN KELAS DALAM PENCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN

(Undang Sumargana)

Pada hakekatnya antara kegiatan pembelajaran dan pengelolaan kelas tidak dapat dipisahkan. Seorang guru akan merasa senang jika proses pembelajaran yang telah dilaksanakan berhasil dengan baik sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Tapi sebaliknya guru yang baik akan selalu menganalisis kekurangan dari serangkaian pembelajaran yang telah disampaiakan, sehingga dia dapat menemukan permasalahan. Permasalahan tersebut masuk berkaitan masalah  pembelajaran atau dalam masalah  pengelolaan kelas.  Kesalahan penanganan dari permasalahan tersebut tidak akan merubah hasil yang di capai, untuk itu kami mengajak pembaca untuk memahami apa itu masalah pembelajaran dan apa yang dimaksud pengelolaan kelas. Dalam pembahasan kali ini  terlebih dulu saya mengajak para pembaca untuk memahami  apa yang dimaksud pengelolaan kelas

Pengelolaan Kelas  merupakan hal pokok yang menunjang keberhasilan dalam pencapaian tujuan pembelajaran.  Pengelolaan kelas sangat diperlukan untuk mengontrol tingkah laku siswa agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar,  oleh karen itu   Keterampilan pengelolaan kelas penting untuk dikuasai oleh siapa pun yang menerjunkan dirinya ke dalam dunia pendidikan terutama guru. Karena berkaitan dengan pembelajaran maka dapat dikatakan pengelolaan kelas adalah separangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. 

Dalam pengelolaan kelas ada dua jenis masalah yang harus dihadapi,  hal ini sejalan dengan pendapat Muhammad Azhar (1993:90) yakni: ”Pengelolaan kelas yang bersipat perorangan  dan yang bersipat kelompok”.

A. MASALAH PERORANGAN

Masalah perorang terjadi   jika seorang (individu) gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa harga dirinya. Dari kejadian tersebut  maka ia akan bertingkah laku menyimpang. Penyimpangan.  yang biasanya terjadi di kelas ada 4 macam yakni

1. mencari kekuasaan,

2. menuntut balas,

3. menarik perhatian dan 

4. memperlihatkan ketidakmampuan. 

Teknik sederhana untuk mengenali adanya masalah-masalah perorangan dapat dikenali dengan  ciri-ciri  sebagai berikut:

1. Jika Guru merasa terganggu atau bosan dengan tingkah laku seseorang siswa, pertanda siswa tersebut mengalami masalah ‘mencari perhatian'.

2. Jika guru merasa terancam atau merasa dikalahkan, merupakan pertanda 

3. bahwa siswa yang bersangkutan mengalami masalah 'mencari kekuasaan'.

4. Jika guru merasa disakiti (bahkan amat disakiti), merupakan pertanda bahwa siswa yang bersangkutan mengalami masalah ‘menuntut balas'.

5. Jika guru merasa telah 'tidak mampu menolong lagi,' pertanda bahwa siswa yang bersangkutan mengalami masalah "ketidakmampuan".

B. MASALAH KELOMPOK

        Dalam kelompok ada 7 masalah yang hubungannya dengan pengelolaan kelas, yakni:

1. Kekurang kompakan; yang ditandai dengan adanya konflik antara anggota kelompok.

2. Kekurang mampuan mengikuti aturan kelompok.

3. Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok; ditandai dengan reaksi/ekspresi kasar terhadap anggota yang tidak diterima.

4. Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang ; terjadi apabila kelompok itu mendorong/mendukung timbulnya hal-hal yang menyimpang dari norma sosial pada umumnya.

5. Ketergangguan kelompok/anggota kelompok atas kegiatannya hanya karena hal-hal kecil yang sebenarnya tidak berarti, lalu berhenti melakukan kegiatannya.

6. Ketiadaan semangat, tidak mau bekerja, tingkah laku agresisif atau protes, baik hal ini secara terbuka ataupun terselubung.

7. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan: yang terjadi apabila kelompok bereaksi tidak wajar apabila terjadi perubahan baru (misalnya pergantian anggota kelompok, pergantian guru, dan lain-lain).

        Sependapat dengan di atas, ahmad rohani (2004; 124) membagi masalah Pengelolaan kelas dalam dua kategori yaitu masalah individu dan masalah kelompok. 

        Rudolf Dreikurs dan Pearl Cassel membedakan empat kelompok masalah pengelolaan kelas individual yang didasarkan asumsi bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya pencapaian tujuan pemenuhan keputusan untuk diterima kelompok dan kebutuhan untuk mencapai harga diri. Bila kebutuhan-kebutuhan ini tidak lagi dapat dipenuhi melalui cara-cara yang lumrah dapat diterima masyarakat, dalam hal ini masyarakat kelas, maka individu yang bersangkutan akan berusaha mencapainya dengan cara-cara lain. Dengan perkataan lain dia akan berbuat "tidak baik". 

Perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan dengan cara yang asosial inilah  digolongkan sebagai berikut.

1. Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain (attention getting behaviors). Misalnya membadut di kelas (aktif), atau dengan berbuat serba lamban sehingga perlu mendapat pertolongan ekstra (pasif)

2. Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (power seeking behaviors). Misalnya selalu mendebat atau kehilangan kendali emosional - marah-marah, menangis (aktif), atau selalu "lupa" pada aturan-aturan penting di kelas (pasif)

3. Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors), misalnya menyakiti orang lain seperti mengata ngatai, memukul, menggigit, dan sebagainya (kelompok ini tampaknya kebanyakan dalam bentuk aktif/pasif),

4.  Peragaan ketidakmampuan, yaitu dalam bentuk sama sekali menolak untuk mencoba melakukan apa pun karena yakin bahwa hanya kegagalanlah yang menjadi bagiannya.

            Lois V. Johnson dan Mary A. Bany mengemukakan 6 Kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas. Masalah-masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1. Kelas kurang kohesif. Misalnya perbedaan jenis kelamin, suku, dan tingkatan sosial-ekonomi, dan sebagainya 

2. Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya Misalnya mengejek anggota kelas yang dalam pengajaran seni suara menyanyi dengan suara sumbang

3. Membesarkan" hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian semangat kepada badut kelas

4. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap

5. Semangat kerja rendah. Misalnya semacam aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang adil.

6. Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru Misalnya gangguan jadwal atau guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru lain, dan sebagainya.

          Tidak perlu ditekankan lebih kuat lagi bahwa setiap macam masalah memerlukan penanganan yang berbeda. Selanjutnya, sasaran penanganan masalah individual adalah individu pelaku pelanggaran Sebaliknya di dalam masalah kelompok maka tindakan korektif harus ditujukan kepada kelompok diagnosis yang keliru pula.


C. MENGATASI MASALAH PENGELOLAAN KELAS

Untuk dapat menangani masalah pengelolaan kelas secara efektif, guru hendaknya mampu : (lalu Muhammad Azhar 1993:92)

1. Mengenal secara tepat berbagai masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompok.

2. Memahami pendekatan yang cocok dan yang kurang cocok untuk jenis masalah tertentu.

3. Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah dimaksud.

Menangani masalah-masalah pengelolaan kelas, guru dapat menggunakan beberapa pendekatan 

a. Pendekatan anjuran dan larangan (untuk guru sendiri) :

1). Jangan menegur siswa di hadapan kawan-kawannya

2). Jangan menggunakan nada suara yang tinggi dalam    

     memberi peringatan.

3). Bersikap tegas dan adil terhadap semua siswa.

4). Jangan pilih kasih.

5). Buktikan terlebih dahulu siswa itu bersalah sebelum memberikan hukuman.

6). Patuhilah aturan-aturan yang telah kita tetapkan.

b. Pendekatan penguatan tingkah laku. 

            Jika tingkah laku tertentu diberi ganjaran maka tingkah laku itu cenderung diteruskan. Tingkah Laku yang diperkuat adalah "yang positif dengan ganjaran agar perbuatan itu diteruskan, sedang "yang negatif" dengan ganjaran yang bersifat mengurangi atau meniadakan perangsang kenegatifan itu.

c. Pendekatan iklim sosio-emosional;

            Pendekatan ini dibangun atas dasar pandangan bahwa pengelolaan kelas yang efektif merupakan fungsi hubungan baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Hubungan guru-siswa terutama sekali dipengaruhi oleh 

1). Keterbukaan/sikap tidak pura-pura, 

2). Penerimaan dan kepercayaan guru terhadap siswa, dan

3). Simpati guru terhadap siswa-siswanya.

d. Pendekatan proses kelompok

            Dalam pendekatan ini, peranan guru adalah mengembangkan dan mempertahankan keeratan hubungan antar siswa, semangat produktivitas dan berorientasi pada tujuan kelompok. Bila guru menangani tingkah laku yang menyimpang melalui pendekatan ini tujuannya adalah untuk membantu kelompok itu bertanggung jawab atas perbuatan anggota-anggotanya.

        Ada pula pendekatan yang terkadang sering digunakan, yang sebenarnya merupakan pendekatan yang "tidak tepat untuk menangani masalah-masalah yang timbul di dalam kelas, yakni tindakan-tindakan :

1. Menghukum atau mengancam:

a) Menghukum dengan kekerasan atau pengusiran.

b) Memaksakan berlakunya larangan-larangan.

c) Menghardik, mencemooh.

d) Menghukum salah seorang siswa sebagai contoh bagi siswa yang lain.

e) Memaksakan tuntutan-tuntutan kepada siswa.

2.  Tindakan pengalihan atau sikap masa bodoh.

a) Meremehkan sesuatu kejadian atau tidak berbuat apa-apa sama  

    sekali.

b) Menukar anggota kelompok dengan mengganti atau 

    mengeluarkan anggota tertentu.

c) Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada perorangan.

d) Menukar suatu kegiatan (yang seharusnya dilakukan oleh siswa

e) untuk menghindari tingkah laku tertentu.

3. Penguasaan atau penekanan.

a) Memerintah, memarahi, mengumpat.

b) Memakai pengaruh orang lain yang berkuasa (misalnya orang 

    tua, Kepala Sekolah)

c) Menyatakan ketidak setujuan dengan kata-kata yang tidak 

    wajar,

d) Melakukan tindakan kekerasan sebagai pelaksanaan ancaman 

    yang telah diberikan

e) Menggunakan hadiah kepada yang patuh sebagai perbandingan 

    bagi yang melanggar

f) Mendelegasikan wewenang kepada siswa untuk memaksakan 

    penguasaan kelas.

          Ahmad rohani (2004; 127) berpendapat bahwa Dimensi pencegahan dapat merupakan tindakan guru dalam mengatur lingkungan belajar, mengatur peralatan, dan lingkungan sosio emosional

Sumber diambil dari : Salman Rusydie, Prinsip-prinsip Manajemen Kelas, (Yogyakarta: DIVA Press, 2011), hal 61-62

 


Minggu, 05 Maret 2023

KEPAKAN SAYAP SI BURUNG MERAK (WS. RENDRA) YANG MENGGETARKAN KANCAH SASTRA INDONESIA

KEPAKAN SAYAP SI BURUNG MERAK  (WS. Rendra)  YANG MENGGETARKAN KANCAH SASTRA INDONESIA
(Undang Sumargana)

Banyaka orang yang tahu tentang sastrawan besar WS. Rendra  yang terkenal dengan sebutan Si Burung Merak, Ia tahuWS Rendra disebut si burung merak, namun tidak banyak yang tahu kenapa dia di sebut Si Burung Merak. 
Rendra mendapat julukan sebagai “Si Burung Merak” karena penampilannya yang selalu penuh dengan pesona. Julukan ini didapat saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Terdapat dua versi dalam cerita ini. Pertama, Rendra berkata secara spontan, “Itu Rendra! Itu Rendra!” ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya. Kedua, temannya yang berasal dari Australia lah yang mengatakan  “Itu Rendra!”. Bagaimana pun, dari peristiwa itu, julukan Si Burung Merak melekat dengan sosok WS Rendra
Setelah itu, lanjutnya, nama Rendra muncul di sejumlah koran dengan nama Burung Merak, tetapi sang budayawan diakuinya tidak merasa tersinggung dan marah. "Ia malah senang karena memang ia sendiri yang menamakan dirinya burung merak. Burung merak itu sendiri artinya orang yang suka memperlihatkan keindahan,"
WS. Rendra, yang dikenal “Si Burung Merak”  nama aslinya Willibrordus Surendra Broto lahir di Surakarta (Solo) pada tanggal 7 November 1935 dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Mengutip Harlina Indijati dan Abdul Murad dalam Biografi Pengarang Rendra dan Karyanya (1996)
Rendra berasal dari keluarga Katolik yang dibesarkan di lingkungan budaya Jawa”. Ayahnya Sugeng Brotoatmodjo adalah seorang Kepala Sekolah Dasar Negeri Kebalen, Solo. Beliau juga seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Selain itu, Sugeng Brotoatmodjo dikenal sebagai pelaku seni drama tradisional. Sementara itu, Raden Ayu Catharina adalah seorang penari di istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Dari  kecil hingga ramaja,Rendra bertempat tinggal di kota kelahirannya Solo, ia dibesarkan dilingkungan kehidupan seni dan Budaya, sehingga tak heran Rendra menjadi sosok seniman besar. Karya karya Rendra puisi, naskah drama, cerpen, dan lainnya. WS Rendra diketahui juga pernah bermain dalam beberapa film, seperti film Al Kautsar (1977), Yang Muda Yang Bercinta (1977), dan Terminal Cinta (1977).
Tahun 1970, Rendra yang berasal dari agama Katolik masuk islam  Islam.  sebelum ia menikah dengan Sitoresmi Prabuningrat. 
 menikahi Sunarti Suwandi yang banyak memberikan inspirasi kepada Rendra dalam berkarya. Tahun 1970, Rendra yang berasal dari agama Katolik masuk islam  Islam.  sebelum ia menikah dengan Sitoresmi Prabuningrat sebagai istri keduanya. Kedua istrinya pemain drama dalam Bengkel Teater.  Tahun 1976 Rendra menikah lagi dengan Ken Zuraida, istrinya yang ketiga, yang juga pemain drama. . Akan tetapi, rumah tangga tersebut tidak berlangsung lama, Rendra diceraikan Sitoresmi pada 1979 dan Sunarti pada tahun 1981.
WS. Rendra meninggal tanggal 06 Agustus 2009, Jenazah WS. Rendra kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di kawasan Cipayung Jaya, Citayam, Depok, Jawa Barat, Jumat (7 Agustus 2009) siang
Keberpihakan Rendra pada masyarakat kelas bawah semasa hidupnya  tecermin dalam karya-karyanya. Salah satu yang paling fenomenal adalah "Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta. Dalam sajak ini, Rendra tersurat jelas  membela kaum pelacur, ia juga mengecam kemunafikan para elit. Mereka bicara soal yang "tinggi-tinggi" tapi segera takluk jika disodori seks. Pada intinya, Rendra mengajak melihat fenomena pelacuran tak semata dari kacamata moral, melainkan problem yang lebih struktural. Tidak semata-mata memojokkan para pelacur tapi merupakan rangkaian kejadian kenapa ada pelacur.
(termuat dalam antologi Blues Untuk Bonnie)
Lebih jelasnya mari kita apresiasi sajak berikut

BERSATULAH PELACUR-PELACUR KOTA JAKARTA
Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu
Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban
Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban
Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu
Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya
Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang 'tidak'
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi  jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan
Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan
Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.
Puisi terakhir WS Rendra yang beliau buat sesaat sebelum beliau wafat.
Hidup itu seperti UAP, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !! Ketika Orang memuji MILIKKU, aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja.
Bahwa mobilku adalah titipan-NYA,
Bahwa rumahku adalah titipan-NYA,
Bahwa hartaku adalah titipan-NYA,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA …
Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
“MENGAPA DIA  menitipkannya kepadaku?”
“UNTUK APA DIA menitipkan semuanya kepadaku?”
Dan kalau bukan milikku, apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA?
Malahan ketika diminta kembali,
kusebut itu MUSIBAH,
kusebut itu UJIAN,
kusebut itu PETAKA,
kusebut itu apa saja …
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah DERITA …
Ketika aku berdo’a, kuminta titipan yang cocok dengan KEBUTUHAN DUNIAWI,
Aku ingin lebih banyak HARTA,
Aku ingin lebih banyak MOBIL,
Aku ingin lebih banyak RUMAH,
Dan kutolak SAKIT,
Kutolak KEMISKINAN,
Seolah semua DERITA adalah hukuman bagiku.
Seolah KEADILAN dan KASIH-NYA, harus berjalan seperti penyelesaian matematika dan sesuai dengan kehendakku.
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,
Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku …
Betapa curangnya aku,
Kuperlakukan DIA seolah “Mitra Dagang” ku dan bukan sebagai “Kekasih”!
Kuminta DIA membalas “perlakuan baikku” dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku …
Duh ALLAH …
Padahal setiap hari kuucapkan,
“Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU ya ALLAH, AMPUNI AKU, YA ALLAH …
Mulai hari ini, ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan dan menjadi bijaksana, mau menuruti kehendakMU saja ya ALLAH …
Sebab aku yakin ENGKAU akan memberikan anugerah dalam hidupku …
KEHENDAKMU adalah yang ter BAIK bagiku ..Ketika aku ingin hidup KAYA, aku lupa, bahwa HIDUP itu sendiri adalah sebuah KEKAYAAN.
Ketika aku berat utk MEMBERI, aku lupa, bahwa SEMUA yang aku miliki juga adalah PEMBERIAN.
Ketika aku ingin jadi yang TERKUAT, aku lupa, bahwa dalam KELEMAHAN,
Tuhan memberikan aku KEKUATAN.
Ketika aku takut Rugi,
Aku lupa, bahwa  HIDUPKU adalah sebuah KEBERUNTUNGAN, kerana AnugerahNYA.
Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu BERSYUKUR kepadaNYA
Bukan karena hari ini INDAH kita BAHAGIA. Tetapi karena kita BAHAGIA, maka hari ini menjadi INDAH.
Bukan karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS. Tetapi karena kita OPTIMIS, RINTANGAN akan menjadi tak terasa.
Bukan karena MUDAH kita YAKIN BISA. Tetapi karena kita YAKIN BISA,
semuanya menjadi MUDAH.
Bukan karena semua BAIK kita TERSENYUM. Tetapi karena kita TERSENYUM,  maka semua menjadi BAIK.
Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT.
Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar, cukuplah menjadi JALAN SETAPAK yang dapat dilalui orang.
Bila kita tidak dapat menjadi matahari, cukuplah menjadi LENTERA yang dapat menerangi sekitar kita.
Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang, maka BERDOALAH untuk kebaikan


Si Burung Merak" Kompas.com - 07/08/2009, 11:57 WIB Editor DEPOK, KOMPASAku ingin lebih banyak POPULARITAS,

Jumat, 03 Maret 2023

BIANGLALA CINTA SANG KELANA BAGIAN 10

 


PELABUHAN HATI SANG KELANA 2

(Undang Sumargana)


        Rumah tanggaku kujalani dengan baik, aku merasakan hidupku makin teratur, ada perasaan bahagia yang selalu menghiasi kalbuku, aku memang beruntung punya istri yang baik, yang selalu mengantar kepergianku berangkat tugas, selalu mendoakan  sambil memeluk dan memberikan senyuman yang penuh keikhlasan, Ia selalu mengantar sampai diluar pintu depan. Bahkan yang kadang membuat aku risi dia selalu memakaikan kaos kaki sebelum bersepatu, walau selalu ku tolak tapi dia selelu mengelak dan mengatakan "Biarlah yah kan ini ladang pahala buat mamah", ia bicara dengan manja. Kuku di jariku selalu dia lihat dan di potongin, di awal-awal kadang aku sampai meneteskan air mata bahagia, sebagai wujud syukur pada Allah. Hal itu selalu dilakukan sampai saat ini .

    “Ya Allah Kau telah hadirkan, pendamping hidupku yang begitu baik” Aku berguman sendiri dalam hati, hatiku bertekad untuk memperlakukan istriku dengan perlakuan istimewa ingin sekali aku membahagiakannya sesuai dengan kemampuanku. Dialah Pelabuhan terakhir yang menemaniku menjelang usia senja, hidup bersama walau dalam kesederhanaan, makan bersama kadang dia memperlakukan aku istimewa dia sewaktu waktu menyuapi makan itulah  yang menambah kekagumanku. Dia kalau akan berangkat kerja selalu minta maaf dan minta didokan begitu pula sebelum tidur dia selalu minta maaf duluan. Mulanya aku hanya ikut ikutan tapi lama-lama menjadi kebisaan yang tak terlupakan untuk saling memaafkan. Dia pekerja keras punya penghasilan sendiri, tapi dia selalu minta ijinku untuk menggunakan uangnya. 

Satu pelajaran yang patut ku petik dari sikap ayah  mertuaku, dia selalu kasih  contoh dan mengajarkan, diantaranya bahwa kalau bertamu bawalah sesuatu untuk pribumi yang akan dikunjungi, dan kalau menerima tamu waktu pulang kalau ada berilah sesuatu untuk ia bawa pulang.Yang paling penting hargailah tenaga, waktu, keringat dan skil  orang sekecil apapun. Dari sikap ibu mertuaku ia yang selalu memperlakukan ayah mertuaku dengan perlakuan yang baik. Dan diingatkan untuk selalu bershodakoh. Jangan menunggu kaya kalau mau bershodakoh, tapi tanamkan keikhlasan setiap bershodakoh.   Dipastikan karena didikan orang tuanya ia berprilaku begitu baik. Hal ini jadi pelajaran bagi kita bahwa untuk mendidik anak itu selain dinasehati harus diberi contoh dengan baik oleh kita sebagai orang tuanya.

“Ya Allah… dia dalam hidupku teramat istimewa harapanku kepada-Mu ya Rob bisa Bersama-sama disurgamu. Aku harus sehat untuk bersama membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang”. sekian lama  sudah kujalani hidup Bersama, hari-hariku benar-benar berbunga dunia serasa kugenggam dalam telapak tangan. Madu cinta benar-benar memenuhi piala cinta kami, direguk Bersama dalam suasana yang penuh taburan bau harum. Di dalam suasana itu aku selalu bercengkrama bersama istri dan anak-anaku yang makin kucintai. Bercanda dengan rasa suka yang melimpah, limpahan kesukaan itu merembak melimpah ke luar menciptakan sungai cinta yang mengalir dalam perjalanan waktu. Hidupku mulai menapak untuk sedikit sedikit belajar ikhlas dalam pendekatan pada Allah. Istriku  yang selalu mengingatkan, untuk  berbuat kebaikan itulah hakekat hidup dalam keluarga yang sesungguhnya. Terasa berat untuk berbuat baik tapi dari kebaikan yang kita perbuat akan berbuah manis.

Bersama istriku hidupku selalu penuh harapan, penuh bunga penuh kisah dan cerita, penuh  rancangan seolah olah diusia menjelang senja ini seperti mau hidup 1000 tahun lagi. Walau ada berselisih paham, tapi selalu diselesaikan dengan penuh pengertian.

“Mah kita harus Bahagia” Suatu saat aku memulai percakapan waktu duduk bersantai.

“Ya memang harus,   bahagia itu tidak sulit, bahagia itu sederhana”. 

“Jadi kita memiliki kemampuan untuk bahagia?”.

“Ya, kenapa tidak, semua orang mempunyai kemampuan kuncinya adalah keikhlasan”.

“Justru membuka kunci keikhlasan itu yang sulit kita lakukan”

“Taka ada yang sulit kalau kita terus belajar didasari keyakinan kepada Allah,  pengalaman ayah selama ini, pengalaman mamah selama ini mari kita jadikan guru terbaik untuk menata hidup penuh optimis”

Percakapan itu selalu kuingat, terngiang-ngiang ditelingaku, kata-kata itu seperti putaran rekaman yang membawa aku kedunia harapan yang penuh optimis, usiaku menjelang senja tapi jiwaku terasa masih remaja. Jiwa keras dan egoku mulai melunak dibentuk dalam tempaan kasih sayang istriku yang terasa terus mengalir.

”Aku harus berusaha jadi orang baik” suara hatiku terus mengusik nuraniku.

“Ya kau perlu memperbaiki hidup lebih baik” buat apa aku  hidup lama kalau tak bisa berbuat baik. Berbuat baik akan lebih menguntungkan. Karena pada hakekatnya hidup adalah ibadah. Suatu kekuatan aneh mulai merayap menjalar dalam darahku, rasa suka mulai menjalar ke langit, melibas berbagai kenangan pahit yang dulu menimpuk rasa duka dan nyeri yang melompat ke hati.

Perjalanan waktu terasa begitu cepat seperti anak panah yang melesat dari busurnya putriku dan putra bungsuku menimba ilmu di pesantren Cipasung dan  bersekolah di MAN dan SMP Islam Cipasung. Itu menjadi kebanggaan bagiku selaku orang tua. Santri yang kadang oleh orang dipandang sebelah mata, tapi bagiku justru sebaliknya,  bagiku anak anak masuk pesantren hal yang menjadi kebanggaan,  serta  inspestasi yang tiada ternilai.

Pagi itu  matahari pagi mencuat dari timur, warna sinarnya yang marak seperti memancarkan kehidupan baru yang penuh gairah, kilauan matahari pada dedaunan seperti melukiskan harapan yang tak pernah pudar, hidup itu memang binar-binar cahaya yang seperti percikan api yang keluar dari unggun raksasa. 

“Ya, hidup ini memang akan terasa indah”

“Tapi hidup itu bukan kalau,  tapi harus dijalani”.

  ”Ya kita sudah menjalani hidup bersama, waktu yang cukup lama mengingat rentang usiaku yang menuju senja”  dalam hatiku kadang timbul rasa bersalah. Selama ini mungkin hidupku sia-sia belum bisa memberi makna pada diriku sendiri, apa lagi memberi arti pada bangsa, terasa aku hanyalah sebutir debu yang tak berarti apa-apa. Mengingat kesana begitu kecil rasanya diriku tak ada yang patut dibanggakan apalagi disombongkan. Sedikit – sedikit egoku mulai terkikis walau kadang masih berbekas tak bisa hilang sama sekali. Aku sadar memang kita tak bisa menyelesaikan masalah dengan menyesal dan meratapi sesuatu yang sudah berlaku. Hidup hari ini,  kita bekerja hari ini untuk memetik  hasilnya esok hari. Hidupku sendiri harus kujalani dalam siklusnya sendiri. Bertahan pada keadaan yang sukar insya allah akan memetik buah hasil yang menyenangkan.

Cahaya mentari yang makin terang seperti ditaburkan dari langit, menciptakan suasana siang di desaku dalam gairah kerja di hati penduduk desa, ada kerinduan pada bunga bunga sehingga bunga itu berputik dan berbuah yang akhirnya menumbuhkan bulir-bulir padi dari hasil keringat dari penghuni desa. Kadang aku merenung untuk memamahi apa sesungguhnya guna manusia hadir di bumi ini. Hanya yang ku dengar dan mulai kupahami bahwa manusia adalah khalipah Allah di muka bumi.

Bumi seperti tersenyum. Langit seperti tersenyum,pepohonan juga seperti tersenyum menikmati percakapan aku dengan istriku, juga percakapn dengan diriku sendiri.

Aku kelana yang telah letih mengembara, yang kini sudah mendapat pelabuhan hati.


(BERSAMBUNG KE BAGIAN 11)

Featured Post

HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA

KHARAMAH HABIB ALHABSYI:  BISA DENGAR SUARA TASBIH DAN BENDA MATI HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA Habib Ali Alhabsyi nama lengkapnya H...