BERANDA

Minggu, 16 April 2023

KEISTIMIWAAN MALAM LAILATULQODAR DALAM EKPRESI EMPAT PUISI KARYA (R.KYRANI)

 KEISTIMIWAAN MALAM  LAILATULQODAR
DALAM EKPRESI EMPAT PUISI KARYA R.KYRANI

Sebagai umat islam meyakini bahwa malam Lailatulqodar, adalah malam yang istimewa, yang terjadi dalam bulan Ramadhan, keyakinan tersebut didasarkan pada Al-Qur’an digambarkan sebagai malam seribu bulan. Deskripsi tentang keistimewaan malam tersebut terdapat pada Surah Al—Qadar surat ke 97. Berdasar hal tersebut umat islam meyakini bahwa malam itu lebih baik dari malam seribu bulan. Dan malam itu sebagai malam pelimpahan keutamaan yang dijanjikan oleh Allah kepada umat islam yang berkehendak untuk mendapatkan bagian dari pelimpahan keutamaan itu. Keutamaan ini berdasarkan nilai Lailatulqadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa terjadinya malam Lailatulqadar itu pada terjadi 10 malam terakhir bulan Ramadan, hal ini berdasarkan hadis dari Aisyah yang mengatakan: " Rasulullah 

Shallallahu 'alaihi wa sallam beriktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dan dia bersabda, yang artinya: "Carilah malam Lailatulqadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadan" " (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169).

Berdasarkan hadis tersebut sudah menjadi keyakinan dan pengetahuan, umum bahwa Lailatulqadar kemungkinan akan "diwujudkan" oleh Allah pada malam ganjil, tapi mengingat umat islam memulai awal puasanya ada kalanya pada hari dan tanggal yang berbeda, maka  bagi umat islam yang menghendaki keutamaan dari malam tersebut maka mencarinya setiap malam. 

Sebagai umat islam yang meyakini hal tersebut tentu saja betapa inginnya mendapatkan anugrah Allah di malam Lailatulqodar, maka berusaha untuk meraihnya dilakukan dengan cara beritikaf /beribadah di mesjid bagi  kaum laki-laki dan  beribadah di rumah atau di mushola masing masing bagi kaum perempuan. Di malam tersebut banyaknya maikat yang turun ke bumi sehingga saking banyaknya malaikat yang turun malam tersebut digambarkan malam yang sempit seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surah Ar-Ra'd ayat

26: Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)

Melalui kumpulan puisi Lailatul Qadar di bawah ini  semoga dapat menambah keinginan untuk semakin giat beribadah dan memohon ampunan di sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan ini. 


Puisi Pertama


Amalan Seribu Bulan

Oleh: R. Kyrani


Masih asyik dalam sujud seorang hamba

Di timpa luahan air mata

Sadar betapa menggunungnya dosa

Malam seribu bulan, akankah dapat mengimbanginya?


Seorang hamba, mengerti bahwa amal akan ditimbang

Keburukan bisa jadi penghalang

Kala menuju taman surga yang rindang


Bisakah sebab lailatul qadar

Beratnya dosa sedikit pudar

Sebab amalan seribu bulan telah ditebar


Hanya Ilahi yang mampu menilai

Seorang hamba cukuplah merangkai

Amalan tak putus dan tak cerai

Sesedikit mungkin dosa disemai


Puisi Kedua


Sepuluh Simpuh

Oleh: R. Kyrani


Entah malam yang mana

Sepuluh hari aku meraba

Mencari-cari malam mulia

Lailatul qadar disebutnya

Dalam urai air mata

Aku hanya ingin berjumpa

Ikhlas menanti, tanpa mengaduh

Tak apa, simpuhku hanya genap sepuluh



Puisi Ketiga


Dalam Genggaman-Mu

Oleh: R. Kyrani


Malam ini ku serahkan penuh

Jiwaku yang berharap dengan utuh

Tak lelah meski ribuan detik dalam simpuh


Yaa Rabb, genggam hati yang hamba ulurkan

Meski berkalang dosa dan kemaksiatan

Masih bolehkah hamba mengharap ampunan

Melalui pasrah di malam seribu bulan


Kata mereka ampun-Mu tak terbatas

Saat hamba-Mu datang, Engkau akan memeluknya dengan lekas

Meski tadinya mereka menolak-Mu dengan keras


Jadi, meski catatan dosa diri ini sungguh panjang

Dengan jumlah kebaikan yang hanya berbilang

Semoga amal dan pasrahku di malam yang tenang

Bisa menjadikan neraca perhitungan lebih seimbang


Puisi Keempat


Andai Mengenal-Mu Lebih Cepat

Oleh: R. Kyrani


Sesal sering meraja hati

Mengapa tak sejak dulu kujemput jalan Ilahi

Setelah bermandi dosa dan hina

Baru ku bisa melihat secercah cahaya

Andai mengenal-Mu lebih cepat

Tapi, bukankah saat ini juga belum terlambat?

Aku masih berkesempatan beroleh rahmat

Saat nyawa belum tercekat

Menangis aku

Tergugu

Dalam semua tawaran ampunmu

Bahkan bila catatan amalku tak penuh seujung kuku

Tak apa hanya bila sudah ada sesal dalam kalbu

Di malam seribu bulan

Hati ini aku serahkan

Walau entah setara berapa juta bulan kesalahan

Aku percaya, Engkau masih yang Maha pemilik ampunan

Kamis, 30 Maret 2023

JERITAN HATI PENGHUNI PINGGIRAN

 JERITAN HATI PENGHUNI PINGGIRAN


Kehidupan masyarakat kecil makin terhimpit, suara menjerit dari derita rakyat kecil yang tak bisa berbuat apa-apa, ambisi sang penguasa durjana, tak peduli penderitaan mereka, proyek besar mengobrak-ngabrik pemukiman tak peduli mereka hidup dalam derita. Ekspleolitas alam terjadi dimana-mana dengan dalih demi kemakmuran, dan demi kesejahtraan yang terjadi hanyalah sarana pengisi pundi pundi para oknum penguasa yang tak bertanggung jawab. Para pereman mereka sewa Kerjasama dengan para pengusaha, biar rakyat kecil tak bersuara, mereka bungkam dalam ketakutan.

Para pembaca yang Budiman mari kita apresiasi puisi berikut sebagaimana yang telah saya gambarkan dalam ilustrasi di atas


BALADA SANG DURJANA

(Undang Sumargana)

Kerusakan pesisir pasir pantai  Cipatujah akibat keserakahan


Mentari membakar langit biru

Melelehkannya jadi keprulan debu

Tanah gosong panas bara neraka

Sang durjana berkelana menebar kejahatan

Berhotbah   dan gelorakan semangat dalam  propaganda palsu

Dalam pencitraan yang tak terwujud dalam kenyataan


Durjana berkelana merambah perkampungan

Mengeruk keuntungan memporandakan  pesisir pantai

Merambah hutan belantara

Menggaruk tanah-tanah mengobrak abrik menerus bumi

Demi ambisi dan memperbanyak  pundi-pundi meraka


Durjana berhotbah dengan cerita kosong

Berdalih demi Keadilan, kemakmuran dan kebahagiaan

Sekian lama kita merdeka

Tapi aku tetap orang-orang pinggiran

Yang terusir dari perkampungan

Dikejar dan diobrak obarik pasukan perkasamu


Akulah orang pinggiran korban taring kekuasaanmu

Yang selalu dikejar seperti halnya maling jemuran

Lapak penyambung nyawaku kau ratakan

Sang Durjana  ciptakan neraka dalam setiap sudut kehidupan


Durjana merambah ke  mana-mana

Tak ada lagi tempat  kosong buat orang pinggiran

Tak ada lagi ketentraman buat kaum duapa

Tak ingat lagi janji-janji saat dilontarkan untuk mencapai ambisimu

Durjana selalu datang mengejar

Mencabik cabik dengan cakaran maut pasukan iblismu

Yang sulit diluluhkan dengan nasehat para malaikat sekalipun


Tasik Pakidulan 2023


Rabu, 29 Maret 2023

CINTA DALAM KEHIDUPAN

 CINTA DALAM KEHIDUPAN

Cinta merupakan suatu misteri yang sulit diungkap, sehingga terus jadi tema yang selalu dibahas dalam kehidupan. "Cinta adalah kebahagiaan yang terus berdegup, Cinta adalah wujud keabadian yang paling sejati, Cinta membuka mataku dengan keindahannya, dan membeli jiwaku dengan kehangatan jemarinya." (Kahlil Gibran)

Disini pun penulis mencoba menyibak makna cinta dengan sebuah puisi di bawah ini.


CINTA PUTIH DI PANTAI PUTIH

(Undang Sumargana)


Angin rindukan gugurnya dedaunan

camar bertengger di buritan                       

ada senyum mendiamkan detak jantungku

deburan ombak pecahkan kebekuan hatiku


Kucuri indah kedipan matamu       

senyummu adalah Isyarat cinta  di lerung kalbu

dalam belaian ranting mesra di pohon-pohon      

mataku nekad  mencuri senyummu

di pasir putih hatiku se  putih salju

kupahami rahasia hatimu

jadikan aku sekeping hati dikehidupanmu


Di Antara Ujung-Ujung sayap cinta           

mengepak  menebar rindu luluhkan hati   

pasir putih jadi saksi              

saksi cinta yang abadi        

bagai mimpi bersemi di taman hati               

kutakut kehilanganmu


(Tasik Selatan,  April 2022)                           

SANTANA KEUR NGALALANA 7

 SATRIA PINILIH TI GUHA RAKSA SABANA 2

(Undang Sumargana)

SANTANA KEUR NGALALANA 7


Ringkasan cerita sebelumnya

Mohon maaf saya baru bisa melanjutkan “Cerita Santana Kerur Ngalalana dalam episode  “Satria Pinilih ti Guha Raksa Sabana” 

 Sebelumnya santana menemukan Guha yang namana “Guha Raksa Sabana Disana menemukan beberapa keanehan. Ada tulisan tulisan dan gambar-gambar yang ternyata merupakan ilmu Silat tingkat Tinggi dari seorang pendekar yang Bernama Ki Ajar Sakti. Ternyata dia adalah orang tua dari kedua Guru Santana. Dan sejak saat itu Santana ingin sekali masuk Guha ternyata tidak bisa, kecuali kalau dia sudah tuntas mempelajari ilmu dari Ki Ajar Pangestu, dengan tekun ia menuntaskan pelajaran dari Ki Ajar Pangestu, dan tibalah saatnya untuk masuk ke Guha dan belajar di Guha Raksa Sabana dengan ijin dan Restu Gurunya.


Isukna, sabada solat subuh, santana geus manco harupen nu jadi guruna Ki Ajar Pangestu

“Jalu anaking, isuk-isuk poé ieu hidep geus waktuna asup ka jero guha Raksa Sabana, wayahna hidep moal bisa di barengan ku Kula, sabab iwal ti hidep  nu  bisa asup ka jero guha, sarta tilu wanara Sakti jeung maung bodas, nu bisa lalar liwat, bisa maturan hidep sarta nyadiakeun kapaerluan hidep. Sok jalu sadatang ka jero guha kabeh  nu aya di jero guha bakal mere pituduh pikeun hidep di ajar pengaweruh nu bakal jadi warisan ti Bapak Kula Ki Ajar Sakti ”.

“Ki Guru salami ieu  putra rumaos seueur nyesahkeun, elmu Ki Guru no tos kapimilik mugia manfaat, insya  Santana baris ngajalankeun sakumaha nasehat pun Guru”

“Kula rek ngawariskeun ieu gegaman mangrupa Cameti Sakti pikeun gegaman hidep di mana hidep hiji waktu bisi adu hareupan jeung musuh, tapi tong digunakeun lamun teu kapaksa, engke oge bakal aya pituduh kumaha cara ngagunakeun nana”. Santana namapanan eta gegaman mangrupa cameti anu digulungkeun, karasa waktu ditampanan ayah hawa tiis nu nyalur kana sakujur awakna.

“Hiji deui jalu ieu bungkusan rompi jeung calana cingkrang nudijieun tina kulit lodaya 20 taun ka tukang, bisa dipaké ku hidep lamun pareng hidep turun gunung, lamun hidep mké  ieu rompi jeung calanana moal aya pakarang nu bisa nembus kana awak hidep sarta dilengkepan jeung tutup sirah sarta sapasang sapatuna”. Nga geter  Santana nampanan barang ti Guruna, aya nu ngeclak ngalembereh dina pipina cimata kabungah sarta rasa sedih kingkin bakal papisah jeung guruna. 

“Bral jalu geura indit nuju ka jero Guha”. Guruna ngarangkul Santana. Sanggeus lesot tina rangkulan  Guruna ngaleos atuh santana teu loba carita, jleng luncat clé neté na batu handapeun tangkal caringin teurus Santana ngageroan Si belang, teu lila Si Belang geus aya hareupeunnana.

“Belang hayu hidep, milu ka Kula, ke kukula diwawuhkwun jeung tilu Wanara Sakti oge maung bodas”. 

“Si Belang nemalan bari ngunggutkeun sirahna”. Jleng Santana luncat kana tonggong Si Belang, belesat lumpat Tarik naker, teu lila geus aya dihareupeun lawang guha, di dinya geus nyampak maung Bodas sarta tilu Wanara Sakti. Sakilat Santana geus aya hareupeun Maung Bodas sarta tilu Wanara Sakti,

“He Sobat-sobat kaula ieu batur kula Si belang bakal jadi batur hidep, tapi wayahna belang hidep moal bisa kaluar asup ka guha, sarta belang hidep moal bisa nembus lawang  guha. Hidep jaga di luar sawaktu-waktu mun ieu Si Bodas jeung wanara kaluar hidep bisa babarengan, saluyu jeung paréntah Si Bodas”. Si Belang ngadeukeutan maung bodas sarta manéhna ngaléndotan Si Bodas sarta tilu wanara, tandaning nurut kana carita Santana, sarta manéhna baris nurut ka paréntah sarta jadi sobat Maung Bodas oge tilu Wanara Sakti. 

Santana terus asup ka Jero guha, dituturkeun ku Maung Bodas sarta tilu wanara Sakti, Ari Si Belang ngaleos kana rungkun deukeut guha nu aya batu niung ngajegir. Sabada nepi ka jero guha, Santana diuk na batu nu ngademprak, manehna menekung ka nu agung sarta nyeukeutkeun pangrasa, panenyo sarta pangdéngena, ku hal itu Santana geus bisa nganyahokeun sakabéh nu aya di jero guha kaasup  tampian  tempat wudu ogé paranti mandi, sarta tempat paranti sholat, 

“Emh… bener bener luar biasa ieu guha, sagala kumplit lir ibarat wangunan imah anu kacida laluasana” Santana ngilikan pituduh anu aya dina sisi guha pikeun nalungtik kudu timana manéhna mimiti diajar, akhirna Santana mangihan tulisan ngajeblag anu unina kieu. 

“Bismillah wiwitan gawé pancegkeun haté nu ikhlas leungeun namprak dina dada sila na amparan bumi, sirah tungkul bari syukur, insya Allah sagala hal  bakal mangfaat natrat asal terus marifat, sajam satengah bada subuh tong kaganggu ku rasa tunuh”. Akhirna Santana ngarti naon mimiti nu kudu dilakukeun. Nganung harti  kula timimiti subuh engké geus kudu ngalakonan ieu pituduh. Akhirna santana mapayan sagala pituduh nu ngajareblag dina batu sisi guha. Teu karasa waktu geus nepi ka lohor hal éta datang tina isarah batu anu bentukna saperti kohkol nitir lamun geus waktuna solat. 

Santana muru tampian sarta kumplit aya tempat bubuang, singhoréng eta tampian nurug tina sumer cai nu di kocorkeun ku coleng awi, sarta tina tampian nyamung kaluar kawalungan gedé anu aya di luareun guha, sedengkeun dua meter ti tampian aya lawang leutik paranti kaluar asup ka sisi walungan, aya pituduh husus pikeun muka jeung nutup eta panto nu  dijieun tina batu, ku cara mencet tomol batu. Hal éta kanyahoan tina tulisan dina  kulit kelenci nu nga haja disiapkeun ku Ki Ajar Sakti. 

Nyobaan Santana muka eta panto saluyu jeung pituduh, pantu lalaunan muka sarta diluar aya batu niung sarta pangdiukan paranti nyawang kaéndahan sisi walungan sarta kaéndahan séjén nu aya di jero guha. Tapi santana teu lila sabab maksudna oge rek mani tuluy solat.



Senin, 27 Maret 2023

SAPARDI DJOKO DARMONO SANG PENYAIR ROMANTIS YANG MELANKOLIS

 SAPARDI DJOKO DARMONO SANG PENYAIR ROMANTIS

 YANG MELANKOLIS

Dalam dunia puisi Prof, Dr.  Sapardi Djoko Damono, merupakan salah satu penyair romantis Indonesia. Hal ini karena banyak karya karya puisinya yang begitu romantis  yang mampu menyentuh hati masyarakat. Ia sosok yang memprakarsai musikalisasi puisi dengan irama yang melankolis, sehingga tak heran ia disebut penyair romantic yang melankolis. Hal itu pula yang menjadikan puisi digemari para remaja. Prof. Dr. Sapardi Djoko Darmon adala seorang pujangga berkebangsaan Indonesia terkemuka, ia lahir di Kampung Baruno. Solo 20 Maret 1940 – 19 Juli 2020) Ia adalah putra pertama pasangan Sadyoko dan Saparian. Dalam dunia kesastraan Indonesia, Sapardi kerap dipandang sebagai sastrawan angkatan 1970-an.  Dalam masa mudanya ia bertempat tinggal d di Surakarta. 

Pendidikan yang   ia tempuh, di SD Inpres Nagaraherang, pendidikan menengah di SMP Negeri 2 Surakarta (lulus 1955) dan melanjutkan ke  SMA Negeri 2 Surakarta (lulus 1958). Pada masa ini, Sapardi sudah mulai menulis banyak karyanya dikirimkan ke majalah majalah. Kesukaannya menulis terus ditekuninya dan terus  berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Jurusan Sastra Barat, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia pun  sempat menempuh studi di University of Hawaii, Honolulu, setelah itu Sapardi menempuh program doktor di Fakultas SastraUI dan lulus pada tahu 1989.                

Dalam karirnya Sapardi setelah lulus kuliah 1964, menjadi pengajar pada Fakultas Keguruan Sastra dan Seni IKIP Malang di Madiun sampai 1968 , tahun 1973 ia sempat bekerja di Semarang dan pindah ke Jakarta untuk menjadi direktur pelaksana Yayasan Indonesia yang menerbitkan majalah sastra Horison. . Sejak 1974, ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia. Sapardi diangkat jadi Guru Besar kemudian  ditunjuk sebagai Dekan Fakultas Sastra UI periode 1995-1999.  . Pada masa tersebut, Sapardi juga menjadi redaktur majalah Horison, Basis, Kalam, Pembinaan Bahasa Indonesia, Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, dan country Ia pun menjadi  editor majalah Tenggara di Kuala Lumpur. Setelah purna tugas sebagai dosen di UI pada tahun 2005, Sapardi masih mengajar di Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta. Di sela-sela kesibukannya ia  tetap menulis fiksi maupun nonfiksi. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar. 

Akhirnya Allah dengan kuasanya memanggil sang penyair legendaris yang melankolis pada hari Minggu  19 Juli di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan. Sang Penyair legendaris yang romantis telah tiada tapi karya-karyanya tetap dikenang abadi di dalam hati. 

Berikut ini beberapa karya puisi Supardi Djoko Darmono untuk kita apresiasi:

1. Hujan Bulan Juni

 

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu


tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu


2. Hatiku Selembar Daun


Hatiku selembar daun

melayang jatuh di rumput;


Nanti dulu,

biarkan aku sejenak terbaring di sini;

ada yang masih ingin kupandang,

yang selama ini senantiasa luput;


Sesaat adalah abadi

sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.


3. Pada Suatu Hari Nanti


Ilustrasi (credit: Freepik)

Pada suatu hari nanti,

Jasadku tak akan ada lagi,

Tapi dalam bait-bait sajak ini,

Kau tak akan kurelakan sendiri.


Pada suatu hari nanti,

Suaraku tak terdengar lagi,

Tapi di antara larik-larik sajak ini.


Kau akan tetap kusiasati,


Pada suatu hari nanti,

Impianku pun tak dikenal lagi,

Namun di sela-sela huruf sajak ini,

Kau tak akan letih-letihnya kucari.


4. Sajak Kecil Tentang Cinta


Ilustrasi (credit: Freepik)

Mencintai angin harus menjadi siut

Mencintai air harus menjadi ricik

Mencintai gunung harus menjadi terjal

Mencintai api harus menjadi jilat


Mencintai cakrawala harus menebas jarak

Mencintai-Mu harus menjelma aku

 

5. Sajak Tafsir


Kau bilang aku burung?

Jangan sekali-kali berkhianat

kepada sungai, ladang, dan batu.

Aku selembar daun terakhir

yang mencoba bertahan di ranting

yang membenci angin.

Aku tidak suka membayangkan

keindahan kelebat diriku

yang memimpikan tanah,

tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku

ke dalam bahasa abu.

Tolong tafsirkan aku

sebagai daun terakhir

agar suara angin yang meninabobokan

ranting itu padam.


Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat

untuk bisa lebih lama bersamamu.

Tolong ciptakan makna bagiku,

apa saja — aku selembar daun terakhir

yang ingin menyaksikanmu bahagia

ketika sore tiba.


6. Kita Saksikan


kita saksikan burung-burung lintas di udara

kita saksikan awan-awan kecil di langit utara

waktu itu cuaca pun senyap seketika

sudah sejak lama, sejak lama kita tak mengenalnya


di antara hari buruk dan dunia maya

kita pun kembali mengenalnya

kumandang kekal, percakapan tanpa kata-kata

saat-saat yang lama hilang dalam igauan manusia

1967


Sumber bacaan

1.    Sastrawan Sapardi Djoko Damono Meninggal Dunia Kompas

2.    Anonim. "Berita Duka: Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono Berpulang". Berita Falultas Ilmu Budaya         UI.

7.  "Obituari Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono". Institut Kesenian Jakarta IKJ. 2020-07-20. 


Kamis, 23 Maret 2023

SOLUSI CERDAS BAGI GURU UNTUK MENGATASI KESULITAN SISWA DALAM MENULIS PUISI

SOLUSI CERDAS BAGI GURU UNTUK MENGATASI KESULITAN SISWA  DALAM MENULIS PUISI

Tujuan pembelajaran menulis di Sekolah Dasar (SD) diarahkan pada tercapainya kemampuan mengungkapkan pendapat, ide gagasan, pengalaman, informasi pesan, menggunakan ejaan dan memanfaatkan unsur-unsur kebahasaan karya sastra dalam menulis. Pencapaian tujuan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah metode pembelajaran. Metode pembelajaran dapat meningkatkan motivasi siswa dalam menciptakan suasana belajar kolaboratif dan membuat siswa aktif. Salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas siswa adalah metode Discovery – Inquiry. Melalui metode pembelajaran ini diharapkan siswa mampu menulis puisi dengan benar. Metode ini memberikan peluang kepada siswa untuk aktif terlibat langsung dalam proses pembelajaran dengan menemukan sendiri materi yang sedang dipelajarinya. Dengan demikian, pengalaman siswa akan bertambah banyak yang bisa menjadi kosakata dalam menulis puisi. 

Dalam penyajian pembelajaran puisi  anak difungsikan  sebagai media hiburan yang mendidik yang akhirnya akan mengasah empati, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberikan wawasan terkait keterampilan praktis kepada mereka. Dalam hal ini pengenalan menulis puisi  pada  anak sejak dini dapat membantu untuk  membentuk kepribadian anak serta meningkatkan kecerdasan emosinya. 

Pembelajaran dimulai  dengan mengenalkan, pada  peserta didik untuk memahami dasar dari puisi. Perlu dipahami bahwa puisi adalah kata-kata indah yang memiliki banyak makna, bersifat konotatif serta dalam pembuatanya tidak mengikuti kaidah. Suliani (2011:84-85) mengemukakan ”Puisi adalah buah pikiran, perasaan dan pengalaman penyair yang diekspresikan dengan media bahasa yang khas dan unik”. Suliani juga mengemukakan bahwa ”puisi adalah buah pikiran, perasaan dan pengalaman penyair yang diekspresikan dengan media bahasa yang khas dan unik”. Sampaikanlah elemen struktural yang membentuknya, seperti tema, pengimajinasian, rima, irama, dan diksi. Dalam  penyampaian materi harus  diselingi dengan kegiatan pelatihan dalam pelatihan tersebut  peserta didik diminta untuk menulis dan membaca puisi yang telah mereka buat. Kegiatan ini diharapakan dapat melatih dan mengasah kemampuan mereka dalam berimajinasi dan berkreativitas.

Peserta didik menulis puisi biasanya hanya hanya berdasarkan yang ia senangi dan yang ia rasakan. Sehingga dalam menentukan tema puisi anak itu berkisar di antara kehidupannya sebagai anak kecil. Misalkan mereka senang binatang pasti akan menulis binatang itu atau senang pemandangan alam lainya dan cerita tentang cita-citanya masa depannya. Berilah kebebasan pada anak untuk menulis dengan tema yang mereka senangi dan ketahui, bila perlu beri kesempatan untuk mengamati benda-benda yang ada disekitar mereka/dilingkungan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya pengenalan dan pengajaran sastra dengan cara yang interaktif dan menyenangkan akan mendorong rasa keingin tahuan peserta didik  untuk lebih jauh mengenal sastra dan mengasah kemampuan atau bahkan bakat mereka di bidang sastra terutama puisi. Diharapkan   dengan kegiatan belajar seperti ini tidak hanya menambah wawasan dan pengalaman peserta didik terhadap sastra, namun dapat mendorong minat setiap peserta didik untuk lebih jauh mengenal dan mempelajari sastra di setiap jenjang pendidikan yang akan mereka lalui

Agar lebih memahaminya penulis akan memberikan contoh berikut:  yaitu  10 puisi pendek anak SD yang dikutip dari buku Kumpulan Puisi Anak Bianglala karya Fadiya F.A.Z, dkk., dan Puisi Anak-Anak karya Hendrik Eko Prasetiyo.

1. Puisi Anak SD tentang Guru

Terima Kasih Guruku

Guruku...
Kau adalah pahlawan
Telah banyak ilmu yang kau ajarkan kepadaku 
Demi masa depanku yang terang 
Tak kenal lelah kau ajariku 
Dengan sabar kau ajarkanku 
Sungguh besar jasamu wahai guru 
Terima kasih guruku 
Atas bimbinganmu selalu 
Akan kuingat selalu pesanmu 
Wahai guruku...

2. Puisi Anak SD tentang Ibu

Ibu

Ibu...
Sembilan bulan lamanya 
Kau berjuang melahirkanku 
Agar melihat dunia
Kau mengandungku
Ibu...
Terima kasih atas jasamu
Yang telah membesarkanku 
Hingga jadi anak berguna 
Bagi nusa dan bangsa

3. Puisi Anak tentang Alam

Alamku
Dingin menusuk tubuhku
Embun memandikan dedaunan 
Redup yang disambut kicau burung 
Membuka hari penuh ceria
Matahari berjuang penuh harap 
Menembus tebalnya kabut 
Perlahan hangat dan terang
Sambut hari penuh senyum
Nikmat dunia tiada tara
Syukurku pada penciptaku 
Memanjakan umat 
Dengan nikmat karunia-Mu
Tanah Airku Indonesia
Bidang-bidang tanah dengan pematang
Hamparan sawah luas membentang
Laksana permadani hijau mengembang
Di sepanjang pantai
Pucuk-pucuk nyiur melambai pantai
Menghias alam negeri nan permai
Indah subur kaya raya
Tanah Airku Indonesia


4. Puisi Anak SD tentang Lingkungan

Lingkungan

Oh betapa indahnya
Lingkungan rumahku 
Hijau rindang dipandang mata
Pohon-pohon yang ada
Tumbuhan pula
Banyak yang bersemi di sana
Beginilah hidup di desa
Udara terasa sejuk, hidup terasa nyaman

5. Puisi Anak SD tentang Sahabat

Sahabat

Betapa bahagia mempunyai sahabat
Bermain bersama
Tertawa gembira
Berbagi cerita seperti keluarga
Tak hanya bersama dalam suka
Dalam duka pun kami bersama
Saling menghibur dalam duka
Agar duka menjadi bahagia

6. Puisi Anak tentang Kemerdekaan

Indonesiaku

Merah putih yang berkumandang 
Kokoh berdiri tegak dan berkibar 
Bukan secarik lap tangan 
Tapi kain hasil pengorbanan
Indonesiaku engkau sangat indah 
Ada pepohonannya, ada pegunungannya 
Dan ada sungainya 
Pepohonannya indah, pegunungannya 
Sejuk dan sungainya luas
Mari... tegakkan ekapaksi 
Tuk jadikan pegangan hidup bangsa 
Jayalah selalu Indonesiaku 
Merdeka...!!!

7. Puisi tentang Hewan untuk Anak SD

Kelinciku

Kau adalah peliharaanku
Teman di saat ku sendiri
Curhatanku saat tidak ada kawan
Tapi kamu tidak dapat bicara
Aku senang memberimu makan
Karena aku sayang pada kelinciku
Si Hitam
Warna hitam bulunya
Bulat bentuk matanya
Dia senang bercanda
Berlari bermain bola
Meong-meong suaranya
Kala kupanggil namanya
Si hitam kucingku manis
Mengapa kau berkumis

8. Puisi tentang Bunga untuk Anak SD

Melatiku

Warnamu putih
Bungamu kecil
Harummu semerbak mewangi
Banyak kumbang menghampirimu
Kau tumbuh di taman
Tak lupa selalu kusiran
Agar terus berkembang
Menghiasi taman rumahku
9. Puisi Anak SD tentang Keluarga
Keluargaku
Cinta dan kasih sayang 
Dari keluarga 
Dengan segala Canda tawa 
Membuat kubahagia
Keluargaku yang membuatku rindu 
Tempatku mengadu 
Dan segala aduanku 
Aku rindu keluargaku

10. Puisi Anak SD tentang Ayah

Ayahku

Betapa besar jasamu
Tiada kenal lelah bekerja
Membanting tulang demi keluarga
Demi anak-anak dan istrimu
Terima kasih ayahku
Engkau selalu membimbingku
Semoga Tuhan selalu melindungimu
Menghantarkan langkahku
Menuju masa depan yang gemilang

Antusiasme dan minat yang sangat besar dari peserta didik akan  terlihat selama kegiatan berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya pengenalan dan pengajaran sastra dengan cara yang interaktif dan menyenangkan akan mendorong rasa keingintahuan anak untuk lebih jauh mengenal sastra dan mengasah kemampuan atau bahkan bakat mereka di bidang sastra. Kegiatan pembelajaran ini berakhir dengan evaluasi kegiatan, peserta didik menunjukkan bahwa mereka telah cukup memahami materi-materi yang dijelaskan selama pengajaran. dalam pelaksanaan pembelajaran ini  diharapkan  kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan dan pengalaman peserta didik terhadap sastra khususnya puisi, namun dapat mendorong minat setiap peserta didik untuk lebih jauh mengenal dan mempelajari sastra khususnya puisi di setiap jenjang pendidikan yang akan mereka lalui.

Senin, 20 Maret 2023

BIANGLALA CINTA SANG KELANA BAGIAN 11

PELABUHAN HATI SANG KELANA 3

(Undang Sumargana)

Cuplikan cerita sebelumnya

Cahaya mentari yang makin terang seperti ditaburkan dari langit, menciptakan suasana siang di desaku dalam gairah kerja di hati penduduk desa, ada kerinduan pada bunga bunga sehingga bunga itu berputik dan berbuah yang akhirnya menumbuhkan bulir-bulir padi dari hasil keringat dari penghuni desa. Kadang aku merenung untuk memamahi apa sesungguhnya guna manusia hadir di bumi ini. Hanya yang ku dengar dan mulai kupahami bahwa manusia adalah khalipah Allah di muka bumi.

Bumi seperti tersenyum. Langit seperti tersenyum,pepohonan juga seperti tersenyum menikmati percakapan aku dengan istriku, juga percakapn dengan diriku sendiri.

Aku kelana yang telah letih mengembara, yang kini sudah mendapat pelabuhan hati.

(BERSAMBUNG )

Desiran angin sore ini, betul betul menambah kesejukan, sampai aku kadang senyum sendiri. Ombak laut Pangandaran terlihat agak tenang dari biasanya camar laut kepakan sayap, setelah menukik ke bawah dan menjepit ikan diparuhnya, di buritan perahu layar kadang mereka bertengger menikmati hasil jerih payahnya walaupun cuma seekor ikan kecil. Camar itu kadang memandang ke atas mungkin peasaan syukurlah yang terbersit dalam hati sang Camar itu.

“Sayang…! Panggilan istriku padaku, seolah olah seperti anak muda yang baru berpacaran. 

“Lihatlah Camar laut, dapat ikan kecil saja dia selalu bersyukur”

“Iya mah itu pelajaran bagi kita sebagai manusia, bahwa sekecil apapun yang kita dapatkan, sekecil apapun yang kita rasakan, bersyukurlah kepada Allah”.

“Iya sayang, kebanyakan kita suka lupa, dari apa yang kita dapatkan, kadang kita merasa sombong bahwa yang kita dapatkan hanya semata-mata karena kita sendiri, tak sadar di balik keberhasilan manusia ada sang penentu Allah Robbul Ijati”

“Iya mah, lupa itu berarti tidak ingat, sedangkan sombong itu prilaku Iblis. Sebaiknya kita ingatkan, dan kita saling mengingatkan, serta ayo kita perangi sipat sombong yang selalu bersemayan dalam hati masing-masing.

“Mah, Pah,? Tiba tiba Rado putraku dan Rifani putriku yang selalu memanggilku dengan sapaan Papah, sudah berada disampingku, setela mereka bosan bermain pasir.

“Mah, Pah, kita di Pasir Putih ini sampai matahari tenggelam ya, kita lihat sama sama indahnya pemandangan menjelang Mentari tenggelam“      

“Iya cakep, Cantik”, Istriku menjawab sambal mengelus kepala putra-putri kesayanganku itu”.  Keduanya duduk kira-kira tiga  meter disampingku, sedangkan aku dan istriku masih ditempat yang tadi di bawah rindangnya pohon Ketapang. Hari ini aku betul-betul merasa bahagia, jiwaku seakan hidup kembali, sekian lama sang Kelana letih mengembra merasakan tajamnya sayatan-sayatan pisau kehidupan dan terpaan gelombang  yang menghentak menyisakan lebam luka yang mendalam. Tak terasa ada genangan air mata dipelupuk mataku, mungkin air mata kebahagiaan yang bersamaan dengan pancaran rasa syukur dari lubuk hati. 

“Ya Allah kau telah kirimkan widadari dalam wujud istriku dan putra-putriku, terima kasih ya Rob…!” Tiba-tiba aku dikejutkan oleh istriku tangannya yang telah menggenggam tisu mengusap butiran air mata yang mengalir di pipiku .

“Ada apa sayang, apa ada salah yang telah ku lakukan sehingga menangis?” Kupeluk istriku ku tenggelamkan wajahnya dalam dadaku, dan kuusap usap kepalanya dengan rasa sayang yang begitu mendalam”.

“Mah sayang hari ini ayah betul betul bahagia, mendapatkan mamah, dan lihat kebahagiaan putra-putri kita. Perasaanku begitu tulus rasa bahagia rasa haru berbaur menjadi satu

“Sudahlah Yah, mamah juga bersyukur ayah orangnya baik, tanggung jawab dan selalu mneghargai mamah”. Semakin erat ku peluk istriku, tapi itu merupakan pelukan yang betul betul dilandasi rasa sayang yang tiada tara.

“Angin laut terasa mulai menebarkan rasa sejuk, Mentari  perlahan mulai tenggelam, pedaran aneka warna di langit Pangandaran,  seolah olah tebaran bianglala cinta yang terpancar memedarkan cahaya. Sang Kelana yang telah berlabuh di hati wanita pujaannya. Ada riak gelobang  mulai menyentuh tepi hati yang sudah lama kering, pusara buih putih gelombang yang telah membalikkan kehidupan dengan kuasa illahi. Hidup itu memang indah dan mesti indah. Anggapan semula yang ada dalam hatiku  “Wanita itu adalah macan” mulai terhapus dengan kasih sayang istriku. “Istriku adalah bidadariku” itulah yang ada dalam hati sekarang, dia begitu baik dan ketelitiannya  memperhatikan aku dari hal sekecil apapun. Tekadku aku harus berbuat lebih baik dari istriku dalam memperlakukan aku.

Ya Allah , nikmat apa lagi yang kau limpahkan padaku ?  Putriku yang telah begitu nyaman dalam bimbingan ibunya, putraku  berhasil masuk UPI Bandung melalui jalur SMPTN, setelah dia mondok selama 6 tahun di Pesantren Cipasung dan bersekolah di SMP Islam dan MAN Cipasung, ptraku yang bungsu mondok di pesantren Cipasung, yang kina baru kelas 8 di SMP Islam Cipasung. Terlihat begitu gembiranya mereka menikmati liburannya kali ini. Aku ingat pada putraku yang telah bekerja, jauh dariku tapi meskipun tak bersama lagi, aku dan istriku sangat sayang pada dia. Satu prinsip yang ku pegang, mungkin karena kepercayaanku pada pondok pesantran, maka putra-putriku setelah  tamat SD kutitipkan di pesantren sambil bersekolah di SMP dan tamat SLA, setelah tamat SLA kuberi kebebasan mau kuliah di tempat lain ataupun kuliah di Cipasung sambil terus mondok di pesantren  Cipasung itu lebih baik.

“Mamah, Papah tuh lihat sebentar lagi Mentari tenggelam, indah banget tuh warnanya”. Empat pasang mata langsung tertuju, pada pancaran sinar  matahari, seolah – olah tak mau tertinggal sedetikpun, subhanalloh keindahan yang sulit digambarkan oleh kata-kata, paduan warna yang tak mungkin bisa digambarkan oleh goresan kuas oleh  pelukisa manapun. Rupanya itulah lukisan yang terindah yang pernah kusaksikan. Ada kedamaian yang hanyut dalam paduan warna senja, ada binaran cahya ajaib yang merasuk dalam aliran darahku, seolah-olah denyut jantung memacu kekaguman dalam desahan suara pujian pada dzat Illahi.

“Subhanallah, … subhanallah, …subhanallah, ….!” begitu sempurna Kau ciptakan keindahan yang begitu memanjakan pandangan mataku, Yaa Roob.

Akhirnya mentari itu tak terlihat lagi, seperti hilang di telan gelombang, bersamaan dengan itu kedatangan perahu membuat aku dan Istriku serta kedua putra-putriku bergegas untuk naik menyebrang ke pantai sana pantai Pangandaran yang terasa mulai sepi. 

(bersambung)

Featured Post

HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA

KHARAMAH HABIB ALHABSYI:  BISA DENGAR SUARA TASBIH DAN BENDA MATI HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA Habib Ali Alhabsyi nama lengkapnya H...