BERANDA

Sabtu, 31 Agustus 2024

MENGENAL PUISI L.K ARA PENYAIR RELIGIUS KELAHIRAN TUKENGON ACEH

 MENGENAL PUISI L.K ARA PENYAIR RELIGIUS 

KELAHIRAN TUKENGON ACEH

 MENGENAL PUISI L.K ARA PENYAIR RELIGIUS KELAHIRAN TUKENGON ACEH

rajasastra-us.blogspot.com L.K. Ara, lahir di Takengon, Aceh,  12 November 1937. Pernah menjadi redaktur budaya Harian Mimbar Umum (Medan), Pegawai Sekretariat Negara, terakhir bekerja di Balai Puataka hingga pensiun (1963-1985). Bersama K. Usman, Rusman Setiasumarga dan M. Taslim Ali, mendirikan Teater Balai Pustaka (1967). Memperkenalkan penyair Tradisional Gayo, To’et, mentas di kota-kota besar Indonesia. Menulis puisi, cerita anak-anak dan artikel seni dan sastra. Dipublikasikan di Koran dan majalah di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Karyanya yang sudah terbit antara lain; Angin Laut Tawar (Balai Pustaka, 1969),  Namaku Bunga (Balai Pustaka, 1980), Kur Lak Lak (Balai Pustaka, 1982), Pohon Pohon Sahabat Kita (Balai Pustaka, 1984), Catatan Pada Daun (BP, 1986), Dalam Mawar (BP, 1988), Perjalanan Arafah (1994), Cerita Rakyat dari Aceh I, II, (Grasindo, 1995), Belajar Berpuisi (Syaamil Bandung), Berkenalan Dengan Sastrawan Indonesia dari Aceh (1997), Langit Senja Negeri Timah (YN 2004), Seulawah; Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (ed. YN,  1995), Aceh Dalam Puisi (ed. Syaamil, 2003), Pangkal Pinang Berpantun (ed. DKKP, YN, 2004), Pantun Melayu Bangka Selatan (ed. YN, 2004), Pucuk Pauh (ed YN 2004), Syair Tsunami (ed. Balai Pustaka 2006), Puisi Didong Gayo (Balai Pustaka 2006), Tanoh Gayo Dalam Puisi (YMA, 2006),  Ekspressi Puitis Aceh Menghadapi Musibah (BRR 2006), Puisinya dapat juga ditemukan dalam: Tonggak, (1995), Horison Sastra Indonesia 1 (2002), Sajadah Kata (Syaamil, 2003).

Pernah mengikuti Simposium Sastra Islam di Univ. Brunei Darussalam (1992), Festival Tradisi Lisan di TIM, Jakarta (1993), Kongres Bahasa Melayu Dunia, Kuala Lumpur (1995), Pertemuan Sastrawan Nusantara IX di Kayutanam, Sumatra Barat (1997), Pertemuan Dunia Melayu Dunia Islam, Pangkalpinang, Bangka (2003), Pertemuan Dunia Melayu Islam, Malaka, Malaysia (2004), Mengikuti Festival Kesenian Nasional (Sastra Nusantara) di Mataram NTB (2007). http://sastra-indonesia.com/2021/08/puisi-puisi-l-k-ara-2/


Puisi-Puisi L.K. Ara

166 NAMAKU

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan pepohonan dan rimba

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan sungai dan segara

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan besi dan baja

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan langit dan angkasa

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan angka

Tapi kuncup bunga

Yang disirami ibu-bapa

Kuncup bunga

Yang digayuti embun dinihari

Kuncup bunga

Yang diusap mentari pagi

 

Ya aku bukan angka

Tapi kuncup bunga

Yang ingin mekar

Ingin mengirim wangi sekitar.

 

Jakarta, 1985

 

 

 

SEDEKAH
 

Tujuh puluh bencana

Mengarah pada kita

Bagai mana menolaknya

 

Tujuh puluh sakit

Mendera kita

Bagaimana menyembuhkannya

 

Tujuh puluh pencuri

Mengganyang harta kita

Bagaimana mencegahnya

 

Tujuh puluh amarah Tuhan

Membakar kita

Bagaimana menghindarkannya

Bahkan membakar nadi kita

Bagaimana memadamkannya

 

Hampir kita lupa

Untuk itu semua

Ada satu cara

Sedarhana dan bersahaja

Mari kita bersedekah

Sedekah menolak bencana

Menyembuhkan sakit

Mencegah pencuri

Menghapus amarah Tuhan

 

Sedekah mencipta

Keakraban handai taulan

Sedekah mencipta

Suasana sejuk antara kita

Ia embun pagi

Menetes ke hati.

 

Jakarta, 1985

 

DI GERBANG KAMPUS ITU
 

Seorang setengah baya

Entah dari mana datangnya

Tiba-tiba berdiri

Di gerbang kampus itu

Ia tengadah ke langit

Lalu menjerit

Suaranya hilang entah kemana

Tapi tiba-tiba menetes kata

Dari bintang

Jatuh kebumi

Berserakan di bumi

Menjadi syair

 

Seorang setengah baya

Entah dari mana datangnya

Tiba-tiba terengah

Di gerbang kampus itu

Setelah ribuan kilometer berlari

Mencari

Lalu tertunduk

Menangis

Tangisnya kemudina hilang

Entah kemana

Tapi tiba-tiba menetes kata

Dari batu

Tergulir ke bumi

Menjadi puisi

Yang abadi

 

Seorang setengah baya

Entah dari mana datangnya

Kemudian pergi

Entah kemana

Di subuh hari

Ketika seorang mahasiswa

Membuka pintu gerbang kampus itu

Ia lihat kertas lusuh

Di sana tertulis

Tuhan, berkahi usaha mulia ini.

 

Jakarta, 1986

 


TAK ADA LAGI

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali merasakan sinar bulan

Yang dingin oleh rindu

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali mendengar rintih angin

Di air danau

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali memandang kuburan tua

Tempat istirahat nenek moyang ku

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali menyaksikan embun turun

Membasuh wajah rakyatku

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali merasakan gema doa

Dari orang yang menderita

Doa yang membumbung ke langit

Bersatu dengan awan

Bersatu dengan matahari

Lalu turun kebumi

Mendatangi rumahmu

Memberi salam padamu

Masuk kehatimu

Bicara tentang keadilan

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Tak ada lagi

Kecuali bekas masa kanak-kanak

Yang tertutup debu

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali melihat bayang sejarah

Perlahan tenggelam

Tak tertulis

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Tak ada lagi

Selain menyaksikan kasih Mu

Yang terus menyirami bumi.

 

Lho’Seumawe – Takengon, Januari 1986

 

 

SEORANG TUA BERJALAN
 

Setiap hari ia berjalan

Dijalan itu juga

Setiap hari ia berjalan

Badan sedikit terbungkuk

Langkah satu-satu

Di jalan itu juga

 

Ada senja

Menyamarkan jalannya

Tapi ada bintang

Terbit menolongnya

Semua tak ia minta

Tapi turun begitu saja

Di jalan itu juga

 

Ada matahari terik

Meneteskan keringatnya

Tapi ada angin

Meniup tubuhnya

Datang begitu saja

Semua turun begitu saja

Di jalan itu juga

 

Setiap hari ia berjalan

Di jalan itu juga

Dibawah langit itu juga

Pohon, dedaunan

Tiang listrik, aspal jalanan

Begitu ramah padanya

Kadang seperti menegurnya

Selamat pagi

Atau selamat sore

Atau selamat malam

 

Orang tua itu

Melangkah dan melangkah

Di jalan itu juga

Setiap langkah

Ia mengucap Allah.

 

Jakarta, 1986

 

 

JABAL GHAFUR

Untuk N.A.R.

 

Kulalui petak sawah yang luas

Padinya hijau melambai padaku

Kulalui kebun kelapa

Tinggi pohonnya

Daun menggapai awan

Lalu turun

Menggapai hatiku

 

Kulalui desa-desa tua

Desa perjuangan masa lalu

Disana tersenyum ayah bundaku

Lalu kutembus kabut debu

Kutembus juga sejarah gelap masa lalu

Kutembus semua yang menghalangiku

Aku harus bertemu dengan mu

Aku juga sangat rindu padamu

Engkau adalah kekasihku

Engkau adalah

Rumah di bawah langit biru

Disitu menitik kasih Tuhan

Aku terpana

Aku bertanya siapa namamu

Lalu pepohonan, gunung di jauhan

Sungai dan lautan gelombang berseru

Semua berseru

Jabal Ghafur, Jabal Ghafur.

 

Sigli, 25 Januari 1986

 

 

UNTUK DO KARIM

 

Pagi ini

Seperti ada yang menitik ke bumi

Barangkali embun

Atau gerimis sunyi

Atau desah syair sepi

 

Pagi ini

Seperti ada yang bergumam di bumi

Barangkali suaramu

Atau jerit luka

Atau tusukan syairmu

Ke hulu hati

 

Pagi ini

Seperti terdengar kersik angin

Atau percik keringat bumi

Mengguratkan namamu

Di pualam abadi.

 

Sigli, 20 Juli 1986

 

 

LAUT SIGLI

 

Semua keluh kukirim kepadamu

Semua risau kubenam kelaut mu

Rasa kesal dan benci kusampaikan kepadamu

Rasa kawatir dan takut kuceritakan padamu

O, laut Sigli

 

Semua derita ku tumpahkan kepadamu

Semua rindu kunyanyikan untukmu

Rasa sunyi dan nyeri kukirim padamu

Rasa takluk dan menyerah rubuh kepangkuanmu

O, laut Sigli

Izinkan aku memanggilmu

Ibu.


Sigli, 21 Juli 1986

 

 

DI TANGSE

 

Siapa yang masih mendengar suara

Yang bangkit dari rumput

Siapa yang masih mendengar suara

Yang mengalir dari air

Siapa yang masih mendengar suara

Yang menjerit dari tanah

Dari daun

Dari pohon

Dari duri

Dihutan Tangse ini

Suara serak parau

Suara wanita

Yang berkata

Jangan sentuh aku

Jangan

Meski aku haus

Dan kau tawarkan air minum

Jangan sentuh aku

Meski lukaku menganga

Dan kau ingin membalutnya

Jangan

Jangan sentuh kulitku

Kerena kau kafir

Musuhku.

 

Banda Aceh, 2 Agustus 1986

Sastra-indonesia.com/2021/08/puisi-puisi-l-k-ara-2/

Jumat, 30 Agustus 2024

DINA GERENDENG DZIKIR JANARI NYORANG JALAN PANGBALIKAN JEUNG SAJAK SEJENNA MAWA DIRI ELING KA GUSTI

 


DINA GERENDENG DZIKIR JANARI  NYORANG JALAN PANGBALIKAN 

JEUNG SAJAK SEJENNA MAWA DIRI ELING KA GUSTI


DINA GERENDENGNA DZIKIR JANARI

Kenging : Undang Sumargana

 

Diri nyangsaya

Dina rangkulan angin janari

Aya jerit niir  langit

Nembus ka gagana wiati

Dina gerendeng dzikir janari

Sugan diri aya dina pangampura Gusti

 

Girimis anjog ngembat lalangsé janari

Sanggeus beurang tadi mata poé

Ngarerab kasarakahan nu ngabubulak

Sagebar dosa nu atra  nembongan

Jadi panghalang na doa nu dipersabenan

Mugia ieu dosa ngalembéréh dina pangsujudan

 

Teu bade nganaha-naha Gusti......

Rumasa, abdi rumasa ieu diri

Dina renghap sadami-sadami

Kuring ngaheja asma Anjeun ya Robbi

Ya Rohman

Ya Rohim

Ya mujibas Syailin.

Keun ieu kalbu sina ngalagu

Ieu ngan ukur pangabakti Ya Illahi

 

Tasik Pakidulan Agustus 2022

 

BACAAN  LAINNYA:

NYORANG JALAN PANGBALIKAN

(Kenging Undang Sumargana)

 

Raga-raga nu ngarigig  mapaes dunya

Geus  lumampah sakarep ingsun

Hirup teu boga rasa rumasa

Ngarasa dirina boga kawasa

Padahal nyawa moal ngancik salilana

 

Jiwa-jiwa nu angkara

Kalimpudan ku kasarakahan

Padahal  kahirupan dunya ngan ukur hiasan

Naon nu jadi andelan nyorang jalan pangbalikan ?

Naha harta numpuk ladang basilat

Rek tega diwariskeun ka anak incu kana masia

Atawa pangkat jeung gelar kahormatan

Ukur jadi tulisan na tutunggul di pajaratan


Kaadilan Alloh moal melok ku panyombo

Para malaikat moal kabengbat ku carita pangacara

Taya hargana kapinteran keur didunya

Lampah sasar geus moal bisa ditutupan


Tasik Pakidulan Agustus 2022



KIYAMAH

Kenging :  Undang Sumargana

(Haturan ka wargi pangling-ngeling  kana datangna poe balitungan)

 

Ting burisat cahya kilat

Ngalentab ngahuru jagat

Ngageleger sora gugur

Langit genjlong bumi eundeur

Hujan rongkah,

caah bedah teu katadah

 

Bumi ngaplak  taya sisi

Lautan pindah kadarat

Pangeusina ting koceak

Jeritna mapakan langit

Tinggal raga taya nyawa

Ngagulung nyarah jeung runtah


Langit rungkad.

Ngalingkup murulukeun  bentang

Muragkeun bulan, ngabahekeun panon poe

Jagat ancur nggulung jadi lautan

Taya sesa sakabeh anu nyawaan

Sukmana geus ting belasat  ngabaliur kabuana

Tinggal raga patulayah nyangkere geus jadi bangke


Reup jagat simpe rehe

Nunggu hudang digebrag kumpul di alam masyar

Balitungan panungtungan, tinimbangan maha adil

Rek beurat  kamana timbangan urang?

Katuhu alamat surga sumber lana kabagjaan

Atawa Kenca

Alamat nandang tunggara nngarasa  siksa naraka

Wallahu Alam

Gumantung ka pepelaakan dina lampah kahirupan.

 

Tasik Pakidulan, Agustus   2022



LAYUNG SURUP  LUHUR LAUT CIPATUJAH

Kenging :  Undang Sumargana


Tanding ciung  ngabiur  rek muru gunung

Pejah ombak ngajaul rek ngajul  layung

Mepende  hate  rehe nu  pinuh rasa kasimpe

Nyungsi angin milu lirih muru  surup mata poe

 

Ngampih beurang datang peuting

Surup layung  kasaput ku  kuwung-kuwung

Mangsa  Urang kapigandrung

Sora hegar diri anjeun kalindih  seah  galura

Ketug lini nu endeur dina  jajantung

Ngarucita  na endahna katumbiri

Mapag girimis nu ngepris na hujan leutik

Datang   poyan ngeprul banyu kahuripan

 

Pupulihkeun na gupay dahan kalapa

 Popoyankeun ka sinagar

Ka  buana puseur dayeuh

Endah laut Cipatujah

Pantes Pangrereban  menak

Nu nyungsi ngelirkeun pikir

 

Tasik Pakidulan, Agustus  2022


DI MUMUNGGANG  KARANG TAWULAN

(Kenging  : Undang Sumargana)

Haturan kanggo urang Cikalong, Tasikmalaya: nu Gaduh Karang Tawulan)

 

Kungsi di sungsi  ka mumunggang Karang Tawulan

Nyukcruk jalan mapay lacak carita urang duaan

Ilang kalangkang ka saput rambu halimun

Seah ombak nembrag karang

Ukur layung humarurung katiruk ku kuwung-kuwung

 

Naha urang bisa tepung, .....?

Sedengkeun diri akang masih asa katalimbeng

Teuing kasaha, jeung kamana rek bisa nyanding

Atawa jalan nu masih ngemplad panjang

Diluhureun awun-awun, mubus na mongklengna peuting

Dina girimis nu ngaririncik

Nurih jemplingna burit anu ceurik balilihan

Tasik Pakidulan, Agustus 2022

ZIARAH CERPEN ADI ZAMZAM DALAM PERJUANGAN CINTA YANG MENGHARUKAN

ZIARAH CERPEN ADI ZAMZAM 

DALAM PERJUANGAN CINTA YANG MENGHARUKAN 

(Karya Adi Zamzam)

ZIARAH CERPEN ADI ZAMZAM DALAM PERJUANGAN CINTA YANG MENGHARUKAN


rajasastra-us.blogspot.com

Berkenalan dengan pengarang

Sbelum membaca cerpen tersebut taka da salahnya saya perkenalkan dulu penulis cerpen ini:

Adi Zamzam adalah nama pena Nur Hadi, kelahiran Jepara, 1 Januari 1982, yang tinggal RT 11 RW 03 Desa Banyuputih, Gang Masjid Baitush Shamad, Kalinyamatan Jepara. Tulisannya bisa dibaca di blog pribadi, Langitsemestacerita.blogspot.com. Cerpennya dimuat di berbagai media massa. Dia menulis cerita bersambung di Majalah Kartini, Femina, dan Annida-Online. Dia juga menulis puisi, resensi buku, opini, dan esai di berbagai media. Bersama kawan-kawan, saat ini aktif di sekolah kepenulisan Akademi Menulis Jepara. Kumpulan cerpennya yang sudah terbit  Laba-laba yang Terus Merajut Sarangnya (UNSA Press, 2016), Menunggu Musim Kupu-kupu (Basabasi/Diva Press Grup, 2018), Hanya Firman


ZIARAH

(Karya Adi Zamzam)


Suara gemuruh itu mengagetkan Nono yang tengah memunguti perangkap kepiting yang ia pasang kemarin sore. Kedua matanya langsung mengawasi pergerakan air. Suara kecipak air beradu dengan akar-akar bakau kembali terdengar jelas setelah gemuruh yang mengagetkannya menghilang.

“Satu lagi yang kalah dan tumbang,” batin Nono, sebelum beralih memandangi rumahnya yang tak jauh dari posisinya. Rumah itu tampak tua, lelah, dan kesepian.

Cahaya pagi menerobos celah-celah bakau. Namun, di sepanjang kanal yang memisahkan Nono dari rumah, bias cahaya itu tetap menyilaukan juga.

Satu perangkap ia angkat. Satu-dua kepiting bakau membuat kantuknya menghilang. Sesekali pandangannya kosong menembus jauh ke dalam air payau yang keruh, sesekali juga jauh menelusup di antara barisan acak pohon bakau.

Dalam kesunyian itu, kadang Nono seperti mendengar suara bus, meski sadar bus-bus itu tak lagi ada. Namun, kadang kala Nono ingin menikmati kenangan itu; saat air tawar dan air asin damai berdampingan. Sewaktu Bedono masih dikelilingi sawah dan pantainya ramai pengunjung yang sekadar ingin menikmati kuliner. Dan, ia begitu penuh semangat menjajakan aneka olahan hasil laut kepada mereka. Beberapa bahkan menjadi pelanggan tetap.

Dari situlah sejarahnya dengan Marni bermula. Ia memberanikan diri melamar Marni, meski perekonomiannya belum jaya. Bermodal niat, keyakinan, dan kepercayaan Marni, ia pun menghadap calon mertua.

Nono tidak pandai memoles diri dengan omongan. Ia pesimistis ketika bapak Marni menyuruhnya pulang dan menunggu jawaban sepekan kemudian.

Nono ingin membeli sepeda sebagai bukti ia punya penghasilan. Namun Marni melarang. Lebih baik menabung untuk membangun rumah. Lihatlah, saudara Marni banyak. Kalau tak memisahkan diri dari orang tua, mereka tak akan mendapatkan keleluasaan penuh.

“Lalu mengapa bapakmu menyuruh menunggu jawaban?”

Marni menjawab, “Bukankah itu lumrah?”

Namun, Nono stres saat mendengar selentingan kabar, Pak Zamroni ingin menawarkan anak mbarep dulu. Perempuan jika sudah dilangkahi adik perempuannya, bisa tak laku-laku nanti.

Dan, kekhawatiran Nono ternyata benar. Ia ditawari mengambil kakak Marni saja. Nono terdiam hingga pulang.

Nono tak berani lagi datang ke rumah Marni. Ia berharap segera ada lelaki lain yang datang untuk melamar mbakyu Marni. Sampai gantian Marni yang mendatanginya.

“Sebenarnya Bapak hanya menguji kesungguhanmu denganku. Datanglah lagi. Lalu bilang lagi,” kata Marni menyemangati.

Nono lega. Bukan hanya lantaran ia telah mengetahui ujian dari calon mertuanya itu. Hikmahnya, ia jadi tahu kesungguhan Marni. Inilah yang kemudian ia sebut berjodoh. Dan, mereka pun akhirnya menikah.

Saat itu pantai masih jauh, dan malam-malam tak pernah dihantui kecemasan seperti sekarang.

Rumah itu ia bangun justru ketika sadar pantai itu mendekat. Semua orang kebingungan. Dan, setiap hari mereka berusaha melawan dengan aneka benda yang bisa dijadikan bendungan lantaran membeli tanah uruk butuh biaya besar.

“Kita bangun sajalah, Kang. Pantai kan memang begitu, maju-mundur. Kalau ndak mulai sekarang, nanti malah ndak jadi-jadi,” ujar Marni ketika Nono didera kekhawatiran akan fenomena itu.

Pantai sudah jelas bergerak mendekati perkampungan.

Mereka pun sepakat membangun rumah. Berusaha merajut kebahagiaan, meski enam tahun bersama belum juga dikaruniai keturunan. Nono pun berpikir, sepertinya cobaan hidup naik selevel demi selevel mengikuti umur.

Dulu, saat membayangkan bisa membangun rumah sendiri, kebahagiaan akan sempurna di hati Nono. Ia yatim sejak kecil. Sementara ketiga saudaranya terpencar setelah masing-masing diadopsi orang. Bapaknya tak pernah pulang dari melaut saat umurnya masih tujuh. Ia bahkan belum paham apa arti air mata emaknya yang keluar tiap kali memandangi keempat anaknya saat makan bersama berlauk ikan asin buatan sendiri. Makan yang lebih sering dua kali sehari.

Bisa membangun rumah adalah kemewahan tersendiri bagi Nono. Setidaknya ia tidak mengecewakan dan bisa membuktikan diri di hadapan mertua. Meski kesunyian kemudian menjadi musuh tersendiri yang harus ia terima dan hadapi.

***

Nono mendapati kepulangan Marni kala jelang siang.

“Hari ini semua kepiting habis lagi, diborong juragan rumah makan dari Kudus.”

Seperti biasa, tak ada keluhan. Setelah membongkar oleh-oleh dari pasar, ia ganti menjenguk keranjang penghasilan Nono. Bila penghasilan Nono terlalu sedikit, biasanya Marni akan gegas ke rumah Supri atau Ujang untuk menanyakan apakah mereka punya barang (bisa kepiting, kerang, atau ikan-ikan) berlebih untuk dijual besok pagi. Dulu mereka bertetangga, kemudian hijrah ke kampung tetangga yang masih utuh daratan.

“Airnya tambah keruh. Dan sepertinya ucapan mahasiswa dari Semarang itu benar. Laut akan bertambah tinggi terus,” sahut Nono setelah mengambilkan cerek berisi air minum untuk istrinya.

“Tadi aku melihat orang-orang kampung yang sudah diajari cara mengolah buah bakau. Jenang dan sirup bikinan mereka laris sekali. Aku jadi ingat waktu kau kali pertama membuat kerupuk tengiri dulu.”

Marni menyandarkan punggung ke tembok rumah. Genangan air hanya setengah meteran dari ujung kakinya.

Percakapan yang tidak nyambung. Namun kalian sepenuhnya mengerti itu sekadar usaha mengelabui sunyi yang menyelinap di antara suara kecipak air, desau angin, dan sesekali kicau burung-burung yang singgah di sesela bakau.

“Aku tadi dikasih jenang buatan Ikah. Sisanya aku kasihkan si Endut, anak Pat. Lucu sekali anak itu. Sayang dia nangis mulu kalau mau kuajak ke sini. Takut setan, katanya. Ha-ha-ha, entah siapa yang mengajari.”

Nono mengerti maksud kalimat itu. Ia juga suka pada Gimbut, anak Mugni. Sama saja. Anak itu juga takut diajak ke sini. Takut genderuwo, katanya.

“Aku jadi ingin tahu apa yang mereka buat. Orang-orang PKK kan? Siapa tahu aku bisa bikin,” ujar Nono, yang lalu memangku keranjang yang sudah kosong. Semua kepiting yang diikat sudah dikelompok-kelompokkan berdasar ukuran.

“Buat apa sih, Pak?” potong Marni dengan nada malas.

Nono memandang istrinya. Heran. Kemudian beralih ke deretan pohon bakau. Hanya sisa bangunan-bangunan tua yang harus berjuang melawan korosi air laut. Padahal, dua puluh lima tahun silam Nono masih bisa bercengkerama dengan banyak tetangga di teras rumah ini. Dan, suara bus itu bukanlah hal yang absurd, seperti sekarang.

***

Nono tersentak bangun ketika suara kecipak air memenuhi semesta pendengarannya. Ia pikir air hanya menggempur habis-habisan dinding samping rumah seperti biasa. Namun, entah bagaimana tiba-tiba ia sudah terkepung air. Nono terapung-apung seorang diri di tengah lautan lepas.

“Marnii!” teriaknya begitu teringat sang istri.

Berbekal satu dayung, Nono melajukan perahu dengan kalap, tanpa tujuan.

“Marnii!” teriaknya lagi, tak kuasa membendung kedatangan kenangan-kenangan.

“Apa yang akan kita lakukan andai kampung kita benar-benar tenggelam?”

“Kang Nono omong apa sih? Kalau kampung kita tenggelam, berarti akan ada banjir besar. Dan itu berarti….”

“Takkah kaulihat itu, air laut terus saja mendekat.”

“Orang-orang sudah melawan.”

“Apa? Hanya dengan tumpukan karung pasir, batako, kayu, dan sampah-sampah begitu?”

“Lantas harus dengan apa? Apa lebih baik jual rumah tanah seperti yang lain?”

“Kenapa tak mau?”

“Bapak-ibuku dan sebagian besar keluargaku dimakamkan di sini. Lagipula, siapa mau beli?”

Hening.

Entah sudah berapa lama Nono terlelap di dalam perahu. Ia merasa aneh ketika sejauh ia mendayung perahu, daratan tak juga tertangkap mata. Hingga ia kelelahan. Dan, suara Marni menyeruak lagi.

“Masa depan apa sih, Kang?”

“Masa kamu tidak ingin hidup bahagia, seperti orang-orang?”

“Aku sudah cukup!”

***

Nono tersentak kaget ketika bangun dalam keadaan basah. Air pasang ternyata telah membasahi lantai rumah.

“Bangun, Mar! Ayo bangun!”

O, nikmat apa yang mampu membuatnya tidur sepulas dan selama tadi? Matahari bahkan sudah sempurna tenggelam. Nanti sajalah urusan mandi. Seperti dua hari sebelumnya, ia harus mendahulukan semua perabot rumah sebelum semua diporandakan air laut yang lancang masuk rumah. Saat melewati galengan yang ia buat menuju kanal utama, air telah melewati lutut.

Hampir satu jam semua perabot yang ia punya akhirnya beralih ke atas perahu. Siluet  di atas perahu menyatu dengan bayang-bayang pepohonan bakau.

“Tak ada lagi yang tertinggal kan?” tanya Nono.

Setelah memeriksa kekuatan tali yang mengikat perahu ke sebuah pohon bakau, Nono pun kembali ke dalam rumah. Ia pandangi setiap inci dengan penuh kerinduan. Pun dengan sosok yang tak bisa lagi ia jumpai di situ, meski suaranya masih bisa ia dengar setiap saat, setiap kali ingin.

BACAAN LAINNYA:

Seperti tiga hari yang sudah berjalan, beranjak malam adalah waktu ia meninggalkan tempat penuh kenangan itu. Di depan dua pasang patok pinus laut yang tertancap cukup dalam di samping rumah, ia menyandarkan perahu sejenak di situ. Itulah nisan ketiga setelah dua nisan sebelumnya menghumus di dalam laut.

“Aku pergi dulu, Mar. Besok aku pasti kembali,” ujarnya sembari membelokkan perahu. “Tidak, aku tidak pernah meninggalkanmu,” ujarnya kemudian, sembari mengayuh perahu pelan, sepelan air matanya yang diam-diam meleleh tanpa kendali.

“Di rumah inilah kita sama-sama pernah menanam cita-cita bersama,” sambungnya. Perih. “Kenangan yang layak diziarahi setiap hari.”

Dia berusaha kembali tegar, untuk terus mengayuh perahu, menuju daratan.

 KLIK DI SINI

Jepara-Demak, 2018-2021

 

Catatan:

Anak mbarep: anak sulung

Galengan: pematang; berfungsi sebagai tanggul.

Kamis, 29 Agustus 2024

KEKUASAAN ITU BUKAN KEWENANGAN TAPI KEWENINGAN

 KEKUASAAN ITU BUKAN KEWENANGAN 
TAPI KEWENINGAN

Kekuasaan itu bukan kewenangan tetapi keweningan , bukan sekedar otoritas tetapi  otoritas yang tertranformasi menjadi bagaimana cara kesejahtraan umum dapat dicapai denganmenggerakkan aparatur pelayananyang professional.
KEKUASAAN ITU BUKAN KEWENANGAN  TAPI KEWENINGAN

rajasastra-us.blogspot.com  Kekuasaan itu bukan kewenangan tetapi keweningan , bukan sekedar otoritas tetapi  otoritas yang tertranformasi menjadi bagaimana cara kesejahtraan umum dapat dicapai denganmenggerakkan aparatur pelayananyang professional.  Kekuasaan bisa diraih tanpa pengetahuan, sebab dalam negara demokrasii-, seperti di kita asal banyak pengikut preman sekalipun bisa menjadi penguasa. Tapi perlu di ingat kekuasaan yang esensial hanya  bisa diraih dengan pengetahuan. Kebodohan seorang pemimpin akan mudah dikendalikan orang dan berakhir dengan menyengsarakan rakyat.  Salasatu esensi kekuasaan adalah menolong orang lain sekaligus menolong diri sendiri. Yang dimaksud bukan hanya menolong kelompoknya saja, tapi menolong semua rakyat, yang mulanya tidak berpihak sekalipun. Kekuasaan akan menjadi jalan kehancuran wibawanya kehancuran  dirinya, jika melahirkan birokrasi yang korup.

Kekuasaan itu bukan kewenangan tetapi keweningan, hal ini sesuai dengan cara pandang orang sunda “kedudukan tersebut bukan untuk beroleh kekayaan atau kehormatan semata, melainkan untuk menolong sesame manusia “ (Rusyana, et.al, (red), 1988:252). Ingat sekali lagi bahwa kekuasaan yang esensial hanya bisa diraih dengan pengetahuan “Eusi jaya tina pangarti nu teu pahili” (isi kejayaan dari pengetahuan yang tidak tertukar), atau “Eusi kakuatan sagala bersih” (isi kekuatan dari segala yang bersih). Kekuasaan yang korup akan dibenci rakyat yang akhirnya menyebabkan runtuhnya kekuasaan tersebut. 

Kekuasaan itu bukan kewenangan tetapi keweningan , selain itu kekuasaan itu bukan pengaruh (influence), tapi pengetahuan (knowledge), Kekuasaan sebagai pengaruh apa lagi mengandalkan pengaruh dari orang tuanya. Itu akan menjadi pemimpin tive “hurang catang”  atau penguasa tipe “Kuya bodas”. Kalau kekuasaan hanya berdasarkan mengandalkan kewenangan, itu akan menjadikan dirinya bertindak tidak memikirkan Nurani rakyat, memutuskan sesuatu hanya berdasarkan kerakusan naluri yang dibungkus dengan kekuasaan. Mentang mentang dirinya sedang berkuasa, tapi dia hanya berpikir keuntungan dirinya dan koloni koloninya, yang akhirnya dibuat peraturan dengan dalih kesejahtraan padahal dalamnya demi diri dan kelompoknya. 

Kekuasaan itu bukan kewenangan tetapi keweningan , kekuasaan yang didasarkan pada keweningan akan melahirkan tindakan yang sangat dikagumi rakyat dan itu tidak dilakukan sesaat, hanya untuk pencitraan agar dipilih rakyat, tapi betul-betul berdasarkan keweningan hati/kebersihan hati yang didasarkan keikhlasan. Rakyat akan tunduk bulkan karena takut, tapi karena cinta kepada pemimpinnya. Pemimpin yang menjalankan roda pemerintahan berdasarkan pada keweningan, akan dicintai oleh rakyat, dan akan menjadikan penguasa yang melegenda dikenang sepanjang masa. Pemimpin seperti itu walaupun sudah tiada tapi tetap hidup dalam hati masyarakat. Memang pada dasarnya tak akan bisa mencari pemimpin yangdi cintai seluruh  rakyat, tapi rakyat yang jahatlah yang membenci pemimpin yang baik. Orang jahat akan merasa dirinya terhalang untuk bertindak dengan segala kekhendaknya dan kehausan untuk memenuhi kepentingan diri dan kelompoknya. 

Dalam falsapah orang Sunda yang melahirkan kekuasaan saya sekali lagi adalah pengetahuan (keweningan) bukan otoritas (kewenangan)


8 Cara mempertahankan Kekuasaan

RAJA SASTRA-Mempertahankan kekuasaan adalah hal yang baik dan perlu dilakukan, tapi tidak dengan cara pembohongan, pembungkaman dengan menakut nakuti, atau dengan politik uang, sehingga program yang dijalankan hanya diakui dari kelompok tertentu untuk membodohi rakyat. 

Bacaan Lainnya:

Cara mempertahaknan kekuasaan yang baik dapat dilakukan dengan:

  1. Aparatur yang professional
  2. Aparatur tidak korup
  3. Komunikasi:  perintah, jadi ajakan
  4. Disiplin dan sanksi aparatur
  5. Penghasilan cukup dan harga-harga murah.
  6. Ekonomi negara kuasai perdagangan dunia, bukankita yang dikuasaidunia
  7. Aparatur Pelayanan, bukan “Pemerintah” Maksudnya dirinya memempatkan sebagai pelayan masyarakat bukan pengabdi penguasa.
  8. Tidak sewenang-wenang.

Demikian tulisan yang penulis sajikan sbagai pandangan politik dalam penyelenggaraan pemerintahan, tidak maksud menyinggung seseorang atau golongan. Klik di sini

Sumber Bacaan:

Budak Angon Diskursus Pemimpin Sunda Menuju Kekuasaan

(Husin M. Al-Banjari)

ANTARA HIDUP DAN KEMATIAN

 

ANTARA HIDUP DAN KEMATIAN

Oleh :  Undang Sumargana

ANTARA HIDUP DAN KEMATIAN
rajasastra-us.blogspot.com- Serasa hidup dalam gulita, walau cakrawala masih berhiaskan bintang. Serasa hanyut dalam derita walau ombak tak menyentuh tepian. Musik malam terdengar dipepohonan, terdengar seperti irama nynyian bidadari, yang merintih nyanyikan kidung rindu dalam nestapa dan irama derita yang tak berujung.

Tiba-tiba aku berpikir tentang makna hidup dan kematian,

“Hidup adalah perjuangan,  hidup adalah penantian”

‘Ya penantian  menunggu kematian”

“tidak hanya menunggu” terlihat bayangan lain yang larut dalam percakapan yang tiada berpangkal.

“Kalau tidak menunggu?”, karena tak ditunggupun kematian pasti datang menjemput,

“Sebelum tiba?’

“Ya berbuat” bayangan itu menjawab sambil tertawa sinis.

“ Kalau tak berbuat? “ Kataku

“Itulah yang dikatakan mati dalam kehidupan”

Aku semakin tak mengerti, dalam hati aku mengeruti ko, ada orang yang mati  dalam kehidupan,  apa ya maksudnya?.

“ada orang yang mati dalam kehidupan , ada pula orang yang hidup dalam kematian”  Bayangan  itu bertutur dengan  dengan serieus,  mengajak aku berdialog, dan membuat pikiranku semakin tak mengerti.

“Maksudnya?” kataku penasaran.

“orang yang mati dalam kehidupan adalah, orang menyia-nyiakan waktu semasa hidupnya,  tak mampu mengukir arti, dan tak mampu memberi manfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain”.

“Kalau orang yang hidup dalam kematian?” kataku semakin penasaran.

“Orang yang hidup dalam kematian adalah orang-orang yang beruntung , yang mendapat karunia Allah karena perbuatan yang baik waktu di dunia, memberi manfaat kepada diri sendiri dan orang lain”.

“Jika tak berbuat baik?”

“Celakalah orang seperti itu, sudah matipun akan mendapat kepedihan siksa dan adzab Allah yang sakit luar biasa”

“Masya Allah aku berkata lirih dalam hati”.

“jadi kesimpulannya , di balik kehidupan ada kematian dan di balik kematian ada kehidupan”

“Yah”  Kata bayangan itu menjawab singkat , dan menghilang tergesa, gesa.

Aku baru sadar dan berpikir dengan keras,  tentang makna kematian dan kehidupan.

Malam semakin larut, tapi suara ombak di lautan masih tetap bergemuruh,  tapi gemuruh ombak tersebut seolah-olah terdengar   berdzikir mengagungkan nama Allah,  Cahaya terang terlihat di tengah lautan,  seolah pancaran Cahya Illahi yang menyambut kedatangan para malaikat, mengiringi suara takdir yang terus bergema, diiringi petikan musik alami yang terdengar dari musik alam seolah-olah petikan musik melankolis yang kemerduan bunyinya tiada tara.

BACAAN LAINNYA

LA  ILLAH HA ILLALAH, MUHAM MADAROSULLULL

Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, muhammadlah orang terbaik yang harus jadi tuntunan dalam berbuat berkata dan bertingkah.

 KLIK DI SINI

9 AMAL AMALAN DI HARI DAN MALAM JUMAT

9 AMAL  AMALAN DI HARI DAN MALAM JUMAT

Hari jumat adalah hari yang sangat dinantikan oleh umat islam. Pergantian hari dalam penanggalan hijriyah terjadi setelah terbenamnya matahari atau sudah masuk waktu magrib. Berbeda dengan penanggalan masehi pergantian hari terjadi pada malam hari tepat pukul 12.00
9 AMAL  AMALAN DI HARI DAN MALAM JUMAT

rajasastra-us.blogspot.com Hari jumat adalah hari yang sangat dinantikan oleh umat islam. Pergantian hari dalam penanggalan hijriyah terjadi setelah terbenamnya matahari atau sudah masuk waktu magrib. Berbeda dengan penanggalan masehi pergantian hari terjadi pada malam hari tepat pukul 12.00

Amalan sunah di hari Jumat perlu dikenali dan dipraktikkan oleh setiap muslim. Dalam Islam, hari Jumat adalah hari yang paling Istimewa dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Hari Jumat dianggap sebagai hari paling mulia oleh Allah SWT. Pada sebuah hadis, Rasulullah SAW menyebut, Nabi sekaligus manusia pertama, yaitu nabi Adam AS, diciptakan Allah SWT pada hari Jumat dengan penuh kemuliaan.

"Hari terbaik di mana matahari terbit di dalamnya ialah hari Jumat. Pada hari itu Adam Alaihissalam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan daripadanya dan kiamat tidak terjadi kecuali di hari Jumat." (H.R Muslim).

Amalan sunah di hari Jumat memiliki berbagai keutamaan yang sayang untuk dilewatkan. Selain melaksanakan berbagai amalan wajib di hari Jumat, kamu juga bisa melakukan kegiatan amalan sunah yang sarat akan pahala. Bahkan, Allah SWT akan memberikan pahala berlipat ganda bagi orang-orang yang melakukan kebajikan di hari Jumat.

Dalam penanggalan hijriyah atau kalender islam, hari jumat merupakan rajanya hari (sayyidul ayyâm), hari yang paling istimewa dari jumlah hari yang ada. Dari segi penamaan, kata “Jumat” Qamus Al-Lughah Al-Arabiyah Al-Ma'ashir dapat dibaca dalam tiga bentuk: Jumu'ah, Jum'ah, dan Juma'ah, yang berarti berkumpul. 

Sementara hari-hari lain memiliki makna yang mirip dengan urutan angka hari dalam sepekan: Ahad (hari pertama), Isnain (hari kedua), tsulatsa (hari ketiga), arbi’a (hari keempat) dan khamis (hari kelima), serta sabt yang berakar kata dari sab’ah (hari ketujuh).

Istimewanya hari jumat sebagai rajanya hari, terdapat beberapa keutamaan dan peristiwa bersejarah yang pernah terjadi didalamnya. 

Malam Jumat Malam Arwah Kembali ke Rumahnya

Al-Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ubadah sebuah hadits:

  سَيِّدُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَهُوَ أَعْظَمُ مِنْ يَوْمِ النَّحَرِ وَيَوْمُ الْفِطْرِ وَفِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ فِيْهِ خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَفِيْهِ أُهْبِطَ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيْهِ تُوُفِّيَ وَفِيْهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ الْعَبْدُ فِيْهَا اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ إِثْمًا أَوْ قَطِيْعَةَ رَحِمٍ وَفِيْهِ تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَمَا مِنْ مَلَكٍ مُقّرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيْحٍ وَلَا جَبَلٍ وَلَا حَجَرٍ إِلَّا وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ  

 “Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung dari pada hari raya kurban dan hari raya Fitri. Di dalam Jumat terdapat lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat. Di dalam hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali shilaturrahim. Hari kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada Malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit, bumi, angin, gunung dan batu kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat.”

Selain itu, pada malam dan hari Jumat setiap muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan, 


AMALAN YANG DAPAT DILAKUKAN

Berikut amalan-amalan yang dapat dilakukan umat muslim di hari dan malam jumat

1. Dzikir, Berdoa, Tawasul atau Istighotsah

Pada malam jumat, umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan doa. Sebagai rajanya hari, hari jumat adalah momentum yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Berdoa, mendoakan keluarga yang masih hidup dan mengirimkan doa kepada keluarga yang sudah meninggal dengan cara tawasul dan istighotsah

2. Membaca Al-Qur’an

Selain dzikir dan berdoa, pada malam dan hari jumat juga dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Bacaan Al-Qur’an yang utama dibaca pada malam jumat yaitu surat Yasin dan Al-Kahfi. Muslim yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat, ia akan dinanugi cahaya di antara dua Jumat. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

 مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنْ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ  

“Barang siapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat, maka Allah memberinya sinar cahaya di antara dua Jumat”.  

Hadits tersebut diriwayatkan dan dishahihkan oleh imam al-Hakim. 

Sementara itu bacaan Al-Qur’an yang utama dibaca pada hari jumat yaitu surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas, dibaca usai shalat Jumat sebanyak tujuh kali.

3. Memperbanyak Sholawat

Melantunkan atau melafalkan sholawat juga dianjurkan pada malam dan hari jumat. Lantunan sholawat tersebut diantaranya dapat berupa marhabaan atau marhabanan, membaca sholawat al-barjanji.

 Dalam sebuah hadits ditegaskan:

  أَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَ الْجُمُعَةِ فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا  

“Pebanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari dan malam Jumat. Barangsiapa membaca shalawat untuku satu kali, maka Allah membalasnya sepuluh kali”. 

Hadits tersebut diriwayatkan al-Baihaqi dengan beberapa sanad yang baik (hasan).

4. Mandi

Kesunnahan mandi Jumat ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya hadits berikut:

  مَنْ أَتَى الْجُمُعَةَ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ النِّسَاءِ فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ لَمْ يَأْتِهَا فَلَيْسَ عَلَيْهِ غُسْلٌ 

“Barangsiapa dari laki-laki dan perempuan yang menghendaki Jumat, maka mandilah. Barangsiapa yang tidak berniat menghadiri Jumat, maka tidak ada anjuran mandi baginya” (HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).  

Bagi umat Islam disunnahkan mandi sebelum shalat Jumat, dimulai sejak fajar hingga sebelum shalat Jumat ditegakkan. Sebagai ibadah sunnah, mandi bukan syarat sah shalat Jumat, sehingga tidak perlu khawatir jika tidak sempat mandi. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra.

Artinya: Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi shalat Jumat, maka hendaklah ia mandi (HR Bukhori dan Muslim).

5. Potong Kuku dan Kumis 

Ibadah sunnah selanjutnya adalah potong kuku dan kumis yang dilakukan sebelum shalat Jumat. Sebagaimana yang bersumber dari Abu Jafar yang diambil dari kitab Assunanul Kubro.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ شَارِبِهِ وَأَظَافِرِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ

Artinya: Nabi SAW biasa mencukur kumis dan kukunya di hari Jumat  (HR Imam Al-Baihaqi).

6. Berpakaian yang Putih, Rapi dan Bersih

Memakai pakaian yang berwarna putih menjadi kesunnahan juga bagi umat Islam ketika akan menunaikan ibadah shalat Jumat. Dengan memakai pakaian putih tentunya yang suci juga bersih menjadikan kita, umat Islam sebagai pengamal sunnah Nabi saw. Dan menggunakan pakaian putih juga bisa mengingatkan kita kepada pakaian akhir hayat di dunia, yakni kain kafan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majjah. 

Artinya: Kenakanlah pakaian warna putih karena pakaian tersebut lebih bersih dan paling baik. Kafanilah pula orang yang mati di antara kalian dengan kain putih. (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

7. Menggunakan Parfum atau Wangi-Wangian

Setelah mandi, memotong kuku dan mencukur kumis, serta menggunakan pakaian putih, maka kesunnahan selanjutnya yakni menggunakan parfum atau sesuatu yang berbau wangi di pakaian dan tubuh kita. Akan tetapi yang perlu diperhatikan yakni, parfaum dan wewangiannya tetap suci atau berasal dari sesuatu yang suci. Maka kesunnahan menggunakan wewangian disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majjah. 

Artinya: Hari ini (jum'at) adalah hari raya yang dijadikan Allah swt untuk umat Islam. Bagi siapa yang ingin melaksanakan shalat Jumat, hendaklah mandi, memakai wangi-wangian kalau ada, dan menggosok gigi (siwak) (HR: Ibnu Majah).

8. Membaca Doa Ketika Keluar Rumah

Sebenarnya membaca doa ketika keluar rumah bukan hanya kesunnahan di hari Jumat saja, akan tetapi setiap waktu keluar rumah. Karena sesuatu yang dibacakan doa akan memberikan keberkahan tersendiri bagi yang berdoa dan bagi yang didoakan. Dan membaca doa ketika keluar rumah menuju masjid yang paling ringkas yakni.

Bismillahi tawakkaltu alallah, laa haulaa walaa quwwata illaa billaah.

Artinya: Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

BACAAN LAINNYA

9. Bergegas Menuju Masjid untuk Shalat Jumat

Sejak terbit fajar di pagi hari Jumat, dianjurkan untuk bergegas menuju tempat shalat Jumat. Seseorang yang lebih awal berangkat Jumatan mendapatkan pahala melebihi orang yang datang setelahnya.  Anjuran ini berlaku untuk selain Imam. Adapun bagi Imam yang disunahkan baginya adalah mengakhirkan hadir sampai waktu khutbah, karena mengikuti sunah Rasulullah.

Anjuran ini berdasarkan sabda Nabi:

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْأُولَى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً ، فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ 

“Barangsiapa yang mandi seperti mandi junub pada hari Jumat, kemudian pada waktu pertama ia berangkat Jumat, maka seakan ia berkurban unta badanah. Dan barangsiapa berangkat Jumat pada waktu kedua, seakan berkurban sapi. Dan barangsiapa berangkat Jumat pada waktu ketiga, seakan berkurban kambing yang bertanduk. Dan barangsiapa berangkat Jumat pada waktu keempat, seakan berkurban ayam. Dan barangsiapa berangkat Jumat pada waktu kelima, seakan berkurban telur. Saat imam keluar berkhutbah, malaikat hadir seraya mendengarkan khutbahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). KLIK DI SINI

Sumber: NU Online

Featured Post

HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA

KHARAMAH HABIB ALHABSYI:  BISA DENGAR SUARA TASBIH DAN BENDA MATI HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA Habib Ali Alhabsyi nama lengkapnya H...