BERANDA

Selasa, 02 Juli 2024

6 PUISI WAHYU PRASETYA SI PENYAIR BERHATI DINGIN

6 PUISI WAHYU PRASETYA 
SI PENYAIR BERHATI DINGIN

rajasastra-us.blogspot.com Wahyu Prasetya  lahir 5 Februari 1957 di Malang, Jawa Timur dengan nama Eko Susetyo Wahyu Ispurwanto. Dalam dunia kepenyairannya ia dikenal sebagai penyair yang mempunyai watak “keras kepala sekaligus berhati dingin”. Ia mulai menulis sejak 1979 dengan mengirimkan  karya-karyanya di berbagai media massa terbitan ibu kota maupun daerah. Termasuk Majalah sastra Horison (Jakarta). Bahana (Brunei), dan Dewan Bahasa (Kuala Lumpur). 

Pada tahun 1982 berkelana ke berbagai Negara ASEAN, dan pada tahun 1983-1985 sempat bermukim di Berlin, Jerman Barat. Sebagai penyair, Wahyu Prasetya  termasuk salah satu penyair yang sangat diperhitungkan oleh Sutardji Calzoum Bachri dalam forum Puisi Indonesia 1987 yang diselenggarakan oleh dewan kesenian Jakarta (DKJ) di TIM, forum lainnya yang diikuti dan diselengarakan oleh DKJ antara lain forum Dialog Penyair Jakarta (1989). Ia kerap pula diundang membacakan puisinya serta puisinya pernah diterbitkan dalam suatu antologi tunggal oleh Sorbone University-Paris.

Adapun kumpulan puisinya yang sudah terbit, antara lain

  • Nafas Telanjang (1980), 
  • Tonggak IV (disunting oleh Linus Suryadi AG,1987), 
  • Sesudah Gelas Pecah (1996) diterbitkan Forum Sastra Bandung. Antologi Temu Penyair Indonesia (1987), 
  • dan Dialog Penyair Jakarta (1989), 
  • Amsal Patung (1997) dan beberapa kumpulan bersama. 

Para pembaca dibawah ini saya ajak para pembaca untuk mengapresiasi beberapa sajak sajak Wahyu Prasetya


HARAPAN RUMAH PETAK ROJALI


tak ada apa apa di sini. televisi, koran,

dan sarapan pagi maupun gelas kopi.

di depan meja kayu, kami biasa menguraikan

masa lalu dan masa depan di atas

telapak tangan masing masing.

pagi hingga petang udara tak pernah

berganti, selain dengus itu saja.

 

tak ada pintu dengan nasi dan krupuk

hanya jari jari tangan mengetuk ngetuk

hari demi hari yang berlompatan itu.

bagai mengajak siang hari untuk memeras

pikirannya menjadi kepulan debu.

dan di sini pula kota besar, kota kecil

tumpah antara cinta dan benci.

 

hanya guratan guratan huruf di benak,

mengantar nasib keluar pintu.

mengatakan pada diri sendiri, hari ini

iklan untuk hidup lebih manusiawi,

makan 3 kali sehari dan gizi dan kerja

buat ongkos bermimpi mencaci makimu!

 

tak ada siapa siapa selain gerit jendela.

menciptakan musik dari kehampaan,

melukiskan kekasih dan mata pisau,

kami membayangkan manusia yang terbelah

seperti dinding dan atap seng ini,

betapa rapuhnya di hadapan buldozer,

di depan ketakberdayaan yang menakjubkan.

 

Tambak, 1992-1993

BACAAN LAINNYA:

 WISH YOU WERE HERE

bagi: umbu landu paranggi


di mana mana tangan itu menggali jurang untuk kekosongan

dengan lengan yang terkikis waktu, menyerahkan hujan pada

laut, hingga badai memutihkan ubun ubun sendiri

begitu tak ada yang harus diperihkan, ketika manusia runtuh

masih saja menyelinap, dari bayang herbert marcuse, ronggo warsito

atau sidharta gautama,

kemudian berombak ke arah angin yang meniupkan usia itu

 

kau yang kenyang mendengar kelopak mawar jatuh, menahan tangis

seperti ombak atau rimba dalam dirimu

apa kau juga menghapal pidato dari televisi dan sandiwara

kekuasaan jaman ini

mungkin kau tak perlu belati yang terhunus di balik dadamu

hanya rindu kepada semesta untuk mengembalikan pada nol

 

kalau nanti maut menyergap, antara kebiruan langit dan

kelelawar, aku kira sudah saatnya peradaban aids ini

membuat dunia mengangkang dan sekarat

sebait lagi, kau baca rembulan yang turun ke laut,

gedeburnya kau kemanakan?

selain pada hening. kebisuan jari jari tangan yang melambai

di situ barangkali kita berhadapan,

mengelus keranda.

 

Malang, 1993-1994 

 BACAJUGA:

SESUDAH GELAS PECAH 


sebelum kau selesaikan lagu terakhir telinga itu terlepas

asap rokok yang membakar seorang teman dari kertas

berhadapan dengan meja yang menyediakan nafas,

juga janji memabukan, supaya tak mengubah diri siapa

siapa

selain musik yang berjatuhan menimpa kedua sepatumu

dan melemparkan kepingan jari jari tangan ke arah jendela

memecahkan genggaman kita di sana

 

habiskanlah malam hari yang mengisi botol atau udara

jam berapa sekarang? “aku sudah melukai bayangan ini”

kemudian seorang teman dari pecahan kaca, gelas, cermin,

bahkan ia berasal dari angin yang kau tiup lewat keluhan

sampai kini aku tak ingin menceritakan kepada orang lain

sejak cucuran urat nadi itu mengalirkanku sebagai kran

dan menceburkan benih gerimis airmata manusia biasa

sebelum kau selesaikan lagu terakhir leher itu terkulai

ada yang ingin menemukannya

ada yang mencarinya. ada di manakah?

 

Malang, 1994


 MORE FOOD ME

Buat: Beni Setia

 

menemukan ketenangan jalan dalam wajah debu

masihkah kecermatan bayang bayang itu menangkap keberanian

atau kemuliaan dari cinta yang gusar oleh ajakan peradaban

daya hidupku selalu tak serupa dengan kelembutan di dadamu

karena kita harus memilih jalan menuju pintu, jendela rumah

atau hanya mencengkram abjad untuk dilemparkan ke angin

aku dan kau mungkin bersalah untuk rasa mengalah ini

dengan kearifan yang menuntun kegelapan di sini

padahal, lihatlah, kukepal pedih luka dengan kasar

kurebut dari ratapan anak anak yang kujumpai dalam hatiku

lalu apa lagi yang akan kita usung dari hidup ini?

dunia di luar mimpi adalah cercaan, siksaan, hinaan yang diciptakan

peperangan, teror atau kemerdekaan

siapapun bisa membaca dan tak perduli apakah manusia sekarang

sekarat dalam diri sendiri,

apakah manusia sekarang lebih teliti dalam menentukan impian

hasrat jaman berlarian.

mengejar perih yang pernah kita lagukan kemarin

ketika kerikil kita lepas dari genggaman

di kolam manapun, riaknya menjelma nyanyian.

 

Malang, 1994

*judul lagu Genesis

 

URBANISASI DARI MEJA MAKAN

Bagi: Goenawan Muhamad

 

anak anakku menggelar peta dunia di wajahku

mencari syair samudra dan reruntuhan perang

juga menebak dongeng sebuah porselin yang fana,

ketika mereka jumpai alamat rumahnya sendiri,

dengan mengepal pisau lipat di sela tawanya

entah, aku harus berkata apa,

musik mozart, chopin atau keroncong kini jadi irama aneh

 

mereka mencari dalam diriku, siapa yang menelan impiannya

karena di sekolah, mereka belajar menghafal dan mengeja puisi

ketika rumah menjadi tumpah ke arah yang tak menentu

aku menahannya dengan lengan, jari jari dan lutut,

tapi jaman membentak dari spiker yang mereka keraskan

agar melahirkan gempuran dan mencopot telinga bersama

 

aku kini sudah terbiasa. bersembunyi di buku, koran atau

bisikan tengah malam. setiap gelap menghampiriku

dengan mereka, kulihat juga asyik menjalin bayang bayang

tentang gaya hidup amerika atau manapun

begitu aku memulai menulis sebaris kalimat

tentang makan pagi, malam, siang juga dalam tidur

sesaat ingin kutaruh batu di meja ini, di kepala mereka,

juga di dada dan tenggorokannya

dan memecah porselin yang menyimpan dongengan dunia modern.

 

1995


KEMERDEKAAN DALAM DIARY ANNI FITRIA


kesenyapan yang menjauh dari keriuhan kota serta mikrophon,

menjauh dari berita dan gerutu,

Allahuakbar,

huruf tak pernah sampai, tarji tak juga sampai,

chairil anwar yang menjabat bung karno, menjabat arti luka parah

dan kini, aku menelan ectasy, menelan diskotik, menelan obrolan serta

para demonstran yang entah sedang mencupakan bahasa apa

 

Allahuakbar.

rendra tak sampai, taufiq ismail tak juga sampai, juga kalian hai!

selain di spiker dengan tangan yang terkepal lemas dan mulut berbusa

katakan pada kalimat dari huruf hurufku ini, apa arti kemerdekaan kini?

 

sujudku tak sampai, alifku tak sampai, dzikirku pun tak sampai

lalu kutatap sorot matamu yang berteriak dengan pandangan seorang serdadu

merdeka atau mati, sejarah telah mencatat nama nama nama nama nama?

 

seorang jagoan, ia sebut namanya wahyu, tak punya lidah dan bibir yang

akan menciumku lewat kata kata dan huruf kesunyian ini

tapi aku melihat ia di sela kerumunan angin malam, seperti sedang mengeja

kebahagiaan tikus, dan bahasa yang ia lempar dalam setiap subuhku,

anni,

yang merdeka ternyata desir daunan dan cinta Tuhan yang merampasku

dari pelukan sebuah laras bedil atau bayonet. hanya itu anni.

KLIK RAJA SASTRA DI SINI

/p>

Malang, 11-5-1995

 Sumber 

Disalin  hampir sesuai aslinya dari buku “Sesudah Gelas Pecah; 20 Puisi Pilihan Wahyu Prasetya” (diterbitkan untuk; Forum Sastra Bandung, oleh PT. Rekamedia Multiprakarsa Bandung, 1996)

Senin, 01 Juli 2024

LAMUNAN SANG DIREKTUR SD MANA BOA

LAMUNAN SANG DIREKTUR  SD MANA BOA

Kenging : Undang Sumargana


rajasastra-us.blogspot.com

Pareng  nangtung   di jero kelas

Rarambu lalangit tina bilik roroesan jiga ngajak diomean

Rajeg tihang awi jadi panyundang sangkan   kelas teu ngagebro

Pagaliwota meja butut  rareyod sawareh taya sukuan

Barudak anteng  narulis sabeulah meungpeukan irung

Kekebul  nu halaliber tina tembok  nu geus rapuh

Dedeuh potret anak negri bajuang nyiar pangarti

 

Diluar halaman sakola

Banera ngelebet katebak angin

Beureum bodas nu nandakeun yen urang gede ka wani

Wani ancur tutumpuran ngabela ieu negara

Satu nusa satu Bangsa,  masih loba rakyatmah anu  sangsara

 

Kadenge di kelas hiji ibu,  guru nungtun barudak  maca

“Ini Budi, Ini Ibu budi, ini kakak budi”

Masih banyak pejabat tak berbudi

Jiga nu enya  ngadeklarasikeun anti korupsi .

 

Dedeuh potret kahirupan di pasisian

Ceuk tangtungan  hiji lalaki

Direktur  Sekolah Dasar di negeri mana boa

Iraha sakola kuring rek direhab

Hayang leuwih alus saluhureun kanang doma

 

Pareng istirahat  ting burusut lalumpatan

Jajan muru pecel nini-nini

Sanajan ngan pucuk hui

Tapi ngeunahna leuwih ti roti

Barudak karucel, tapi sumangetna waredel

Ngagerendeng na manah sang direktur

“Dedeuh anaking, mun pareng hidep jadi pamingpin

Omean ieu sakola  nu saperti kieu di sabudeureun nagri

Keun bae ladang pajak rakyat oge, 

Ti batan dihakan Monyet nu nyamuni di kebon awi

 

Satu nusa satu bangsa satu bahasa kita

Nusa bangsa dan bahasa,  kita tetap sengsara.

 

Negeri manaboa,    Januari 2022

BACAAN LAINNYA

DEMO RAKYAT

Kenging : Undang Sumargana

 

Ngageleger sora gugur meupeuskeun reueuk

Tingbarasat cahya kilat ngalentab mega

Ngahuru amarah silalatuan

Ngempur hurung na tungtung emun-emunan

Rahayat kahuru dimangfaatkeun ku kabingung

 

Ting porongos ting jorowok

Nusurak eak-eakan, nu demo gogorowokan

Turuhkeun harga! Turunkeun harga!

ceuk sora lalaki nu igana ragas, matana celong.

Turunkeun BBM, turunkeun BBM

Eh, BBM geus turun, tapi hahargaan malah ngajaul

Nu ngagorowok  latam-letem kaeraan

 

“Saudara-saudaraku” Ceuk pimpinan demo

Anu tadi turun tina mobil mewah

Bajuna perlente, erloji bermerk,

Sapatu buatan luar negeri

“Kita terus berdemo-kita gempur istana”

Amarah rakyat kasundut

 

Nu demo beuki  ngangseg

Budal  omongan teu kawadahan

“Hidup pimpinan kita! Hidup pimpinan kita”

Ceuk rakyat nyumangetan pimpinan demo

 

Rakyat ngangseg maju, pulisi bedah amarah

Bukbek peureup jeung peureup,

Panakol jeung panakol

Pimpinan demo ngolesed lalaunan

Akhirna ngabiur pangheulana

Ngadius na mobil mewah muru hotel

Arek otel  jeung bikang paneretan

 

Rakyat jadi korban ti jalma

Nu pundung teu kapeto jadi pimpinan

Sarta teu ngasaan diuk na amisna korsi Dewan

 

Tasik Pakidulan, Kamis 31 Maret 2016

 

PASRAH

Kenging : Undang Sumargana

 

Nyanggakeun kagunarmgan raga kaula sadayana

Ti luhur sausap rambut

Ti handap sausap dampal

Ti gigir sa giling gisik

Ti hareup ti tukang gusti anu kagungan

 

Ngan  wungkul raga Illahi

Darma upaya sahiji

Sahadat anu sahiji

Bismilah raga jasmani

Ni Rohman wungkul Illahi

Ni Rohim anu ngahiji

 

Jumeneng satungtung gusti

Seja raga anu ngabdi

Ka  raga rohanu nu ngeusi

Raga jasmani anu wujud

Gantina wali

Eusina bukti kedah suci


Tasik Pakidulan,, 25 juli 2016

 

NGUNTABNA SEUNEU AMARAH

Kengung : Undang Sumargana

 

Panas moreret.......

Ngahuru hate nu silalatuan

Nguntab-nguntab seuneu amarah teu kawadahan

Ruhak burahay beureum

Kahuru  nafsu nu leupas tina kadali

Hanyakal  akal katutup sarah kalakay

Akhirna angkara murka nu karandapan

 

Tasik Pakidulan,, 25 juli 2016


Na Petengna Peuting

Kenging: Undang Sumargana

 

Kuring kungsi ngangseu nyeuaeup petengna peuting

Basa angin janari ngabetrik rapuhna dahan kahirupan

Horeng raga ukur  titipan nu usik marengan rasa

 Katalimbeng   ku  urusan dunya nu pupulasan

 

Kuring ngarasa lungse nyimbutan sesebitan hate

Basa langit ngepris muragkeun ci tangis

Aya ucap ngagalindeng   nu geus lila katalimbeng

Nyangsaya na  dosa nu  numpuk teu katobatan

 

Ieu takbir ngan ukur  nepi  ka tungtung baseuhna biwir

Sabab hate masih rehe teu niruk katungtung kalbu

 Ukur  ngarajah ngalangkang di awang awang

Kumelit na ipisna ruruhit  tungtung  langit.

 KLIK DI SINI

 Tasik Pakidulan,, 25 Julii 2016

SUARA KESUNYIAN BUKU KUMPULAN PUISI KORRIE LAYUN RAMPAN SASTRAWAN ANGKATAN 2000



SUARA KESUNYIAN BUKU KUMPULAN PUISI KORRIE LAYUN RAMPAN
 SASTRAWAN ANGKATAN 2000



rajasastra-us.blogspot.com Korrie merupakan pencetus penyusun buku Sastrawan Angkatan 2000 terbitan Gramedia Pustaka Utama yang memuat lebih dari seratus sastrawan, terdiri dari penyair, cerpenis, novelis, esais, dan kritikus sastra. Beberapa nama besar yang masuk dalam angkatan tersebut antara lain Afrizal MalnaAhmadun Yosi HerfandaSeno Gumira AjidarmaAyu UtamiDorothea Rosa Herliany.

Riwayat Singkat Korrie Layun Rampan

Korrie merupakan pencetus penyusun buku Sastrawan Angkatan 2000, Lahir di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953. Selama kuliah di Yogyakarta, sempat bergabung di Persada Studi Klub. Novelnya Upacara dan Api Awan Asap meraih hadiah sayembara mengarang roman Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1976 dan 1998. Juga menulis cerpen, esai dan kritik sastra, cerita anak, cerita film, resensi buku, dan karya jurnalistik. Kumpulan puisinya yang lain: Matahari Pingsan di Ubun-ubun, Cermin Sang Waktu, Alibi, Mata, Sawan, Mata Kekasih dan Upacara Bulan    

Buku Kumpulan Puisi Kesunyian



Data buku kumpulan puisi

Judul : Suara Kesunyian

  • Penulis : Korrie Layun Rampan
  • Cetakan : I, 1981
  • Penerbitan khusus : Budaya Jaya & Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta
  • Dicetak : Mitra Srangenge, Bandung
  • Tebal : 92 halaman (75 judul puisi)
  • Gambar jilid : Nana Banna 

Catatan lain

Di sampul belakang buku ada tertulis seperti ini: SUARA KESUNYIAN ini merupakan nyanyian jiwa dalam berbagai nuansa kehidupan. Nyanyian tentang sepi, keterasingan, dambaan kekasih, cinta asrama, lagu alam, lagu derita, lagu harapan dan spirit keimanan. Semuanya dilantun dalam getaran nyanyian jiwa lewat lirk-lirik yang memuji Sang Kekasih. Sang Maha Sukma. Yang adalah Dia di Singgasana Keabadian. Sajak-sajak ini boleh dikata semuanya berangkat dari keterpesonaan atas eksistensi manusia terhadap Dia Sang Maha Tinggi.   

Halaman persembahan berisi ungkapan berikut: “Kepada wanita yang paling terkasih, bundaku:/Martha Renihay dan ayahku Paulus Rampan.”

BACAAN LAINNYA:

Beberapa Pilihan Puisi Korrie Layun Rampan dalam Suara Kesunyian

1. Bertahan Kita dalam Ayunan Waktu


Terayun kita dalam saat, dalam terban hari

Dingin pun memekat, membasuh jasmani

Sejuta makna terlepas dari jari, raib

Menghunjam khayalmu ke wilayah ajaib


Pekik gema pun menampar ruang, rintih yang sedih

Tikaman mata belati, sayap-sayap Kasih

Engkau membayang di hati, pijaran Kata-Kata salih

Menyadarkan kita dari mimpi tidur yang letih


Bertahan kita dalam ayunan Waktu, menganyam duka Kasih

Berjalan dalam luka hari. Dalam kibaran dendam rindu


(1975)

2. Sawan


Aku terkurung dalam lautan gelagah yang terbakar

Memburu tujuh matahari yang menyulut kota jadi puing dan debu

Di mana-mana kebakaran, huma, hutan dan tanah datar

Terik-Mu tangis darah, sejuta laskar yang menyerbu!


Siang menjadi merah penuh raung gagak-gagak keji

Yang membunuh kebeliaan kudus, menyungkurnya ke bumi

Kegemilangan mengarak jenazah sepanjang hari-hari mati

Perih kita melekapkan muka pada nyala derita abad ini


Kesilauan padang api menyala di atas kuburan-kuburan raksasa

Sungai membanjir darah, menyapu seluruh kota yang kalah

Kita bagai debu kembali kepada duli

Kepala menjunjung langit, kaki membenam dasar bumi


Udara yang busuk memintal hari-hari hitam

Memangkas pohon-pohon Kebesaran

Kata-Mu: ”Telah kuhirup mersik darah bumi

Darah langit dan kehidupan untuk harga Kematianmu yang belia!”


Aku terus terkurung dalam lautan api yang berkobar

Menjeritkan kekosongan: ”Hari ini telah kugenapkan Firman

Dan seluruh ayat-ayat Kitab Keabadian!” Tertawa Kau mengucap kelakar

Memahat nisan jiwa dari sisa nafas yang berangkat perlahan-lahan.


(1975)

3. Diri


Apakah yang masih tertinggal dari percakapan

Busa telah mengental di dasar gelas, pohon-pohon limbung

Sementara kelasi menghabisi sisa maboknya


Alam murni tiba-tiba melepaskan isyarat ke arah kita

yang terperas tuntas. Angka-angka telah sampai pada kewujudan

tentang mula Penciptaan, sepi yang dalam


Lama aku jadi fasik, lilih-letih mengeja Firman

Kutinggalkan lembah yang membuai musik mati. Kuraih Aku

Diri yang telanjang di depan mata-Nya sendu


(1975)


4. Pantun


Segamang-Mu kah lagu

Tergantung di cakrawala merah

Serawan-Mu kah ujung sedu

Pecah di hati melayah


Singgah di manakah Sukma

Istirah menuju Keabadian

Meludah wajah bumi tua

Memadam bakaran Zaman


Tinggal keasingan purba

Karib mengukur diri

Rawan-Mu menyalib Kata

Membaca 1000 ayat para Nabi


(1976)


5. Rahasia


Seperti sejumlah kata

Yang menggelepar di luar

Meniti buih demi buih

Dunia yang terlantar


Seperti sejumlah musim

Yang kering, basah dan mandi cahaya

Merangkak pada sumbu

Jantung kita


Seperti sejumlah risau, benci dan cinta

Yang berpendar pada waktu

Menggaram akar-akar nafsu

Antara Adam lagu impian ziarahmu


Seperti sejumlah kata

Yang menyalin nama-nama

Meniti buih demi buih

Jiwa kita


(1973)

KLIK DI SINI

6. Kutulis


Kutulis dalam senyum

Hari-hari yang ranum

Sekepal puisi cinta

Membaun sukma kehidupan


Kutulis dalam tangis

Hari-hari yang manis

Sekepal puisi cinta

Gairah dada remaja


Kutulis dalam tawa

Hari-hari berlumur duka

Sekepal puisi cinta

Melayah bicara


(1973)


7. Serenade Hampir Penghabisan


Dari pantai itu masih terdengar ujung siul

Dan lagu burung menyambut matahari dan mega timbul


Adalah taman dan bulan mengeras pada padas

Dan sepotong sajak dari bait terlepas


Selebihnya tapak kaki pada pasir tertimbun

Ketika angin mati gemetar menyinggahi rumpun


(1973)


8. Doa Seorang Bocah Tuna


Berikan padaku pagi

Cahaya dan kebun bunga

Sungai yang membelah cakrawala

Lubuk-Mu kaca


Berikan padaku siang

Terik didih warna kehidupan

Benua hitam dan tanjung pulau

Tugu-Mu yang kukuh di tengah desau


Berikan padaku senja

Cangkir kopi, perapian dan buku tua

Kaca rabun dan pantai sejarah

Bukit-Mu megah


(1973)


9. Momento Mori


Irama nyanyian mengangkat sayap-sayap burung ke angkasa

Ai, wanginya angin kemerdekaan, wanginya taman Kekasih

Cinta mekar di padang-padang tanah janjian

Mengelus dada insan, menerobos dinding Kerajaan Tuhan


Menderap kuda putihku dalam angin, memacu waktu

Ai, wanginya mawar batu, wanginya padang rindu

Kudaku memintas padang cahaya, melagu jerit langit

Meraih kodrat yang meluncur menunjam dataran benua


Kucium tanganmu di luar jamah, wahai Junjunganku

Ai, wanginya belantara telanjang, wanginya jiwa yang basah

Berperang dalam sepi, berbenah di bilik Waktu

Memanjat ke Tuhan, ke Hati yang Indah!


(1976)


10. Satu April 1976


yogya? masih juga emha dan linus

dan angin malioboro yang terpendam

tiang-tiang malam dan pergulatan kita yang dulu juga


ke mana lagi hari? umbu sudah jenuh

psk terlantar dan warno menyurukkan mimpi ke tengah kelam

bayi-bayi lahir di antara duri di sekitar hutan larangan


dinding-dinding kota ini masih juga bersaput debu

dulu kaugosokkan puisi-puisimu segairah sunyi merapi

tak terasa hari lenyap dan kita tersaruk-saruk kefanaan


yogya? masih juga kosong dalam keajaiban semula

membentangkan padang-padang terkukur. Di sini lengang

daerah perpuisian, perjalanan baja

gairah sejuta kaki bianglala!


(1976)


11. Siang Bening


Siang bening dalam bayang abad

Terkaca gurat-gurat wajah, luka dunia

Ada puing sejarah, reruntuk kota-kota Asia

Seorang raja Jawa dan derap pasukan-pasukan berkuda


Dalam kidung orang-orang menyanyi cinta

Derita puteri puri gunung

Kulihat wajahku yang asing terlelap di tengah kota

Aku mandi. Ciumlah aku, o, Pelindung!


(1977)


12. Paradise Lost


Aku berjalan di sepanjang goa-goa tanah mati

Memandang Kemegahan: o, bukit-bukit purba

Derita-Mu Kota, Kesunyian yang tegak di seantero pintu

Menyekap dingin memuruk, rindu berkabut ke pucuk-pucuk


Buah-buah di lembah menyala bagai kunang-kunang

O, jiwa yang Agung, bersua kita di ruang Niskala

Di sini Tangan Raksasa membelah hari dan puncak gunung

Menghumbalang sungai, dan Kau tiba-tiba tersedu di depan

            ranjang mati


Api membakar tepi-tepi malam yang garang

Kaukah itu selubung Rahasia, o, Kekasih yang berduka

Percakapan ini tinggal suara, ayat-ayat warna Bianglala

Dan Kau terus tersedu membenam muka ke ufuk yang hilang


Tangan-Tangan Waktu terus gemetar menuding padaku

Menyerahkan darah dan beribu nyawa para Habil

Tuhanku, begini memerih elegi sepanjang Abad Kami

Sejuta sayatan torehan Wajah: beku dan Mati!


Aku berjalan di sepanjang goa-goa ufuk rembang petang

Memandang Telaga Kemegahan: o, Diri yang hilang

Terlindas rahasia-Mu yang dingin dan Sunyi

Yang terus menjajar angka-angka Nasib dalam rabun Kaca Misteri!


(1976)


13. Kita Berpisah dalam Kuyup Waktu


Kita berpisah dalam kuyup Waktu

Menapak lengang Sejarah, menyadap resah tempat demi tempat

Membongkar padang akal di tengah hiruk-pikuk dunia

Yang penuh tawa dan tangis dan usungan keranda


Para relaki meninggalkan jejak membekas pada beranda

Langit Tuhan yang purba meneteskan sejumlah rahasia

Pada Nasib pada sampan pada lanting dan pada Kata

Mengembalikan bayang kepada bayang dan diri kepada Diri


Tak kukenal lagi keindahan rawan ini

Apakah kasar atau lembut. Sukma kotaku telah mati

Dari gairah nyanyian

Wajahnya asing dalam sisa gemuruh Keabadian


Kita berpisah dalam kuyup Waktu

Bocah-bocah menyanyikan senandung tak bernama

Tentang kampung halaman, tentang derita sebuah tempat

Aku terhenyak mengusap debu pada pelupuk, meneguk kelelahan

pahit liur dan asin keringat!


(1976)


14. Puisi


Jalan ini berdebu, kekasih

Terbentang di padang rasa

Enam belas matahari memanah dari enam belas ufuk

Siang garang sepanjang kulminasi


Bahak malam mengikut pelan langkah tertatih

Ketipak bulan putih

Di taman kekasih


Pengantinku

Antara kerikil dan pasir merah

Tersembunyi jejak-jejak yang singgah


(1973)


15. Dari A ke Z


Lengan-lengan yang capai

Suara gaib itu

Pohon-pohon kedasai

Berjajar membisiki waktu


Ujung cakrawala

Daun violet sayap rama-rama

Sepotong bulan sabit

Mengintip celah-celah luka berdarah


Riap lalang dan kaki-kaki kerbau

Lumpur rawa dan suara serangga

Gigir bukit yang sunyi

Menanti teka-teki


(1973)


16. Terapung-apung Aku di Laut-Mu


Terapung-apung aku di laut-Mu. Menyelam tak teraba ke dalam

Beginilah karam Hidup. Bagai Tiram

Menganga dan mengatup. Sedang cambuk waktu-Mu di pundakku

tak bosan

Melecut!


Siapa dapat mengambil hara. Dunia atau Tangan-Tangan Raksasa?

Ia kah Peramal itu. Yang tak kuyup dalam basah hari. Tak lekang

dalam kemarau panjang. Hei! menghadaplah padaku wahai Seteru!

Mari kita perpanjang jalan! Mari...

Mari kita menanam pohon-pohon Khuldi yang Baru!


(1974)

KLIK DI SINI


Sumber bacaan dari Bku kumpulan Puisi Suara Kesunyian Karya Korrie Layun Rampan

11 SENJATA TRADISIONAL JAWA BARAT SEKALIGUS SEBAGAI PEKAKAS YANG MERUPAKAN WARISAN BUDAYA LELUHUR

11 SENJATA TRADISIONAL JAWA BARAT SEKALIGUS  SEBAGAI PEKAKAS YANG MERUPAKAN WARISAN BUDAYA LELUHUR 

Senjata Tradisional Jawa Barat – Apakah Grameds mengetahui apa saja jenis senjata tradisional Jawa Barat? Ya, Indonesia memang memiliki beragam kekayaan budaya daerah. Termasuk senjata tradisional yang dimiliki oleh setiap daerah di Indonesia yang memiliki makna dan sejarahnya sendiri sebagai identitas budaya daerah.

11 SENJATA TRADISIONAL JAWA BARAT SEKALIGUS  SEBAGAI PEKAKAS YANG MERUPAKAN WARISAN BUDAYA LELUHUR 

rajasastra-us.blogspot.com  Senjata Tradisional Jawa Barat – Apakah Grameds mengetahui apa saja jenis senjata tradisional Jawa Barat? Ya, Indonesia memang memiliki beragam kekayaan budaya daerah. Termasuk senjata tradisional yang dimiliki oleh setiap daerah di Indonesia yang memiliki makna dan sejarahnya sendiri sebagai identitas budaya daerah.

Berikut ini beberapa senjata tradisional Jawa Barat yang perlu Grameds ketahui sebagai warisan budaya Indonesia.


11 Senjata Tradisional Jawa Barat

Berikut ini merupakan beragam senjata tradisional dari wilayah Jawa Barat beserta sejarah budaya dan fungsinya.

1. Kujang

Kujang ialah salah satu senjata tradisional Jawa Barat yang bentuk aslinya mirip kudi yang awalnya digunakan sebagai alat pertanian, namun karena perubahan zaman, kudi menjadi senjata tradisional. Senjata tradisional ini dibuat dalam berbagai variasi yang merupakan inti dari ajaran budaya Sunda berupa burung dan unggas, hewan berkaki empat, juga katak.

Berdasarkan variasi ini berbagai kelompok senjata kujang diberi nama tergantung pada morfologi flora dan fauna budaya Sunda. Misalnya, Kujang Jago, Kujang Kunnu, atau Kujang Naga. Lalu, ada juga yang disebut Kujang Ciung yang menjadi salah satu senjata populer dan juga berlaku sebagai senjata khas Jawa Barat. Pada umumnya kujang memiliki bentuk ujung runcing yang estetis.

Fungsi Kujang

Grameds dapat melihat fungsi kujang tergantung pada ukuran bilahnya. Jika ukuran bilahnya 10 sampai 15 cm, senjata kujang ini dipercaya berfungsi sebagai jimat. Jika ukuran bilahnya 20 sampai 35 cm, senjata itu tergolong kategori pusaka. Jika panjang bilah pisau adalah 40 sampai 50 cm, maka kujang tersebut termasuk dalam kategori kapak yang berfungsi sebagai kepala kapak atau mata tombak.

Selain itu, sebagai senjata tradisional Jawa Barat, kujang juga memiliki fungsi sebagai berikut.

Digunakan sebagai simbol ,seperti logo pemerintah atau organisasi

Dapat digunakan sebagai alat pertanian dan berdasarkan teks Sanghyang kuno orang Sunda biasanya menggunakan senjata ini untuk menebang pohon, memotong tanaman, dan nyaker, atau Grameds bisa menyebutnya alat pemangkasan.

Dapat digunakan sebagai hiasan atau pajangan. Senjata ini biasanya bisa dilihat di tembok rumah-rumah Sunda.

Pusaka Kujang adalah senjata perang. Kapak pusaka dapat dijadikan sebagai lambang kehormatan dan perlindungan.

Bagian Senjata Kujang

Senjata Kujang tradisional ini juga memiliki bagian yang berbeda. Berikut ini bagian detail dari kujang.

  • Papatuk atau Congo yang berada di tepi pisau dan berbentuk seperti anak panah. Pepatuk biasanya digunakan untuk menyongkel.
  • Seluk atau Silih yang berada di bagian punggung dan berfungsi sebagai pencabik ke arah musuh.
  • Tadah yang berbentuk lengkungan yang menonjol pada bagian perut dan runcing pada bagian depannya. Ini berfungsi untuk menusuk tubuh musuh.
  • Mata dengan jumlah 5 sampai 9 lubang kecil pada kujang. Namun, jika kujang tidak memiliki lubang atau mata, senjata ini disebut kapak buta.
  • Tonggong adalah bagian tajam pada bagian belakang kujang.
  • Paksi adalah cincin runcing atau cincin di bagian belakang kujang.
  • Selut adalah pegangan atau cincin di ujung kujang.
  • Combong adalah lubang di pegangan kujang.
  • Ganja atau Landaian adalah sudut lancip ke arah tepi kujang.
  • Kowak adalah sarung senjata dari kayu dan juga memiliki aroma yang unik
  • Pamor adalah serangkaian baris sulungkar atau berupa titik-titik yang digambar pada kujang. Pamor biasanya berperan sebagai nilai seni dan juga sebagai penampung racun.

2. Bedog

Bedog adalah senjata tradisional Jawa Barat yang berukuran lebih besar dari kujang tetapi lebih pendek dari pedang dengan bilah yang tebal dan lebar. Senjata ini juga terbuat dari logam. Namun, saat ini pengrajin biasanya menggunakan bahan baku dari pelat mobil bekas.

Penggunaan senjata bedog dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni bedog gawe atau perkakas untuk peralatan rumah tangga seperti pertanian dan bedog soren atau ahli yang biasanya digunakan sebagai pola petarung atau jagoan dalam pencak silat dan jawara.

Fungsi Senjata Bedog

fungsi bedog ialah sebagai ciri-ciri simbolik yang digunakan untuk meningkatkan harkat dan martabat pemiliknya. Jika dilihat dari segi estetika, bedog digunakan sebagai objek koleksi. Dan jika dilihat dari fungsi ekonominya, bedog mampu memberikan penghidupan bagi masyarakat.

Biasanya senjata tradisional sunda ini terkenal dengan namanya yang bertujuan untuk menghilangkan efek seram dari senjata ini. Namanya adalah “Salam Tunggal”, yang berarti bahwa meskipun membawa bedog, kamu harus memastikan keselamatan dengan mengabdikan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Jenis-jenis Bedog atau Golok

Senjata tradisional Jawa Barat ini juga tersedia dalam berbagai bentuk. Berikut beberapa jenis bentuk bedog beserta ciri-cirinya.

  • Bedog Gaplok biasanya digunakan untuk memotong atau mencabut rumput dan tanaman lain di kebun.
  • Bedog atau Golok Pamencitan memiliki panjang 25-27 cm dan lebar hingga 3 cm. Senjata ini berasal dari kata peuncit, yang berarti pertempuran dalam bahasa Sunda. Oleh karena itu, bedok jenis ini biasanya digunakan untuk penyembelihan hewan
  • Bedog atau Pamoroan Golok atau Parang Kelangsungan Hidup Internasional. Parang ini biasanya berukuran 40-50 cm dan lebar hingga 3,5 cm. Jenis senjata ini biasanya digunakan untuk berburu
  • Bedog atau Golok Tani adalah senjata yang biasanya memiliki panjang 25-30 cm dan lebar sekitar 4 cm. Dilihat dari namanya, orang Sunda biasanya menggunakannya untuk kegiatan yang berhubungan dengan pertanian dan perkebunan
  • Bedog atau Golok Pamugeulan memiliki panjang 23 hingga 24,5 cm dan lebar sekitar 6 cm. Orang biasanya menggunakan senjata tradisional ini untuk kegiatan berat seperti penebangan. Hal ini didukung dengan bentuk parang yang cukup besar
  • Bedog atau Golok Sotogayot berukuran panjang 25-27 cm dan lebar 6 cm. Orang Sunda biasanya menggunakan senjata ini untuk memotong bambu atau mengolah bahan bambu
  • Bedog atau golok dapur berukuran 20-23 cm dan lebar 4 cm. Jika namanya menunjukkan “dapur”, dapat disimpulkan bahwa orang Sunda menggunakan senjata ini untuk keperluan dapur seperti memasak dan memotong bahan bakar
  • Golok Panguseupan berukuran panjang sekitar 17-2 cm dan lebar 3 cm. Nguseup berasal dari bahasa Sunda yang berarti “memancing”, sehingga parang ini biasanya digunakan untuk memancing di sungai dan laut
  • Bedog Cepot berukuran mulai dari 15 hingga 17 cm dan lebarnya lebih dari 9 cm. Parang ini biasanya digunakan untuk membelah

3. Patik

Patik adalah senjata tradisional di Jawa Barat yang dalam bahasa Indonesia artinya kapak. Bentuk patik hampir sama dengan kapak modern di perkotaan. Secara tradisional, senjata tradisional ini digunakan oleh masyarakat untuk menebang pohon. Pada zaman dahulu, nenek moyang orang Sunda menggunakan Patik sebagai alat ekspansi.

Yang dimaksud ekspansi adalah membuka areal baru dengan membuka hutan. Tidak hanya itu, penggunaan kapak yang bertahan hingga saat ini adalah sebagai alat untuk mencari kayu bakar atau melakukan pekerjaan berat lainnya. Senjata ini terbuat dari besi dan memiliki ujung yang kuat dan tajam. Panjang gagang kelelawar biasanya sekitar 30-35 cm.

Bilah di ujung senjata ini panjangnya kira-kira 10 cm dan tebalnya mencapai 4 cm. Keunggulan Petik Jawa Barat tradisional adalah kekuatannya. Oleh karena itu, ini adalah alat yang berat, tetapi sangat efisien untuk mendukung pekerjaan masyarakat di bidang kehutanan dan pertanian. Senjata ini juga termasuk dalam senjata tradisional yang sangat populer dan populer di kalangan orang Sunda. Artinya mayoritas petani dan pemburu kayu di sebagian besar wilayah pedesaan menggunakan Patik sebagai senjata.

4. Congkrang

Congkrang adalah salah satu senjata tradisional Jawa Barat yang berbentuk seperti cangkul, tetapi jauh lebih kecil. Senjata tradisional ini tidak digunakan sebagai senjata tempur, sehingga umumnya kurang tajam atau tidak runcing. Senjata tradisional congkrang terutama digunakan untuk mencabut rumput liar dari tanah. Tidak hanya itu, senjata ini juga digunakan untuk membersihkan rerumputan dan tumbuhan liar di persawahan dan kebun. Senjata Congkrang juga memiliki beberapa keistimewaan, seperti kemampuan mengikis rumput hingga ke akar-akarnya. Senjata tradisional ini sudah ada sejak lama dan masih menjadi alat berkebun yang digunakan wanita untuk membantu suaminya.
BACAAN LAINNYA:

5. Ani-Ani (Ketam)

 

Dalam bahasa Sunda, Ani Ani atau dikenal dengan sebutan Etem atau Ketam. Senjata tradisional Jawa Barat ini digunakan untuk memanen padi. Senjata ini biasanya berbentuk pisau kecil yang bisa disembunyikan di telapak tangan.

Senjata tradisional pemanen padi ini menjadi pilihan karena berkembangnya kepercayaan bahwa orang Sunda dan Jawa tidak boleh menggunakan parang dan arit. Dalam kepercayaan ini, Dewi Padi dan Nyai Pohaci Sang Hyang Sri diyakini memiliki kepribadian yang tenang dan lembut, serta ditakuti oleh senjata tajam seperti parang dan arit. Karena itu, jika sang dewi takut, hasil padi yang diperoleh akan buruk. Memanen padi dengan batang yang terpotong tidak hanya membutuhkan waktu, tetapi juga membutuhkan waktu untuk memotong batang. Jadi saat itulah para petani harus menggunakan senjata Ani Ani untuk membantunya. Namun, senjata ini memiliki kelemahan yaitu membutuhkan waktu yang cukup lama, karena setiap pegangan harus dipanen secara akurat.

6. Sulimat

Senjatajata tradisional Jawa Barat yang dikembangkan untuk bekerja di sektor perkebunan, khususnya industri kelapa. Senjata ini biasanya digunakan untuk merobek atau mengupas kulit kelapa. Senjata tradisional ini memiliki dua sisi, bidang horizontal dan bidang vertikal. Sisi horizontal didorong ke tanah untuk bertindak sebagai kaki atau alas, dan sisi vertikal bergerak ke kanan karena digunakan di sisi itu untuk memisahkan buah kelapa dan seratnya. Senjata tradisional ini memang jarang ditemukan, namun kegunaan senjata ini sangat membantu dalam membuat batok kelapa bekerja lebih cepat.

Mengupas kelapa lebih efisien jika menggunakan sulimat. Bahan yang digunakan untuk membuat Sulimat disambung dengan besi untuk membuat kedua sisi senjata, seperti yang telah disebutkan di atas. Namun seiring berjalannya waktu, senjata ini semakin langka ditemukan dan menjadi salah satu senjata tradisional Sunda yang paling canggih.

7. Gacok

Gacok adalah senjata tradisional Jawa Barat dengan bentuk runcing seperti garpu besar. Gacok biasanya digunakan untuk pertanian dan peternakan yang biasanya digunakan untuk mengumpulkan rumput kering, membersihkan kandang, dan membersihkan jemuran. Senjata tradisional ini memiliki gagang berbentuk cangkul. Namun bedanya dengan yang lain, senjata ini tidak bisa menggunakan Gacock untuk menduduki tanah. Berbeda dengan cangkul. Senjata tradisional ini merupakan senjata yang populer di kalangan petani. Selain harganya yang relatif murah, senjata ini juga sangat ringan, hemat energi dan mudah digunakan.

8. Bajra dan Gada

Bajra dan Gada adalah senjata tradisional Jawa Barat yang digunakan pada zaman pra-kemerdekaan sebagai alat perlawanan untuk mengusir penjajah. Bentuk senjata ini merupakan senjata yang digunakan dengan cara mengayun dan memukul. Senjata tradisional Jawa Barat ini biasanya berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan penggunanya.

Gada juga ditemukan saat ini dan memiliki paku di kedua ujungnya, jadi jangan meremehkan goresan dan vajra yang ditimbulkan Gada. Dalam Pertarungan tangan kosong, musuh yang diserang penderita luka dan pendarahan yang sangat mematikan, dan bahkan bisa melihat kepalanya.

Pada zaman dahulu senjata ini populer karena bahan yang digunakan sangat sederhana. Dengan kata lain, bisa dibuat dari bahan yang keras seperti kayu jati dan besi. Namun, seiring berjalannya waktu, senjata ini sudah begitu dilupakan sehingga keberadaannya biasanya hanya bisa ditemukan di museum.

9. Balincong

Balincong adalah senjata tradisional Jawa Barat berbentuk kapak dengan dua sisi tajam. Senjata ini biasanya digunakan untuk membantu dalam pekerjaan pertanian. Hal ini menjadikan senjata Balincong jadi salah satu senjata paling populer di sekitar pedesaan. Senjata tradisional ini memiliki ujung besi. Meskipun gagangnya terbuat dari kayu. Ujung sendiri sendiri memiliki dua sisi dengan bilah yang sama. Sekilas, senjata itu menyerupai kapak. Namun, Balincong tidak memiliki sisi senjata yang datar dan lebar. Senjata Balincong digunakan sebagai alat untuk menggali tanah dan memecahkan batu di ladang. Senjata ini juga berguna untuk tugas-tugas seperti membangun saluran irigasi di sawah dan memperkuat aliran sungai.

Balincong terbagi menjadi 2 jenis yakni Balincong panjang yang biasanya memiliki panjang sekitar 52 cm dengan lebar mencapai 10 cm berbentuk horizontal. Balincong jenis ini biasanya digunakan untuk pekerjaan yang sangat berat. Sedangkan Balincong kecil memiliki ukuran panjang sekitar 38 cm dengan lebar pipihnya 6 cm dan digunakan sebagai senjata alternatif kebutuhan kerja lainnya.

10. Baliung

Baliung adalah senjata tradisional Jawa Barat berbentuk kapak modern. Senjata ini biasanya digunakan untuk menebang pohon besar. Di daerah lain ada senjata seperti Baliung yang hanya berbeda nama dan penyebutannya. Panjang gagang senjata tradisional ini adalah 30-35 cm. Gagang senjata ini terlihat sangat tebal dan berat. Hal ini dikarenakan tingkat tekanan dan daya potong yang sangat tinggi dari senjata ini. Selain itu, senjata ini juga memiliki sisi dan ketebalan yang tajam sehingga dapat menggores kulit pohon yang keras. Bahkan hingga saat ini senjata-senjata tersebut masih banyak digunakan oleh masyarakat, terutama untuk menunjang kegiatan di hutan.

11. Arit

Arit adalah salah satu senjata tradisional Jawa Barat yang masih eksis hingga saat ini. Arit adalah senjata tradisional berbentuk bulan sabit, dengan beberapa fungsi yang digunakan untuk mencari rumput dan senjata lainnya. Di beberapa daerah lain, masih banyak ditemukan jenis senjata tradisional berbentuk arit. Seperti senjata tradisional Madura yang disebut clurit atau senjata tradisional Betawi yang disebut sabit.

Nah, itulah senjata tradisional Jawa Barat yang yang sekaligusa sbagai pekakas  yang meryupakan warisan leluhur Orang Jawa Barat. Selain senjata tradisional, ada beberapa hal tentang budaya Indonesia yang perlu diketahui juga, seperti alat musik tradisional, pakaian daerah, dan makanan tradisional. KLIK DI SINI

Featured Post

HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA

KHARAMAH HABIB ALHABSYI:  BISA DENGAR SUARA TASBIH DAN BENDA MATI HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA Habib Ali Alhabsyi nama lengkapnya H...