BERANDA

Selasa, 23 Juli 2024

4 PUISI PUISI RAEDU BASHA PENYAIR JEBOLAN PESANTREN

MENGENAL PUISI PUISI RAEDU BASHA
PENYAIR JEBOLAN PESANTREN

Raedu Basha adalah penyair jebolan pesantren. Raedu Basha, nama pena dari Badrus Shaleh (Basha), biasa dipanggil Raedu. Lahir di Sumenep, Madura, 3 Juni 1988. Pendidikan santrinya dimulai dari Pondok Pesantren Darussalam Bilapora Ganding Sumenep, kemudian Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, Pondok Pesantren MUS Sarang Rembang Jawa Tengah. Saat itu Raedu beraktifitas sebagai peneliti dan pelajar departemen antropologi budaya Universitas Gadjah Mada sambil mengelola Ganding Pustaka.

RAJA SASTRA- Raedu Basha adalah penyair jebolan pesantren. Raedu Basha, nama pena dari Badrus Shaleh (Basha), biasa dipanggil Raedu. Lahir di Sumenep, Madura, 3 Juni 1988. Pendidikan santrinya dimulai dari Pondok Pesantren Darussalam Bilapora Ganding Sumenep, kemudian Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, Pondok Pesantren MUS Sarang Rembang Jawa Tengah. Saat itu Raedu beraktifitas sebagai peneliti dan pelajar departemen antropologi budaya Universitas Gadjah Mada sambil mengelola Ganding Pustaka. Pernah diundang mengisi program-program sastra seperti Ubud Writers & Readers Festival 2015, Festival Kebudayaan Islam Universitas Negeri Sebelas Maret 2015, Festival Kesenian Yogyakarta 2014, dll. Raedu menjadi kurator tetap beberapa program sastra mahasiswa sejak 2014-sekarang, seperti Festival Sastra UGM, Bulan Bahasa UGM, Festival Kebudayaan Arab UGM, Etnika Festival, dll. Buku puisinya berjudul Matapangara (Ganding Pustaka, 2014), novel Melting Snow (Diva Press, 2014) dan album pembacaan puisi Yang Gemetar di Bibirmu (2016). Raedu memenangkan penghargaan sastra, antara lain, Piala Rektor IAIN Purwokerto sebagai pemenang cipta puisi se-ASEAN (2017), 

Raedu Basha adalah penyair jebolan pesantren. Ia pemenang puisi Qur’ani Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) (2016), pemenang esai sastra nasional oleh Pesantren Mahasiswa An-Najah Banyumas (2016), pemenang menulis cerpen PCINU Maroko & Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Maroko (2016), pemenang utama cipta puisi TV9 & Muktamar 33 Nahdlatul Ulama (2015), pemenang Anugerah Seni dan Sastra Universitas Gadjah Mada (2014), pemenang cipta puisi Jurnal Sajak Jakarta (2014), pemenang cerpen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (2012), pemenang cipta puisi Piala Walikota Surabaya (2007), juara baca puisi tiga bahasa Al-Amien Prenduan (2007), hadiah puisi IPB (2007), pemenang cipta puisi Taman Budaya Jawa Timur (2006), pemenang sayembara puisi Pusat Bahasa Depdiknas RI (2006), dan lain-lain. Puisi, cerpen, esai, ditayangkan media massa dalam dan luar negeri: Horison, Basis, Media Indonesia, Jawa Pos, Republika, Indopos, Utusan Malaysia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Solopos, Sumut Pos, Riau Pos, Fajar Sumatera, Fajar Makassar, Cakrawala Makassar, Rakyat Sumbar, Merapi Pembaruan, Bende, Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Radar Sukabumi, Radar Madura, Koran Madura, Kabar Madura, Kuntum, Tebuireng, NU Online, Sidogiri, Sabili, Kanal, kompas.com. 

Raedu Basha adalah penyair jebolan pesantren. Buku bersama yang memuat karyanya: Requime Tiada Henti (100 sajak penyair ASEAN, 2017), Dari Gentar Menjadi Tegar (Komisi Pemberantasan Korupsi, 2016), Sepotong Kisah dari Sudut Pesantren (Kedutaan Besar Republik Indonesia Maroko, 2016), Seratus Puisi Qurani (Persaudaraan Muslimin Indonesia, 2016), Satu Cerita dalam Satu Malam (Cerpen Pilihan Suara Merdeka, 2016) Ketam Ladam Rumah Ingatan (Lembaga Seni Sastra Reboeng, 2016) Surabaya Memory (Perpustakaan Universitas Kristen Petra, 2016), Gelombang Puisi Maritim (Dewan Kesenian Banten, 2016), 17.000 Islands of Imagination (Ubud Writers & Readers Festival 2015), Jalan Remang Persaksian (Tembi Rumah Budaya & Lembaga Perlindungan Saksi Korban, 2015), Memo untuk Presiden (Forum Sastra Surakarta, 2014), Puisi di Jantung Tamansari (Festival Kesenian Yogyakarta, 2014), dan terbitan sebelumnya sejak tahun 2003.


Puisi-Puisi Raedu Basha

arsippenyairmadura.com, 13 Mar 2017


1. Ternyata Sudah Sangat Malam


ternyata sudah sangat malam

aku bersama waktu

bertukar sepi bertukar mimpi

detik-detik menghantarkan alur menungku

ke segala penjuru, melaju

sedayu daun kering dalam sepoi angin

kuragah asa mungkin rembulan rapatkan cahaya

kejora berkilap di dada

kupecut jantung berdegub kencang

ya malika kulli hal

aku ksatria yang terluka dalam perang

aku tak ingin mati sebelum menang

membunuh musuh di dalam diri…

nurani dan birahi

bercakap tentang gairah yang bergelombang

hati dan pikiran berkeluh:

ke mana hendak melangkah, o, ke mana

hendak melangkah?

ke arah angin berseling siul seruling

ataukah ke udara perkasa menerompa lautan

kemudian menantang badai?

bunyi katak bercumbu di tengah sawah

kerikan jangkrik mengalun di semak sebelah

kurasakan pekat sangat burat

gelap teramat gelap

jiwa suram ibarat purnama terburam awan

ternyata sudah sangat malam…

2007


2.Menatap Las Vegas

menatap Las Vegas

bangunan-bangunan menjulang

mencakar langit atmosferku

emosi karam di antara gemerlap lampu

berdecaklah jagad kuldesak

sambil kueja mantra-mantra Sakera

sekedar membuang ketir dan gemuruh

yang ranggas di dalam otak

seperti inikah Madura kelak

posmodernism

megapolitan disajikan bagi anakputuku

hidangan dunia yang gila

di mana tak kudengar

nyanyian sumbang kakek lugu

seperti tembang kae menjelang tidurku

masihkah garam tetap asin

bila bir bertumpahan di lautan

kesunyian terhantam

akal menjadi kekuatan

birahi di atas nurani!

menatap Las Vegas

bagai kupandang bebukitan

Payudan hingga Sinongan tersulap tol

jembatan gantung

goa-goa menjelma terowong jalan

mengusir para pertapa

gelora perjalanan matahari di asa

kacong-cebbingku

di dada sawah, bola-bola golf berhamburan

asap mesin polusi perkasa

mencabuli semerbak tembakau

tempat eppa’ dan embu’ meremas keringat

membingkai senyum di garis-garis ritmis

Madura!

celurit yang dulu kau asah

bergeletakan sudah…

2006


3. Radarparana

tersimpan di manakah degubmu

aku mencarinya sedalam lautan

dengan segenap keraguan yang berpacu

setiap batu kuketuk, sepanjang karang kutelusuk

hanya derak yang bisu, selebihnya

gelembungan luka sisa siksa.

sedetak melecut, engkau menyemakku

tapi degubmu menyekam seperti rahasia dalam rahasia

aku melangkah ke hutan mungkin di sana ia tersimpan

dari Boerneo sampai Amazon, udara hanya mengurai

daun kering, bintang cuma bermain debu

hingga aku membakar pepohon dan pepucuk mata angin.

dalam kegalauan aku bertanya

di manakah kiranya tanda jantungmu

yang tak pernah kusua di saban dada

yang tak pernah ada selain milikmu yang misteri

pernah kumengira setiap semerbak bunga

adalah gaharu degubmu. pernah kumenyangka

segala bisik cempaka adalah ruang parut rasamu.

setelah terus kutilik baru aku mengerti

tangkai akan lesup tetapi degubmu sepanjang hidup

aku pergi ke langit barangkali degubmu di situ

yang menurunkan hujan saat sembilu

kiranya kedip kilat atau purnama-surya

yang kemilau-bercahaya adalah warna tenguknya

tapi o lagi-lagi, hanya setumpuk awan tanpa tenaga

cuma sengat halilintar yang menambah carut tanya

terkadang aku merasa degubmu seumpama sepi

yang diterawang lewat kontemplasi

dunia yang tersentuh namun tak tersentuh

legat pikiran laksana mimpi bertemu Tuhan

2012

Bac yang lainnya

BACA JUGA

4. Mayat Sepi

1

aku bukan dia yang mati di dalam pembakaran

tapi aku mayat di dalam sepi

menanggung berat kesunyian

dan pahala pada sebuah diam

jika waktu terlalu silau memandang rembulan

maka bacalah deritaku di antara lubang dada

huruf-huruf tereja bersama

nyanyian jantung

rentap

2

aku bukan dia yang mati membawa api

tapi aku mayat di dalam janji

yang disulut matahari

menggantung mimpi

di dalam langit pikiran

jika ruang terlalu sempit buat menumpahkan isi hati

maka keluarlah dari angan

kepada harapan demi harapan

sampai kata-kata akan tersemat kala senja

terlalu berat untuk tenggelam

2006

KLIK DI SINI

BEJA TI BASISIR LAUT KIDUL

 






BEJA TI SISI LAUT  KIDUL

(Undang Sumargana)

Cikalong ngajajar leuwi anyar

Liang tapak ngukuy keusik

Nu nyesa hampasna nu patulayah 

Sareukseuk pangdeuleu ngonang hariwang


Cidadap basisirna burakrakan

Karang Bayawak tinggal bangkarak nu patulayah

Nu nyesa kebul kapeurih karisi datang tsunami

Kasarakahan geus meulit na hate

Manusa iblis bangsat lingkungan


Pamayang, Sindang Kerta, Cipatujah

Sapanjang basisisir geus diturih Ku mesin kasarakahan 

Pasir beusi jadi saksi  Jadi bancakan bagi bagi

Nu hasil  pengusaha jugala, pereman jeung para pejabat basilat

Rakyat leutik ngegel curuk kur kabagi kebul jeung leutakna

Emh dedeuh teuing…..!


Tasik Pakidulan 2023


KIYAMAH

( Undang Sumargana)

Ting burisat cahya kilat

Ngalentab ngahuru jagat

Ngageleger sora gugur

Langit genjlong bumi eundeur

Hujan rongkah, 

caah bedah teu katadah


Bumi ngaplak  taya sisi

Lautan pindaha kadarat

Pangeusina ting koceak

Jeritna mapakan langit

Tinggal raga taya nyawa

Ngagulung nyarah jeung runtah


Langit rungkad. 

Ngalingkup murulukeun  bentang

Muragkeun bulan, ngabahekeun panon poe

Jagat ancur nggulung jadi lautan

Taya sesa sakabeh anu nyawaan

Sukmana geus ting belasat  ngabaliur kabuana

Tinggal raga patulayah nyangkere geus jadi bangke


Reup jagat simpe rehe

Nunggu hudang digebrag kumpul di alam masyar

Balitungan panungtungan, tinimbangan maha adil

Rek beurat  kamana timbangan urang?

Katuhu alamat surga sumber lana kabagjaan

Atawa Kenca

Alamat nandang tunggara nngarasa  siksa naraka

Wallahu Alam

Gumantung ka pepelaakan dina lampah kahirupan.


Tasik Pakidulan, 5 April 2016

BACAAN LAINNYA:

 DEMO RAKYAT

(Undang Sumargana)


Ngageleger sora gugur meupeuskeun reueuk

Tingbarasat cahya kilat ngalentab mega

Ngahuru amarah silalatuan

Ngempur hurung na tungtung emun-emunan

Rahayat kahuru dimangfaatkeun ku kabingung


Ting porongos ting jorowok

Nusurak eak-eakan, nu demo gogorowokan

Turuhkeun harga! Turunkeun harga!

ceuk sora lalaki nu igana ragas, matana celong.

Turunkeun BBM, turunkeun BBM

Eh, BBM geus turun, tapi hahargaan malah ngajaul

Nu ngagorowok  latam-letem kaeraan


“Saudara-saudaraku” Ceuk pimpinan demo

Anu tadi turun tina mobil mewah

Bajuna perlente, erloji bermerk, 

Sapatu buatan luar negeri

“Kita terus berdemo-kita gempur istana”

Amarah rakyat kasundut 


Nu demo beuki  ngangseg 

Budal  omongan teu kawadahan

“Hidup pimpinan kita! Hidup pimpinan kita”

Ceuk rakyat nyumangetan pimpinan demo


Rakyat ngangseg maju, pulisi bedah amarah 

Bukbek peureup jeung peureup, 

Panakol jeung panakol

Pimpinan demo ngolesed lalaunan

Akhirna ngabiur pangheulana

Ngadius na mobil mewah muru hotel

Arek otel  jeung bikang paneretan


Rakyat jadi korban ti jalma 

Nu pundung teu kapeto jadi pimpinan

Sarta teu ngasaan diuk na amisna korsi Dewan


Tasik Pakidulan, Kamis 31 Maret 2016

KLIK Di  Sini

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SDELATAN (Seri Sepasang Rajawali Sakti Dari Gunung Galunggung Bagian 1)

SEPASANG RAJAWALI SAKTI 
DARI GUNUNG GALUNGGUNG

(Bagian 1)
Kehadiran Bayu di Gunung Galunggung memberikan warna tersendiri dan kegembiraan bagi semua anggota Padepokan Jejer Galunggung, mereka merasa bangga dengan kehadiran sepasang Pendekar Kembar yang di juluki Sepasang  Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung. Dan nama Padepokan Jejer Galunggung telah tersiar ke mana-mana, membuat para pendekar dari luar berdatangan terutama mereka penasaran ingin menguji kesaktian Sepasang Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung.

Cuplikan Akhir Cerita Yang Lalu

rajasastra-us.blogspot.com Selanjutnya giliran Ayu lestari memeragakan jurusnya, kebetulan dalam jarak 20 meter ada pohon besar yang berdiri, ayu menyuruh semua menjauh dari pohon tersebut, setelah aman Ayu Lestari merentangkan tangannya ke depan tak lama kemudian ia melontarkan pukulan jarak jauh kea rah pohon tersebut, sinar panas keluar dari tangannya.

“Pukulan Galura Laut Kidul” Dari tangannya melesat sinar warna kebiruan menuju pohon besar, pohon itu sampai rantingnya hangus dan selang beberapa detik merosot ke bawah jadi gunukan abu halus, semua yang hadir terbelalak melihat semua pohon jadi keprulan debu yang halus, mereka pada yakin Ayu lestaripun bukan gadis sembarangan. Pantas saja dia diberi gelar sepasang “Rajawali Sakti” KLIK DI SINI 

“Para Pembaca yang Budiman cerita selanjutnya bersambung dalam Episode

“Sepasang Rajawali Sakti Dari Gunung Galungung (Bagian 1)”

SEPASANG RAJAWALI SAKTI 
DARI GUNUNG GALUNGGUNG

(Bagian 1)
Kehadiran Bayu di Gunung Galunggung memberikan warna tersendiri dan kegembiraan bagi semua anggota Padepokan Jejer Galunggung, mereka merasa bangga dengan kehadiran sepasang Pendekar Kembar yang di juluki Sepasang  Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung
SEPASANG RAJAWALI SAKTI  DARI GUNUNG GALUNGGUNG

Kehadiran Bayu di Gunung Galunggung memberikan warna tersendiri dan kegembiraan bagi semua anggota Padepokan Jejer Galunggung, mereka merasa bangga dengan kehadiran sepasang Pendekar Kembar yang di juluki Sepasang  Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung. Dan nama Padepokan Jejer Galunggung telah tersiar ke mana-mana, membuat para pendekar dari luar berdatangan terutama mereka penasaran ingin menguji kesaktian Sepasang Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung. Dan hari itu Padepokan Jejer Galungung di datangi 2 pendekar yang ngakunya datang dari pulau sebrang dari Gunung Krinci, kedatangan mereka dengan cara baik-baik dan bertingkah sopan, sehingga disambut para penghuni Padepokan dengan sopan juga.

“Maaf Ki sanak aku ingin bertemu dengan pendekar yang bergelar Sepasang Rajawali Sakti. 

“Untuk apa kau bertemu dengan tuanku?”

“Antarkan saja jangan banyak tanya!”

Kebetulan pada waktu itu Bayu sedang berada dekat pintu gerbang Padepokan, segera menghampirinya”.

“Tuan ingin bertemu dengan Pendekar Rajawali Sakti?”

“Ya Bocah, segera antarkan aku!”.

“Baik tuan yu aku tunjukkan”.

Kedua Pendekar itu dibawa ketempat pertemuan, dia tidak menyadari bahwa orang itulah yang dia tanyakan. Setelah menempatkan kedua tamu itu Bayu segera menghampiri adiknya Ayu Lestari, dan keduanya telah berdandan mengenakan pakaian yang dianugrahkan pada waktu pemberian gelar.

Kedua tamu itu telah dijamu dengan makanan dan minuman tradisonal yang menjadi ciri khas Gunung Galunggung. Sayat Bayu Samudra dan Ayu Lestari menghampirinya, dia tidak percaya bahwa sala satu pendekar yang ia temui adalah yang mengantarkannya tadi.

“Pagi Ki Sanak berdua, maafkan akua gak lambat menemuinya”.

“Pagi Pendekar, benarkah kau orang yang aku tuju?” dua pendekar itu merasa tidak percaya karena Pendsekar yang bergelar Sepasang Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung begitu muda, namunn kewibawannya dan pancaran kesaktiannya sudah mulai terasa.

“Perkenalkan aku Bayu Samudra, dan ini adikku Ayu Lestari, yang mendapat gelar Sepasang Rajawali  dari Gunung Galunggung”.

“Perkenalkan aku Angga Dipa dan ini adiku Wisnu Dipa dari Gunung kerinci, orang menyebutku Sepasang Cameti api dari gunung Kerinci , langsung saja pada pokok masalah, kehebatan Sepasang Pendekar  Rajawali  dari Gunung galunggung sudah banyak didengar di sebrang aku penasaran ingin mencoba sampai dimana kehebatannya”. Dia berkata dengan sopan tapi tersimpan rasa kepongahan dan merendahkan lawan bicaranya. 

“Oh begitu, tidakah ad acara lain tak usah menjajal kehebatan masing-masing?”

“Sudahlah tak usah basa-basi, ikut saja kelapangan yang luas?”.

Rupanya teman yang satunya sudah tidak sabar, dia meloncat menuju lapangan diikuti oleh lawan bicaranya.  Bayu Samudra dan Ayu pun sudah meloncat dengan seperti terbang dengan kecepatan yang luar biasa. Sehingga ia terlebih dulu telah berada di lapangan yang luas.

Melihat lawannya telah berada di lapang terlebih dahulu, dua Pendekar dari Gunung Kerinci, sudah bisa dipastikan bahwa lawannya bukan pendekar sembarangan.

“Terimalah seranganku?” dia menyerang dengan kecepatan tinggi, tapi hanya mengenai angin, sebab Bayu lawannya menghilang dan sudah tertawa di belakangnya.

“Jangan tergesa-gesa sobat, nih aku ada dibelakangmu”. Bayu hanya berkelit dengan kecepatan yang tak dapat diikuti oleh mata.

Lawannya melakukan serangan susulan dengan menebarkan hawa panas, sebaliknya Bayu membendungnya dengan menggunakan jurus Badai Salju menimpa Bumi, akibatnya Hawa panas yang tadi ditebarkan musnah dan hawa dingin menyelimuti pendekar dari Gunung kerinci.

Ditempat lain Ayu lestari sedang diserang lawan habis-habisan, tapi ia bergerak lincah jangankan serangan itu menyentuhnya, malah membuat lawannya kesal dan emosi.

“Hemh gadis Jelita, jangan terus berkelit, terimalah jurusku Rahwana merangkul Sinta”, lawan Ayu berubah badannya jadi besar dan tangannya terpentang lebar, melihat keadaan lawannya Ayu Lestari tidak panik, Ia cepat menggunakan jurus pernahanan “Karang menahan Gelombang, akibatnya lawannya terpental dengan keras ke Belakang beberapa meter dan akhirnya jatuh dengan posisi terlentang, badannya Kembali ke semula dan merasakan sakit akibat terbanting tadi”.

“Hahaha…kau seperti anak kecil yang minta peremen malah berguling di tanah” Ayu lestari memanas-manasi lawan.

Lawan Bayu yang baru saja mengatasi rasa dinginnya, langsung saja menyerang dengan Jurus Harimau kerinci menerkam lawan, desertai dengan auman yang keras dengan pengerahan tenaga dalam yang tinggi, membuat orang yang sudah pada menyaksikan bergidik ketakutan. Badannya berubah menjadi harimau besar dengan taring dan kuku yang tajam. 

“Auummm”, terkaman itu begitu cepat tapi bayu hanya menghindar dengan jurus raja kera mengecohlawan.

BACAAN LAINNYA:

“Auum” Kembali menerkam dengan cepat, kali ini bayu hanya diam sambil meletakan telapak tangannya di dada. Semua orang mengira bahwa kali ini badan Bayu akan dikoyak-koyak oleh taring dan kuku tajam dari harimau jelmaan pendekar dari Gunung kerinci. Tapi yang terjadi sebaliknya Harimau itu mental beberapa  meter, seolah menabrak benda keras, dalam keadaan jatuh tertelungkup dan meringis kesakitan. Akhirnya harimau itu berubah ke wujud semula dan meringis kesakitan. 

“Sudahlah kawan tak perlu ada pertumpahan darah diantara kita”

“Hemmh jangan dulu sombong kau anak muda, apa kau ketakutan?”

“Maaf taka da rasa takut pada diriku kecuali oleh Allah, hanya yang tak kuharapkan pertarungan yang sia-sia”.

“Baik pertarungan ini kuhentikan, hanya kau berikan adikmu untuk ku jadikan istri”.

“Bangsat tiba-tiba Ayu lestarti yang sudah melumpuhkan lawannya langsung menyerang, Dengan Jurus Gelombang Samudra menghantam karang?” Untung saja Bayu segera menyelamatkan lawannya dengan cara menyambar dengan kecepatan 3 kali kecepatan badai. Serangan tersebut hanya mengenai batu besar yang akibatnya batu tersebut melorot jadi keprulan debu. 

Melihat kehebatan jurus tersebut kedua pendekar dari kerinci itu nyalinya jadi ciut, ia sadar bahwa ke dua pendekar itu bukan tandingannya. Apa lagi ia telah diselamatkan oleh Bayu lawannya tadi.

Akhirnya kedua pendekar itu menunduk lesu dengan rasa malu dan rasa segan yang menyelimuti hatinya.

“Terima kasih pendekar kau telah selamatkan nyawaku, aku sekarang yakin bahwa gelar Sepasang Rajawali Sakti dari Gunung galunggung bukan omong Kosong, tapi sepasang pendekar hebat yang sulit tandingannya”.

“Kakak kenapa kau selamatkan pendekar bermulut busukitu?”

“Sudahlah Ayu tak perlu berlebihan, biarlah mereka untuk menikmati hidupnya” Ayu Lestari akhirnya emosinya surut, mendengar kata bijak kakaknya”. 

“Ialah Ayu biarlah mereka menjadi sahabat kita” Wijana menimpalinya, dan mendengar perkataan Wijana akhirnya menyejukkan Kembali hati Ayu”

Akhirnya kedua pendekar itu di bawa ke balai Padepokan, luka-luka di badan mereka diobati sehingga sembuh dengan cepat. Kedua pendekar itu malah dijamu dan disediakan tempat peristirahatan.

Meraka pada mengumpat dalam hati

“Sepasang Pendekar Muda yang hebat, berbudi luhur, jauhdari kesombongan, apa lagi dengan kemampuan ilmunya yang begitu hebat dengan usianya yang masih belia. Hal itu membuat hatinya bagitu tulus dan malu karena selama ini merasa dirinya paling kuat.

“Dik selama ini kita terlalu sombong terlalu membanggakan kemamampuan diri kita, padahal dibandingkan 2 Pendekar Rajawali kita taka da apa-apanya”.

“Ya, Kak malu aku merasakan keluhuran budi mereka dan keramahankeramahan penghuni padepokan ini. KLIK DI SINI

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN BAGIAN 8

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN 

BAGIAN  8

(Undang Sumargna) 

Dari seja habis magrib semua murid Padepokan sedah pada berkumpul, panggunbesar belandongan sudah berdiri dengan kokoh di setiap penjuru dipasang obor-obor besar membuat suasana menjadi terang. Para pendekar lain  dari berbagai penjuru mulai berdatangan, mereka pada ingin meyaksikan pemberian gelar di Padepokan Jejer Galunggung  yang katanya diberikan pada sepasang  pendekar muda yang sakti. Terutama mereka ingin menjajal kehebatan dua pendekar tersebut, mereka pada penasaran sehebat apa sepasang pendekar tersebut.
PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN 

rajasastra-us.blogspot.com/Dari seja habis magrib semua murid Padepokan sedah pada berkumpul, panggunbesar belandongan sudah berdiri dengan kokoh di setiap penjuru dipasang obor-obor besar membuat suasana menjadi terang. Para pendekar lain  dari berbagai penjuru mulai berdatangan, mereka pada ingin meyaksikan pemberian gelar di Padepokan Jejer Galunggung  yang katanya diberikan pada sepasang  pendekar muda yang sakti. Terutama mereka ingin menjajal kehebatan dua pendekar tersebut, mereka pada penasaran sehebat apa sepasang pendekar tersebut. 

Waktu isa telah berlalu, para murid padep[okan Jejer Galungung sudah pada berkumpul, para undanganpun para pendekar dari berbagai padepokan sudah pada datang. Akhirnya Acara dimulai dan dimulai dengan peragaan jurus jurus dari murid-murid Padepokan Jejer Galounggung, Sebelum pemberian gelar Ayu lestari dan Bayu Naik ke atas Panggung, mereka berpakaian kulit harimau dan sepatu kulit manjangan dan ikat Kepala dari kulit harimau pula diselipi Bula raja Wali hanya yang membedakan Ayu diselipi bulu Rajawali berwarna putih sedangkan Bayu berwarna Hitam. Keduanya berdiri dengan kecantikan dan kegagahannya.

“Saudara-saudaraku ini muridku yang akan diberi gelar sepasang Pendekar  Rajawali dari Gunung Galungung, Kedua putraku ini telah dididik dengan guru Yang berbeda meskipun satu aliran. Bila ada diantara kalian ingin mencoba menjajal kehebatannya silakan, tapi ingat hanya sekedar menjajal tanpa saling mencelakai”.

Para pendekar yang sudah penasaran dari tadi sudah pada meloncat tapi dibatasi seorang seorang. Pendekar bertubuh hitam berbadan besar lebih dulu meloncat keatas pangung sambil senyum seolah-olah mencibir. 

“Hemh aku sutarsa dari Garut siapa yang mau meladeni aku” Bayu telah berdiri tapi terlebih dulu Ayu lestari telah mendahuluinya.

“Biarlah kakang aku terlebih dulu mencobanya “ kata Bayu lestari memberi hormat pada kakaknya.

“Apa tidak sebaiknya kalian maju berdua” Sutarsa berbicara dengan congkaknya

“Kau pantas jadi istriku gadis mu.., “Tapi sebelum bicaranya selesai karena kesal atas omongannya Ayu sudah menyerangnya secepat kilat.

“Nih tahan seranganku” serangan Ayu kali ini mengenai pipi sutarsa meskipun hanya menggunakan tenaga kecil cukup membuat sutarsa sempoyongan, dia merasa malu dan terbakar emosinya.

“Nih tahan seranganku gadis cilik” Secepat kilat Ayu sudah berada di belakang membuat Sutarsa hampir saja jatuh dari atas panggung besar, dan disoraki pendekar dan penongton lainnya. Dia makin emosi maka melakukan serangan lagi dengan kecepatan tinggi”

“hiiiaaat serangan beruntun mengarah ke badan serta kepala Ayu, Lagi lagi Ayu memperlihatkan kehebatanya, dia mensahanya dengan jurus menahan gelombang, akibatnya sutarsa terpental jauh keluar panggung dan jatuh tertelungkup sejauh 4 meter, akhirnya dia mundur dengan merasakan kesakitan dan sadar bahwa Ayu lestari pendekar wanita yang betul-betul berilmu tinggi.

BACAAN LAINNYA

Beberapa pendekar yang berdatangan Sebagian mulai ciut nyalinya, tapi banyak juga yang penasaran, sudah 9 orang mencoba dilayani oleh Ayu dan bergantian dengan Bayu. Dan giliran ke 10 orang tersebut meloncat dengan cepat di atas panggung kali ini Bayu Samudra yang melayani.

“Perkenalkan anak muda aku Ki Wongso  dari Banten, ingin mencoba menjajal kehebatanmu, tapi kalau kau kalah harap adikmu kau serahkan untuk jadi istriku” 

Ayu wajahnya memerah saking kesalnya, tapi Bayu menasehatinya.

“Biarlah Ayu giliranku untuk melayaninya”. Kiwongso langsung mengirimkan jurus yang Cukup berbahaya,  Bayupun tahu bahwa lawannya kali ini cukup Tangguh, beberapa jurus telah berlalu, namun Bayu belum menggunakan tenaga sepenuhnya, Membuat Ki Wongso merasa di atas angin.

“Anak muda aku tunggu kau di bawah” sambil meloncat dari atas panggung. Bayupun  mengikutinya. 

Ki Wongso tiba tiba mencabut senjata goloknya yang cukup besar dan kuat.

“Nih anak muda keluarkan senjatamu” 

“Tidak Ki Wongso cukup kulayani dengan tanganku saja”

“Jangan menyesal bila badanku tercabik cabik dengan golokku” dengan tenangnya Bayu bergerak menghindari golok dengan kecepatan tinggi, Ki Wongso makin penasaran sabetan goloknya selalu menyambar tempat kosong, sudah beberapa jurus ia memainkan goloknya, tapi semakin cepat ia menyerang semakin ia kecapaian.

“Nih terimalah jangan dulu merasa menang anak muda” Golok Ki Wongso berputar seperti baling-baling baling dengan kecepatan tinggi, merangsak kea rah Bayu seolah-olah tak memberi ruang gerak. Semua yang hadir sudah pada khawatir melihat keadaan bayu yang terdesak, tapi Ayu malah melihat dengan tenang karena ia tau Kakaknya belum menggunakan jurus-jurus tingkat tinggi.

“Mati kau anak mudaa” dengan kecepatan tinggi golok Ki wongso terus merangsek kearah badan Bayu semua yang menyaksikan yakin badan Bayu akan tercabik-cabik.

”Waduuuh”, tiba tiba jerit kesakitan dari tengah pertarungan. Orang pada pada melihat dan yakin yang menjerit itu Bayu, Tapi ternyata Bayu sedang berdiri sambil memagang Golok Ki Wongso.  Sedangkan Ki Wongso berada sekitar 2 meter dari Bayu jatuh terlentang.

“Kau Hebat anak Muda. Aku menyerah dan mengakui keunggulanmu, Sambil memegang Bahunya yang melepuh terkena Pukulan Sagara Geni dari Bayu.

“Sudahlah bangunlah Ki Wongso, taburkanl;ah bubuk ini untuk mengobati luka bakarmu” Ki wongso memberi hormat dan bayupun menyalami sambil memeluknya dan menyerahkan Kembali golok Ki Wongso

“Terima kasih anak muda, sudah sepantasnya gurumu hari ini akan menganugrahkan gelar” . Ki Wonso pergi ke tempat duduk tadi, sedangkan Bayu cepat meloncat Kembali di atas panggung. Dan akhirnya ditunggu beberapa menit tidak ada lagi yang berani maju.

Akhirnya Ki Adiyaksa dan Abiyaksa telah berada di atas pangung, setelah itu ki Adiyaksa dan maju berbicara dengan lantang.

“Saudara-saudaraku, kita lupakan pertarungan yang tadi saatnya aku menganugrahkan gelar kepada putra-putriku yaitu Bayu Samudra dan putriku Ayu Lestari sejak saatini mereka bergelar Sepasang Rajawali dari Gunung Galunggung” 

Tiba tiba Adiyaksa bersuit dua kali dan berdatanganlah Rajawali Hitam  dan Rajawali putih disusul dua harimau yang satu harimau lodaya dengan bulu loreng dan yang satu harimau putih, keduanya sudah berada dipanggung sedangkan kedua Rajawali masing masing berada dipundak Bayu Samudra dan Ayu Lestari, yang menyaksikan Sebagian merasa takut dengan kehadiran harimau itu.

“Saudara-saudaraku ini tunggangan mereka masing-masoing binatang-binatang ini akan selalu menjadi teman mereka waktu bepergian, Dan ini rompi dari Kulit manjangan akan selalu di pakai mereka, rompi ini tidak akan tembus dengan senjata tajam apapun karena telah dipagari dengan ramuan kesaktian Sembilan wali. Semua menjadi terkagum-kagum apalagi Rompi tersebut telah di pakai dan dicoba dengan senjata tajam.

Akhirnya pesta hari itu diakhiri dengan ramah tamah dan mencicipi makanan, semua yang hadir pada bergembira dan Wijana Bayu Samudra sera Ayu Lestari selalu duduk bertiga. Ki Wongso yang tadi bertarung dengan Bayu mendekati Bayu.

“Pendekar maapkan perkataanku yang kasar tadi, dan terima kasih untuk obat luka bakarnya, obat itu betul-betul mujarab”.

“Oh Ki Wongso, sudahlah anggap diantara kita tak terjadi apa-apa, ayolahduduknya di sini dekat aku”

“Perkenalkan ini Sahabatku Wijana dari Padepokan Maung Lodaya di tepi pantai Cikawung Ading”

“Hemh kau pasti pendekar hebat lah”

“Sahabatku ini Bayu yang hebat, aku taka da apa-apanya”. Akhirnya mereka mengobrol begitu akrab, dan Ki Wongso mengundangnya ke Banten kalau ada waktu. Ki Wongso merasakan keramahan dan kerendahan hati mereka dan timbul kekaguman dalam hatinya. Selesai makan-makan dipanggung diisi dengan berbagai hiburan peragaan peragaan jurus yang telah dikuasai dan Bayu didaulat untuk meragakan salah satu jurus andalannya

“Semua yang hadir di sini saya akan memperagakan jurus Badai Salju menimpa bumi bertahanlah kalian dari pengaruh jurus tersebut” Bayu merentangkan tangannya di atas tiba-tiba hawa dingin keluar dari tangannya, semua yang hadir menahan hawa dingin yangterasa menerpa tubuhnya, ada perasaan dingin yang menimpa mereka bahkan ada yang sudah tak tahan merasakan hawa dingin yang menyengat, selang 10 menit Bayu menarik lagi jurusnya dan hawa dingin itu lenyap seketika, semua orang pada kagum dan jika dibiarkan beberapa lama mungkin darah mereka akan membeku akibat hawa dingin yang ke luar dari tangan Bayu. Semua yang hadir pada kagum begitu juga para pendekar yang hadir saat itu mereka semua yakin bahwa Bayu pendekar mumpuni yang sulit untuk mencari tandingnya.

Selanjutnya giliran Ayu lestari memeragakan jurusnya, kebetulan dalam jarak 20 meter ada pohon besar yang berdiri, ayu menyuruh semua menjauh dari pohon tersebut, setelah aman Ayu Lestari merentangkan tangannya ke depan tak lama kemudian ia melontarkan pukulan jarak jauh kea rah pohon tersebut, sinar panas keluar dari tangannya.

“Pukulan Galura Laut Kidul” Dari tangannya melesat sinar warna kebiruan menuju pohon besar, pohon itu sampai rantingnya hangus dan selang beberapa detik merosot ke bawah jadi gunukan abu halus, semua yang hadir terbelalak melihat semua pohon jadi keprulan debu yang halus, mereka pada yakin Ayu lestaripun bukan gadis sembarangan. Pantas saja dia diberi gelar sepasang “Rajawali Sakti” KLIK DI SINI 

“Para Pembaca yang Budiman cerita selanjutnya bersambung dalam Episode

“Sepasang Rajawali Sakti Dari Gunung Galungung”

Senin, 22 Juli 2024

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN BAGIAN 7

 PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN 
BAGIAN  7

(Undang Sumargna) 

Pendekar Bayu Samudra dan Wijana akhirnya pergi menuju Gununt Galunggung, setelah hampir sampai di Kaki Gunung Galungung, Bayu agak kesulitan untuk menentukan arah, akhirnya diputuskan untuk menunggangi Burung Rajawali, Beberapa saat dia mengintai tempat kediaman Kakek tua Adiyaksa, akhirnya dia menemukan sebuah pedepokan diputuskannya untuk turun, dan berjalan beberapa saat, tapi baru berejalan beberapa Langkah Bayu dan Wijana dihadang oleh beberapa orang.
PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN  BAGIAN  7

rajasastra-us.blogspot.com-   Dalam kisah masa lalu diceritakan bahwa Bayu Samudra dan Wijana berhasil mengalahkan penjahat yang memeras kehidupan Desa Parungponteng, dia berhasil membuat para perampok itu insap. beberapa hari menetap disana dan akhirnya meneruskan perjalanannya ke Gunung Galunggung.

Ayo mari ikuti cerita selanjutnya!

--Pendekar Bayu Samudra dan Wijana akhirnya pergi menuju Gununt Galunggung, setelah hampir sampai di Kaki Gunung Galungung, Bayu agak kesulitan untuk menentukan arah, akhirnya diputuskan untuk menunggangi Burung Rajawali, Beberapa saat dia mengintai tempat kediaman Kakek tua Adiyaksa, akhirnya dia menemukan sebuah pedepokan diputuskannya untuk turun, dan berjalan beberapa saat, tapi baru berejalan beberapa Langkah Bayu dan Wijana dihadang oleh beberapa orang.

“Hai Anak muda mau ke mana kau?, sembarang saja masuk pedepokan tanpa ijin”.

“Aku mau bertemu dengan pemimpin pedepokan ini kakek  Adiyaksa”.

“Sembarang saja kau mau bertemu dengan guruku”

“Pulang saja atau kupenggal kepalamu”

“Sabarlah Ki Sanak katakan saja kepada gurumu Aku Bayu Samudra dan temanku Wijana dari Laut selatan”.

Beberapa orang yang menghadang nyalinya begitu ciut mendengar nama Bayu Samudra, sebab dia sudah diberitahukan oleh gurunya akan kedatangan Pendekar muda dari Laut Selatan”

“Maaf-maaf pendekar aku tidak mengira bahwa yang datang Pendekar Sakti dari Laut Selatan, tidak disangka bahwa pendenkar masih belia dan berwajah tampan”.

“Tidak apa-apa aku hanya orang biasa yang mendapat undangan dari Kakek Adiyaksa, bisakah kau menunjukan tempat gurumu”

“Ya pendekar aku antar, maafkan perlakuan kasar tadi”

“Sudahlah tak perlu dipersoalkan, kamu hanya menjalankan tugas”

Akhirnya sampailah ditempat Kakek Adiyaksa, setelah dia menunggu sebentar di bale tempat pertemuan, akhirnya Kakek Adiayaksa menemuinya.

“Selamat datang ditempatku anak muda, terimakasih terima kasih kau telah memenuhi undanganku”.

“Maafkan Kek kedatangan kami merepotkan, dan kami ditemani dengan Kakaku Wijana, Putra dari Pemimpin perguruan Lodaya Gunung”

“Salam kenal anak muda” Kata Kakek Adiyaksa sambil merangkulnya.

“Istirahat dulu biar nanti kita bicara hal-hal yang penting setelah penatmu reda”.

“Tidak lama kemudian, datang seorang gadis belia seumuran Bayu, membawa air dan beberapa makanan”. Yang diherankan wajah gadis itu mirif  Bayu, Wijana mencuri pandang, dan gadis itu kebetulan menengoknya, wijana malu dan ada perasaan lain dalam hatinya”.

“Perkenalkan ini Cucuku Ayu lestari”. Gadis itu memberi hormat dan  tersenyum.

“Biarlah nanti menunggu kedatangan gurumu Bayu Adik seperguruanku Abiyasa kita bicara panjang lebar".

“Jadi Kakek Abiyasa Guruku akan datang juga Kek”

“Yah aku sudah berjanji dengan Abiyasa untuk berkumpul hari ini”

BACAAN LAINNYA

Dalam hati Bayu merasa gembira yang luar bniasa, sedangkan Wijana, merasa heran memikirkan kesamaan paras Gadis tadi dengan Bayu Samudra, tak kalah pentingnya memikirkan kecantikan dan senyumannya tadi.

Setelah beberapa lama mengobrol akhirnya kedatangan Abiyasa yang dinanti-nanti tiba juga. Begitu datang Bayu langsung memeluknya, merasakan kerinduan setelah beberapa taun tak jumpa.

“Sudahlah Bayu meskipun kita tak pernah jumpa aku terus mengawasi gerak-gerikmu baik secara langsung maupun berita dari adik  seperguruanku Adiyaksa”

“Jadi-jadi Kakek Adiyaksa itu paman guruku, ya begitulah biar nanti kita cerita panjang,”

“Biarkan gurumu istirahat dulu nanti kita  sebelum bercerita Bayu ”. Kata adiyakya sambil memeluk adik seperguruannya.

Setelah beberapa lama beristirahat akhirnya, Kakek Adiayaksa memanggil Cucunya Ayu Lestari dan beberapa orang muridnya.

Setelah berkumpul akhirnya Kakek Adiyaksa bercerita

“Kakakku Abiyasa dan Kau Nak Bayu serta Nak Wijana serta murid muridku yang pada hadir, sengaja kami berkumpul untuk mengemukakan  hal yang dianggap rahasia dan sangat penting, yang pertama Bayu Gurumu adalah Kakak seperguruanku, yang waktu muda selalu Bersama-sama, lalu yang tak kalah pentingnya Cucuku Ayu Lestari, kau dan Bayu kuselamatkan Bersama-sama dengan Kak Adiyaksa desebuah rumah waktu itu kau nak Ayu dan Bayu berada dalam pelukan ibu yang mati ditangan perampok, maaf aku dan Kakang Abiyaksa tak bisa menyelamatkan ibu dan ayahmu, karena kedapatan ibumu telah dibunuh perampok, dan menurutketerangan penduduk itu Nak Bayu dan Cucuku Ayu, adalah anak kembar Kakak beradik”.Sementata Kakek Adiyaksa menghentikan pembicaraan dan melirik kepada Bayu dan Ayu”

Tiba-tiba Ayu Lestari menghampiri Bayu sambil menangis dipangkuannya

“Kakaaaak, kau-kau ternyata kakakku”. Keduanya tak mampu melanjutkan berkata kata hanya tangis yang mengharukan dan mereka saling berpelukan semua yang menyaksikan ikut larut dalam rasa haru yang memilukan.

Stelah Bayu dan Ayu lestari melepaskan rasa harunya, kemudian kakek Adiyaksa melanjutkan percakapanya.

“Kang Abiyasa, sabagaimana kita telah kita rundingkan bahwa kita merencanakan memberikan Gelar kepada dua murid-murid kita yaitu Bayu Samudra dan adik kembarnya Ayu Lestari. Mereka akan mendsapatkan Gelar sepasang Elang Sakti dari Gunung Galunggung. Kebetulan Bayu sudah mempunyai tunggangan Elang Hitam dan Ayu Lestari mempunyai tunggangan Elang Putih, Juga mereka sudah diwariskan masing-masing tasbih dari batu Giok yang mempunyai kekuatan yang luar biasa, dan nanti malam mereka akan disaksikan oleh murid muridku semua memperagakan jurus-jurus sakti yang telah dimilikinya.

Wijana yang mendengarkan percakapan tersebut, sekarang yang ada dalam pikiranya terjawab tuntas, dia semakin hormat pada Bayu, dan mengharapkan jadi kaka iparnya.

Setelah selesai percakapan tersebut dan menceritakan pengalaman Bayu pada gurunya dan bertemu dengan paman gurunya, mereka pada melanjutkan obrolan masing-masing, Bayu terus melanjutkan obrolan dengan adiknya disertai Wijana kakek Abiasa dan Kakek Adiyaksa ngobrol dengan murid murid Paman Adiyaksa.

Selanjutnya Bayu mengenalkan lebih dalam teman akrab yang telah dianggap saudaranya. Ayu Lestari begitu hormat pada Wijana, dan di hati Ayu ada rasa simpati yang mendalam pada Wijana.

“Kak-kak ajak dong Ayu ke tempat Kakak” Ayu berkata dengan manja merajuk pada Kakaknya.

“Ya tergantung Wijana, mau enggak Ajak adiku yang cerewet itu?”

Wijana dan Ayu memerah pipinya, ada rasa malu dan gembira yang disembunyikan.

Di luar murid murid Kakek Adiyaksa sedang beramai-ramai mempersiapkan belandongan untuk upacara penmberian gelar nanti malam, dan Ayu mengajak jalan-jalan melihat situasi diluar. Setibanya mereka di luar hampir semua orang memberi hormat kepada 3 pendekar muda itu

“Slam hormat kami pendekar”. Perwakilan murid memberi hormat diikuti oleh teman-temannya yang lain.

“Sudahlah kalian tak perlu berlebihan, kalian semua kuanggap saudaraku, bersikaplah seperti biasa pada teman sendiri”. Bayu berkata dengan rendah hati diikuti saling bersalaman dengan bayu dan Wijana. Sedangkan Ayu Lestari menatap dari dekat sambil memuji kerendahan hati kakak dan temannya Wijana. Ayu terus membawa Bayu dan wijana menyelusuri padepokan yang diberi nama padepokan “Jejer Galunggung”. Dalam sehari hari padepokan tersebut dikelola oleh Ayu dan beberapa muridnya, karena kakeknya sering berkelana meninggalkan padepokan tersebut. Sehari iru mereka menyelusuri sekitar padepokan dan Bayupun memperkenalkan elang hitam kepada tunggangan Ayu Elang Putih. Mereka berduapun terlihat mudah akrab, sepertinya kedua binatang itu tau bahwa tuannya kakak beradik. Sedangkan Sibelang dperkenalkan kepada murid-murib perguruan Jejer Galunggung. Akhirnya setelah mereka berkeliling dilanjutkan dengan pesta makan Bersama, dengan menikmati sate Manjangan yang berhasil diburu. Terus ngobrol-ngobrol dan beristri rahat menunggu malam untuk pemberian Gelar pada dua Pendekar muda.

KLIK DI SINI

Bersambung ke bagian 8

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN BAGIAN 6

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN 
BAGIAN 6

(Oleh : Undang Sumargana)

“Siapa kau kalau berani mendekatlah hadapi aku” Bayu meloncat dengan cepat diikuti Wijana terjadilah pertarungan sengit, sedangkan beberapa penduduk memburu para perampok yang tak tahan merasakan dingin akibat pukulan Bayu.
PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN  BAGIAN 5

rajasastra-us.blogspot.com/ “Siapa kau kalau berani mendekatlah hadapi aku” Bayu meloncat dengan cepat diikuti Wijana terjadilah pertarungan sengit, sedangkan beberapa penduduk memburu para perampok yang tak tahan merasakan dingin akibat pukulan Bayu.

“Hai bocah cilik kau cari mati terimalah sabetan golokku”

Sesepat kilat bayu Samudra menghindari sabetan golok Ki Durga, tiba-tiba dia sudah ada di belakang Ki Durga. Ki Durga herang tiba-tiba lawannya sudah berada di belakang.

“Aku berada di belakangmu Ki Durga” Ki durga terbakar emosinya dengan cepat dia memutarkan sabetan goloknya kea rah lawan, pikirnya sabetan kali ini akan mencingcang Badan Bayu. 

“Setan kau mampuslah kali ini kau!’

“Hemh golokmu sudah berada ditanganku” tanpa terasa golok Ki Durga sudah berada di gengaman Bayu”. Ki Durga Baru sadar bahwa kali ini berhadapan dengan pendekar yang cukup Tangguh. Apa lagi goloknya langsung dibengkokan dengan mudah oleh Bayu.

“Syetan kau, jangan dulu berbesar hati bocah cilik kau akan merasakan senjata andalanku.

Ki durga mengeluarkan pecut, yang terlihat begitu dilecutkan mengeluarkan api seperti sambaran kilat, dan suara menggelegar. Bayu hanya bertahan dengan jurus menahan gelombang Samudra, iahanya sekedar menguji sampai di mana keampuhan pecut itu.

Wut-wut-wut pecut mengarah kea rah Bayu sambil mengeluarkan sambaran api, tapi sambaran api itu malah balik arah menyerang Ki Durga.

“Ki durga makin penasaran ia mengeluarkan pukulan membelah gunung” Bocah syetan matilah kau.

Bayu meloncat sambil meloncat mengarahkan pukulan segaro geni ke tangan Ki Durga

“Ciaat segoro Geni”. Walaupun pukulan itu tidak menggunakan tenaga sepenuhnya tapai membuat tangan Ki Durga kepanasan, hampir saja dia melepaskan cambuknya. Dengan sadar Ki durga menyalurkan tenaga dalamn untuk menyembuhkan lukanya. Bayu hanya tersenyum kalau dia berniat bisa saja Bayu melontarkan pukulan waktu Ki Durga menarik pecutnya. Tapi Bayu tidak bermaksud membinasakan lawannya. Dia hanya  menunggu ki Durga menyembuhkan pukulannya.

“Syetan siapa sebenarnya kau bocah cilik?”

“Namaku Bayu Samudra Pendekar dari Pantai Selatan”.

“Hemh aku Mau tau sampai dimana kekuatanmu, ketahuilahj kau sekarang berhadapan Ki Durga   raja perampok yang turun dari gunung Kawi”.

“Kejahatanmu sudah cukup dikenal, dan hari ini akan kumusnahkan”.

“Jangan dulu sombong bocah cilik, terimalah Ajian ilmu tenung dari rawa lakbok”.

Tiba tiba Ki durga duduk dan merapalkanjampi-jampi yang mengandung kekuatan syetan, tubuhnya bergetar disetai angin yang begitu besar terdengar jeritan jeritan menakutkan yang makin lama makin dekat dan makin mengerikan. Bayu sadar bahwa ia berhadapan dengan ilmu hitam tingkat tinggi, Segera iapun duduk sambil menadahkan dua tangan meminta perlindungan pada Allah. Tiba tiba di sekeliling bayu asap hitam menyelimuti  sekelilingnya dan berubah jadi mahluk mahluk yang menakutkan badanya berbulu hitam matanya menonjol keluar dan taring-taringnya begitu mengerikan. Bayu sadar matanya terpejam memusatkan pikiran sambil membacakan ayat-ayat Alloh.

Yang melihat begitu ngeri dalam pikirnya bayu akan jadi santapan Iblis Rawa Lakbok, sedangkan beberapa perampok telah dilumpuhkan oleh wijana. Tiba-tiba derdengar suara erangan menakutkan dari mahluk mahluk iblis tersebut sambil bersamaan menerjang Bayu, Tapi Apa yang terjadi.

Bayu memutarkan Tasbihnya keluarlah sinar-sinar keperakan dari serratus bilangan tasbih tersebut menuju mahluk-mahluk iblis tersebut. Terdengar jeritan kesakitan yang mengerikan Dari mahluk-mahluk tersebut. Bersamaan dengan itu Ki durga yang tadinya duduk terlempar beberapa meter dan akhirnya terbaring tak berdaya dengan rasa kesakitan yang tiada tara.

Semua penduduk yang melihat kejadian pada saat itu bergembira dan beberapa orang melugas golok memburu Ki durga dan beberapa penjahat.

Bayu cepat mencegahnya dengan suara yang penuh wibawa.

“Jangaaan, jangaan lakukan penganiayaan pada orang yang sudah tidak berdaya, biarkan mereka hidup”. Dihampirinya Ki Durga yang sudah tergeletak,

“Aaampuuun anak muda aku mengaku kalah silahkan bunuh aku”.

“Tiidak Ki Durga aku tak pantas menghabisi nyawamu, kau dan teman-temanmu masih pantas hidup dan ada kesempatan untuk bertobat”.

“Penjahat seperti aku sudah tak pantas untuk diampuni dan diberi kesempatanm hidup.”

“aku dan penduduk di sini memberi kesempatan untuk kau dan teman-temanmu untuk hidup”

“Ka Wijana bawa teman-teman ki Durga untuk berkump[ul di sini”. Setelah berkumpul Bayu merentangkan tangannya dan menebarkan hawa murni untuk menyembuhkan para perampok”. Semua para perampok termasuk Ki Durga sembuh dari kesakitannya, lantas semuanya bersimpuh dihadapan Bayu”.

“Ampun anak Muda segeralah berikan hukuman pada kami”

“Tidak Ki Durga aku mengampunimu semua, tapi dengan satu sarat kau jangan lakukan kejahatan lagi tidak jadi perampok”

“Aku bersumpah tidak akan jadi perampok, dan aku mau hidup layak seperti penduduk biasa, sekarang apa yang harus kulakukan?”

BACAAN LAINNYA:

“Tunggu saja dulu aku mau berunding dengan penduduk dan tua kampung di sini” Bayu berusaha meyakinkan pada tua kampung dan penduduk di sana dan mereka diterima menjadi penduduk di sana untuk hidup berbaur dengan penduduk kampung. Akhirnya keputusan itu disampaikan oleh Bayu kepada para perampok tadi, Bayupun menyampaikan hasil keputusan kepada para perampok, dan para perampokpun memandang bayu dengan rasa segan dan rasa takjub akan budi baik pendekar muda tersebut.

Bayu dan Wijana terpaksa beberapa hari berada di Parungponteng, sambil melihat perkembangan mantan para perampok, setelah tiga hari Berada ditempat itu dan maelihat perkembangan baik yang meyakinkan Bayu dan Wijana berpamitan dan meninggalkan pesan untuk para penduduk dan para mantan perampok. Kegarangan Ki Durga tidaK Terlihat lagi dan ilmu-ilmu aliran hitamnya telah di buang terutama ilmu yang berkaitan dengan Iblis Rawa Lakbok. 

“Ki Durga aku dan Wijana pergi ke Galunggung dan sepulangnya dari sana aku pasti singgah menjumpai penduduk di sini bersama Ki Durga dan teman-teman”.

“Terima kasih Nak Bayu Wijana, kau anak Muda hebat berbudi pekerti aku telah diterima menjadi warga sini dan aku pasti berusaha untuk jadi orang baik,malah aku sanggup menjaga keamanan kampung ini”. Mereka berangkulan meskipun baru beberapa hari bertemu kedekatan hati mereka sudah terjalin. Dan para penduduk kampungpun berteimakasih pada Bayu dan Wijana, Bayu sekali lagi meyakinkan bahwa Ki Durga dan kawan-kawannya betul betul telah insaf. Dia akan tau dari kejauhan apa yang diperbuat mereka. Akhirnya kepergian Bayu diantar dengan rasa sedih dan rasa kekaguman yang begitu mendalam.

“Hemmh dua anak muda hebat, berilmu tinggi, tampan dan berbudi perketi mereka betul-betul malaikat penolong” Tua Kampung berguman dalam hatinya sambil menatap kepergian dua pendekar sakti. KLIK DI SINI

Bersambung ke Bagian 7

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN BAGIAN 5

 PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN BAGIAN 5

Bayu Bersama wijana serta Pak Kades terus mengembangkan perguruan silat itu, para pemuda dan warga lainnya  semakin giat berlatih, penghasilan masyarakat terus meningkat, baik dari hasil pertanian maupun hasil ikan dari laut. Kehidupan Desa Cikawung Ading yang tentram membuat Desa semakin ramai dan mengundang orang utntuk datang ke desa tersebut.

 PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN BAGIAN 5

RAJA SASTRA 

Dalam bagian 4 di kisahkan bahwa jagoan kita Bayu Samudra baru saja bentrok dengan pendekar Sadis dari Gunung Wilis. Dan setelah telah selesai mengadakan upaca Hajat Bumi dan sedsekah laut, dan Bayu diberi gelar sebagai warga kehormatan di Desa Cikawung Ading tersebut.

Mari lanjutkan ceritanya selamat membaca:

Bayu Bersama wijana serta Pak Kades terus mengembangkan perguruan silat itu, para pemuda dan warga lainnya  semakin giat berlatih, penghasilan masyarakat terus meningkat, baik dari hasil pertanian maupun hasil ikan dari laut. Kehidupan Desa Cikawung Ading yang tentram membuat Desa semakin ramai dan mengundang orang utntuk datang ke desa tersebut. 

Bayu Samudra dan Wijana adalah 2 tokoh muda yang dihormati dan disegani masyarakat Desa tersebut, keduanya selalu tampil mengontrol dan mengayomi masyarakat sekitar. Dengan prilakunya yang menjadi teladan, dan kesaktiannya yang begitu tinggi tak ada masyarakat yang berani menentang, disamping itu kedudukan Ayah Wijana sebagai seorang Kepala Desa yang Bijaksana. Bayu telah dianggap sebagai keluarga Kepala Desa. Aruni Adik Wijana  satu satunya putri Kepala Desa yang baru berumur 13 tahunan selalu memperhatikan Bayu dan menyiapkan segala kebutuhan Bayu dengan tulaten. 

4 bulan hampir berlalu tiba saatnya bagi Bayu untuk pergi ke Gunung Galunggung, menemui kakek Adiyaksa sebagaimana janjinya. Bayu pergi Bersama wijana dengan seijin ayahnya, Meskipun kedua orang tuanya merasa sungkan malum anaknya baru kali ini mengembara namun ia percaya Bayu pasti menjaganya, dan anakny pun sudah jadi pendekar yang cukup mumpuni. Dingan diantar oleh tatapan kedua orang tua Wijana serta Aruni gadis kecil dan warga Desa Sindang Kerta Bayu pergi meninggalkan tempatitu.

Setelah agak jauh Bayu berkata pada Wijana. “Kita menungangi Si Belang supaya kita bisa berjalan dengan cepat”. Wijana sangat gembira barukali ini dia mengembara dibarengi pendekar sakti dan menunggangi Harimau besar yang sangat seram.

Meskipun masih ada waktu 1 minggu lagi untuk berada di Gunung Galunggung, biarlah kita singgah di beberapa tempat. 

“Ya aku ikut saja” kata Wijana.

Mereka  berdua menunggangi harimau lodaya, tapi sengaja Bayu menyuruhnyatidak terlalu cepat seupaya menikmati pemandangan akhirnya sampai di daerah sindang, tempat Bayu melatih diri beberapa bulan yang lalu.

“Kita singgah dulu di sini akum au singgah di tempatku dulu”

Kedatangan Bayu rupanya diketahui oleh kera penghuni hutan itu, mereka berdatangan bergelantungan di pohon menyambut Bayu dengan suara riuh”.

Jangan takut Kak, mereka sahabat-sahabatku, ayo kita meloncat ke atas dangau di atas pohon itu. Mereka meloncat ke atas pohon sedangkan harimau yang menjadi tunggangannya pergi kea rah rumpun.

Setelah berada di dalam dangau yang berada di atas pohon tiba-tiba Kera besar yang merupakan pimpinan para kera menjumpai Bayu dan menyodorkan tangan layaknya seperti manusia.

“Perkenalkan ini Kakakku Wijana” kata Bayu berbicara dengan pimpinan Kera. Kera itu menyodorkan tangan dsambil menyeringai, maksudnya kalau manusia tersenyum.  Wijanapunmenyodorkan tangannya, sambal hatinya merasa takjub dan heran.  Tak lama kemudian beberapa kera membawa buah-buahan dan Madu lebah dalam lempengan yang masih seperti aslinya. 

“Terima kasih terima kasih” Bayu berbicara layaknya seperti kepada manusia. 

“malam ini kita tidur di sini, dan kita mandi di danau itu sebelah sana sambil Bayu menunjukkan danau tersebut.

Pengalaman hari itu dan malam itu betul-betul memberikan pelajaran pada Wijana, bahwa hewanpun kalau diperlakukan dengan baik bisa dijadikan sahabat bagi manusia. Dalam hatinya ia makin kagum pada Bayu sahabat mudanya. 

Sorenya mereka membuka perbekalan nasi bungkus dan ikan Udang untuk makankali itu, ditambah buah-buahan dan madun yang di seduh dengan air hangat. 

Subuhnya mereka sudah bangun dan setelah sembahyang subuh melanjutkan perjalanan mengarah ke Desa Bantarkalong melewati hutan terjung yang dihunioleh para perompak yang dipimpin oleh 3 pelontos kembar. Tapi Bayu tidak bermaksud untuk menganggunya teus saja perjalanan dilanjutkan perjalanan meneroboshutan. Sedangkan di atasnya Burung Rajawali mengikuti perjalanan Bayu.

“Peganglah pingganggku Kak, kita suruh si Belangberlari dengan cepat” Melesatlah harimau tunggangannya itu dengan kecepatan yang cukup tinggi. Wijana memegangi pinggang Bayu malum baru kali ini ia mencoba menunggangi harimau. Dan harimau itu seolah-olah sudah tau tempat yang dituju dan memilih jalan yang dilalui. Akhirnya tak lama menjelang tengah hari  mereka sampai di suatu perkampungan yang ternyata itu merupakan wilayah Cibalong. Mereka turun dari si Belang dan menuju tajug tempat sembahyang. 

Perjalanan dilanjutkan dengan menunggangi  Burung Elang Besar yang cukup ditunggangi berdua. Sedangkan si belang terus berlari membarengi terbangnya Elang.

Hari ke dua perjalanan sengaja beristirahat di sebuah warung yangmenjual Nasi. Begitu ramai warung itu. Memang tempatnya strategis tempat orang beristirahat,  namun masyarakat di sana berada dalam kesusahan, karena masyarakat di sana sering didatangi perampok yang merampas harta benda mereka malah adakalanya beberapa nyawa warga dirampasnya juga. Percakapan masyarakat itu sampai juga ke telinga Bayu Samudra dan Wijana. 

BACAAN LAINNYA

“Malam ini Desa ini akan didatangi perampok, Bagaimana pendapatmu Kak?’

“kalau bisa kita bantu untuk menyelamatkan masyarakat”. 

“Ya kita bermalam di sini, menunggu kedatangan para perampok”.

Setelah para pengunjung agak reda, salah seorang penduduk sana menjumpai Bayu dan Wijana.

“Nak mau kemana, kenapa anak berdua berada disini” orang tua itu bertanya penuh curiga.

“Pak tua akum au pergi ke Gunung Galunggung, perkenalkan namaku Bayu Samudra dan ini Kakakku Wijana”.

“Jadi anak Muda ini Pendekar Laut selatan, aku sering mendengar Namanya di sebut-sebut orang”.

“Maapkan pak tua aku orang biasa”

“Anak muda salam hormat saya untuk anak berdua, maafkan kelancanganku”.

Akhirnya yang ternyata orang tua itu kepala Dusun di Desa Parung Ponteng , menceritakan kwkhawatiran ancaman perampok yang akan datang nanti malam, dan katanya kalau penduduk tak mau di celakai harus mengumpulkan kekayaan, berupa ternak dan bahan makanan di lapangan.

“Pak tua pancing mereka untuk datang mengambil harta penduduk di sebuah lapangan” Lalu kita sergap Bersama-sama, biarlah aku dan kakaku akan membantu penduduk disini”

“terima kasih-terima kasih nak, aku sudah dengar kehebatan mu nak dan kehebatan para murid perguruan Maung Lodaya dari Sindangkerta”.

“Pak tua aku tidak sehebat yang kau dengar, kekompakan dan keberanian penduduk dengan perhitungan yang matang tetap diperlukan”.

Akhirnya Tua kampung dan beberapa penduduk dengan petunjuk Bayu dan Wijana mengatur stratergi untuk menyergap perampok. 

Malamnya Kira-kira pukul 11.00 malam para perampok yang dipimpin Ki Durgala kurang lebih 20 orang dan telah ditunjukkan tempat penyimpalkan harta yang dianggap sbagai pemberian upeti dari masyarakat yang harusdisiapkan 2 bulan sekali.

Waktu para perampok telah berada di dekat gunukanharta Bayu melakukan Pukulan Gunung Salju, beberapa perampokmenggigil kedinginan sdang beberapa orang masih bertahan dan mereka sadar bahwa disekitar tempat itu ada orang sakti melontarkan pukulan jarak jauh.

“Siapa kau kalau berani mendekatlah hadapi aku” Bayu meloncat dengan cepat diikuti Wijana terjadilah pertarungan sengit, sedangkan beberapa penduduk memburu para perampok yang tak tahan merasangan dingin akibat pukulan Bayu.

“Hai bocah cilik kau cari mati terimalah sabetan golokku” KLIK DI SINI

Featured Post

HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA

KHARAMAH HABIB ALHABSYI:  BISA DENGAR SUARA TASBIH DAN BENDA MATI HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA Habib Ali Alhabsyi nama lengkapnya H...