BERANDA

Kamis, 18 Juli 2024

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI LAUT SELATAN BAGIAN 2

 PENDEKAR  SAKTI  BAYU SAMUDRA 
DARI PANTAI LAUT SELATAN

Bagian 2

(Penulis :Undang Sumargana)

Terlihat  segerombolan orang berpakaian hitam dipimpin oleh orang yang tinggi Hitam dengan penampilan sangar. Bayu bersembunyai dirimbunya pepohonan. Dia terus menguntit rombongan orang jahat itu, penasaran inilah awal mula ia harus mencoba membasmi kejahatan.
PENDEKAR  SAKTI  BAYU SAMUDRA   DARI PANTAI LAUT SELATAN 

Bagian 2

RAJA SASTRA-Terlihat  segerombolan orang berpakaian hitam dipimpin oleh orang yang tinggi Hitam dengan penampilan sangar. Bayu bersembunyai dirimbunya pepohonan. Dia terus menguntit rombongan orang jahat itu, penasaran inilah awal mula ia harus mencoba membasmi kejahatan. Sebelum sampai di suatu pemukiman Bayu berniat menggagalkan perampokan itu. Ketika perampok tersebut beristirahat  Bayu  Bayu melontarkan pukulan Gunung Salju meskipun tidak menggunakan tenaga sepenuhnya. Para perompak yang sedang berkumpul merasakan dingin yang luar biasa semakin lama samikn dingin dan seolah mereka menahan gemetar karena dingin yang tiada tara. Sedangkan pimpinannya berada beberapa meter dari kumpulan anak buahnya dengan satu orang temannya, di timpuknya  teman pimpinan si perampok dengan batu kecil ilmu totokan yang begitu hebat. Bayu meloncat secepat kilat telah berada dihadapan pimpinan perampok. Pimpinan perampok yang bergelar Si Golok Syetan. Sigolok Syetan terkejut sambil mundur beberapa Langkah.

“Siapa kau bocah?”

“Hahaha, Bayu tertawa kecil, Kau yang bergelar Si Golok syetan, pantas mukamu mirip syetan”. 

“Tangkkap dia?” Si Golok Syetan tak sadar bahwa, anggotanya sudah dilumpuhkan semua, 

‘’ Lihat semua anggotamu sudah tidak berdaya”

“Syetan Alas rupanya kau ingin merasakan ketajaman golokku” Dia baru sadar bahwa ia berhadapan bukan dengan orang sembarangan.

Wuuts sabetan goloknya mengarah ke leher bayu, tapi dengan Gerakan yang tak terkira bayu sudah berada di belakang Si Golok Syetan, sepakan kakinya membuat gerakat Si Golok Syetan meluncur ke depan. Tapi dia cepat menguasai dirinya, dia membalik kebelakang sambil menggerakan goloknya yang seolah-olah akan membelah kepala Bayu. Bayu hanya duduk sambal menggerakan dua jarinya ke atas. Tap ditangkapnya golok dengan dua jari, Hawa panas menyebar ke tangan Sigolok Syetan terpaksa dilepaskannya golok tersebut. Merah padam muka si Golok Syetan baru kali ini ia dipercundangi anak kecil. 

Syetan Kau Siapa  sebenarnya, nih terima Jurus Badak menabrak lawan. 

Bayu hanya duduk dengan menrentangkan tangannya menggunakan jurus Badai menahan Samudra, Akibatnya Sigolok setan yang melabrak ke depan terbanting mundur ke Belakang.  Secepat Kilat Bayu telah meringkus kaki Si Golok setan dan langsung dibawa loncat diikat pada dahan dengan Kaki di Atas dan kepala dibawah, Sigolok Syetan hanya bisa menahan sakit dengan napas yang ter engah-engah. 

“Ketahuilah hai kau Golok Syetan dan anggota perompak lainnya,hari ini ku ampuni kau, tapi kalau suatu saat kau melakukan kejahatan mesti kau akan berhadapan dengan aku “Pendekar Bayu Samudra”. Pulanglah kalian hari ini sebelum aku melakukan Tindakan yang lebih keras lagi.

Tak lupa sebelum Bayu berkelebat menjauhi tempat itu, membebaskan totokan sala seorang penjahat dan mencabut pengaruh Pukulan Gunung Salju. Disela-sela rungkun mengintip seorang tua yang memata-matai kehadiran para perampok, dia segera berlari untuk Kembali ke kampungnya. 

Diceritakannya ke penduduk kampung bahwa rombongan Perompak telah dipercundangi oleh Satria Belia yang begelar Pendekar Bayu Samudra. Antusias ia menceritakan kehebatan Bayu Samudra yang masih belia. Harapan penduduk semoga para perampok kapok tdak datang lagi kekampungnya.

Benar saja di tempat kejadian tadi para perompak telah pulih dan dia menyaksikan bagaimana ketuanya yang disegani hanya dalam waktu singkat dikalahkan oleh seorang Anak Muda. Luar biasa kehebatan Anak Muda itu. Dan kepercayaan kepada ketuanya yang suka sesumbar mulai mengendur, Malah dalam hati berniat mengundurkan diri dari dunia kejahatan. 

Bayu setelahnya kejadian itu berkelebat kearah kampung yang menjadi tujuan perampok, ia tiduran di atas dahan takut para perampok meneruskan niat jahatnya, Tapi sampil pukul 03.00 tak ada kejadian apa -apa langsung saja ia mandi di telaga ayang ada dipinggir kampung, untuk kemudian dia telah berada disurau kecil sampai subuh tiba. 

Penduduk kampung sudah pada berdatangan untuk melakukan sholat subuh, Mereka pada heran melihat kehadiran pemuda yang diceritakan semalam, tapi tak ada yang berani menegur, baru setelah shalat subuh ketua kampung yang semalam menyaksikan sendiri menyapanya.

“Nak kau yang semalam menghadang Para perompak, terima kasih-terima kasih nak”, semuanya pada bersalaman, menyodorkan tangan. 

“Nak ayo kerumahku sekalian ke Bale Kampung”

“Jangan merepotkan Pak Tua, aku bukan siapa-siapa, hanya kebetulan saja aku bertemu dengan perampok yang akan mendatangi kampung ini”.

“jangan terlalu merendah Nak, aku tau kehebtanmu, Ayolah kita pergi kerumahku, Anak muda itu menuruti ajakan Ketua Kampung, ia tidak mau mengecewakan penduduk di kampung itu.

Kehadiran pemuda belia itu sudah tersebar kepelosok kampung, malah yang menjadi cerita utama, tentang kehebatan pemuda tersebut dalam mengalahkan Perampok Ganas hanya dengan sekilat. Mereka pada berdatangan dengan  membawa makanan ke Bale Kampung. Akhirnya pemuda itu di tahan untuk berada dikampung beberapa hari, pemuda itu tak mampu menolak, menjaga perasaan orang kampung. Para penduduk merasa gembira, semangatnya timbul Kembali, yang penting dari kehadiran pemuda tanggung tersebut menumbuhkan keberanian dan percaya diri pada penduduk kampung diwilayah Desa Sukahurip, yang termasuk  Kecamatan Cipatujah sekarang. 

Pagi baru saja tiba, setelah 3 hari tinggal di sukahurip pemuda itu berpamitan dengan diantarkan tatapan sedih dan kekaguman dari penduduk, malah banyak penduduk yang mengantar kepergianya dengan air mata. Pemuda Hebat,pemuda sholeh kata kepala kampung berguman dalam hatinya. Bacaan qur’anyya waktu jadi imam benar-benar pasih, dan suaranya begitu merdu. tingkahnya begitu sopan dan merendah, Padahal dia pendekar Hebat yang mungkin sulit tandingannya. Apalagi dia masih sangat muda. Pemuda tanggung baru enam belas tahun tapi tingkahnya berwibawa seperti orang dewasa. 

Setelh jauh dari tatapan penduduk bayu berjalan dengan cara meloncat dari pucuk pohon  ke pohon lain, seolah olahia hanya berkelebat seperti bayangan. Kalau harus menyebrang sungai, ia berjalan di atas air sungguh suatu ilmu meringankan tubuh yang telah mencapai tarap kesempurnaan. Ketika ia sampai di pemukiman penduduk, Ia melihat dua kelompok orang pada melugas golok seolah-olah dua kelompok tersebut di bakar api kemarahan. 

“aku harus mengamankannya dan tidak boleh membiarkan terjadi pertumpahan darah. Pikirnya”. Ia mengintip dari rimbunnya pucuk pohon, dua rombongan semakin dekat dan disaat dua rombongan tersebut hampir melebur dalam tawuran. Bayu mengeluarkan suara yang begitu bergema dengan mengerahkan ajian peluruh  Jiwa. 

“Berhenti kau hai manusia jangan tumpahkan darahmu dalam tujuan yang tak tentu” Akibat dari suara yang mengema tadi semua golok yang dipegang pada jatuh dan Langkah mereka berhenti seolah - olah terpaku ke bumi.

“Ada apa kalian tidakkah kalau ada persoalan diselesaikan dengan baik-baik?” semuanya pada membisu dan akhirnya mereka pada sadar hampir saja pertumahan darah terjadi kalau tidak datang pemuda itu. Pemuda itu sudah meloncat berada di tengah-tengah kelompok yang akan bertengkar.

“Siapakah kau anak Muda kenapa kau menghalangi maksud kami”

“sabarlah kau Kek, aku hanyalah orang tak berguna yang kebetulan  lewat saja”

“Perkenalkan nama saya Bayu Samudra”, mendengar nama tersebut semua orang terkejut dan mengambil sikap hormat, pada pemuda belia tersebut.

Ternyata kehadiran Bayu Samudra yang baru beberapa hari turun gunung, sudah tersebar keseluruh pelosok.

Tiba -tiba ketajamannya penciumannya tertuju pada lelaki yang telah ditotok waktu Bersama Si Golok Syetan. 

“Hai orang yang pernah Bersama Golok Syetan datanglah kehadapanku”

Sukanta merasa terkejut ternyata kehadirannya diketahui oleh Bayu Samudra. Dengan rasa takut ia menghampiri Bayu Samudra dan langsung bersimpuh dihadapan Bayu.

“Tak perlu bersimpuh, aku adalah sama dengan kau mahluk yang tak patut kau sembah coba ceriterakan apa yang terjadi”

“Sukanta menceritakan bahwa penyebab keributan yang terjadi karena dirinya, Sebagian dari mereka mengetahui bahwa aku bekas perampok, dan mau mengusirku, dan Sebagian lagi mereka menerimaku karena mereka tahu bahwa aku akan insaf Kembali ke jalan yang benar”.

“Betulkah kau mau bertobat?”

“Ya Pendekar, sejak kejadian ketuaku dan semua anggotaku dipercundangi, Sebagian pada melarikan diri dan Sebagian lagi ikut Si Golok Iblis. Termasuk aku, Tapi sulitnya kehadiranku di terima masyarakat”

“Sudahlah biar aku menyelesaikan persoalan ini”

“Saudara-saudaraku ketahuilah bahwa dia memang bekas perampok, dia telah bertemu denganku Bersama rombongan perempok yang dipimpin Si Golok Syetan. Dia berniat insaf Kembali ke jalan yang benar, Apa salahnya kita terima dan beri dia kesempatan”

“Tidakah dia hanya pura-pura padahal dia menjadi mata mata Si Golok Syetan” Kata ketua kelom[pok yang membenci kehadiran Sukanta.

“Aku jaminnanya dan aku yang akan menghadapi langsung bila Si Golok Syetan berulah lagi”. Semua terdiam semua percaya pada pendekar Muda Bayu Samudra.

“Saudara-saudaraku, kalau memang kehadiranku telah membuat resah, dan perpecahan biarlah aku menjauhi pergi dari  sini”.

“Maapkanlah Aku Sukanta!” Ketua kelompok sebelah menghampiri dan merangkul Sukanta, keduanya berpelukan dan diikuti anggota kelompok lainnya, semuanya saling memaafkan dengan perasaan penyesalan.

Setelah reda sukanta “merangkul Bayu Samudra, “Terima kasih pendekar, kau telah menyelamatkan kami dan penduduk ini dari pertumpahan darah”

“Sudahlah, yang penting kau baik-baik saja dan perlihatkanlah bahwa kau berubah menjadi baik”. 

Meskipun Bayu di tahan oleh penduduk di sana, tapi bayu tetap berpamitan melanjutkan perjalanan. 

Kepergian Bayu diantar tatapan kekaguman semua penduduk. “Bayu Segara Pendekar hebat berhati mulia,” Guman hati penduduk yang menyaksikan kepergian Bayu Segara. 

Perjalanan Bayu Segara sampai di dekat warung nasi, Bayu menghampiri tempat itu, Namun baru saja selesai makan, datang 4 orang dengan sikaap pongah ia mennyingkirkan yang lain, melihat kedatangan orang itu yang ada disana terlihat seperti ketakutan, Cuma seorang Kakek Tua yang duduk di pojok yang terlihat tenang, 

“Hati hatilah, anak muda, dia pendekar Sadis yang bergelar, Raja Iblis dari Gunung burangrang” Kakek itu mengirimkan suara halus lewat penyaluran tenaga dalam. 

“Hemh tinggal kakek peot dan bocah ingusan yang duduk di sini, mereka belum tau siapa kita, Hahahaha”. Tiba-tiba orang yang tertawa tadi tangannya kaku dan mulutnya tidak bisa di tutup Kembali, Rupanya diam diam Bayu menotok orang tersebut dengan lemparan batu kecil. 

Pendekar Sadis sadar bahwa kehadiran dua orang itu yang menotok salah seorang rombongannya. 

“Tangkap tuh Kekek Peyot itu” pendekar Iblis memerintahkan dua orang anak buahnya. Kakek itu melesat keluar diikuti oleh pengikut pendekar sadis.

“Pendekar Sadis kau lawan ku”. Bayu Segara menantang Si Pendekar Iblis sambal melesat keluar.

“Anak ingusan bisa apa kau?” Keduanya sudah berada di luar, langsung saja Pendekar Iblis mengirimkan tendangannya kea rah dada Bayu Segara. Bayu hanya menghindar dan menjentiknya dengan ujung jari, tapi terasa  oleh Si Pendekar sadis  panas dan kesemutan. 

“Syetan ngelunjak kau terimalah pukulanku, Bayu menangkisnya dengan tangan kanan, Tapi akibatnya Si Pendekar Iblis meringis kesakitan terasa tangannya seperti membentur batu keras.

“Hebat juga kau, nih terima jurus api neraka”, Gumpalan api meluncur dengan cepat, tapi gulungan api tersebut bayu tangkap dan dilontarkan Kembali ke pendekar Iblis. Si pendekar Iblis meloncat hampir saja dia kena sambaran api yang dilontarkannya. 

Si Kakek yang telah duduk tenang telah melumpuhkan dua lawannya, kagum melihat jurus jurus yang digunakan anak muda tersebut, dia begitu mengenal jurus-jurusnya. Dia menduga bahwa anak itu murid Abiyasa Kakak seperguruannya. Tapi Kakek itu tidak mau menduga-duga. Sewaktu Si Pendekar Iblis repot menghindari serangan Bayu Segara, Kakek itu mengirimkan suara halusnya tinggalkan saja oreng jahat ini, tak ada gunanya melayani mereka. Kakek dan Bayu Segara melesat meninggalkan tempat itu sambil melemparkan uang kepada yang punya warung, sedangkan Pendekar Iblis hanya bisa berteriak tanpa mengejarnya.

BACAAN LAINNYA

“Jangan Kabur Kau bocah ingusan?” Padahal dalam hatinya mengakui bahwa lawannya itu begitu hebat, baru beberapa jurus  ia sudah terdesak, apalagi melihat dua pengikutnya tergeletak. Anak Muda kita Bersama sampai di sini, kuharap 2 tahun lagi kau bisa menyusul aku di Kaki Gunung Galunggung. Tanyakan Saja Adiayaksa.

Si Kakek Misterius itu berkelebat dan Bayu Segara melanjutkan perjalanan.

Akhirnya ia sampai di daerah Cikawung Ading, masih daerah pesisir laut Selatan.  KLIK DI SINI 

BERSAMBUNG BAGIAN 3

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI LAUT SELATAN

PENDEKAR  SAKTI  BAYU SAMUDRA 

DARI PANTAI LAUT SELATAN

(Penulis :Undang Sumargana)

HARI Jum'at Pahing, sore hari  sang surya condong ke barat cahayanya mulai redup bercampur dengan rona merah angin terasa berhembus kecil Udara terasa dingi kesunyian mencekam,  hampir di setiap penjuru. Ketika serombongan camar berterbangan dan sewaktu waktu menukik  menyambar ikan di dalam gelombang.
PENDEKAR  SAKTI  BAYU SAMUDRA   DARI PANTAI  LAUT SELATAN

Pengantar Untuk Pembaca

Pembaca Yang Budiman, kali ini penulis membawa anda ke situasi alam Tasik selatan dalam ratusan/mungkin ribuan tahun yang lalu. Saya yang mencoba mereka cerita ini, di dasarkan pada imajinasi sedikit di bumbui data-data yang penulis dengar dan data terutama latar tempat yang terjadi sekarang. 

Konon katanya alam dulu kehidupan para pendekar silat menjadi panutan dan selalu tampil membela kebenaran, mereka menumpas para penjahat para perampok yang selalu menguras bahkan membunuh masyarakat yang tak berdosa. Penulis Hadir dengan Cerita Silat "PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA". Dia seorang pendekar muda yang lahir dan tampil dalam situasi daerah yang sering dilanda perampokan.

Bubujung Cipatujah merupakan latar tempat daerah Pantai selatan yang berada di Kecamatan Cipatujah Kab. Tasikmalaya

Selamat membaca dan mohon kritiknya untuk perbaikan cerita ini !


Bagian 1

RAJA SASTRA-  HARI Jum'at Pahing, sore hari  sang surya condong ke barat cahayanya mulai redup bercampur dengan rona merah angin terasa berhembus kecil Udara terasa dingi kesunyian mencekam,  hampir di setiap penjuru. Ketika serombongan camar berterbangan dan sewaktu waktu menukik  menyambar ikan di dalam gelombang.  

Seorang pemuda duduk di pantai sunyi yang jauh dari jangkauan orang, Tangannya di letakan terbuka di depan dada, terus didorong ke depan, ada hal yang terlihat aneh gelombang laut yang besar menuju ke pantai, tiba – tiba balik ke tengah seperti ada dorongan dahsyat sampai karang yang bisa terandam air laut terlihat dengan beberapa ikan yang tertinggal. Luar biasa aliran tenaga yang keluar dari telapak tangan pemuda, sampai-sampai di tengah laut menimbulkan gelombang besar, sedangkan beberapa puluh meter dari pantai yang biasa terjamah air, terlihat kosong tinggal tonjolan karang dan batu batu kecil yang berserakan di atas pasir yang basah.tiba-tiba pemuda tersebut berkelebat ke atas sambal berteriak “Galura Laut kidul” Batu karang besar yang menjadi sasaran pukulan jarak jauh hancur menjadi kepulan debu yang beterbangan. Ternyata pemuda tersebut telah berlatih memperagakan Jurus menahan gelombang Samudra dan pukulan Galura Laut Kidul.

sesuatu berkelebat disertai suara siuran angin halus . Tiba-tiba suatu bayangan berkelebat di antara kerapatan pepohonan yang tumbuh di tepi pantai dan bayangan tersebut telah duduk bersila dalam karang yang runcing di depan pemuda. kelihatan seorang kakek berjubah putih yang datang dengan kecepatan  laksana angin rambut dan janggutnya yang putih panjang melambailambai. Wajahnya yang lanjut dimakan usia walau penuh keriput namun tampak jernih, membayangkan satu pribadi yang bersih. tangan kanannya memegang seuntai tasbih dari kumpulan batu Giok yang begitu indah. Ujung jubah sebelah bawah dan lengan jubah putih lebar menutupi batu tempatnya duduk anehnya batu tajam yang ia duduki tidak memberikan pengaruh seolah – oleh duduk dalam kursi yang empuk. Di atas kepalanya ratusan burung  beterbangan seolah-olah memberikan pengawalan dengan kehadirannya. Mulutnya tersenyum melihat binatang-binatang itu. Namun akhirnya dia memerintahkan burung tersebut untuk pergi.

Emmh burung burung yang setia menaruh  perasaan hati pada manusia. Yang membuatnya lebih agung dan membedakannya dengan binatang. Tetapi terkadang binatang memiliki alam pikiran dan hati

sanubari yang lebih jernih dan polos dari manusia. Burung -burung , mereka

menunjukkan kesetiaan yang tidak semua manusia memilikinya...."

“pukulanmu semakin kuat Nak, tapi masih banyak kesalahan yang perlu kau sempurnakan”

“Yak Kek maapkanlah muridmu yang bodoh ini”

“jangan sampai benda yang kau pukul beserakan terbawa pukulanmu, tapi walaupun hancur tetap seperti semula, hal ini akan terjadi kalau pemusatan pikiran dalam pengendalianyang penuh” 

Lihat contoh, tiba tiba tangan sikakek berjubah putih membuat Gerakan kea rah karang besar. Karang yang menjadi sasarannya terlihat tidak berobah berdiri seperti tadi, tapi setelah beberapa detik karang itu merosot ke bawawah seperti tumpukkan debu yang begitu halus. 

“itulah gunanya pemusatan pikiran yang benar”

“Cukuplah berlatih untuk sore ini, ayo kita ke tempat istirahat”

Keduanya berkelebat, menuju sebuah gua yang berada di puncak pasir, Kalau sekarang lurus dengan Pantai Bubujung Cipatujah di atas jalan raya. Gerakan mereka seperti terbang seolah-olah melayang ditiup angin. 

Anda jangan membayangkan Bubujung Cipatujah Sekarang, tapi itu terjadi hampir ribuan tahun yang lalu. Tidak sembarang orang mampu menaiki puncak pasir . Apa lagi tempatnya begitu terjal dan  tinggi

Keadaan daerah Tasik Selatan pada waktu itu mencekam  kekakacauan terjadi di mana-mana.

Pemuda itu dirawat oleh Kakek itu 15 tahun yang lalu waktu ada perampokan di suatu Desa cipanas  waktu itu anak tersebut berumur 2 tahun. Berkat asuhan Kakek Abiayasa anak tersebut tumbuh menjadi pemuda yang kuat, dan taat beribadah.

Belum lama mereka beristirahat terlihat di bawah bukit sekelompok orang dengan dangdanan terlihat sangar beriringas menuju suatu tempat

“Perhatikan nak seorang bertubuh besar, berkulit sangat hitam.

Dari pakaian dan bentuk gagang golok yang terselip di pinggangnya jelas dia adalah seorang pimpinan perampok, ia mendapat julukan “si golok Syetan” karena permainan goloknya yang begitu maher, ialah sala satu rombongan perempok yang selalu merambah dan merampok di beberapa daerah. Suatu saat kaulah yang harus menumpas perampok perampok tersebut. Tunggu sampai semua ilmuku kuturunkan padamu.I

Kakek itu bernama Nurdin Abiasa dan lebih dikenal dengan sebutan kakek Abiasa waktu mudanya dia seorang pendekar yang telah malang melintang merajai dunia persilatan, namun sudah dua puluhan taun ia memilih hidup memencilkan diri mengundurkan diri dari dunia persilatan, dan sejak menolong anak yang sekarang tumbuh menjadi pemuda tanggung, ia mendiami sebuah guha di Bubujung Cipatujah, sambal mengembleng anak yang telah dianggap cucu kesayangannya. Dan anak itu di beri nama Bayu Samudra,  diharap mempunyai Gerakan secepat angin dan pukulan dahsyat seperti gelombang Samudra.

“Cucuku Bayu, hampir semua jurus-jurusku telah kau kuasai, namun tinggal kau sendiri menyempurnakannya, ku harap dalam tengah bulan di bulan purnama kali ini jurus-jurusmu sudah sempurna, dan kakek akan mewariskan jurus sakti yang terakhir”

”Kakek terima kasih atas gemblengan kakek, semoga bayu tidak mengecewakan kakek, yang utama bisa mematuhi segala petuah Kakek”.

”Diharapkan kau dalam tujuh hari kedepan terus berlatih, agar jurus terakhir yang akan Kakek wariskan bisa kau terima dengan sempurna”.

Percakapan kedua orang itu, berakhir dengan tibanya shalat Magrib, Keduanya setelah mengerjakan shalat magrib larut dalam dzikir sampai waktu isa tiba. Makan setelah isa mereka lakukan, tidur sampai pukul 12.00 malam dan tengah malam itulah biasa digunakan oleh Bayu untuk melatih jurus jurus yang dikuasainya.  Dan sampai pukul 03.00 digunakan untuk sembahyang sunat malam sambal di teruskan  melatih kepekaan fikiran.

Seperti yang dilakukan malam itu yang tinggal satu malam itu sampai pada malam purnama, Bayu melatih jurus-jurusnya, serta ilmu meringngankan tubuh tinggak puncak. Sewaktu waktu Dia berdiri di atas gelombang, menapakkan kaki di permukaan Air seperti mengapung seolah olah benda ringan yang tidak tenggelam dalam air, sewaktu waktu meloncat tinggi merentangkan tangannya dan menukik seperti Camar menyambar mangsa dan waktu naik lagi ke atas jarinya telah menjepit ikan laut yang cukup besar. Dua jari yang kokoh walau tidak menggunakan tenaga sepenuhnya, membuat ikan itu tak bisa lepas dari himpitan jarinya. Sambil menukik lagi ke permukaan air, tangan kanannya dihentakkan Blaarrr pohon besar yang tumbuh dipinggir pantai jadi sasarannya. Tapi pohon itu terlihat tidak apa-apa hanya kelihatan daunnya mengering, dan selang beberapa detik pohon itu melorot ke bawah menjadi keprulan debu Halus.

“Cukup hebat Cucuku jurus-jurusmua sudah sempurna”. Kakek Abiyasa yang dari tadi memperhatikan di atas pohon meloncat ke permukaan air sama-sama berdiri di atas air berada di depan Bayu cucunya. 

Emmhh Kakek, ia berguman dalam hati sesungguhnya dari tadi ia telah mengetahui kehadiran kakeknya, penciumannya yang tajam cukup mengenal orang yang pernah bertemu, sehingga siapapun yang pernah bertemu atau berpapasan hidungnya cukup tajam bahwa dia pernah bertemu. Dan kalau bertemu Kembali tak akan pernah salah. Itulah keistimewaan bawaan yang Allah berikan pada Bayu.

“Cukuplah Cucuku, berlatih kali ini sudah saatnya kau mandi untuk melakukan sholat malam”, meskipun tidak ada jam pada waktu itu tapi para pendekar persilatan di waktu itu sudah dapat menebak pukul berapa pada waktu tersebut, dengan hanya melihat sekeliling alam. 

BACAAN LAINNYA:

Malam purnama telah tiba, udara begitu jernih ombak laut sedang pasang. Dua orang insan duduk berhadapan di tepi pantai. Sesuai dengan yang direncanakan bahwa si Kakek akan menurunkan Ilmu yang terakhir pada cucunya, sekaligus murid tunggalnya. 

“Cucuku konsentrasikan pikiranmu dengan penuh, pusatkan ingatanmu pada pada kebesaran Allah, kakek saatnya menurunkan ilmu Gunung salju, yang mampu membekukan benda apapun dalam jarak serratus meter dari tempat duduk. Tahanlah hawa dingin yang kau rasakan pada saat kakek mentransper ilmu tersebut. 

Tiba tiba Kakek Abiasa telah berada di belakang Bayu Samudra Sampil merentangkan telapak tangan kea rah punggung Bayu Samudra, Hawa bgitu dingin menyusup di badan Bayu, hampir hampir ia tak snggup menahannya, tapi akhirnya hawa dingin itu perlahan lahan sirna, ada kesejukkan yang luar biasa dan merasakan tubuhnya begitu ringan, dan Panca indranyapun semakin kuat, sehingga ikan dan benda benda dalam tanahpun ia mampu menembus dengan penglihatan batinnya. 

“ Bangunlah cucuku kau sekarang telah menguasai Pukulan gunung Salju tinggal kau berlatih untuk menyalurkannya sesuai dengan takaran yang kau inginkan”

“sudahlah coba berdiri dan latihlah penyaluran pukulan tersebut arahkan pada air laut.” 

Bayu berdiri lalu pasang kuda kuda dan mengarahkan tenaga murni pada air laut, Udara sekeliling begitu dingin dan perlahan lahan air lautpun membeku, dingin yang betul-betul dingin dapat membekukan darah mahluk yang berada sekelilingnya.

“Cukup Bayu, sekarang kau telah menguasai semua Ilmu dari Kakek, malam ini pula akan ku wariskan Tasbih Pusaka untuk kau gunakan ke jalan yang benar. Tasbih ini medskipun hanya seuntai tasbih, tabi batu-batu giok yang merangkai Tasbih ini berasal dari 100 gunung termasuk dari gunung Himalaya di India.  Dan ini diciptakan dengan doa 9 wali yang di sebut Wali Sanga. Sehingga kekuatan dan karomah para wali tersimpan dalam Tasbih ini, namun kalau tasbih ini jatuh ke tangan orang jahat tidak akan ada apa-apanya bahkan akan menghancurkan dirinya. Tasibih ini kembar dan yang satu kakek pegang, suatu saat akan diberikan kepada sorang wanita, dan itulah jodohmu nanti. Terimalah Nak jagalah baik-baik.  Jangan gunakan apabila tidak terdesak. Gunakanlah untuk membasmi kejahatan”.

“Terima kasih Kek, Amanat Kakek pasti dijaga dengan baik.

“Ya nak, mulai besok tiga hari ke depan kau tinggal berlatih mematangkan jurus-jurus yang telah Kakek wariskan”. Setelah itu kau harus turun gunung sambil membasmi kejahatan yang terjadi.

Tiga hari Bayu berlatih mematangkan jurus yang telah dikuasai, Melihat usianya yang masih belia, orang tidak akan percaya dengan kemampuannya yang begitu hebat, rasanya sulit untuk ditandingi di dunia persilatan saat itu. 

Akhirnya waktu 3 hari tak terasa tibalah saatnya Bayu untuk turun gunung berkelana sesuai dengan perintah Kakeknya. Bayu sudah mengenakan celana komprang berwana putih, kaus hitam dengan rompi dari kulit harimau warisan kakeknya serta tutup kepala yang melingkar terbuat dari kulit harimau pula sera alas kaki yang terbuat dari kulit kijang jantan. Dangdanan seorang Satria terlihat ketampanan yang meenggambarkan kematangan jiwa walau pun usia masih mud belia. Kaulah kuberi gelar Bayu Samudra dari Laut Selatan.

KLIK DI SINI

BERSAMBUNG BAGIAN 2

Rabu, 17 Juli 2024

SANTANA KEUR NGLALANA ( Satria Pinilih ti Guha Raksa Sabana Bagian 1)

 SATRIA PINILIH TI GUHA RAKSA SABANA (BAGIAN 1)


rajasastra-us.blogspot.com

Wargi sadaya ieu carita terasna   tina carita “Santana Keur  ngalalana “ ngahaja di judulan “Satria Pinilih ti Guha Raksa Sabana”. Saluyu tempat nu jadoi pangrereban Santana dina ngasakeun elm una.

sim kuring ngagarap deui carita nu katunda  anu geus cukup lila. Bilih aya wargi nu can kantos maos   carita sa teuacana tiasa diungkab deui  dina carita “Santana Keur Ngalalana ti bagian ka 1 nepi ka bagian ka 6.

Ringkesan carita Santana Keur  ngalalana bagean 6

Santana manggihan Guha nu ngaranna Guha Raksa Sabana, didinya katitenan aya tulisan jeung gambar-gambar anu ngarupakeun elmu silat dina tataran luhur. Ti saurang pendekar nu ngaranna “Ki Ajar Sakti” anu akhirna katalungtik yen Ki Ajar Sakti ngarupakeun Bapa ti Dua Guru Santana. Ti harita Santana keyeng hayang asup deui ka Guha tapi teu bisa sabab kudu ngawasa heula elmu ti guruna Ki Ajar Pangestu. Ti harita Santana soson soson diajar ti Ki Ajar Pangestu, anu akhirna Santana mikamilik sakabeh elmu Ki Ajar Pangestu. Nya waktu ieu Santana Asup Ka Guha Raksa Sabana kalawan ijin jeung restu ti guruna

 SATRIA PINILIH TI GUHA RAKSA SABANA (BAGEAN 1)

Sabada solat subuh harita the , santana geus manco hareupen nu jadi guruna Ki Ajar Pangestu

“Jalu anaking, isuk-isuk poé ieu hidep geus waktuna asup ka jero guha Raksa Sabana, wayahna hidep moal bisa di barengan ku Kula, sabab iwal ti hidep  nu  bisa asup ka jero guha, sarta tilu wanara Sakti jeung maung bodas, nu bisa lalar liwat, bisa maturan hidep sarta nyadiakeun kaperluan hidep. Sok jalu sadatang ka jero guha kabeh  nu aya di jero guha bakal mere pituduh pikeun hidep di ajar pengaweruh nu bakal jadi warisan ti Bapak Kula Ki Ajar Sakti ”.

“Ki Guru salami ieu  putra rumaos seueur nyesahkeun, elmu Ki Guru no tos kapimilik mugia manfaat, insya  Allah Santana baris ngajalankeun sakumaha nasehat pun Guru”

“Kula rek ngawariskeun ieu gegaman mangrupa Cameti Sakti pikeun gegaman hidep di mana hidep hiji waktu bisi adu hareupan jeung musuh, tapi tong digunakeun lamun teu kapaksa, engke oge bakal aya pituduh kumaha cara ngagunakeun nana”. Santana namapanan eta gegaman mangrupa cameti anu digulungkeun, karasa waktu ditampanan aya  hawa tiis nu nyaliara  kana sakujur awakna.

“Hiji deui jalu ieu bungkusan rompi jeung calana cingkrang nu dijieun tina kulit lodaya 20 taun ka tukang, bisa dipaké ku hidep lamun pareng hidep turun gunung, lamun hidep maké  ieu rompi jeung calanana moal aya pakarang nu bisa nembus kana awak hidep sarta dilengkepan jeung tutup sirah sarta sapasang sapatuna”. Nga geter  Santana nampanan barang ti Guruna, aya nu ngeclak ngalembereh dina pipina cimata kabungah sarta rasa sedih kingkin bakal papisah jeung guruna.

“Bral jalu geura indit nuju ka jero Guha”. Guruna ngarangkul Santana. Sanggeus lesot tina rangkulan  Guruna ngaleos atuh santana teu loba carita, jleng luncat clé neté na batu handapeun tangkal caringin teurus Santana ngageroan Si belang, teu lila Si Belang geus aya hareupeunnana.

“Belang hayu hidep, milu ka Kula, ke kukula diwawuhkwun jeung tilu Wanara Sakti oge maung bodas”.

“Si Belang nemalan bari ngunggutkeun sirahna”. Jleng Santana luncat kana tonggong Si Belang, belesat lumpat Tarik naker, teu lila geus aya dihareupeun lawang guha, di dinya geus nyampak maung Bodas sarta tilu Wanara Sakti. Sakilat Santana geus aya hareupeun Maung Bodas sarta tilu Wanara Sakti,

“He Sobat-sobat kaula ieu batur kula Si belang bakal jadi batur hidep, tapi wayahna belang hidep moal bisa kaluar asup ka guha, sarta belang hidep moal bisa nembus lawang  guha. Hidep jaga di luar sawaktu-waktu mun ieu Si Bodas jeung wanara kaluar hidep bisa babarengan, saluyu jeung paréntah Si Bodas”. Si Belang ngadeukeutan maung bodas sarta manéhna ngaléndotan Si Bodas sarta tilu wanara, tandaning nurut kana carita Santana, sarta manéhna baris nurut ka paréntah sarta jadi sobat Maung Bodas ogé tilu Wanara Sakti.

Santana terus asup ka Jero guha, dituturkeun ku Maung Bodas sarta tilu wanara Sakti, Ari Si Belang ngaléos kana rungkun deukeut guha nu aya batu niung ngajegir. Sabada nepi ka jero guha, Santana diuk na batu nu ngadémprak, manéhna menekung ka nu agung sarta nyeukeutkeun pangrasa, panenyo sarta pangdéngena, ku hal itu Santana geus bisa nganyahokeun sakabéh nu aya di jero guha kaasup  tampian  tempat wudu ogé paranti mandi, sarta tempat paranti sholat.

“Emh… bener bener luar biasa ieu guha, sagala kumplit lir ibarat wangunan imah anu kacida laluasana” Santana ngilikan pituduh anu aya dina sisi guha pikeun nalungtik kudu timana manéhna mimiti diajar, akhirna Santana mangihan tulisan ngajeblag anu unina kieu.

“Bismillah wiwitan gawé pancegkeun haté nu ikhlas leungeun namprak dina dada sila na amparan bumi, sirah tungkul bari syukur, insya Allah sagala hal  bakal mangfaat natrat asal terus marifat, sajam satengah bada subuh tong kaganggu ku rasa tunuh”. Akhirna Santana ngarti naon mimiti nu kudu dilakukeun. Nganung harti  kula timimiti subuh engké geus kudu ngalakonan ieu pituduh. Akhirna santana mapayan sagala pituduh nu ngajareblag dina batu sisi guha. Teu karasa waktu geus nepi ka lohor hal éta datang tina isarah batu anu bentukna saperti kohkol nitir lamun geus waktuna solat.

Santana muru tampian sarta kumplit aya tempat bubuang, singhoréng eta tampian nyurug tina sumer cai nu di kocorkeun ku coléng awi, sarta tina tampian nyamung kaluar kawalungan gedé anu aya di luareun guha, sedengkeun dua meter ti tampian aya lawang leutik paranti kaluar asup ka sisi walungan, aya pituduh husus pikeun muka jeung nutup eta panto nu  dijieun tina batu, ku cara mencét tomol batu. Hal éta kanyahoan tina tulisan dina  kulit kelenci nu nga haja disiapkeun ku Ki Ajar Sakti.

Nyobaan Santana muka eta panto saluyu jeung pituduh, panto lalaunan muka sarta diluar aya batu niung sarta pangdiukan paranti nyawang kaéndahan sisi walungan sarta kaéndahan séjén nu aya di jero guha. Tapi santana teu lila sabab maksudna ogé rék mandi tuluy solat. Dina hiji kamer di jero guha cukup kira-kira keur 5 urangeun.

Beres solat santana ulak ilik néangan ruang khusus pikeun leleson nya kapangih aya hiji ruangan ukuran 3 meter ka opat meter dijerona aya batu ngabentuk meja nu geus ditumpangan ku kulit eme leuweung leuwih ti cukup keur saré duaaneun sarta karasa empuk sabab dilapisan ku kapuk menunang mungkus.

“Subhanalloh ieu mah tempat sare anu kacida méwahna, gerenendeng haté Santana. Sedengkeun maung bodas milu nuturkeun sok sanajan ngan ukur di sisi lawang kamar. Minangkanamah ngajaga jeung nalingakeun gerak gerik Santana.

BACAAN LAINNYA

“Bodas milu asup jeung kula maneh sare di jero jeung kula! “

“Maung Bodas ngagideugkleun sirahna tandaning nolak kana pamenta Santana”.

“Santana ngarti kana panolak Si Bodas memang  Tugas SI Bodas ngajaga diluareun kamer”.

Sangeus ngaso sakeudeung santana kaluar deui ti jero kamar, manehna neruskeun nalungtik nu aya di jero guha kalayan di papay taya nu kaliwat. Santana beuki ngarasa helok, sabab tempat tempat diguha kacida endahna pinuh ku hiasan alam anu moal eleh ku buatan manusa. Malah aya hiji kenop ari diteken ti luhur ting baranya sababarha batu mancarkeun cahaya nepikeun ka éta dijero guha ngempray caang, sing horéng éta kenop ngahubung jeung panutup batu batu nu caang tadi.

“Ya Allah sanajan éta batu nu mancarkeun cahaya batu alam, tapi tapi diropéa make leungeun manusa anu kacida trampilna” Gerentena hatV manehna  pinuh kurasa helok anu taya bandingna.

Teu karasa datang waktu asar, datang waktu asar, sabada solat Santana ditungtung ku wanara nuju kana hiji ruangan. Sing horeng karuangan tempat dahar didinya geus nyampak beuleum taleus, beuleum lauk, malah aya bubuahan jeung cai heneut tina teko nu dijieun tana awi sarta cangkir awi parenti nginumna.  Santana ngan ukur ngarérét ka wanara, Wanara méré isarat sangkan Santana ngeusian beuteng.

Waktu beurang kaganti ku sorÄ“  manjing asar teu lila datang magrib.

Maju kapeuting Santana ngagolédag dina pangsaréan sabada ngalaksanakeun kawajiban jeung babacaan sakumaha umat muslim.

Jam 03.00 manehna geus ngoréjat hudang pikeun tahajud sarta ngadagoan wanci subuh. Sabada solat subuh manéhna ngahaja muru tempat anu rada lega. Leungeunna nampark dina dada, sirah tungkul sarta pikiranana musat kanu kawasa, hawa tiis nyulusup nyaliara kana awakna, teu kanyahoaan ku dirina aya cahaya bodas semu cekas ngalimpudan dirina anu akhirna asup kana awakna bareng jeung rasa haneut ngalimpoudan awakna. Kusantana dirasakeun bari jeung di kadalikeun ku cara narik leungeuna kana hulu  ati. Kitu jeung kitu we nepi ka beurang, karasa awakna leuwih hampang lir meunang kakuatan anyar. Hal eta dilakukeun salila 3 subuh, nepika sinar bodas herang nu asup kana awakna bener bener geus dipimilik ku dirina, nepika awakna bisa hampang ngalayang leumpang dina angin nu taya tincakeun. Sing horeng Inti tina elmu saepi angin nu pernah diajarkeun ku guruna geus nepi katahapan anu sampurna, dina harti manehna bisa leupang dina tempat nu taya tincakeun ngalayang di awang-awang. Poe ka opat jeung saterusna manÄ“hna   ngalatih jurus jurus sakumaha anunantrat dana batu di jero guha kabeh dilatih satahap -satahap taya nu kaliwat. Saperti harita manehna ngalatih elmu baraja geni dina tahapan akhir. Sinar biru bisa kaluar tina leungeunna kalayan bisa ngaluarkeun panas anu rohaka. Ku jalan ngaluarkeun inti panas, panas nu bis kaluar kacida rohakana, beusi bae bisa leyur jadi cai.

KLIK DI SINI

NYAMBUNG KA BAGEAN 2

Selasa, 16 Juli 2024

MENTAFAKURI PENCIPTAAN LANGIT DAN ALAM

 MENTAFAKURI PENCIPTAAN LANGIT DAN ALAM

Mentafakuri penciptaan Langit dan alam adalah salah satu bukti adanya keimanan dal;am diri kita terhadap Allah Sang Pencipta. Kita yakin bahwa setiap yang Allah Ciptakan  pasti ada manfaat, Cuma masalahnya ada  yang mangfaatnya sudah terungkap ada juga yang belum terungkap, hal ini karena keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh manusia.

MENTAFAKURI PENCIPTAAN LANGIT DAN ALAM

rajasastra-us.blogspot.com- Mentafakuri penciptaan Langit dan alam adalah salah satu bukti adanya keimanan dal;am diri kita terhadap Allah Sang Pencipta. Kita yakin bahwa setiap yang Allah Ciptakan  pasti ada manfaat, Cuma masalahnya ada  yang mangfaatnya sudah terungkap ada juga yang belum terungkap, hal ini karena keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh manusia. Sejalan dengan berkembangnya ilmu yang dimiliki oleh manusia maka perlahan-lahan akan tersingkap pula hikmah diciptakannya mahluk/benda-benda yang diciptakan Allah.

Berkaitan dengan langit Allah Swt berfirman:

Lalu, apakah mereka tidak memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikan langit dan menghiasinya, sementara langit itu tidak mempunyai retak-rewtak sedikit pun (QS Qaf : 6 )

Dalam surat lainnya Allah Juga berfirman

Allah yang menciptakan tujuh lapis langit (QS ath-Thalaq: 12)

Jika kita semua bertafakur akan ciptaan Allah,  pasti Allah mengetahui dan merahmati diri kita semua. Mari kita tafakuri ala mini dengan fikiran kita.

Mentafakakuri penciptaan l;angit dan alam, niscaya kita akan mendapatkan bahwa  ia bagaikan sebuah rumah yang dibangun didalamnya dan  tersedia semu yang kita butuhkan oleh penghuni rumah itu. Langit ditinggikan laksana atap.Bumi dihamparkan seperti lantai, bintang-bintang dipasang bagai pelita. Permata-permata disimpan lir ibarat simpanan. Semua itu disiapkan dandisediakan untuk kepentingan ala mini, manusia itu laksana pemilik rumah yang dianugrahkan itu dengan semua isinya. Berbagai jenis tumbuhan disediakan untuk kebutuhannya, bermacam-macam hewan disediakan untuk kepentingannya.

Mentafakuri penciptaan Langit dan alam, akan menuju pada suatu penghambaan diri terhadap Sang Pencipta. Allah telah menciptakan warna langit sang paling pantas bagi mata untuk memandangnya sekaligus untuk menguatkan pandangannya. Coba seandainya langit itu berupa sinar atau cahya, niscaya akan menyakitkan mata orang-orang yang memandangnya. Memandang sesuatu yang berwarna biru atau hijau sangat cocok bagi mata. Jiwa manusia akan mendapatkan kenikmatan dan kesenangan ketika  memandang langit dengan keluasannnya, apa lagi bila muncul bintang bintang dan cahaya bulan yang terpacar. 

Para raja-raja dahulu biasa membuat atap -atap majelisnya  dan berbagai ukiran dan hiasannya, dengan begitu orang orang yang melihatnya mendapatkan kesenangan dan kegembiraan. Akan tetapi jika orang terus menerus mengulang  tentu akan merasa bosan dan hilang kesenangan  dan kegembiaraan yang dirasakan  seperti dirasakan sebelumnya.  Berbeda kalau memandang langit mereka akan merasakan dan kesenangan di alam luas dan terbuka, jika sebelumnya kegielisahan  karena berbagai sebab akan hilang. Menikmati pemandangan di langit. 

Mentafakuri penciptaan Langit dan alam, akan merasakan juga bahwa langit merupakan penopang bagi bintang-bintang  dan juga bagi bulan. Dengan gerakkannya bintang bintang berjalan sehingga dapat memberi petunjuk arah mana saja, sehingga kita dapat menuju kea rah itu. Hal ini sejalan dengan firman Allah:

Demi langit yang memiliki hubuk (jalan) (QS Adz – Dzariyat : 7).

Ada juga pendapat bahwa hubuk dalam ayat tersebut artinysa  perhiasan. Artinya, ia merupakan petunjuk yang nyata yang menunjukkan pada Penciptanya. Penciptaan yang teliti dan kokoh menunjukkan keluasan ilmu pembuatnya. Semua keteraturannya menunjukkan kehendak dan Penciptanya. Oleh karena itu Mahasuci Allah, Maha kuasa, Maha tahu, dan maha berkehendak. 

10 Manfaat Memandang Langit:

Mentafakuri penciptaan Langit dan alam, terutama dengan memandang langit terdapat manfaat sebagai berikut:

1. Mengurangi kesedihan;
2. Mengecilkan perasaan waswas;
3. Menghilangkan perasaan takut;
4. Mengingatkan kepada Allah;
5. Memancarkan pengagungan terhadap Allah di dalam hati;
6. Menghilangkan pikiran buruk;
7. Memberi manfaa bagi orang yang kehilangan semangat;
8. Menghibur orang-orang yang sedang dilanda kerinduan.
9. Menyenangkan orang-orang yang bercinta;
10. Kiblat bagi orang-orang yang berdoa.

BACAAN LAINNYA

Itulah tadi beberapa manfaat memandang langit, semoga kita termasuk orang yang selalu mentafakuri Langit dan alam,yang menjadikan diri kita selaluikhlas dan bersyukur kepada Allah pemilik kerajaan langit dan Bumi 

Aaamiiin! KLIK DI SINI

Sumber diambil dari Buku ZiarahSpiritual 

SASAMBAT SANG BANYU KEUR KA MANUSA JEUNG 3 SAJAK SEJENNA

sasambat Banyu kerur manusa hiji sajak ngagambarkeun rongkahna banyu dina mangsa usum hujan biasana nimulkeun masalah kana kahirupan manusa,  datang caah rongkah nu teu saeutik nimbulkeun karugian kana kahirupan ku lapurna raja kaya nu dipiboga. Aya kalana lamun teu panceg dina kaimananmah, nimulkeun rasa aral dina dirina. Padahal lamun dipikir anu bener, datangna banyjir, caah rongkah ngueak-ngawik pakampungan eta akbibat tina tingkah manusa keneh teu bisa ngajaga alam, hirup sarakah, teu nolih kana karuksakan alam, miceun runtah sangeunahna ka walungan, kokocoran cai dipendet dileutikan, tatangkalan panahan cai beak dituaran, atuh dina datangna hujan rongkah cai uwar awer kamana daekna neangan tempat pangocoran, anu akhirna cai nyorang pakampungan tempat padumukan manusa. 

di handapieu  judul Sajak ngagambarkaeun kumaha rongkahna cai akibat diganggu ku kasarakahan manusa, ditambah ku sajak-sajak sejenna.


SASAMBAT SANG  BANYU KEUR KA MANUSA

(Pepeling sangkan urang geura eling)

Kenging: Undang Sumargana

SASAMBAT SANG BANYU KEUR KA  MANUSA JEUNG 3 SAJAK SEJENNA

Kula banyu kahuripan

Anjeun  manusa  nu hirup

Kua ayana nu mere hirup

Jeung ayana nu hirup

Hampura ka pada mahluk

Kula ngamuk nguwak ngawik

Da bongan anjeun telenges

Lain teu ketir kula nerebkeun puluhan nyawa

Lain teu heman kula buntang banting

Nyababkeun tatuna puluhan manusa

Lain telenges kula ngaburak barik sakabeh raja kaya

Bongan anjeun baleang geus teu bisa jadi sobat

 

Tuh sakseni cimata kaula

Masih beueus ngeclak ti langit

Masih ngabayabah na tempat-tempat handap

Bongan anjeun campelak ngaganggu sirah kaula

 

Ka ki sunda nu mangkuk di Kota Garut

Kula hampura........

Sabab pamatuk Citarum

Kapendet sarah jeung runtah

Kalindih leutak nu mayakpak

 

Kula sang Banyu

Ka Ki Sunda nu heman miara alam

Kula hampura, teu bisa ngawilah-wilah

Bongan tempat kula matuh

Beak rangsak disasaak jalma sarakah

Tempat pamuntangan nahan  pasir anu nangtawing

 

Kula sang banyu

Padahal  kula 

geus mineng  mere tanggara

kasaksi na pasir anu bulistir

tong wani nyalahkeun kula

lamun kula  nguwak-ngawik

nyasaak mautan nyawa

 

Hampura lamun kula geus nyoara

Da geus nepi ka mangsana

Bongan totonden jeung tanggara  ti kula

Diantep teu di palire

Sabab heab dunya ti naraka kasarakahan

Geus nutupan mata hate diri anjeun


Hampura, kula sang Banyu menta dihampura

Lamun anjeun masih ngaku sobat dalit

Tong ganggu pangrereban kula

Tong campelak narokan sirah kaula

Sarta tuduhkeun kamana kula lumampah

Sangkan nepi kamuara.

 

Ditulis di Tasik Pakidulan:  23 September 2016


LALAKI LALANANG JAGAT

Kenging : Undang Sumargana

 

Kuring masih sanggup

 Ngayonan musuh pamuk

Ngagurat yuda dina jurit

Tapi kuring  rumasa eleh jajaten

Lamun kudu ngagurat duriat

Sabab hate miheulaan tibelat

 

Kuring masih masih sanggup

Nadah ombak lautan

Nu rek ngaruntagkeun jagat

Kuring masih pengkuh

Masang kuda- kudu na jurus pamungkas

Ngawatek tanaga lapisan jero

Na jurus ampuh

Pasangan Galura Laut Kidul

 

Kuring lalaki lalanang jagat

Lalaki nu kudu katadiresa

Ngalukrah na kalangkang imut anjeun

Na hegarna raray nu marahmay

Na soanten  anu masih ngagalindeng

Na ketak nu lungguh timpuh

Nyangkere na guha simpe

 

Tasik Pakidulan, Rebo, 24 Agustus 2016


KEUR ANJEUN NU TEPANG DI JOMANTARA

(Kenging ; Undang Sumargana)

 

Urang mindeng patepang enung......!

Sanajan saukur  di jomantara

Kebat ngalanglang nepi katungtng balebat

 

Kembang kamelang mimiti ngarandakah

Bareng jeung tumuwuhna sirung kanyaah

Nu mangkak na galih asih kembang duriat

 

Hate mineng cumarita Enung....!

Ngacacang di media gantang.

Sabadi angin janari

niupkeun dalingding asih

nanceb na jatining ati biangna rasa

 

Urang kungsi pateuteup .....enung!

Sanajan ukur na gambar.

Tapi gelenyuna imut anjeun

Geus jadi pangirut

Nu terus tembus kana ketug jajantung

 

Urang kungsi ngedalkeun rasa...Enung!

Sanaos ukur soanten na Harewos  Panangan (HP)

Tapi ieu galih ati terus neundeun kaheman

Sabada ungkara cinta geus dikedalkeun

Bareng jeung palidna umpalan kaheman

Sugan jeung sugan bisa ngamuara

Na lautan asih

Di pencarmangsa cagar jiwa.

 

Tasik Pakidulan, Rabu 31 Agustus 2016

KEUR ANJEUN NU TEPANG DI JOMANTARA

(Kenging ; Undang Sumargana)

 

Urang mindeng patepang enung......!

Sanajan saukur  di jomantara

Kebat ngalanglang nepi katungtng balebat

 

Kembang kamelang mimiti ngarandakah

Bareng jeung tumuwuhna sirung kanyaah

Nu mangkak na galih asih kembang duriat

 

Hate mineng cumarita Enung....!

Ngacacang di media gantang.

Sabadi angin janari

niupkeun dalingding asih

nanceb na jatining ati biangna rasa

 

Urang kungsi pateuteup .....enung!

Sanajan ukur na gambar.

Tapi gelenyuna imut anjeun

Geus jadi pangirut

Nu terus tembus kana ketug jajantung

 

Urang kungsi ngedalkeun rasa...Enung!

Sanaos ukur soanten na Harewos  Panangan (HP)

Tapi ieu galih ati terus neundeun kaheman

Sabada ungkara cinta geus dikedalkeun

Bareng jeung palidna umpalan kaheman

Sugan jeung sugan bisa ngamuara

Na lautan asih

Di pencarmangsa cagar jiwa.

Tasik Pakidulan, Rabu 31 Agustus 2016

             

 Na Petengna Peuting

Kenging: Undang Sumargana

 

Kuring kungsi ngangseu nyeuaeup petengna peuting

Basa angin janari ngabetrik rapuhna dahan kahirupan

Horeng raga ukur  titipan nu usik marengan rasa

 Katalimbeng   ku  urusan dunya nu pupulasan

 

Kuring ngarasa lungse nyimbutan sesebitan hate

Basa langit ngepris muragkeun ci tangis

Aya ucap ngagalindeng   nu geus lila katalimbeng

Nyangsaya na  dosa nu  numpuk teu katobatan

 

Ieu takbir ngan ukur  nepi  ka tungtung baseuhna biwir

Sabab hate masih rehe teu niruk katungtung kalbu

 Ukur  ngarajah ngalangkang di awang awang

Kumelit na ipisna ruruhit  tungtung  langit.


Kamer pangrereban. 27 Februari 2016

 

ANGKARA MURKA

Kenging  :Undang Sumargana

 

Nyongkab panas mata poe

Ngagarang  bumi gonjang-ganjing

Na lautan kasarakahan

Lebah pasolengkrahna laku manusia

Nu nyamuni satukangeun baju kiai

Nu ngalangkang satukangeun kakawasaan

Sabab rasa geus jadi bangke

Teu boga karumasaan diri

 

Kakawasaan lir peutengna peuting

Na raga-raga manusa

Nu geus ngusap ranggeuman naraka

Lir babaungna ajag kalaparan

Nyeuseup kesang rakyat nu keur tigerat

 

Datang peuting

Sapasi bulan ngeclakeun cimata

Baseuh na amparan sajadah

Ngarenghap dina kasimpe

 Klik Raja Sastra di sini

Duh gusti naha aya keneh kitu manusa n u wijaksana

Naha aya keneh kitu nu disebut angkara murka?

Jawabanna ngan aya na hate arandika.

download di bawah 



Kamer panyileukan, 25 juli 2016

Featured Post

HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA

KHARAMAH HABIB ALHABSYI:  BISA DENGAR SUARA TASBIH DAN BENDA MATI HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA Habib Ali Alhabsyi nama lengkapnya H...