BERANDA

Minggu, 30 Juni 2024

BIANGLALA CINTA SEORANG KELANA BAGIAN 5

 BIANGLALA CINTA SEORANG KELANA BAGIAN 5
Karya :  Undang Sumargana,

(Cerita bersambung bagian 5)

Catatan:
teman-temanku yang baik, pembaca yang Budiman, penulis mohon maaf baru bisa melanjutkan ceritanya, hal ini karena kesibukan yang tentu harus lebih dulu diutamakan, selamat membaca cerita bagian 5 dan sengaja penulis, tayangkan kembali bagian akhir dari cerita bagian 4 untuk mengingat Kembali cerita lama.
Selamat membaca 


Tiba-tiba bayangan dan suara itu seolah lenyap disapu angin, seolah -olah membangkitkan kesadaranku dari lamunan berkepanjangan. Ya memang aku tak boleh berlarut-larut dalam kesedihan yang terus-terusan, 3 hari lagi aku di Wisuda, seharusnya dijalani bersamaYanti kekasihku tapi, takdir Allah menentukan lain. (Bersambung ke bagian 5 )

Hari itu hari wisudaku, seharusnya aku bergembira, tapi hari itu aku tak begitu bergairah. Ingatanku pada Yanti sulit kuhapus, tapi aku tak mau kelihatan sedih di depan teman-temanku, di depan orang tuaku, biarlah hati seolah olah disayat sembilu, tapi roman muka harus nampak seperti orang bergembira. Akhirnya acara wisuda yang aku rasakan membosankan itu selesai juga.
Pulang dari Wisuda setelah bersih-bersih dan istirahat, ku duduk depan wisma, dalam suasana mentari terperangkap dalam senja. Cahya yang menguning berbaur dengan cahya lembayung yang hampir mengelam, ada goresan kenangan yang melajur dalam guratan usia, mengiris tipis pedih seperti sayatan sembilu menoreh hati. Usia yang merayap ke ujung waktu, seperti ingin menghempas helaan napas, hidup rasanya ingin berakhir
Hidup harus berakhir ?
Tidak!
Tidak......! “Jangan bodoh kau jangan kau sia-siakan hidupmu saat ini kau telah melampoi berbagai rintangan”.
“Tapi terasa hidupku tak berarti, setelah berusaha memberi arti dalam hidupku”.
“Hidupmu tidak boleh berakhir dengan kematian kekasihmu, masih tersisa perjalanan hidup yang harus kau tempuh”.
“Aneh rasanya apa yang kuidamkan berbuah pahit, seperti pahit buah maja, sepahit empedu yang tak mampu kutelan”.
“Pahit manis kehidupan ada yang mengatur, sadarlah kau sadar...” Seolah olah suara hatiku terus membangkitkan kesadaranku.
“Semuanya karena kematian Yanti”
“Jangan salahkan kematian, itu takdir tuhan yang berlaku dalam kehidupan”
Lembayung langit semakin kelam, rasa hidupku seperti meniti kelam, terasa tak ada sedikitpun binaran cahya. Kulangkahkan kaki menuju sopa, di sana kutumpahkan air mata, tak mampu ku bendung, deras mengalir seolah menyisir relung hati yang tiada bertepi.
“Relakan Yanti kak, Yanti sudah Bahagia di sini, kalau kakak kasihan pada Yanti kakak harus kuat, bangkitlah kak, bangkitlah jangan tepuruk dalam kesedihan” Suara itu terus berbisik ditelingaku.
“Suara Yantikah itu?”
“Ya apapun yang terjadi aku harus Kembali menata kehidupan” Aku harus kembali membuat rencana agar hidup bisa berlanjut.
“ Dua bulan kemudian aku mengajukan perpindahan tugas mengajar, ke daerah tempat asalku di Desa Cikukulu, masih dalam Kec. Karangnunggal, hal ini kulakukan dengan pertimbangan yang matang, setelah berunding dengan orang tuaku, serta dengan pertimbangan agar kesedihanku tak berlarut. Setelah diterimanya SK perpindahan aku berpamitan dengan anak-anak, dengan guru dengan masyarakat, serta orang tua Yanti yang tetap kuhormati, malah dalam jiarah sebelum aku meninggalkan Dusun Citoe, aku panjatkan doa di dekat kuburan Yanti dengan penuh khusu meskipun disertai derai air mata.

“Ya Allah Tuhan Yang Maharahman, Dia gadis baik, tempatkanlah dia di sisimu,

Ya Allah ya Mujibba Syaillin
Ya Allah |ya Mujibba darojatin
Pertemukan aku disurgamu Ya Robb, kepada Mu-lah kutitipkan Yanti gadis baik yang pernah jadi kekasihku, dan kepada Mu-lah aku mohon bimbinganmu agar hidupku lebih baik dan selalu dalam bimbinganmu. Terasa agak lega pikiranku kini.
“Semangat, semangat, semangat ... !” aku mencoba memaotivasi diriku sendiri, mencoba untuk bertekad meraih hidup yang lebih baik.
Kutinggalkan tempat yang penuh kenangan, ada rasa haru berbaur di dalam kalbu, ada rasa lirih dalam bisikan angin, ada gelora rasa yang berbaur dengan deburan ombak lautan, tapi aku harus tetap melangkah uantuk melanjutkan kehidupan. Pamitan terakhir dengan orang tua serta saudara Alm Yanti membangkitkan kesedihan yang sulit kuhindari. Berjalan menyusuri jalan setapak menuju tempat mangkal kendaraan. Sepanjang perjalanan terlihat tanah hangus terbakar api. Tanah yang terbakar api akan menjadi subur, tempat menanam palawija dan buah buahan. Tanah akan melahirkan tetumbuhan , tetumbuhan memberikan kehidupan kepada manusia. Manusia akan melahirkan generasi manusia.
“Tetapi api sendiri menghaguskan dirinya sendiri.”
“Api menghaguskan segalanya, seperti itulah cinta menghanguskan kayu menghanguskan logam mulia, bahkan Cinta menghanguskan hati”
“Jadi cinta adalah menyakitkan?”
“Ya cinta adalah perasaan sedih”
“Dua kekasih dipisahkan dengan maut, yang hidup harus putuskan tali kasih, agar hidup tak larut dengan kesedihan”.
“Hidup tak boleh berhenti pada cinta, jika hidup berhenti, berarti itu sudah mati” .
”Ya mati seperti kekasihmu, maka carilah pengganti yang masih hidup”.
“kalau cari pengganti berarti berkhianat”.
“Ya melupakan yang mati tak berarti berkhianan, sebab yang hidup mesti berlanjut”.
Dialog-dialog terus merasuki pikiranku tak terasa sampai juga di tempat mangkal kendaraann, yang terus membawaku ke tempat tujuan.
Sudah sebulan aku berada di tempat baru, tepatnya aku bertugas di SDN Neglasari berada di Desa Cikukulu, meskipun Desa ini tempat kelahiranku tapi rasanya masih terasa asing. Ku jalani hidup ini dengan penuh kesibukan di berbagai organisasi, di organisasi pemuda, Lembaga Lembaga Desa bahkan dalam organisasi-organisasi lain kuterjuni. Terasa kesedihan mulai berkurang aku larut dalam berbagai kegiatan yang menyita waktu walaun terus berusaha tapi ingatanku pada Yanti sulit untuk kulupakan.
Dua tahun terlewati usia yang terus merayap semakin tua, malah orang tuaku menasehatiku agar aku cepat beristiri.
“Aku harus beristri?”
“Masih adakah perempuan yang ku Cintai?”
“Ya persyetan dengan cinta yang penting aku berumah tangga, dan menjalankankewajibanku sebagai kepala rumah tangga?”
“Menikah tanpa cinta?”
“Haruskah itu kulakukan?”.
“Ya niat dan itikad baik akan menumbuhkan cinta, yang penting kau menjalankan dan memperlakukan istrimu nanti dengan baik yang akhirnya menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang”.
Aku terus berkelana mengembara, untuk mencoba mengepakan sayap, seperti naik kea awang-awang, melintasi cakrawala luas, kemudian meluncur di landasan yang tak kusadari. Aku terus berselancar melayang seperti abu yang diterbangkan hanya melayang tanpa arah, ya memang hidupku seperti abu mengikuti sang bayu yang menerbangkan aku. Akhirnya karena dorongan usia yang semakin tua serta saran dari kedua orang tuaku aku memasuki Babak baru kehidupan berumah tangga, 05 Juli 1991 tepatnya aku mulai membangun bahtera rumah tangga.
Sebagai Kepala Rumah tangga aku berusaha menjadi kepala rumah tangga yang baik, sebagai suami aku berusaha menjadi suami yang baik, walau sulit tumbuhkan cinta tapi dalam berumah tangga cinta bukan segala-galanya, berbuat baik menjalankan kewajiban itu yang harus kulakukan, aku berharap itu merupakan ibadah yang dapat menuntun aku kearah yang lebih baik.karena pada hakekatnya hidup itu adalah ibadah, yang membawa diri kita dalam kasih sayang Allah yang tak tertandingi.
Hidupku terus kujalani dalam kehidupan rumah tangga kelahiran putriku dalam tahun ke dua belas dari pernikahanku membuat aku harus terus bersemangat menjadi kepala RumahTangga dan suami yang baik. Bahkan perjalanan terus berlanjut aku terus melanjutkan pandidikan ke jenjang S2. Kujalani perkuliahan menjelang akhir perkuliahan istriku dilanda sakit, yang membuat aku menjadi sedih dan menambah beban kesibukan yang harus kujalani, Saat itu aku sudah bertugas menjadi Kepala SD di SDN Cibatu 1, banyak meninggalkan tugas pada waktu itu karena istriku menjalani oprasi di salah satu rumahsakit di Bandung. Oprasi telah dijalani setelah menjalani perawatan akhirnya diperbolehkan pulang, meskipu keadaan istriku masih terlihat parah, tapi dengan ijin dokter di bawa pulang.
BACAAN LAINNYA:
Takdir berkata lain kehendak Allah tak terbendung akhirnya isriku meninggalkan kehidupan menghadap Illahi.
Sedih, ya pasti sedih, aku berpelukan dengan putri tercintaku yang saat itu baru kelas 4 SD. Aku telah berusaha mencoba mengobati istriku dengan pengobatan dokter, tapi disini membuktikan bahwa yang menyembuhkan bukan dokter tapi Allah lah yang mempunyai kuasa segalanya. Dadaku seperti tak mampu lagi berguncang ketika menyaksikan kesedihan putriku yang ditinggal ibunya. Tapi apa hendak dikata takdir telah berkata lain, aku yang telah berusaha jadi suami yang baik. Hidupku sendiri sendiri dengan putriku harus kujalani dalam siklus kehidupan itu sendiri. Disaat aku mencoba memahami bahtra perkawinan, kini harus tenggelam kembali dalam lautan kesedihan, tapi harus tegar aku punya tanggung jawab buat ptriku tercinta.
KLIK DI SINI
(Bersambung ke bagian 6)

TUHAN BERI AKU MAWAR HARUM

TUHAN BERI AKU MAWAR HARUM

RAJA SASTRA Judul di atas merupakan sebuah judul puisi yang menggambarkan keagungan cinta. Begitu agungnya Cinta Begitu agungnya cinta sehingga dapat dikatakan bahwa dalam cinta ada misteri yang sulit untuk di buka runtuyan kata yang sangat romantic sekalipun, belum tentu dapat menyimak rahasia di balik cinta. Cinta bisa datang dan pergi tanpa permisi Dengan buaian cinta orang bisa merasakan Bahagia, tapi dengan dahsyatnya gelombang cinta orang bisa terpuruk dalam kesedihan yang tiada ujung.Cinta kadang bergejolak dalam dada para remaja, tapi cinta juga tak pernah mengenal usia.

Para pembaca yang budiman, sesuai dengan judul di atas penulis mencoba menyingkap rahasia cinta dalam gambaran sebuah puisi yang berjudul “TUHAN BERI AKU MAWAR HARUM” Silakan untuk di apresiasi, semoga tulisan ini dapat sedikit menyibak pintu cinta yang penuh misteri.

Selamat membaca:

BACAAN LAINNYA:

TUHAN BERI AKU MAWAR HARUM 

(Undang Sumargana)

Tuhan beri aku mawar harum

Bukan duri-duri cinta yang menyakitkan

Jika aku bisa ingin mencium bibir delimamu

Sepanjang hari darahku  mendidih

Dan berbuih bersama hasrat;

Takdirkan aku jadi pemilik baibir

Atau rambut serta leher indahmu

 

Tuhan, jangan biarkan dia  menggigitku                       

dengan bibir yang sedang kuimpikan.

biarkan api cintaku mendidih dalam  bejana hatiku

aku terlalu banyak menangis sejak

kau hilang dari pandanganku

ku gigit jari manismu

ketika tebangun ternyata yang tergigit jariku

 

Tuhan beri aku mawar harum                                         

bukan duri-duri cinta 

yang mengiris pedih di hati

setiap ujung hujan menyentuh kalbu

adalah mekaran beribu mawar harum

sementara aku bertahan hidup,

bertahun-tahun sanggup tak mati                                

menanti cintamu

 

tuhanku beri aku mawar harum

dalam hening menangkup malam

merajut jaring sutra di denyut jantung                                             

tak akan ku biarkan  binar purnama memudar              

akan tetap kulangitkan harapan                                                    

demi sebuah pencapaian sbuah impian

 KLIK DI SINI

Tasik selatan 04 Juni 2023

src='//pl22704148.highrevenuenetwork.com/50/55/c8/5055c859f9e30182803847ad16e81be5.js'>


RAYAP BERGEROMBOL DAN BERKELIARAN MENGHISAP DARAH RAKYAT

RAYAP BERGEROMBOL DAN BERKELIARAN  

MENGHISAP  DARAH RAKYAT 



RAYAP BERGEROMBOL DAN BERKELIARAN  MENGHISAP  DARAH RAKYAT 

Para pembaca yang Budiman…..!

Mari kita ucapkan selamat datang era kolonialisme baru dan salam Pancasila buat Rayap penghisap Darah rakyat . 

  • Rayap berkeliaran di mana-mana dan sulit dibasmI  karena mereka saling melindungi 
  • Rayap berkeliaran di seantero negeri disetiap intansi rayap bergerombol di mandor-mandor  bangunan rayap memakan semen-semen untuk bahan bagunan , sehingga takarannya dikurangi,
  •  Rayap bergerombol dijalan jalan sehingga takaran aspal banyak dikurangi.
  •  Rayap brkumpul digunukan beras-beras BANSOS, sehingga rakyat melarat banyak yang tidak mendapat bagian kadang jatahnya diambil rayap  berdasii.  
  • Rayap menggerogoti uang uang jatah pakir miskin  sehingga uangnya rusak bahkan sampai musnah dan berkurang . merongrong kewibawaan negeri, di perpajakan rakyat datang menggerogoti setoran rakyat,  di beberapa kementrian rayap datang memanipulasi anggaran. Bahkan dianggota Dewanpun rayap menyerang mengisap darah rakyat. Bahkan sampai dipedesaan di kelurahan di ke RT-an banyak rayap mencari mangsa.  
  • Rayap memang jahat kadang datang bergerombol saling melindungi kejahatan yang dilakukannya.

Berbicara masalah Rayap, Taufik Ismail dalam puisinya yang berjudul ” Negeriku Sedang Dilahap Rayap" menggambarkan keadaan negeri kita berada  dalam tatanan kehidupan yang semerawut penuh dengan kejahatan yang dilakukan oleh manusia berdasi.

Negeri ini memang sedang diserang rayap sehingga keadaannya tidak baik-baik saja. Anggota Dewan yang dipilih rakyat, banyak yang mengambil kepurtusan menyakiti rakyat. Fakta banyak oknum pejabat  yang tersandung kasus korupsi, gratifikasi menggambarkan bahwa banyak dari mereka lebih memilih mementingkan diri sendiri , mereka banyak yang jadi maling makan uang rakyat.  Beban hutang negara membuat negri ini sepertinya telah tergadaikan. Kolonialisme baru telah melanda negeri kita.

Para maling-maling negeri berjalan berjamaah, saling menutupi, sehingga sulit untuk ditembus oleh hukum. Rakyat sengsara cari kerja sulit pengangguran merajalela. Sulit rasanya rakyat merasakan kesejahtraan, karena negeri ini sudah banyak dikuasai maling.

Pembaca yang Budiman, Penulis mengajak para pembaca untuk mencoba mengapresiasi dua Puisi Karya Taufik Ismail dengan judul yang sama dibuat dalam waktu yang berbeda, namun gambaran isinya hampir sama. Mari kita bandingkan dan apresiasi dua puisi tersebut.

Selamat membaca  dan mengapresiasi karya sastrawan ternama ini.

 

Negeriku Sedang Dilahap Rayap

(Karya Taufik Ismail)

  

Kita Hampir Paripurna

menjadi Bangsa Porak- Poranda,

Terbungkuk Dibebani Hutang

dan Merayap Melata Sengsara di dunia.

Pergelangan Tangan dan Kaki Indonesia “DIBORGOL” di Ruang Tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya.

Negeri kita “Tidak Merdeka Lagi”,

Kita sudah jadi Negeri Jajahan Kembali.

Selamat Datang dalam

“Zaman Kolonialisme Baru,”

Saudaraku.

Dulu penjajah kita “Satu Negara”,

Kini penjajah kita “Multi-Kolonialis”

banyak bangsa.

Mereka “Berdasi Sutra”,

Ramah-Tamah luar biasa

dan Banyak Senyumnya.

Makin banyak kita

“Meminjam Uang,

Makin Gembira”

karena “Leher Kita

Makin Mudah Dipatahkannya”.

Bergerak ke kiri “Ketabrak Copet”

Bergerak ke kanan “Kesenggol Jambret”,

Jalan di depan “Dikuasai Maling’,

Jalan di Belakang penuh “Tukang Peras”,

Yang di atas “Tukang Tindas.”

Lihatlah PARA MALING itu

kini mencuri secara Berjamaah.

Mereka berSaf-Saf Berdiri Rapat,

Teratur Berdisiplin dan Betapa Khusyu’.

Begitu rapatnya mereka berdiri

susah engkau menembusnya,

Begitu Sistematis.

Itukah rezim yang kalian banggakan dan di bela-bela.

Lalu dari sisi mana hebatnya rezim sekarang ini.

NEGRIKU SEDANG DILAHAP RAYAP

(Karya Taufik Ismail)




Anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang, VCD koitus beredar 20 juta keping, kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan

dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiahnya.

Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol diruang tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya, dan dipunggung kita dicap sablon besar-besar:

Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia.

Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu,

menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.

Ketika TKW-TKI itu pergi

lihatlah mereka bersukacita antri penuh harapan dan angan-angan di pelabuhan dan bandara,

ketika pulang lihat mereka berdukacita karena majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang disiksa malah diperkosa

dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula.

Negeri kita tidak merdeka lagi,

kita sudah jadi negeri jajahan kembali.

Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.

Dulu penjajah kita satu negara,

kini penjajah multi kolonialis banyak bangsa. Mereka berdasi sutra,

ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya.

Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah dipatahkannya.

Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali. Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian.

Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi.

Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram, ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam. Bergerak ke kiri ketabrak copet,

bergerak ke kanan kesenggol jambret, jalan di depan dikuasai maling,

jalan di belakang penuh tukang peras, yang di atas tukang tindas.

Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung. Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.

Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu’. Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.

Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya. Begitu khusyu’nya, engkau kira mereka beribadah.

Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?

Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya, membentang dari depan sampai ke belakang, melimpah dari atas sampai ke bawah,

tambah merambah panjang deretan saf jamaah.

Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin. Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?

Bagaimana menangkap maling

yang prosedur pencuriannya malah dilindungi dari atas sampai ke bawah? Dan yang melindungi mereka, ternyata,

bagian juga dari yang pegang senjata dan yang memerintah. Bagaimana ini?

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up Operation),

tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan sekolahan.

Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari, kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji.

Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran, otak kanannya berzakat harta,

bertaubat nasuha

dan memohon ampunan Tuhan.

Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah? Jamaahnya kukuh seperti diding keraton,

tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang,

malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang,

penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian.

Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu, barangkali sekitar satu juta orang ini,

cukup jadi sebuah negara mini,

meliputi mereka yang pegang kendali perintah, eksekutif, legislatif, yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan

mengendalikan meriam, yang berjas dan berdasi. Bagaimana caranya?

Mau diperiksa dan diusut secara hukum?

Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan? Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman? Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan?

Percuma

Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan Insya Allah tak akan terselesaikan.

Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?

Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia mengembalikan jarahan yang berpuluh tahun

dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan.

Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka orang yang shalat juga, orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga.

Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka.

Celakanya,

jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada hubungan darah atau teman sekolah,

maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati menegurnya.

Celakanya,

bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita, orang seagama atau sedaerah,

Kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu dimakruh-makruhkan

dan diam-diam berharap

semoga kita mendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan.

Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati. Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap.

Kayu kosen, tiang,kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai. Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap.

Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia dijarah anai-anai.

Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah Indonesia sudah mulai habis dikunyah-kunyah rayap.

Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna.

Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.

Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar. “Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya! ” teriak mereka.

“Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!” bantahku.

Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam.

Aku melarikan diri kencang-kencang. Mereka mengejarkan lebih kenjang lagi. Mereka menangkapku.

“Ambil bensin!” teriak seseorang. “Bakar Rayap,” teriak mereka bersama.

Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.

Seseorang memantik korek api. Aku dibakar.

Bau kawanan rayap hangus. Membubung Ke udara.

KLIK DI SINI

Jakarta, 2008


Sabtu, 29 Juni 2024

CITA RESMI ATAU DYIAH PITALOKA RELA MATI DEMI HARGA DIRI DAN KESETIAAN PADA AYAH DAN KERAJAAN

 CITA RESMI ATAU DYIAH PITALOKA RELA MATI
DEMI HARGA DIRI DAN KESETIAAN PADA AYAH DAN KERAJAAN

(Judul Asli :Ajen Diri di Tegal Pati)

Cita resmi atau Dyiah Pitaloka rela mati demi harga diri  dan kesetiaan pada ayahnya dan kerajaan . Ini cerita berkaitan dengan Perang Bubat  dalam naskah Sunda. Dalam naskah Sunda Kono juga yang di ceritakan di Tanah Jawa dalam “Paruruton dan Kidung Sundayana”, yang pernah terjadi dibahas lagi. Dalam cerita Parahiyangan disebut “Perang Campuh” kalau dalam “Paruruton” disebutnya “Pasundan Bubat”.

 CITA RESMI ATAU DYIAH PITALOKA RELA MATI
DEMI HARGA DIRI DAN KESETIAAN PADA AYAH DAN KERAJAAN

Naskah Naskah Yang Berkaitan dengan Cerita

rajasastra-us.blogspot.com  Cita resmi atau Dyiah Pitaloka rela mati demi harga diri  dan kesetiaan pada ayahnya dan kerajaan . Ini cerita berkaitan dengan Perang Bubat  dalam naskah Sunda. Dalam naskah Sunda Kono juga yang di ceritakan di Tanah Jawa dalam “Paruruton dan Kidung Sundayana”, yang pernah terjadi dibahas lagi. Dalam cerita Parahiyangan disebut “Perang Campuh” kalau dalam “Paruruton” disebutnya “Pasundan Bubat”.

Cita resmi atau Dyiah Pitaloka rela mati demi harga diri  dan kesetiaan pada ayahnya dan kerajaan . Dalam “Kidung Sundayana”  cerita ini  digambarkan hampir secara keseluruhan dan   dalam naskah ini menceriterakan apa yang dialami oleh Raja Sunda dan Pengiringnya dalam perang Bubat. Perang Bubat digambarkan sampai bagian  yang sekecil-kecilnya, apa lagi yang menjadi penyebab dan akibatnya. Cerita dibangun dalam bentuk puisi Tembang jawa. Namun karena banyaknya penggambaran suasana yang dibikin sedih sehingga jalannya cerita tidak sejalan dengan kejadian sebetulnya.

Sementara Naskah Kuno yang membahas kejadian perang Bubat yaitu Naskah “Pangeran Wisangkerta yang disusun dalam akhir abad ke-17 kalau dibaca secara teliti dapat pada tragedy kejadian tersebut.

Cerita Perang Bubat

Dalam waktu yang telah ditentukan yaitu bulan Agustus 1357 Prabu Maharaja Bersama rombongan  berangkat ke Maja Pahit mau menikahkan Putrinya yang bernama Dewi Citaresmi atau yang dikenal pula Dyia Pitaloka. Usia Citaresmi pada waktu itu 18 tahun. Ibunya tidak ikut berangkat karena  putranya yang dua masih kecil, Niskala Wastyukencana baru berusia 9   tahun dan Ratna Parwati masih bayi.

Berangkat dari Kawali berjalan kaki sampai Pelabuhan  Muara Gunung Jati  (Di basisir Gunung Jati  di Cirebon Sekarang. Dari Muara Jati naik perahu  layer menyebrang lautan menuju kearah Timur mengarah ke Basisir selatan Tanah Jawa dan melewati selat Madura  dan sampai di muara Sungai Brantas, akhirnya sampai Pelabuhan Bubat (daerah Mojo Kerto Sekarang) Rombongan akhirnya berhenti dan naik ke darat dan beristirahat. 

Sesampainya ke Bubat, Prabu Maharaja merasa heran karena hampir sampai ke pusatr Kerajaan Maja Pahit tidak ada yang menjemput dari pribumi sebagai mana mestinya. Padahal rombongan itu adalah Rombongan Raja dari kerajaan lain apalagi ini rombongan Calon Suami Raja Kerajaan Maja Pahit Hayam Wuruk. 

Prabu Maharaja mengirim utusan bahwa rombongan Calon Pengantin sudah hampir sampai, Tapi Jawaban Gajah Mada yang menjadi pemimpin rombongan dari Maja Pahit sungguh menyakitkan hati dan merendahkan pihak  Prabu Maharaja dan negaranya. Kata Gajah Mada Putri Sunda harus dipasrahkan sebagai upeti suatu tanda bahwa Kerajaan Sunda tunduk menjadi bawahan Maja Pahit.  Kalau tidak mau Rombongan Kerajaan Sunda akan di bunuh oleh pihak Kerajaan Maja Pahit.

Tentu saja Raja Bersama rombongan merasa dihina dan dalam tekad yang kuat untuk menjaga kehormatan diri dan negara. Prabu Maharajadan dan rombongan bersumpah daripada menyerah lebih baik mati, akhirnya terjadlah perang yang disebut “Perang Bubat” terjadinya perang Bubat di Tegal Bubat Hari Selasa tanggal 13 paropeteng Bulan Bhadrawada tahun 1276 Saka (4 September 1357 Masehi.

Dalam peperangan yang memang jumlahnya tak seimbang pasukan Kerajaan Sunda berusaha melawan memporak-porandakan pasukan Maja Pahit. Akhirnya Prabu Maharaja terbunuh beserta rombongan kerajaan. Melihat Ayahnya meninggal Dewi Cita Resmi mengambil senjata milik pribadinya Patrem, Dia menusukan Patrem tersebut ke dirinya. Menandakan kesetiaan kepada Ayahnya menjungjung Harga diri membela negara dan lemah cai.

BACAAN LAINNYA:

Berita dari kejadian tersebut sampai pada Hayam Wuruk. Hayam wuruk mengetahui bahwa Cita Resmi yang menjadi pujaan hatinya telah meninggal merasa sakit dan merasa malu karena terhadaporang Sunda telah berkhianat. Menyayangkan dengan sikap Patih Gajah Mada yang menjadi penyebab runtuhnya kebenaran di Maja Pahit dan matinya Cita resmi yang jadi pujaannya. Secepatnya mayat mayat Putri Cita resmi serta ayahnya dan para pengiringnya di kuburkan dengan kehirmatan sebagaimana pembesar kerajaan. Secepatnya mengirimkan utusan ke Tanah Sunda menjelaskan kejadian dan sekaligus minta maaf.

Hayam Wuruk sakit keras sulit untuk diobati, Dewan Keluarga  Keraton  berniat menghukum Patih Gajah Mada, tapi Gajah Mada melarikan diri dari pusat negara melarikan diri ke hutan.

Kata Pangeran Wisangkerta  di Negarakertabumi saat perang bubat Bumi Sunda bergemuruh dann kejadian Gemba bumi yang besar dan mengalami Gerhana matahari, kata maharesi sunda pertanda bahwa Karajaan Sunda bakal mengalami kejadian yang menyedihkan luar biasa.

Dari sejak kejadian itu dari tragedy yang menyedihkan menjadi lambing Keperwiraan dan kesetiaan  Maharaja. Maharaja Namanya menjadi harum serta dicintai orang Sunda sampai sakarang dan mendapat gelar Prabu Wangi. Sejak saat itu raja-raja Sunda yang besar jasanya terhadap rakyat mendapat gelar Prabu Sili Wangi./span>

Dan Gajah Mada bagi orang Sunda termasuk orang Barbar yang haus kekuasaan dan telah menghianati kerajaan Sunda dan Rajanya sendiri. Tak layak jika orang sunda menganggap Gajah Mada Sebagai pahlawan.

Sumber : Terjemahan dari buku “Nu Maranggung dina Sejarah Sunda Karya Edi S Ekadjati

KLIK DI SINI


Rabu, 26 Juni 2024

BIANGLALA CINTA SEORANG KELANA BAGIAN 4

BIANGLALA CINTA SEORANG KELANA

Karya : Drs. Undang Sumargana, M.Pd

(Cerita bersambung bagian 4)

BIANGLALA CINTA SEORANG KELANA BAGIAN 4

Rekan-rekan yang Budiman, mohon maaf sambungan cerita ini diterbitkan agak terlambat, karena kelalaianku, disebabkan kesibukan yang berkaitan dengan tugas, selamat

Fiktif atau paktakah cerita ini?

Cerita ini merupakan cerita fiktif yang diangkat dari Sebagian besar  kenyataan hidup yang dialami, sekesil apapun semoga ada hal yang perlu diteladani dari cerita ini.

Selamat membaca dan menanggapi cerita ini 

rajasastra-us.blogspot.com Bayang-bayang waktu seperti tangan, seolah mulai membawa aku dalam kehidupan yang  bertaburan bunga, seperti kuntum yang mulai bermekaran, dalam keharuman nafas yang menggelorakan kebahagiaan, lantunan cinta seolah mulai menelisik  di dalam hati. Kebersamaan dengan  Yanti, seolah-olah dibuai dalam musikalisasi dari petikan gitar yang dimainkan para bidadari. Kuliahku dengan Yanti sudah menginjak semester akhir, tinggal Menyusun skripsi menghadapi sidang akhir dan bers-beres administrasi. Tentu saja aku  dan Yanti sudah menata rencana ke masa depan memasuki masa pertunangan dengan penuh keseriusan setelah restu kedua orang tuaku dan orang tua Yanti, Hidup itu memang aneh, hidup itu memang Ajaib, prmainan waktu yang telah menebarkan gelatar di gelora rasa, seperti goresan sebuah lukisan yang menebar keindahan tiada tara. Pikiranku tak pernah diam dari rancangan cita-cita melukis senja di masa datang.

“Kak jika kita telah menikah, jika kita telah tua, akankah kakak mengasihiku seperti sekarang?” Yanti tiba-tiba membuka pembicaraan saat duduk di depan rumahnya diterangi cahaya bulan.

“Masihkah kau meragukan aku?, dalam prinsip hidupku, kalau aku sudah menikahimu, berarti kau pilihan terakhir?”

“Kalau kakak lupa janji?”

“Kewajiban  istrilah untuk mengingatkannya”

“Tetapi lelaki suka lupa janji”

“Lupa berarti tak ingat, berarti tugas istrilah harus selalu mengingatkan jangan sampai suami berbuat salah, bersama-sama membangun kebenaran.”

“Tapi kebenaran itu bisa dimanipulasi kak”.

“Walaupun dimanipulasi kebenaran tetap kebenaran, tak bisa digantikan dengan hal yang salah, dan pada dasarnya kebenaran adalah sari kehidupan”

“Jadi kebenaran sari kehidupan”

“Kebenaran adalah inti kehidupan yang berkaitan dengan hati nurani, bersandar pada aturan agama, yang akan menjadi kebenaran hakiki yang Universal”.

Bersama Yanti kekasihku hidup terasa begitu indah, meskipun adakalanya berselisih paham tapi bisa diselesaikan dengan baik

“Yanti beberapa bulan lagi kita menyelesaikan kuliah, siding akhir  dan setelah itu kita menikah”.

“Jaga dirimu baik-baik jangan sampai terjadi apa-apa”

“Juga kaka”

“ya juga aku”

Waktu terus berjalan, selangkah lagi aku dan yanti menyelesaikan kuliah, dan hari itu yanti berangkat sendiri ketempat kuliah karena aku  ada tugas yang tak dapat kutinggalkan. Ada rasa lain ketika yanti berpamitan berangkat menuju campus, seolah-olah tak bisa bertemu lagi, tapi bayangan buruk itu akhirnya sirna, dengan menghadapi tugas lain yang bisa kukerjakan.

Minggu hari itu, tiba tiba aku dengar kabar bis yang biasa berangkat Tasik-Pamayang membawa muatan dari Tasik ke Pamayang mengalami kecelakaan masuk jurang setelah melewati belokan sehabis perkebunan karet. Pikiranku gelisah jangan-jangan Yanti berada di Bis itu. Benar saja 10 menit setelah itu dapat kabar Yanti ada Di Puskesmas Cipatujah, dengan hati yang kalut aku segera berangkat ke sana bersama keluarga Yanti. Sampai  di sana yanti ada diruangan perawatan dengan balutan di Kepala, tangan dan kaki, terlihat lukanya begitu parah.

“Makasih kak, kakak sudah datang”

“ Ya Bersama ayah dan Ibumu, sudahlah istirahat jangan banyak bergerak dan bicara”.

“Mana ayah dan Ibu ku Kak?”

“Ini nak, sudahlah jangan banyak bergerak”.

“Ayah , Bu, Kak, Kepala Yanti sakit, maapkan Yanti, mungkin ini terakhir Yanti bicara sama, Ayah, Ibu dan Kakak”.

“Sudahlah nak kau pasti sembuh, jangan bicara yang tidak-tidak” Bu Haji bicara sambil berderai air mata.

“Ya nak kau pasti sembuh”  Pak Haji yang sekarang bicara sambil menahan tangis.

“Kak, kakak jangan sedih, aku pergi, relakan aku kak, Kakak sayang sama Yanti  kan?, aku pergi sekarang  kak, relakan aku kak!”.

“Tolong genggam tangan aku kak!”

“Ya sayang” Aku melihat ada tetesan air mata tergenang di kelopaknya. Ada kepiluan yang mengiris hatiku, ada bayangan hampa dalam tatapan matanya yang mulai meredup, desahan  suara halus  dari mulutnya.

“Ayah, mah, kak, sudahlah jangan menangis, sesungging senyum terlihat dari getar bibirnya, tiba-tiba tatapan mata tajam membarengi lapad Allah yang diucapkan, makin pelan-pelan dan tatapan matanya mulai meredup Bersama berhentinya geletar bibirnya, dan detak darah nadi di tangannya tidak ada lagi,

“Subhanalloh, kau telah pergi Dik Yanti” dokterpun datang dan memeriksa detak jantungnya.

“Ibu Bapak, mohon yang sabar , putra Ibu /Bapak telah menghadap Illahi”.

Seperti tersentak aku mendengar perkataan dokter, isak tangis keluarga Yanti pun terdengar begitu pilu, akupun,  sebagai lelaki tak sanggup menahan deraian air mata, seolah olah ada kehampaan yang menyeruak dalam dadaku, ada kesedihan yang mengiris pilu menembus hati, merasakan kegelapan dalam gulita yang begitu pekat. Dunia tiba-tiba berada dalam gulita, kematian Yanti kekasihku merupakan pukulan berat dalam hidupku.

Ini hari ke-7 kematian Yanti, langit yang dulu bercahaya gemilang kini mengelam dalam kesenduan. Cahaya  yang dulu sering menuntun aku, rasanya jadi patah di tengah, yang kurasakan hanya kegelapan yang berkepanjangan ysng dirasa sulit untuk bangkit, keluarga Yantipun sama seperti yang kurasakan, ibunya terutama yang sering terlihat berderai air mata, Ini terasa kesepian yang begitu menyiksa setelah baru saja berkumpul Bersama banyak orang setelah melaksanakan tahlillan. Hanya pak Haji ayahnya Alm Yanti yang terlihat tegar, mungkin karena beliau begitu kuatnya dasar agama yang melekat pada dirinya.

Kematian Yanti, menoreh duka yang menyekap dalam dadaku. Duka yang menyekap  membuat hidupku berantakan, kelam yang membentang, mengiris perih menoreh luka di dalam jiwa. Bersama desiran angin seolah ada suara halus mengurai kesunyian, suara seolah-olah piala cinta yang diusung para malaikat dibawa dari sang  kekasih.

Purnama ke-6 aku masih merasakan  sisa sisa kesedihan , aku duduk di beranda wisma. Cahya bulan yang dulu terasa indah, kini terasa cahaya pekat yang menyisakan luka di dada, ada haru yang terus terusan menusuk lerung kalbu.

“Enam bulan yang lalu kita bisa menikmati cahya bulan purnama berdua  di tepi pantai”.

“Jangan sedih kak, seharusnya kakak bergembira karena kakak telah lulus jadi Sarjana, tinggal acara pesta menghadiri Wisuda pengukuhan Gelar Drs. Yang telah kakak sandang”

“seharusnya kegembiraan itu dirasakan bersama Dik Yanti sayang?”

“Sudahlah kak, kakak sayang kan pada Yanti, relakan Yanti kak, di sini Yanti telah merasakan kebahagiaan yang tiada bandingnya, bangkitlah kak, ayo bangkit, kakak lelaki yang kuat yang masih harus menjalani hidup dengan penuh semangat”   Di sini  

Tiba-tiba bayangan  dan suara itu seolah lenyap disapu angin, seolah -olah membangkitkan kesadaranku dari lamunan berkepanjangan. Ya memang aku tak boleh  berlarut-larut dalam kesedihan yang terus-terusan, 3 hari lagi aku di Wisuda, seharusnya dijalani bersamaYanti kekasihku tapi, takdir Allah menentukan lain.                      (Bersambung ke bagian 5 )

 

Selasa, 25 Juni 2024

BIALANGLALA CINTA SEORANG KELANA BAGIAN 3

};

 

BIANGLALA CINTA SEORANG KELANA

Karya :  Undang Sumargana

(Cerita bersambung bagian 3)


Catatan

Dulu kalau mau ke Cidadap apalagi ke Citoe, bnyak mengunakan jalan jalur Cipatujah, berhenti di Sabeulit naik bis sampai Cikawung Ading. Karena jalan yang dari Sindangreret sangat langka kendaraan.  Sampai di cikawung ading, nyebrang sungai kecil naik eretan,yang lajunya pakai tambang, belum ada jembatan seperti sekarang, berjalan menyusuri jalan Setapak, sampai di sisi sungai cilangla naik menyebrang naik perahu, belum terbangun jembatan dan jalan seperti saat ini.

Untuk ditanggapi:

Saya menantikan tanggapan dan kritik untuk cerita ini, apalagi kalau ada bahasaya yang tak dimengerti langsung tanggapi di bloog. Maaf bila Bahasa-yang saya tulis kurang memasyarakat, tapi sengaja banyak Bahasa sastra, karena saya yakin kebanyakan pembaca Bapak Ibu guru yang tingkat Apresiasinya sudah cukup tinggi.

Memang ada orzng yang mengerti.

Ada orang yang sadar dirinya tak mengerti.

Ada orang yang pura pura mengerti

Ada orang yang pura-pura tak mengerti.

Ada orang yang tak tau bahwa dirinya tak mengerti.

 Sudah ah yu dari pada pusing  langsung pada sambungan cerita

rajasastra-us.blogspot.com  --- Cahya bulan terlihat mengambang di bebukitan desa, cahayanya tak begitu terang, ada rintik hujan yang turun perlahan, siulan angin di dedaunan, deburan suara ombak di kejauhan, berbaur dengan suara binatang malam. Seolah-olah ada lantunan kidung  kehidupan yang mengalunkan irama pedih mengiris hati. Pikiran menerawang menembus pilu di relung kalbu. Ada rasa kesunyian yang mengelus menembus tulang rusuk, yang kadang datang menebar pesona dalam janji setia.

Heemmhh ……janji setia? Cuma cerita kosong pemanis bibir.

Jangan percaya itu ! Itu adanya dicerita para putri putri kayangan yang menjungjung tinggi nilai- nilai kebenaran.

Kebenaran?

Adakah kebenaran dalam cinta?

Kebenaran dalam cinta? Ya… cinta yang dihiasi kesetiaan, tapi tidak semua cinta dihiasi kesetiaan, bahkan yang banyak terjadi cinta yang diakhiri penghianatan.

Akhirnya aku terlelap dalam tidur setelah ada dalam lautan lamunan yang tiada berujung.

Tak terasa sudah tiba lagi hari jumat, waktunya aku berangkat ke Campus melaksanakan perkuliahan. Berangkat bersama Yanti, menjadikan aku semakin akrab, sikap dia yang agak manja, menjadikan aku agak risi, biarlah dia kuanggap adikku, adik manis yang kadang menimbulkan rasa kangen.

Hemmh…. aku mencoba menepis rasa lain yang kadang tumbuh tak disengaja. Satu bis bersama, duduk bersama tapi diperjalanan  dalam bis  banyak waktu   kuhabiskan untuk membaca buku ysng berkaitan dengan mata kuliah.

Heemmh dasar kutu buku? Yanti mendengus kesal, tapi kubiarkan saja seolah-olah aku tak menanggapinya.

Dia merebut buku yang ku baca. “Enak saja dari tadi Yanti bicara, kenapa sih?”

Aku Cuma tersenyum menanggapi kekesalan dia.

 “Ya adik manisku aku sekarang kan dengarkan pembicaraanmu. Tapi sini bukuku akan ku masukan kedalam tas, nanti lupa”.

“Minggu sehabis kuliah kita pulang Bersama, dan Sabtu sore antar aku ke toko beli pakaian ya Pak?” dia memanggilku dengan sebutan  pak mungkin ini penghargaan terhadapku karena aku seorang guru.

“Ya dik, panggil dong aku Kakak, aku kan bukan bapakmu” kataku sambil tersenyum.

“Memang kau kakaku ?” Yanti menyela dengan muka kesal

Sisa perjalananku kuhabiskan dengan percakapan yang  tak tentu arah.  Akhirnya sampai juga aku di campus setelah bis berhenti dan dilanjutkan naik angkot. Mampir ke warung nasi sbelum jumatan dan masuk kuliah.

Selesai makan, aku bergegas untuk bayar  makan aku dan Yanti.

 Sudah dibayar oleh Neng Yanti” kata penjaga warung,

 Aku melirik kepada \yanti, “seharusnya aku yang bayar”

“Tidak apa-apa kan besok Kakak mau ngantar aku”, kata Yanti sambal tersenyum kecil

Aku berpamitan untuk melaksanakan sholat Jumat, sedangkan Yanti pergi ke arah perpustakaan di areal csmpus

Hari itu pembahasan di tempat kuliah, berkaitan dengan perkembangan sastra di Indonesia, dilanjutkan dengan Linguistik Bahasa Indonesia, dan berakhir sampai pukul 1630

Hari Sabtu sepulang Kuliah sebagaimana yang telah dijanjikan, Yanti mengajakku menyulusuri toko pakaian di Cihideung Tasikmalaya, Lama  menulusuri deretan toko-toko. Sebetulnya kesal juga, namung aku berusaha untuk sabar,tidak memperlihatkan muka suntuk.

“Sebetulnya pakaian apa yang kau cari ?”

“Ya sabarlah kak, nih ditoko ini pasti ada” sambil masuk ketoko Asia, akhirnya setelah menyusuri rak-rak pakaian Yanti, mengambil sebuah baju dan stelan roknya,

 “Ini bagus ya kak?”

“wow, bagus amat”  emang bagus pakaian itu corak warna yang menakjubkan  dan kainnya begitu halus, dan sempat kulirik  lebel harganya Rp 75.000,00, harga yang cukup mahal pada saat itu, gaji aku saja 1 bulan sebagai PNS dengan golongan II/a hanya   Rp 21.500,00, berarti kalau  beli pakaian seperti itu lebih dari 3 bulan gaji.

“Dia kan orang kaya?”

“Orang tuanya yang kaya, Yanti kan seorang mahasiswa, yang mendapat pasilitas dari orang tuanya.

Lamunanku tersentak Ketika Yanti memegang tanganku mengajak keluar setelah bayar di kasir.Diajaknya aku untuk ketempat baso, sebagaimana kebiasaan Wanita yang setiap berpergian tak lupa jajan baso, aku sih ikut juga meskipun, tidak biasa makan baso, yah hitung hitung menyenangkan Yanti

Naik angkot, di perempatan Padayungan aku berpisah Yanti menuju tempat kosnya  dekat Campus UNSIL, sedangkan aku menuju rumah kakaku tempatku menginap.

Hari minggu pagi bertemu di UNSIL, ia menghampirimu sambal senyum.

“Ada apa sih, senyum senyum tak karuan?”

“Hemmh aneh, pikirku

Ikh Judes amat, kaya kesurupan, jangan lupa nanti pulang Bersama”, Dia langsung pergi mencari tempat duduk, tak menunggu jawabanku, hanya yang aku herankan biasanya Yanti pulang 1 bulan 1 kali, kadang beberapa bulan tak pulang. Hemmh aneh, pikirku

Terlihat Dosen kebahasaan masuk ruangan, perkuliahan berakhir sampai pukul 10.00, Hari itu Cuma satu mata kuliah, dosen-dosen yang lainnya yang ada jadwal kuliah hari itu tidak hadi, jadi bisa pulang masih pagi.

Naik angkot naik bis, menikmati perjalanan sambal ngobrol, tentang kuliah tentang kehidupan keluarga dan kadang menyinggung tentang pribadi, senang juga ngobrol dengan Dia, orangnya bebas, kadang diselingi ketawa lepas, yang kadang membuat orang yang duduk berdekatan sering melirik. Akhirnya  sampai juga dipemberhentian bis di daerah Cikawung Ading  Nyebrang sungai kecil naik eretan, berjalan menyusuri jalan kecil, kanan kiri semak semak yang kadang merintangi perjalanan, 25 menit perjalan sebelum sampai di pinggir sungai dekat muara, Yanti berjalan dengan lincahnya diselingi percakapan, dan ketawa-ketawa kecil.

“Biasanya kan Yanti pulang 1 bulan 1 kali, bahkan sampai 2 bulan?”

“Kan sekarang ada kakak yang mengawal Yanti?”

“Emangnya aku pengawalmu?”

“Maunya apa, kekasihmu gitu?”

“yah terserahmu lah”

“Anggap saja, kita kekasih” Yanti menyela seolah tanpa beban, sedangkan mukaku agak memerah.

Hemmhh, gadis sableng, gadis berani, timpalku di dalam hati. 

BACAAN LAINNYA

Sampai juga di penyebrangan setelah memanggil perahu yang biasa menyebrangkan orang, dengan hati hati aku meghampiri perahu dan akhrinya menyebrangi sungai yang memang cukup luas. Saelang 10 menit berjalan sampai juga di depan rumah Yanti, rumah yang cukup besar, ada kesan mewah dengan penataan halaman yang begitu indah.

“Sini mampir dulu jangan dulu ke wisma, istirahat dulu, sambal menunggu si Bibi masak, kita makan Bersama” Kata yanti

Sebetulnya aku enggan singgah, mau cepat sampai, tapi ibu \Yanti menghampiri, dan agak memksa dengan bahasa yang ramah, kuturuti juga kurang enak kalau aku menolak. Makan bersama, ngobrol-ngobrol kecil dengan Bu Haji dan Pak Haji ibu dan ayah Yanti. Aku berpamitan, tapi Yanti nanti sore mengajak aku menghabiskan hari minggu menikmati pemandangan menyaksikan cahaya  Mentari di sore hari dan deburan ombak lautan. Perjalanan kira 10 menit sampai juga di wisma guru SD Karangmulya, ganti pakaian rebahan di Kasur tapi sulit mata untuk terpejam.

Aku membisu sendiri terasa ada guncangan kecil di hatiku, guncangan itu lebih merupakan kekecewaan yang tak berujung, karena dikhianati tapi merasa diri tak bersalah.

Aku harus bangkit-bangkit dari relung-relung penghianatan seorang wanita. Memang  cinta saja tidak cukup, apa sih yang diharapkan, dari aku hanya guru SD. Cinta telah sepakat untuk tidak saling menyakitkan, biarlah dia-dia yang telah dianggap kekasih telah berhianat, tapi aku – aku harus bangkit menata kehidupan. Rasa suka yang melimpah bisa naik ke langit, kadang tercurah ke bumi dengan dahsyat, dan menimbulkan rasa nyeri dan sakit hati.

          Yanti ?  Dia memberikan sinyal, tapi dia tak boleh jadi kekasihku apalagi untuk calon istriku. Tak mungkin-tak mungkin tak sepadan dia dari keluarga kaya, masa harus bersuamikan Guru SD yang gajinya paspasan. Apa lagi jika ingat waktu ngantar beli pakaian, satu stel saja pakaiannya 3 kali lipat gajiku, ngeri aku dibuatnya.

          Tapi Dia Cantik?

Tidak… Tidaaakkk, aku tak boleh jatuh cinta pada Yanti

“Dia kaya”

“Orang tuanya yang kaya

“jangan jangan manfaatkan dia”

“Emang salah, kalau mengharapkan dia, jangan bodoh Dia sudah mulai memberi sinyal, apa lagi nanti sore mau menikmati tenggelamnya cahya matahari.

“Ungkapkan bodoh ungkapkan !”, suara hatiku terus untuk menghasut aku agar aku jadian dengan Yanti

“Jangan-jangan biarlah dia menikmati keceriaan tanpa diembel-embeli rasa cinta. Anggap saja dia adikmu, itu saja sudah cukup. Jangan jadikan dia pelarian karena kau dihianati kekasihmu !” .

Akhirnya aku bertekad untuk melakukan kebaikan pada  Dia, tapi tak boleh aku jadikan dia sebagai kekasih. Lamunanku buyar bersamaan suara adzan ashar, aku mandi lakukan sholat ashar dan ganti pakaian untuk santai.

Ringan rasanya beban hatiku setelelah sholat ashar. Aku bertekad dalam hatiku bahwa kebaikan itu ibadah. Kebaikan datangnya dari Allah, maka perlunya kita berbuat  kebaikan agar disayang Allah.

Ya kebaikan adalah ibadah, maka janganlah berbuat hal yang tidak baik karena nanti akan mencemari kehidupanmu, kalau sudah tercemar akan menjadikan dirimu kotor.

Suara halus ketukan pintu, tak salah lagi Yanti sudah datang untuk menikmati cahya matahari di tepi pantai. Ku sambut dan langsung berjalan menuju Bukit Karang Bayawak. Duduk dibawah pohon rindang cari tempat yang tertinggi dari bukit itu, pandangan diarahkan ke Barat, arah matahari tenggelam. Terasa waktu merayap seperti bermain dengan angin, angin yang ramah membawa kehidupan.

“Kak begitu sejuk ya rasanya tiupan angin sore ini?”

“Tapi angin yang datang akan segera pergi mendera dari lembah ke lembah, tuh sekarang angin sedang mengelus pantai kebiruan laut”.

“Kok kaya manusia angin bisa mengelus”

“Ya iya lah,  tuh lihat sekarang angin nakal lagi menyingkap betismu”

“Ikh Kaka nakal sih” terlihat mukanya yang memerah sambil membetulkan roknya yang tersingkap.

Cahaya keemasan mulai ditaburkan di langit, seperti hamparan permadani yang memenuhi rongga bumi, warna-warna yang samar layaknya lukisan yang penuh misteri, ada kilauan cahaya terang seperti bersaing dengan malam, anginpun mulai senyap singgah dengan tiupan halus menyisir pepohonan. Hari terasa semakin menua bayangan alam seperti silhuet di ujung senja.

“Subhanalloh indah banget tuh mentari yang mulai tenggelam?” yanti berguman penuh kekaguman.

“Ya tapi keindahan tidak akan abadi”.

“Tapi setidaknya kita bisa merasakan saat keindahan itu ada”.

“Jika keindahan itu telah tiada?”

“Cari lagi yang masih ada” Yanti menjawab dengan jawaban ringan tapi berbekas dalam pikiranku.

“Yan, kamu baik cantik?” aku bicara setelah berguman.

“Kalau aku tak cantik, kakak gak mau temani aku?”

“bukan itu maksudnya sebaiknya kau harus sudah punya pacar”.

“kakak sendiri?” Yanti balik bertanya, membuat aku mati kutu tak mampu menjawabnya.

“kau sendiri mungkin sudah mendengar cerita hidupku, jadi aku tak punya pacar”

“Kalau aku jadi pacarmu?”

“Aku gak bakal mampu menghidupimu, beli pakaianmu saja harus 3 kali lipat gajiku”.  Yanti tertawa kecil, sambil menggoyang-goyangkan kepalanya.

“ Oh rupanya ini yang membuat kaka banyak terdiam waktu pulang kemarin, itu pesenan anak bibiku yang sebaya denganku dan ukuran badannya sama denganku, tak bakalan aku beli pakaian semahal itu, walau ada uang sekalipun, Aku anak Desa kak, meskipun orang tuaku kaya, tapi aku sedikit coba cari uang halal  kecil kecilan, selain baju yang mahal itu kan aku beli beberapa potong pakaian untuk anak anak, yah sedikit cari lebihnya.

Rupanya aku salah sangka, ternyata dia gadis baik yang mau mandiri  tak mengandalkan orang tua.

“Itu kak yang membuat aku selalu pulang sehabis kuliah, sebetulnya untuk memenuhi pesanan penduduk di sekitarku yah cari untung  sedikit, buat uang jajan dan keperluan kuliah” dia berbicara sambal tertawa kecil.

Aku mulai kagum, prasangka -prasangka buruk terhadapnya mulai hilang, yang ada dibenakku Ia gadis desa yang luar biasa, mana ada pada waktu itu anak-anak desa yang mau kuliah,  sampai SMP saja sudah untung, malah kebanyakan hanya cukup lulus SD.

”Kak-kak tuh lihat matahari mulai ditelan laut” Yanti membuyarkan lamunanku.

Sedikit sedikit mentari seolah tenggelam dari permukaan laut,  suatu keindahan yang tiada tara. Begitu sunyi hidup berebut dengan senja, kebiruan langit mulai dipoles kehitaman alam yang mulai kelam.

Beranjak aku bangun untuk pulang.

“Kak besok Senin kan hari libur, acara mau kemana?”

“Hari libur?” Aku baru ingat bahwa bsok tanggal merah

“Kalau mau nanti malam pamanku mau ambil udang di muara, kebetulan sekarang musim udang, malah nanti malam kan bulan Purnama, aku mau ikut, kalau kakak ikut, yah di pantai saja nunggu udang dan menikmati nasi liwet. Mau ya kak yah? Seolah-olah dia tak memberikan kesempatan untuk aku menolaknya.

“Emmhh gimana ya?”

“Ya maulah kan kakaku yang baik ” Yanti merayu untuk  mendesakku.

“Yaaa maulah, aku mengiyakan sambal tertawa.

Terlihat muka Yanti begitu ceria, Dia kelihat kegirangan.

“Pokoknya ditunggu, nanti sesudah magrib sholat isa ditempatku sesudah isa kita dengan paman dan beberapa orang langsung berangkat”.

“ Yah, apa sekarang harus ku antar pulang?”

“ Gak usahlah kaya jauh saja, tapi awas nanti kalau tidak datang” Sedikit dia mengancam,  sambil terus tinggalkan aku menuju rumahnya.

“Sudah sembahyang magrib aku langsung menuju rumah Yanti. Bercakap, cakap dengan orang tua dan keluarga yang lainnya, sambil menunggu waktu isa. Selesai sembahyang isa ada 3  orang yang Bersama Paman yanti, Putra Pamannya, dan 2 orang lainnya, aku dan rombongan berjalan sampai penambatan perahu, 2 orang ikut paman sedangkan aku dan seorang lagi tukang kebun ayahnya Yanti berjalan mengarah kedekat muara mencari tempat yang tepat, Kang Rusdi panggilannya, mempersiapkan tempat membuat liwet.

“Kerja kita apa Ya?”

“Kita cari tempat duduk saja sambil menunggu paman datang dan Nasi liwet masak?”

“Wah enak banget, duduk ngobrol ditemani gadis cantik, disediakan nasi liwet, bakar ikan dan Udang”

“Hemh mulai gombal”

“ Siapa gombal, emang kamu tidak merasa cantik”

“tuh mantan pacar kakak yang cantik”

“Hemmhh cantik cantik berhianat, aku bicara setengah mengeluh.

“Sudahlah duduk di sini, aku sengaja bawa tikar buat duduk”

“Sambil pacarana bolah engga?” Aku menggodanya.

“Siapa yang mau pacarana?” Dia bicara sambil ketus memonyongkan bibirnya.

Duduk berdua nikmati cahya bulan yang mulai terang, seperti ada cahya Ajaib yang turun dari langit, menangkap kilatan cahya ombak yang menaburkan kristal putih di tengah laut. Rasanya aku tak pernah menorehkan penaku untuk membangun sebuah kisah, aku hanya bisa mnorehkan pena mengungkap sebuah kisah kesedihan karena penghianatan. Tapi sekarang aku betul betul merasa senang.

”Jangan bodoh kau !”, suara hatiku menyentak malah mendorong aku untuk  bicara. “Sekarang waktunya kau berkata, gadis itu menantikanmu untuk bicara, sekarang waktunya, kau tak sadar dia telah memberikan sinyal sinyal kebaikan agar kau mengungkapkannya”.

“Tidaaak, tidaaak, telah dua kali aku dihianati kekasih ” seolah-olah aku berontak.

“Jangan dungu kau, dia gadis baik tak mungkin berhianat”

“Kalau berhianat ?”

“gak bakalanlah asal kau pandai menjaganya”

“:Kakak melamun ya” Yanti mengejutkan aku, aku senyum cengengesan merasa malu ketahuan melamun.

“Yanti gak merasa risi ajak aku?”

“Emang kenapa? Justru aku mersa bangga berteman dengan Bapak Guru, ingat Kakak itu seorang guru yang cukup dihormati di daerah ini, siapa sih yang tak bangga bisa ngobrol sama kakak, bisa berteman dengan kakak, kakak orang baik pintar lagi kan kalau ada tugas kuliah aku selalu mengcopy dari kakak.”.

Harga diriku merasa terangkat, tersanjung diriku rasanya,  keberanianku mulai bangkit.

“Kakak temanku yang sangat baik selama ini”

“Kalau bukan teman?” aku mulai mengatur setrategi pembicaraan

“Kalau bukan teman ya, mungkin bisa jadi pacar?”  Yanti bicara seolah olah tanpa beban, sambil – senyum senyum.

“Yaitu harus jadi” Jawabku singkat aku memberanikan diri sambal menatap dia

Gadis itu  menatap lembut ke arahku, seolah-olah tak percaya apa yang ku katakana.

“Betulkah itu kak, atau kakak hanya bercanda”.

“Memang kamu mau jadi pacarku?”

“Aku tak pernah main main dengan cinta, tapi aku sering dihianati dalam cinta”.

“Kak sudah lama aku menunggu  perkataan itu” Dia berbicara dengan menunduk, ada binar air mata di pipinya, mungkin  air mata kegembiraan.

“Sudahlah tak perlu menangis, kaya anak TK minta peremen saja” Dia menyeka air matanya dan mengembangkan seulas senyuman. Begitu manis senyuman itu terasa dadaku bergetar perlahan seperti dawai gitar yang dipetik perlahan.

Ini entah purnama keberapa aku berada di Daerah citoe, ini purnama yang istimewa, saat aku mendapatkan ganti kekasih yang telah berhianat. Malam ini Yanti resmi jadi pacarku. Seperti daun tertiup angin gemetar, ada goncangan harapan dalam hidupku. Kalau aku mengingat yang sudah-sudah berarti mundur ke belakang, suatu hal yang tak akan sampai-sampai.

Cahya bulan makin terang, laut tenang dihadapan kami seperti tak suka menghempaskan ombak.

”Heeemmmh…! Kita jadi sepasang kekasih dong kak?”

“Ya kita mulai mengarungi lautan cinta”?

“Cinta?” suara Yanti sayup tersipu ombak.

”Betul cinta  adalah kehidupan, tapi hidup tak boleh berhenti dalam cinta, Cinta memang selalu bergerak, cintalah yang menggerakkan kehidupan”

“Maksudnya kak?”

“Cinta menuntut kenyataan, kenyataan adalah harapan yang terwujud”.

“Ada harapan yang terwujud dalam kehidupan, ada pula harapan  yang terwujud di balik kehidupan”.

“Di balik kehidupan?” Maksudnya, Yanti semakin tak mengerti

“Ya di balik kehidupan, ada kehidupan lain setelah mengalami kematian”.

“Kematian?” Bukankah kematian itu akhir kehidupan?”

“Bukan-bukan, kematian adalah gerbang menuju kehidupan lain, merasakan siksa kubur atau nikmat kubur, sebelum dibangkitkan dan dikumpulkan di alam mashar, sampai kita di sambut  di  surga atau di lemparkan ke dalam  neraka yang cukup mengerikan dan menyakitkan, semua urusan kita akan diselesaikan di sana, dengan hakim yang maha adil dan ditimbang seadil adilnya.

“Wow ngeri kalau dengar kata neraka” Yanti berkata lirih sambil menggoyangkan lehernya.

“Makanya mari berlomba menanam kebaikan dalam kehidupan sekarang”

Percakapanku terputus dengan panggilan Mang Rusdi, ternyata Paman, putranya dan 2 orang temannya telah menepi, dekat perapian, malah terlihat tumpukan ikan  dan Udang telah dibakar, tinggal dibubuhi kecap dan cabe. Lahap rasanya makan pada malam itu, diterangi nyala api dan cahya bulan yang cukup terang. Apa lagi di sisiku ada Yanti yang telah resmi jadi kekasihku. 08 April 1988 itulah yang tercatat dalam buku harianku          KLIK DI SINI


(BERSAMBUNG KE BAGIAN 4)

Featured Post

HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA

KHARAMAH HABIB ALHABSYI:  BISA DENGAR SUARA TASBIH DAN BENDA MATI HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA Habib Ali Alhabsyi nama lengkapnya H...