BERANDA

Sabtu, 31 Agustus 2024

6 PAKAIAN ADAT SUNDA YANG CUKUP INDAH DAN SAAT YANG TEPAT UNTUK PEMAKAIANNYA

6 PAKAIAN ADAT SUNDA  YANG CUKUP INDAH 
DAN SAAT YANG TEPAT UNTUK PEMAKAIANNYA

Pakaian adat Sunda  merupakan busana yang biasanya dipakai pada saat-saat atau perayaan tertentu. Di Indonesia, pakaian adat digunakan ketika perayaan Kemerdekaan Indonesia, perayaan hari jadi sebuah instansi, acara pernikahan, dan upacara adat lainnya”. (Dikutip dari e-journal UAJY)
6 PAKAIAN ADAT SUNDA YANG CUKUP INDAH  DAN SAAT YANG TEPAT UNTUK PEMAKAIANNYA

rajasastra-us.blogspot.com  “Pakaian adat Sunda  merupakan busana yang biasanya dipakai pada saat-saat atau perayaan tertentu. Di Indonesia, pakaian adat digunakan ketika perayaan Kemerdekaan Indonesia, perayaan hari jadi sebuah instansi, acara pernikahan, dan upacara adat lainnya”. (Dikutip dari e-journal UAJY)

Pakaian adat Jawa Barat memiliki keindahan dan keunikan tersendiri yang mencerminkan warisan budaya dan sejarah yang kaya. Salah satu pakaian adat yang terkenal di Jawa Barat adalah kebayanya. Kebaya biasanya terdiri dari atasan dengan lengan panjang yang biasanya dihiasi dengan tenun tradisional dan sulaman indah.Atasan kebaya sering dipadukan dengan rok batik atau selendang. Perhiasan tradisional seperti gelang, kalung, dan anting-anting juga sering menjadi bagian penting dari pakaian adat ini.Pakaian adat ini tidak hanya memancarkan keanggunan, tetapi juga nilai-nilai budaya yang mendalam dan sering kali digunakan dalam berbagai upacara adat, seperti pernikahan, pertunjukan seni, dan perayaan budaya. Pakaian adat ini menjadi simbol kebanggaan dan identitas masyarakat Jawa Barat, serta terus dilestarikan untuk generasi mendatang.

6 Pakaian Adat Sunda dan Contonya

1. Pangsi

baju pangsi adalah sebuah pakaian adat Sunda. Pangsi berupa seperti kemeja polos yang biasanya longgar. Celana yang digunakan juga longgar dengan panjang yang tidak melebihi mata kaki. 

Pangsi adalah sebuah pakaian adat Sunda Pakaian adat pangsi ini terdiri dari sebuah baju panjang yang longgar dan celana, biasanya berwarna serba hitam, dari baju hingga celananya. Baju atasannya berupa kemeja dengan kerah tegak dan celana kain panjang yang longgar. Biasanya dipadukan juga dengan jarik yang ditekuk pendek sepaha yang dilingkarkan pada bagian pinggang.

Pangsi bukan hanya sekedar pakaian adat, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah Jawa Barat. Pakaian adat ini memiliki makna kesetiaan dan perdamaian. Pakaian ini sering digunakan dalam acara-acara penting seperti pernikahan atau upacara adat lainnya. 

2. Kebaya Sunda

Kebaya Sunda juga memiliki desain yang sama seperti kebaya lainnya. Namun, terdapat beberapa hal yang membedakan kebaya Sunda dengan kebaya lainnya. Pakaian ini memancarkan keanggunan dan keindahan dalam setiap detailnya. Kebaya Sunda biasanya terdiri dari baju atasan dengan lengan panjang yang panjangnya menutupi pinggul dengan kerah U Neck. Bahan-bahan berkualitas tinggi seperti sutra atau kain katun dipilih untuk membuat kebaya Sunda dengan warna yang cenderung cerah dan memikat. Seperti merah, biru, atau kuning. Kebaya Sunda sering dipasangkan dengan kain batik yang indah dan diperindah dengan perhiasan seperti kalung, gelang, atau anting-anting.

Kebaya Sunda juga memiliki desain yang sama seperti kebaya lainnya. Namun, terdapat beberapa hal yang membedakan kebaya Sunda dengan kebaya lainnya. Mulai dari kerah kebaya yang berbentuk U, bagian bawah kebaya didesain lebih panjang untuk menutupi pinggul dan paha, hingga menggunakan warna-warna yang cerah.

3. Bedahan

 


Bedahan adalah pakaian adat Jawa Barat. Pakaian ini biasa digunakan oleh kaum menengah. Umumnya yang berprofesi pedagang atau saudagar”. (Dikutip dari ISBI Bandung)

Berbeda dengan pangsi, bedahan memiliki warna yang lebih cerah, seperti merah dan putih. Bedahan terkesan lebih mewah dan elegan. Untuk bawahannya, biasanya dipadukan dengan kain kebat batik bermotif.

Selain itu, pakaian adat dari Jawa Barat ini dilengkapi dengan beubeur, penutup kepala, dan sandal tarumpah. Kamu pun bisa juga menambahkan aksen bros sebagai pemanis.

4. Menak

Menak merupakan pakaian adat Jawa Barat yang biasanya dikenakan oleh kalangan bangsawan, Dengan tampilannya yang lebih elegan dan berkelas, menak memberikan kesan yang classy dan berwibawa. Baju adat ini berwarna hitam yang biasanya terbuat dari bahan beludru dan dihiasi dengan benang emas di sepanjang tepi baju.

Selain itu, dipadukan dengan celana hitam dan kain kebat bermotif batin yang dilingkarkan di bagian pinggang sepanjang paha. Sedangkan untuk wanitanya, dipadukan dengan kain jarik batik. Untuk pria, terdapat tambahan blankon di bagian kepala.

Baca juga 

5. Mojang Jajaka

 

Pakaian adat Jawa Barat. Foto: Istimewa

Mojang dalam bahasa Sunda memiliki arti gading, sedangkan jajaka berarti laki-laki yang belum menikah. Pakaian adat Mojang Jajaka memiliki desain seperti pasangan karena menggunakan warna yang senada.

Pakaian mojang jajaka pada laki-laki biasanya menggunakan jas dan celana berwarna senada dengan aksesoris topi. Untuk perempuan, biasanya menggunakan kebaya berwarna senada dengan yang digunakan laki-laki dan bawahan yang bermotif batik.

Mojang berarti wanita yang belum menikah, sedangkan jajaka berarti laki-laki yang belum pernah menikah. Sehingga, baju adat ini biasanya dipakai oleh para muda mudi pada suatu acara formal. Pakaian adat untuk laki-laki terdiri dari beskap berwarna polos seperti hitam, merah, putih, dan lainnya dengan kerah berdiri.

Lalu dipadukan dengan celana berwarna senada dengan atasannya. Kemudian, ditambahkan dengan kain batik sepaha yang dililitkan pada pinggang, serta bendo untuk penutup kepala.

Sedangkan, pakaian wanita terdiri atas kebaya yang berwarna serasi dengan pakaian jajaka, serta diberi perhiasan sebagai pemanis, seperti bros, gelang, dan lainnya. Untuk bawahannya, dipadukan dengan kain kebat batik yang memberi kesan anggun dan feminim.

6. Kebaya Pengantin

 

Banyak para pengantin yang memakai baju adat Jawa Barat sebagai busana impiannya. Dimana, pakaian pengantin laki-laki terdiri atas jas buka prangwedana berwarna serasi dengan kebaya pengantin wanitanya. Busana pengantin laki-laki ini memiliki makna kewibawaan dan kejantanan.

Atasan ini dipadukan dengan celana panjang yang juga diberi tambahan kain batik yang dililitkan di pinggang pada lapisan atas celana. Selain itu, pengantin laki-laki harus memakai bendo dengan aksen batu permata di tengahnya dan keris beserta sarungnya. Sedangkan untuk busana pengantin wanita memakai kebaya brokat berwarna cerah yang dipadukan dengan kain batik sido mukti atau lereng eneng prada sebagai bawahannya. 

Tampilan pengantin wanita dipercantik dengan perhiasan kalung, gelang, dan anting permata yang indah dan berkilau.Selain itu, yang menjadi ciri khas baju pengantin jawa barat adalah adanya mahkota yang biasa dikenal dengan sebutan Siger. 

Itu dia beberapa pakaian adat khas Jawa Barat yang memiliki makna mendalam dan sebagai warisan budaya Nusantara yang harus tetap dilestarikan. KLIK DI SINI

SEJARAH DAN WUJUD BUDAYA SUNDA YANG SANGAT PENTING DIKETAHUI

 SEJARAH DAN WUJUD BUDAYA SUNDA 
YANG SANGAT PENTING DIKETAHUI

SEJARAH DAN WUJUD BUDAYA SUNDA  YANG SANGAT PENTING DIKETAHUI
SEJARAH DAN WUJUD BUDAYA SUNDA  YANG SANGAT PENTING DIKETAHUI

rajasastra-us.blogspot.com Sejarah dan wujud Budaya Sunda perlu kita ketahui, hal ini berkaitan pentingnya wawasan kita tentang kehidupan Suku  dan budaya yang dimiliki Bangsa di Indonesi yang tersebar di seluruh wilayah dari Sabang hingga Merauke. Suku-suku tersebut sudah ada sejak dahulu kala, bahkan sebelum masehi dan berkembang hingga detik ini. Salah satu suku besar yang ada di negara kita adalah Suku Sunda yang mayoritas mendiami daerah Jawa Barat dan Banten. Bahkan saking besarnya, menurut sensus penduduk yang dilakukan  menyatakan bahwa populasi suku Sunda di Indonesia mencapai juml terbesar kedua setelah suku Jawa Meskipun mayoritas suku ini ada di sebelah barat Pulau Jawa, tetapi persebarannya mencapai wilayah Lampung hingga Jakarta juga. 

Sejarah dan wujud Budaya Sunda perlu kita ketahui Bagaimana sih asal-usul dari suku Sunda itu? Bagaimana pula wujud kebudayaan dan kesenian dari suku yang kerap disebut sebagai Tatar Pasundan ini? Supaya  tidak penasaran akan hal-hal tersebut, mari kita  simak ulasannya berikut ini!


Materi Pembahasan:

A. Mengenal Suku Sunda Lebih Dekat

        1. Mata Pencaharian

         2. Sistem Kekerabatan

B. Sejarah Singkat Suku Sunda

C. Wujud Kebudayaan Suku Sunda

        1. Berwujud ide atau Konsep

            a. Sunda Wiwitan

             b. Latrangan-larangan

             c. Indung Beurang

         2. Berwujud Tindakan Atau Aktivitas

             a. Bahasa Sunda

             b.Upacara Pernikahan

                1). Sebelum Pernikahan

                2). Pernikahan

                3). Setelah Pernikahan

                 4). Tradisi Ruwatan

             3. Berwujud hasil Karya Manusia

                  a. Karya Sastra

                  b.Kesenian

                  c.Kategori Sosiologi

                  d. Materi Sosiologi


A. Mengenal Suku Sunda Lebih Dekat

Populasi suku Sunda alias Tatar Pasundan ini paling banyak ada di Jawa Barat. Yap, wilayah yang memiliki luas mencapai 4.417.000 ha atau sekitar 35% dari luas Pulau Jawa dan Madura ini memang telah lama menjadi kampung halaman para masyarakat suku Sunda. Jika masyarakat pada umumnya menyebut suku ini dari Jawa Barat, maka masyarakat suku Sunda sendiri justru menyebut wilayahnya dengan istilah Tatar Sunda alias Dataran Sunda. Tatar Sunda maksudnya adalah wilayah (tanah; tatar) yang meliputi bagian barat dari Pulau Jawa, dengan batas sebelah Timur adalah Sungai Cimapali (sampai akhir abad ke-16 saja). Sementara itu, batas sebelah Tatar Sunda adalah laut yang memisahkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera, yakni Selat Sunda.

Sementara itu, masyarakat Sunda lebih menyebut dirinya sendiri sebagai urang Sunda. Dalam bahasa Sunda, kata “urang” berarti ‘orang’. Yap, secara etimologis, kata “Sunda” yang berasal dari kata ‘su’ berarti segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan. Sedangkan menurut bahasa Sansekerta, kata “Sunda” terbentuk dari kata ‘Sund’ yang berarti bercahaya dan terang benderang. Ada juga dari bahasa Kawi yang menyebutkan bahwa kata “Sunda” ini bermakna ‘air, daerah yang banyak air atau subur, waspada’.

Istilah “Sunda” pun juga ditemukan dalam buku berjudul The Hammond World Atlas yang diterbitkan oleh majalah Time pada tahun 1980. Kala itu, Sunda Islands (Kepulauan Sunda) digunakan untuk menyebut seluruh kepulauan yang ada di Nusantara ini. Bahkan ketika zaman penjajahan lalu, pihak Portugis dan Belanda pun membagi wilayah Nusantara ini menjadi 2 gugusan kepulauan, yakni Kepulauan Sunda Besar dan Kepulauan Sunda Kecil.

1. Mata Pencaharian

Grameds pasti sudah tahu bahwa sebagian besar wilayah Jawa Barat ini penuh dengan area perkebunan, terutama kebun teh. Itulah mengapa, masyarakat suku Sunda umumnya memiliki mata pencaharian sebagai petani alias bercocok tanam, karena kebanyakan masyarakatnya memang enggan merantau atau hidup terpisah dengan kerabatnya.

Kian hari, masyarakat suku Sunda pun beradaptasi dengan kecanggihan zaman dengan beralih profesi yakni mendirikan usaha percetakan, cafe, hingga warung mie instan (Warmindo) dan bubur kacang ijo (Burjo). Nyatanya, keberadaan Warmindo dan Burjo ini justru laris diminati oleh masyarakat dan bahkan telah menyebar di seluruh wilayah Pulau Jawa, terutama di sekitar daerah kampus.

2. . Sistem Kekerabatan

Pada dasarnya, setiap suku di Indonesia ini memiliki sistem kekerabatan yang berbeda-beda. Nah, pada suku Sunda ini sistem kekerabatan lebih bersifat bilateral alias garis keturunan dapat ditarik dari pihak Ayah maupun Ibu. Hampir sama dengan sistem keluarga lainnya, Ayah akan bertindak sebagai kepala sekaligus pemimpin keluarga. Untuk menyebut hubungan kekerabatan, baik secara vertikal maupun horizontal, suku ini menggunakan sistem Pancakaki.

B. Sejarah Singkat Suku Sunda

Dilansir dari Sejarah Suku Sunda yang ditulis oleh Roger L. Dixon pada tahun 2000, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang tahu pasti kapan, darimana, dan bagaimana masyarakat suku Sunda awal menetap di wilayah Jawa Barat. Kemungkinan terjadi pada abad pertama masehi, yang mana terdapat sekelompok kecil suku Sunda tengah menjelajahi hutan-hutan pegunungan dan melakukan tradisi tebas bakar untuk membuka hutan.

Bahkan menurut sejarawan Bernard Vlekke, menyebutkan bahwa pada abad ke-11, wilayah Jawa Barat justru menjadi daerah yang paling terbelakang di Pulau Jawa. Sementara kerajaan-kerajaan besar bangkit di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, tetapi di Jawa Barat hanya sedikit yang berlaku demikian. Jika membahas tentang pengaruh Hinduisme bagi masyarakat Sunda, maka jawabannya adalah adanya pengaruh dari Jawa. Meskipun sejarah besar yang masih diingat oleh masyarakat Sunda dan Jawa adalah Perang Bubat, yang terjadi antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda, tetapi tetap saja tidak menutup kemungkinan bahwa Jawa banyak berpengaruh pada kehidupan suku Sunda.

Sebelum Belanda datang ke Indonesia pada 1596, agama Islam telah berpengaruh secara dominan di masyarakat Sunda, bahkan di antara kaum ningrat dan pemimpin masyarakat. Hal yang menonjol dari sejarah suku Sunda adalah hubungan mereka dengan kelompok-kelompok lain. Secara historis, suku Sunda tidak memainkan suatu peranan penting dalam urusan-urusan nasional. Beberapa peristiwa yang sangat penting telah terjadi di Jawa Barat tetapi biasanya peristiwa-peristiwa tersebut bukanlah kejadian yang memiliki karakteristik Sunda.

BACAAN LAINNYA:

C. Wujud Kebudayaan Suku Sunda

Menurut Koentjaraningrat (1990), definisi dari kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang dilakukan dalam rangka kehidupan bermasyarakat untuk dijadikan sebagai milik sendiri dengan cara belajar. Singkatnya, kebudayaan itu pastilah memiliki 3 perwujudan yakni gagasan atau ide, tindakan atau aktivitas manusia, dan hasil karya manusia yang dapat dilihat secara kasat mata. Masyarakat suku Sunda tentu saja memiliki 3 perwujudan kebudayaan tersebut dan masih eksis hingga sekarang ini. Nah, berikut uraiannya!

1. Berwujud Ide Atau Konsep

     a. Sunda Wiwitan

Pada dasarnya, Sunda Wiwitan ini adalah bentuk kepercayaan atau agama lokal yang berkembang di Tanah Pasundan. Sama halnya dengan agama lokal lainnya yang begitu melekat pada sistem kepercayaan berdasarkan tradisi leluhur, pandangan hidup, dan praktik persembahan yang dilakukan oleh masyarakat tertentu. Nah, dalam kepercayaan Sunda Wiwitan ini, masyarakat mempercayai adanya kehadiran kekuasaan tertinggi yang disebut sebagai Sang Hyang Kersa atau Gusti Sikang Sawiji-Wiji (Tuhan yang Satu atau Tunggal).

Menurut kepercayaan suku Sunda, Sang Hyang Kersa hidup di tempat yang tinggi dan agung yakni Bhuana Agung atau Buana Nyungcung. Kepercayaan ini juga setidaknya memiliki 3 lapisan kosmologis dunia yaitu Buana Agung yang merupakan tempat Gusti Sikang Sawiji-Wiji berada; Panca Tengah sebagai tempat manusia dan binatang hidup; Buana Larang sebagai tempat roh-roh jahat bersemayam.

Selain itu, Sunda Wiwitan juga memiliki konsep peranan hidup manusia yang dianut oleh suku Sunda, yaitu Tri Tangtu. Pada konsep Tri Tangtu ini mengacu pada pandangan akan konsepsi keseimbangan peneguh dunia dan dilambangkan dengan Raja sebagai sumber wibawa. Rama sebagai sumber ucap (yang benar), dan Resi sebagai sumber tekad (yang baik).

Pusat dari kepercayaan Sunda Wiwitan ini adalah Kerajaan Padjajaran yang dalam perkembangan zaman ini justru semakin menghilang. Namun, kemudian terbagi menjadi beberapa jenis dengan ciri khas sejarah masing-masing, salah satunya adalah komunitas Agama Djawa Sunda (ADS) di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.

b. Larangan-Larangan

Sama halnya dengan masyarakat suku lain, pada suku Sunda ini juga memiliki nasihat yang berupa larangan-larangan secara turun-temurun dari nenek moyang. Tujuan dari larangan-larangan ini adalah keturunan mereka tidak sembarangan melakukan kesalahan atau bahkan melanggar sesuatu yang memang telah dilarang. Contoh larangan-larangan yang hingga saat ini masih melekat pada masyarakat suku Sunda adalah perkataan “Tidak boleh bermain di saat matahari tenggelam, nanti diganggu setan”, “Jangan makan makanan masam ketika matahari terbenam, nanti ibunya meninggal”, “Tidak boleh melangkahi padi, nanti akan mendapatkan penyakit yang disebabkan oleh setan”, dan masih banyak lainnya.

c. Indung Beurang

Di kehidupan sehari-hari, masyarakat suku Sunda begitu menghormati dan menjunjung tinggi kaum perempuan. Salah satunya dengan menjadikan sosok Ibu sebagai panutan dengan menyebutnya sebagai Indung. Sementara Ayah tidak memiliki sebutan yang lebih tinggi. Menurut Hasan Mustapa, “Siapa yang mendidik anak dari kecil, sekalipun bukan manusia, harus disebut indung (ibu)”. Hal ini juga hampir sama dengan ajaran Islam yang meminta kita menyebut Ibu terlebih dahulu, kemudian baru Ayah.

2.Berwujud Tindakan atau Aktivitas

     a. Bahasa Sunda

Grameds pasti tahu dong jika setiap daerah itu memiliki bahasa tersendiri sebagai identitas atau jati diri dari suku tersebut berasal. Nah, dalam suku Sunda pun memiliki bahasa khas yang termasuk dalam wujud kebudayaan aktivitas, yakni Bahasa Sunda. Pembelajaran Bahasa Sunda, baik secara lisan maupun tulisan telah diajarkan di lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.

Ditinjau dari buku-buku terbitan Balai Pustaka tentang Bahasa Sunda, bahasa ini terbagi menjadi beberapa tingkatan yakni kasar pisan (sangat kasar), kasar (kasar), sedeng (sedang), lemes (halus), dan lemes pisan (sangat halus). Tingkatan-tingkatan tersebut ternyata merupakan usaha feodalisme masyarakat Sunda setelah Tanah Pasundan di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Perkembangan bahasa Sunda ternyata sudah ada sejak abad Masehi, tepatnya sebelum tahun 1600 M. Secara garis besar, bahasa Sunda terbagi menjadi beberapa sejarah.

  • Sejarah bahasa Sunda masa I (sebelum tahun 1600 M)
  • Sejarah bahasa Sunda masa II (1600-1800 M)
  • Sejarah bahasa Sunda masa III (1800-1900 M)
  • Sejarah bahasa Sunda masa IV (1900-1945 M)
  • Sejarah bahasa Sunda masa V (1945-sekarang)

b. Upacara Pernikahan

Wujud kebudayaan yang berupa aktivitas dan tindakan manusia selanjutnya adalah Upacara Pernikahan yang lebih cenderung ke tradisi. Yap, masyarakat suku Sunda ketika hendak melangsungkan pernikahan, pasti harus melalui beberapa tahapan yang cukup panjang terlebih dahulu karena memang sudah menjadi tradisi warisan nenek moyang. Bahkan setiap tahapan-tahapan upacara pernikahan Sunda ini harus dipersiapkan secara matang dari jauh-jauh hari. Tahapan-tahapan upacara pernikahan suku Sunda ini terbagi menjadi 3 tahap yakni sebelum, saat, dan sesudah upacara pernikahan.

Bacaan lainnya:

1). Sebelum Pernikahan

  • Neundeun Omong, yakni perjanjian antara orang tua pihak laki-laki kepada orang tua pihak perempuan untuk melaksanakan pernikahan.
  • Ngalamar/Nyeureuhan/Nanyaan (Meminang), yakni orang tua pihak laki-laki akan meminta pihak (calon) pengantin perempuan. Caranya adalah dengan bertanya apakah si gadis masih dalam status bebas atau sudah bertunangan dengan orang lain.
  • Papacangan (Tunangan), yakni pihak perempuan dan laki-laki akan berdekatan secara sewajarnya untuk lebih mengenal satu sama lain, dengan tetap dalam pengawasan orang tua kedua belah pihak.
  • Seserahan, yakni menyerahkan pengantin laki-laki kepada calon mertuanya untuk dinikahkan kepada si perempuan. Upacara ini dilaksanakan 1-2 hari sebelum hari perkawinan dengan membawa barang bawaan berupa uang, pakaian perempuan, perhiasan, ditambah pula sirih, pinang, kue, beras, ternak, buah-buahan, kayu bakar, juga peralatan dapur dan rumah tangga.
  • Helaran (Iring-Iringan), yakni calon pengantin laki-laki beserta keluarga akan iring-iringan menuju ke rumah calon pengantin perempuan. Seolah akan menjemput calon pengantin perempuan.
  • Ngeuyeuk Seureuh (Menyiapkan Sirih Pinang), dilaksanakan pada malam hari sebelum hari pernikahan.
  • Siraman, yakni dengan memandikan calon pengantin pada sehari sebelum hari pernikahan.

2). Upacara Pernikahan

  • Akad Nikah (Ijab Kabul), yakni dengan diambilnya  ijab dan kabul dari calon pengantin pria dengan wali calon pengantin wanita serta penyerahan mas kawin sebagai tanda sahnya perkawinan.
  • Munjungan (Sungkem), yakni dilakukan oleh kedua mempelai kepada orang tua dan keluarga yang lebih tua sebagai rasa terima kasih serta memohon restu untuk membangun rumah tangga.
  • Sawer, yakni dilaksanakan di luar rumah yang dipimpin oleh juru rias atau juru sawer. Bahan-bahan yang disawer adalah: beras putih lambang kehidupan bahagia, kunyit lambang kemuliaan, bunga atau rampai lambang keharuman nama baik rumah tangga, uang logam lambang kekayaan, payung lambang kewaspadaan, sirih yang digulung berbentuk cerutu berisi gambir, kapur sirih, pinang, tembakau lambang keharmonisan suami istri, serta permen lambang manis budi dan ramah tamah.
  • Nincak Endog (Injak Telur), yakni melambangkan  cara berkomunikasi atau pergaulan suami istri dalam kehidupan sehari-hari.
  • Buka Pintu, yakni melambangkan percakapan antara kedua mempelai di dalam rumah yang mengandung nasihat dengan dipimpin oleh juru sawer.
  • Huap Lingkung (Saling Menyuapi), yakni dengan kedua mempelai duduk bersanding sambil menyuapi satu sama lain, sebagai tanda saling mencintai.

2) Setelah Pernikahan

  • Numbas, yakni upacara selamatan sebagai bukti mempelai wanita masih perawan dan mempelai pria adalah pria yang sehat. KLIK DI SINI
SUMBER BACAAN;

Sari, Devita Nela dan Risti Yuliana. (2015). Kebudayaan Suku Sunda. Institut Seni Indonesia Surakarta.

3 ULAMA BESAR INDONESIA YANG PERNAH JADI IMAM DI MESJID MASJIDIL HARAM MAKAH

3 ULAMA BESAR INDONESIA YANG PERNAH JADI IMAM  
DI MESJID MASJIDIL HARAM MAKAH

Jadi Imam Besar di  Masjidil Haram adalah suatu kehormatan dan suatu kebanggaan yang begitu besar. baik untuk negara maupun untuk pribadinya.

3 ULAMA BESAR INDONESIA YANG PERNAH JADI IMAM   DI MESJID MASJIDIL HARAM MAKAH

rajasastra-us.blogspot.com  Jadi Imam Besar di  Masjidil Haram adalah suatu kehormatan dan suatu kebanggaan yang begitu besar. baik untuk negara maupun untuk pribadinya. Karena hal ini suatu bukti bahwa Indonesia negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di Indonesia. ini telah membuktikan pada dunia di Indoesia banyak lahir Ulama yang keilmuannya tidak diragukan lagi Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Islam telah mengakar dalam tiap sendi kehidupan masyarakat Indonesia.

3 Ulama Besar pernah pernah jadi Imam Besar di Masjidil Haram Mekah,  itu bukti  kealiman ulama asal Indonesia juga sudah dikenal zaman dulu, termasuk di negara tempat pertama kalinya Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam, Makkah, Arab Saudi. Bukti adanya ulama Indonesia yang menjadi imam Masjidil Haram ini didasarkan pada  buku 25 Masjid Beribu Kisah via Islami.co, 

3 Ulama Besar Indonesia Yang Jadi Imam di Mesjidil Haram

Ulama besar tersebut adalah :

1. Syeikh Junaid Al Batawi

Foto syeikh Junaedi Al Batawi

Pandangan udara saat Umat Muslim melaksanakan salat menghadap Kakbah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Kamis (16/8). Jutaan umat Islam dari berbagai negara semakin memadati Masjidil Haram menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji. 

Syeikh Junaid Al Batawi ini lahir di Pekojan, Jakarta Barat. Beliau dikenal sebagai seorang pendidik yang tangguh. Hingga akhir hayatnya dihabiskan untuk mengajar.

Syeikh Junaid dikenal sebagai syeikhul masyayikh madzhab Syafii. Di antara muridnya yang kemudian masyhur adalah Iman Nawawi Al Bantani.

Syeikh Junaid Al-Batawi wafat di Makkah pada tahun 1840. Saat itu, beliau diperkirakan berusia 100-an tahun.

2. Syeikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Banta

foto Syekh Nawawi al Bantani

Syeikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani atau Syekh Nawawi Al Bantani dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815. Namanya masyhur hingga sekarang dengan karyanya yang banyak.

Di Mekah, beliau kembali memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya selama kurang lebih 30 tahun. Semakin hari semakin masyurlah hasil pemikiran Syeikh Muhammad Nawawi. Beliau juga menulis banyak kitab berbahasa Arab dan jadi rujukan khususnya dalam ilmu fiqih, di seluruh dunia.

Ketika menetap di Syi’ib ‘Ali, Mekah, Syeikh Muhammad Nawawi memiliki murid yang banyak dan berasal dari berbagai bangsa. Namanya kemudian tersohor sebagai Syaikh Nawawi al-Jawi al-Bantani. Puncaknya, ketika beliau ditunjuk sebagai pengganti imam Masjidil Haram.

Syeikh Nawawi meninggal di Makkah pada 1897. Beliau adalah guru ulama-ulama pesantren di Indonesia. Salah satu keturunannya saat ini menjadi Wakil Presiden yakni KH Ma’ruf Amin yang juga pernah menjabat Rais Aam PBNU.

3. Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi

Foto khatib Bin Abdul Latif al-Minang kabawi

Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi juga dikenal dengan nama Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Beliau lahir di Sumatera Barat, tepatnya di Koto Tuo, Agam pada 26 Juni 1860. Kecerdasan beliau sudah terlihat sejak kanak-kanak.

Ayahnya Syaikh Abdul Latif mengajaknya ke Mekah pada usia 11 tahun (1871) untuk menunaikan ibadah haji. Namun Ahmad tidak ikut pulang, ia tinggal di Mekah untuk menuntaskan hafalan Alqurannya.

BACAAN LAINNYA

Selain menghafal Alquran, Ahmad berguru dengan beberapa ulama di antaranya Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiy.

Kealiman Syeikh Ahmad Khatib dibuktikan ketika ia diangkat menjadi imam dan khatib sekaligus staf pengajar di Masjidil Haram.

Syeikh Ahmad Khatib mempunyai banyak murid yang kemudian menjadi ulama-ulama besar, di antaranya Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) ayah dari Buya Hamka, ulama termasyhur Indonesia.

Lalu ada K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), dan K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), serta masih banyak lagi.        KLIK DI SINI

Sumber : Liputan 6 .com

MENGENAL PUISI L.K ARA PENYAIR RELIGIUS KELAHIRAN TUKENGON ACEH

 MENGENAL PUISI L.K ARA PENYAIR RELIGIUS 

KELAHIRAN TUKENGON ACEH

 MENGENAL PUISI L.K ARA PENYAIR RELIGIUS KELAHIRAN TUKENGON ACEH

rajasastra-us.blogspot.com L.K. Ara, lahir di Takengon, Aceh,  12 November 1937. Pernah menjadi redaktur budaya Harian Mimbar Umum (Medan), Pegawai Sekretariat Negara, terakhir bekerja di Balai Puataka hingga pensiun (1963-1985). Bersama K. Usman, Rusman Setiasumarga dan M. Taslim Ali, mendirikan Teater Balai Pustaka (1967). Memperkenalkan penyair Tradisional Gayo, To’et, mentas di kota-kota besar Indonesia. Menulis puisi, cerita anak-anak dan artikel seni dan sastra. Dipublikasikan di Koran dan majalah di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Karyanya yang sudah terbit antara lain; Angin Laut Tawar (Balai Pustaka, 1969),  Namaku Bunga (Balai Pustaka, 1980), Kur Lak Lak (Balai Pustaka, 1982), Pohon Pohon Sahabat Kita (Balai Pustaka, 1984), Catatan Pada Daun (BP, 1986), Dalam Mawar (BP, 1988), Perjalanan Arafah (1994), Cerita Rakyat dari Aceh I, II, (Grasindo, 1995), Belajar Berpuisi (Syaamil Bandung), Berkenalan Dengan Sastrawan Indonesia dari Aceh (1997), Langit Senja Negeri Timah (YN 2004), Seulawah; Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (ed. YN,  1995), Aceh Dalam Puisi (ed. Syaamil, 2003), Pangkal Pinang Berpantun (ed. DKKP, YN, 2004), Pantun Melayu Bangka Selatan (ed. YN, 2004), Pucuk Pauh (ed YN 2004), Syair Tsunami (ed. Balai Pustaka 2006), Puisi Didong Gayo (Balai Pustaka 2006), Tanoh Gayo Dalam Puisi (YMA, 2006),  Ekspressi Puitis Aceh Menghadapi Musibah (BRR 2006), Puisinya dapat juga ditemukan dalam: Tonggak, (1995), Horison Sastra Indonesia 1 (2002), Sajadah Kata (Syaamil, 2003).

Pernah mengikuti Simposium Sastra Islam di Univ. Brunei Darussalam (1992), Festival Tradisi Lisan di TIM, Jakarta (1993), Kongres Bahasa Melayu Dunia, Kuala Lumpur (1995), Pertemuan Sastrawan Nusantara IX di Kayutanam, Sumatra Barat (1997), Pertemuan Dunia Melayu Dunia Islam, Pangkalpinang, Bangka (2003), Pertemuan Dunia Melayu Islam, Malaka, Malaysia (2004), Mengikuti Festival Kesenian Nasional (Sastra Nusantara) di Mataram NTB (2007). http://sastra-indonesia.com/2021/08/puisi-puisi-l-k-ara-2/


Puisi-Puisi L.K. Ara

166 NAMAKU

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan pepohonan dan rimba

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan sungai dan segara

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan besi dan baja

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan langit dan angkasa

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan angka

Tapi kuncup bunga

Yang disirami ibu-bapa

Kuncup bunga

Yang digayuti embun dinihari

Kuncup bunga

Yang diusap mentari pagi

 

Ya aku bukan angka

Tapi kuncup bunga

Yang ingin mekar

Ingin mengirim wangi sekitar.

 

Jakarta, 1985

 

 

 

SEDEKAH
 

Tujuh puluh bencana

Mengarah pada kita

Bagai mana menolaknya

 

Tujuh puluh sakit

Mendera kita

Bagaimana menyembuhkannya

 

Tujuh puluh pencuri

Mengganyang harta kita

Bagaimana mencegahnya

 

Tujuh puluh amarah Tuhan

Membakar kita

Bagaimana menghindarkannya

Bahkan membakar nadi kita

Bagaimana memadamkannya

 

Hampir kita lupa

Untuk itu semua

Ada satu cara

Sedarhana dan bersahaja

Mari kita bersedekah

Sedekah menolak bencana

Menyembuhkan sakit

Mencegah pencuri

Menghapus amarah Tuhan

 

Sedekah mencipta

Keakraban handai taulan

Sedekah mencipta

Suasana sejuk antara kita

Ia embun pagi

Menetes ke hati.

 

Jakarta, 1985

 

DI GERBANG KAMPUS ITU
 

Seorang setengah baya

Entah dari mana datangnya

Tiba-tiba berdiri

Di gerbang kampus itu

Ia tengadah ke langit

Lalu menjerit

Suaranya hilang entah kemana

Tapi tiba-tiba menetes kata

Dari bintang

Jatuh kebumi

Berserakan di bumi

Menjadi syair

 

Seorang setengah baya

Entah dari mana datangnya

Tiba-tiba terengah

Di gerbang kampus itu

Setelah ribuan kilometer berlari

Mencari

Lalu tertunduk

Menangis

Tangisnya kemudina hilang

Entah kemana

Tapi tiba-tiba menetes kata

Dari batu

Tergulir ke bumi

Menjadi puisi

Yang abadi

 

Seorang setengah baya

Entah dari mana datangnya

Kemudian pergi

Entah kemana

Di subuh hari

Ketika seorang mahasiswa

Membuka pintu gerbang kampus itu

Ia lihat kertas lusuh

Di sana tertulis

Tuhan, berkahi usaha mulia ini.

 

Jakarta, 1986

 


TAK ADA LAGI

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali merasakan sinar bulan

Yang dingin oleh rindu

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali mendengar rintih angin

Di air danau

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali memandang kuburan tua

Tempat istirahat nenek moyang ku

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali menyaksikan embun turun

Membasuh wajah rakyatku

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali merasakan gema doa

Dari orang yang menderita

Doa yang membumbung ke langit

Bersatu dengan awan

Bersatu dengan matahari

Lalu turun kebumi

Mendatangi rumahmu

Memberi salam padamu

Masuk kehatimu

Bicara tentang keadilan

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Tak ada lagi

Kecuali bekas masa kanak-kanak

Yang tertutup debu

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali melihat bayang sejarah

Perlahan tenggelam

Tak tertulis

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Tak ada lagi

Selain menyaksikan kasih Mu

Yang terus menyirami bumi.

 

Lho’Seumawe – Takengon, Januari 1986

 

 

SEORANG TUA BERJALAN
 

Setiap hari ia berjalan

Dijalan itu juga

Setiap hari ia berjalan

Badan sedikit terbungkuk

Langkah satu-satu

Di jalan itu juga

 

Ada senja

Menyamarkan jalannya

Tapi ada bintang

Terbit menolongnya

Semua tak ia minta

Tapi turun begitu saja

Di jalan itu juga

 

Ada matahari terik

Meneteskan keringatnya

Tapi ada angin

Meniup tubuhnya

Datang begitu saja

Semua turun begitu saja

Di jalan itu juga

 

Setiap hari ia berjalan

Di jalan itu juga

Dibawah langit itu juga

Pohon, dedaunan

Tiang listrik, aspal jalanan

Begitu ramah padanya

Kadang seperti menegurnya

Selamat pagi

Atau selamat sore

Atau selamat malam

 

Orang tua itu

Melangkah dan melangkah

Di jalan itu juga

Setiap langkah

Ia mengucap Allah.

 

Jakarta, 1986

 

 

JABAL GHAFUR

Untuk N.A.R.

 

Kulalui petak sawah yang luas

Padinya hijau melambai padaku

Kulalui kebun kelapa

Tinggi pohonnya

Daun menggapai awan

Lalu turun

Menggapai hatiku

 

Kulalui desa-desa tua

Desa perjuangan masa lalu

Disana tersenyum ayah bundaku

Lalu kutembus kabut debu

Kutembus juga sejarah gelap masa lalu

Kutembus semua yang menghalangiku

Aku harus bertemu dengan mu

Aku juga sangat rindu padamu

Engkau adalah kekasihku

Engkau adalah

Rumah di bawah langit biru

Disitu menitik kasih Tuhan

Aku terpana

Aku bertanya siapa namamu

Lalu pepohonan, gunung di jauhan

Sungai dan lautan gelombang berseru

Semua berseru

Jabal Ghafur, Jabal Ghafur.

 

Sigli, 25 Januari 1986

 

 

UNTUK DO KARIM

 

Pagi ini

Seperti ada yang menitik ke bumi

Barangkali embun

Atau gerimis sunyi

Atau desah syair sepi

 

Pagi ini

Seperti ada yang bergumam di bumi

Barangkali suaramu

Atau jerit luka

Atau tusukan syairmu

Ke hulu hati

 

Pagi ini

Seperti terdengar kersik angin

Atau percik keringat bumi

Mengguratkan namamu

Di pualam abadi.

 

Sigli, 20 Juli 1986

 

 

LAUT SIGLI

 

Semua keluh kukirim kepadamu

Semua risau kubenam kelaut mu

Rasa kesal dan benci kusampaikan kepadamu

Rasa kawatir dan takut kuceritakan padamu

O, laut Sigli

 

Semua derita ku tumpahkan kepadamu

Semua rindu kunyanyikan untukmu

Rasa sunyi dan nyeri kukirim padamu

Rasa takluk dan menyerah rubuh kepangkuanmu

O, laut Sigli

Izinkan aku memanggilmu

Ibu.


Sigli, 21 Juli 1986

 

 

DI TANGSE

 

Siapa yang masih mendengar suara

Yang bangkit dari rumput

Siapa yang masih mendengar suara

Yang mengalir dari air

Siapa yang masih mendengar suara

Yang menjerit dari tanah

Dari daun

Dari pohon

Dari duri

Dihutan Tangse ini

Suara serak parau

Suara wanita

Yang berkata

Jangan sentuh aku

Jangan

Meski aku haus

Dan kau tawarkan air minum

Jangan sentuh aku

Meski lukaku menganga

Dan kau ingin membalutnya

Jangan

Jangan sentuh kulitku

Kerena kau kafir

Musuhku.

 

Banda Aceh, 2 Agustus 1986

Sastra-indonesia.com/2021/08/puisi-puisi-l-k-ara-2/

Jumat, 30 Agustus 2024

DINA GERENDENG DZIKIR JANARI NYORANG JALAN PANGBALIKAN JEUNG SAJAK SEJENNA MAWA DIRI ELING KA GUSTI

 


DINA GERENDENG DZIKIR JANARI  NYORANG JALAN PANGBALIKAN 

JEUNG SAJAK SEJENNA MAWA DIRI ELING KA GUSTI


DINA GERENDENGNA DZIKIR JANARI

Kenging : Undang Sumargana

 

Diri nyangsaya

Dina rangkulan angin janari

Aya jerit niir  langit

Nembus ka gagana wiati

Dina gerendeng dzikir janari

Sugan diri aya dina pangampura Gusti

 

Girimis anjog ngembat lalangsé janari

Sanggeus beurang tadi mata poé

Ngarerab kasarakahan nu ngabubulak

Sagebar dosa nu atra  nembongan

Jadi panghalang na doa nu dipersabenan

Mugia ieu dosa ngalembéréh dina pangsujudan

 

Teu bade nganaha-naha Gusti......

Rumasa, abdi rumasa ieu diri

Dina renghap sadami-sadami

Kuring ngaheja asma Anjeun ya Robbi

Ya Rohman

Ya Rohim

Ya mujibas Syailin.

Keun ieu kalbu sina ngalagu

Ieu ngan ukur pangabakti Ya Illahi

 

Tasik Pakidulan Agustus 2022

 

BACAAN  LAINNYA:

NYORANG JALAN PANGBALIKAN

(Kenging Undang Sumargana)

 

Raga-raga nu ngarigig  mapaes dunya

Geus  lumampah sakarep ingsun

Hirup teu boga rasa rumasa

Ngarasa dirina boga kawasa

Padahal nyawa moal ngancik salilana

 

Jiwa-jiwa nu angkara

Kalimpudan ku kasarakahan

Padahal  kahirupan dunya ngan ukur hiasan

Naon nu jadi andelan nyorang jalan pangbalikan ?

Naha harta numpuk ladang basilat

Rek tega diwariskeun ka anak incu kana masia

Atawa pangkat jeung gelar kahormatan

Ukur jadi tulisan na tutunggul di pajaratan


Kaadilan Alloh moal melok ku panyombo

Para malaikat moal kabengbat ku carita pangacara

Taya hargana kapinteran keur didunya

Lampah sasar geus moal bisa ditutupan


Tasik Pakidulan Agustus 2022



KIYAMAH

Kenging :  Undang Sumargana

(Haturan ka wargi pangling-ngeling  kana datangna poe balitungan)

 

Ting burisat cahya kilat

Ngalentab ngahuru jagat

Ngageleger sora gugur

Langit genjlong bumi eundeur

Hujan rongkah,

caah bedah teu katadah

 

Bumi ngaplak  taya sisi

Lautan pindah kadarat

Pangeusina ting koceak

Jeritna mapakan langit

Tinggal raga taya nyawa

Ngagulung nyarah jeung runtah


Langit rungkad.

Ngalingkup murulukeun  bentang

Muragkeun bulan, ngabahekeun panon poe

Jagat ancur nggulung jadi lautan

Taya sesa sakabeh anu nyawaan

Sukmana geus ting belasat  ngabaliur kabuana

Tinggal raga patulayah nyangkere geus jadi bangke


Reup jagat simpe rehe

Nunggu hudang digebrag kumpul di alam masyar

Balitungan panungtungan, tinimbangan maha adil

Rek beurat  kamana timbangan urang?

Katuhu alamat surga sumber lana kabagjaan

Atawa Kenca

Alamat nandang tunggara nngarasa  siksa naraka

Wallahu Alam

Gumantung ka pepelaakan dina lampah kahirupan.

 

Tasik Pakidulan, Agustus   2022



LAYUNG SURUP  LUHUR LAUT CIPATUJAH

Kenging :  Undang Sumargana


Tanding ciung  ngabiur  rek muru gunung

Pejah ombak ngajaul rek ngajul  layung

Mepende  hate  rehe nu  pinuh rasa kasimpe

Nyungsi angin milu lirih muru  surup mata poe

 

Ngampih beurang datang peuting

Surup layung  kasaput ku  kuwung-kuwung

Mangsa  Urang kapigandrung

Sora hegar diri anjeun kalindih  seah  galura

Ketug lini nu endeur dina  jajantung

Ngarucita  na endahna katumbiri

Mapag girimis nu ngepris na hujan leutik

Datang   poyan ngeprul banyu kahuripan

 

Pupulihkeun na gupay dahan kalapa

 Popoyankeun ka sinagar

Ka  buana puseur dayeuh

Endah laut Cipatujah

Pantes Pangrereban  menak

Nu nyungsi ngelirkeun pikir

 

Tasik Pakidulan, Agustus  2022


DI MUMUNGGANG  KARANG TAWULAN

(Kenging  : Undang Sumargana)

Haturan kanggo urang Cikalong, Tasikmalaya: nu Gaduh Karang Tawulan)

 

Kungsi di sungsi  ka mumunggang Karang Tawulan

Nyukcruk jalan mapay lacak carita urang duaan

Ilang kalangkang ka saput rambu halimun

Seah ombak nembrag karang

Ukur layung humarurung katiruk ku kuwung-kuwung

 

Naha urang bisa tepung, .....?

Sedengkeun diri akang masih asa katalimbeng

Teuing kasaha, jeung kamana rek bisa nyanding

Atawa jalan nu masih ngemplad panjang

Diluhureun awun-awun, mubus na mongklengna peuting

Dina girimis nu ngaririncik

Nurih jemplingna burit anu ceurik balilihan

Tasik Pakidulan, Agustus 2022

Featured Post

HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA

KHARAMAH HABIB ALHABSYI:  BISA DENGAR SUARA TASBIH DAN BENDA MATI HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA Habib Ali Alhabsyi nama lengkapnya H...