BERANDA

Sabtu, 31 Agustus 2024

MENGENAL PUISI L.K ARA PENYAIR RELIGIUS KELAHIRAN TUKENGON ACEH

 MENGENAL PUISI L.K ARA PENYAIR RELIGIUS 

KELAHIRAN TUKENGON ACEH

 MENGENAL PUISI L.K ARA PENYAIR RELIGIUS KELAHIRAN TUKENGON ACEH

rajasastra-us.blogspot.com L.K. Ara, lahir di Takengon, Aceh,  12 November 1937. Pernah menjadi redaktur budaya Harian Mimbar Umum (Medan), Pegawai Sekretariat Negara, terakhir bekerja di Balai Puataka hingga pensiun (1963-1985). Bersama K. Usman, Rusman Setiasumarga dan M. Taslim Ali, mendirikan Teater Balai Pustaka (1967). Memperkenalkan penyair Tradisional Gayo, To’et, mentas di kota-kota besar Indonesia. Menulis puisi, cerita anak-anak dan artikel seni dan sastra. Dipublikasikan di Koran dan majalah di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Karyanya yang sudah terbit antara lain; Angin Laut Tawar (Balai Pustaka, 1969),  Namaku Bunga (Balai Pustaka, 1980), Kur Lak Lak (Balai Pustaka, 1982), Pohon Pohon Sahabat Kita (Balai Pustaka, 1984), Catatan Pada Daun (BP, 1986), Dalam Mawar (BP, 1988), Perjalanan Arafah (1994), Cerita Rakyat dari Aceh I, II, (Grasindo, 1995), Belajar Berpuisi (Syaamil Bandung), Berkenalan Dengan Sastrawan Indonesia dari Aceh (1997), Langit Senja Negeri Timah (YN 2004), Seulawah; Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (ed. YN,  1995), Aceh Dalam Puisi (ed. Syaamil, 2003), Pangkal Pinang Berpantun (ed. DKKP, YN, 2004), Pantun Melayu Bangka Selatan (ed. YN, 2004), Pucuk Pauh (ed YN 2004), Syair Tsunami (ed. Balai Pustaka 2006), Puisi Didong Gayo (Balai Pustaka 2006), Tanoh Gayo Dalam Puisi (YMA, 2006),  Ekspressi Puitis Aceh Menghadapi Musibah (BRR 2006), Puisinya dapat juga ditemukan dalam: Tonggak, (1995), Horison Sastra Indonesia 1 (2002), Sajadah Kata (Syaamil, 2003).

Pernah mengikuti Simposium Sastra Islam di Univ. Brunei Darussalam (1992), Festival Tradisi Lisan di TIM, Jakarta (1993), Kongres Bahasa Melayu Dunia, Kuala Lumpur (1995), Pertemuan Sastrawan Nusantara IX di Kayutanam, Sumatra Barat (1997), Pertemuan Dunia Melayu Dunia Islam, Pangkalpinang, Bangka (2003), Pertemuan Dunia Melayu Islam, Malaka, Malaysia (2004), Mengikuti Festival Kesenian Nasional (Sastra Nusantara) di Mataram NTB (2007). http://sastra-indonesia.com/2021/08/puisi-puisi-l-k-ara-2/


Puisi-Puisi L.K. Ara

166 NAMAKU

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan pepohonan dan rimba

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan sungai dan segara

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan besi dan baja

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan langit dan angkasa

 

166 namaku

Aku bukan angka

Bukan angka

Tapi kuncup bunga

Yang disirami ibu-bapa

Kuncup bunga

Yang digayuti embun dinihari

Kuncup bunga

Yang diusap mentari pagi

 

Ya aku bukan angka

Tapi kuncup bunga

Yang ingin mekar

Ingin mengirim wangi sekitar.

 

Jakarta, 1985

 

 

 

SEDEKAH
 

Tujuh puluh bencana

Mengarah pada kita

Bagai mana menolaknya

 

Tujuh puluh sakit

Mendera kita

Bagaimana menyembuhkannya

 

Tujuh puluh pencuri

Mengganyang harta kita

Bagaimana mencegahnya

 

Tujuh puluh amarah Tuhan

Membakar kita

Bagaimana menghindarkannya

Bahkan membakar nadi kita

Bagaimana memadamkannya

 

Hampir kita lupa

Untuk itu semua

Ada satu cara

Sedarhana dan bersahaja

Mari kita bersedekah

Sedekah menolak bencana

Menyembuhkan sakit

Mencegah pencuri

Menghapus amarah Tuhan

 

Sedekah mencipta

Keakraban handai taulan

Sedekah mencipta

Suasana sejuk antara kita

Ia embun pagi

Menetes ke hati.

 

Jakarta, 1985

 

DI GERBANG KAMPUS ITU
 

Seorang setengah baya

Entah dari mana datangnya

Tiba-tiba berdiri

Di gerbang kampus itu

Ia tengadah ke langit

Lalu menjerit

Suaranya hilang entah kemana

Tapi tiba-tiba menetes kata

Dari bintang

Jatuh kebumi

Berserakan di bumi

Menjadi syair

 

Seorang setengah baya

Entah dari mana datangnya

Tiba-tiba terengah

Di gerbang kampus itu

Setelah ribuan kilometer berlari

Mencari

Lalu tertunduk

Menangis

Tangisnya kemudina hilang

Entah kemana

Tapi tiba-tiba menetes kata

Dari batu

Tergulir ke bumi

Menjadi puisi

Yang abadi

 

Seorang setengah baya

Entah dari mana datangnya

Kemudian pergi

Entah kemana

Di subuh hari

Ketika seorang mahasiswa

Membuka pintu gerbang kampus itu

Ia lihat kertas lusuh

Di sana tertulis

Tuhan, berkahi usaha mulia ini.

 

Jakarta, 1986

 


TAK ADA LAGI

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali merasakan sinar bulan

Yang dingin oleh rindu

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali mendengar rintih angin

Di air danau

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali memandang kuburan tua

Tempat istirahat nenek moyang ku

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali menyaksikan embun turun

Membasuh wajah rakyatku

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali merasakan gema doa

Dari orang yang menderita

Doa yang membumbung ke langit

Bersatu dengan awan

Bersatu dengan matahari

Lalu turun kebumi

Mendatangi rumahmu

Memberi salam padamu

Masuk kehatimu

Bicara tentang keadilan

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Tak ada lagi

Kecuali bekas masa kanak-kanak

Yang tertutup debu

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Kecuali melihat bayang sejarah

Perlahan tenggelam

Tak tertulis

 

Tak ada lagi yang ku cari disini

Tak ada lagi

Selain menyaksikan kasih Mu

Yang terus menyirami bumi.

 

Lho’Seumawe – Takengon, Januari 1986

 

 

SEORANG TUA BERJALAN
 

Setiap hari ia berjalan

Dijalan itu juga

Setiap hari ia berjalan

Badan sedikit terbungkuk

Langkah satu-satu

Di jalan itu juga

 

Ada senja

Menyamarkan jalannya

Tapi ada bintang

Terbit menolongnya

Semua tak ia minta

Tapi turun begitu saja

Di jalan itu juga

 

Ada matahari terik

Meneteskan keringatnya

Tapi ada angin

Meniup tubuhnya

Datang begitu saja

Semua turun begitu saja

Di jalan itu juga

 

Setiap hari ia berjalan

Di jalan itu juga

Dibawah langit itu juga

Pohon, dedaunan

Tiang listrik, aspal jalanan

Begitu ramah padanya

Kadang seperti menegurnya

Selamat pagi

Atau selamat sore

Atau selamat malam

 

Orang tua itu

Melangkah dan melangkah

Di jalan itu juga

Setiap langkah

Ia mengucap Allah.

 

Jakarta, 1986

 

 

JABAL GHAFUR

Untuk N.A.R.

 

Kulalui petak sawah yang luas

Padinya hijau melambai padaku

Kulalui kebun kelapa

Tinggi pohonnya

Daun menggapai awan

Lalu turun

Menggapai hatiku

 

Kulalui desa-desa tua

Desa perjuangan masa lalu

Disana tersenyum ayah bundaku

Lalu kutembus kabut debu

Kutembus juga sejarah gelap masa lalu

Kutembus semua yang menghalangiku

Aku harus bertemu dengan mu

Aku juga sangat rindu padamu

Engkau adalah kekasihku

Engkau adalah

Rumah di bawah langit biru

Disitu menitik kasih Tuhan

Aku terpana

Aku bertanya siapa namamu

Lalu pepohonan, gunung di jauhan

Sungai dan lautan gelombang berseru

Semua berseru

Jabal Ghafur, Jabal Ghafur.

 

Sigli, 25 Januari 1986

 

 

UNTUK DO KARIM

 

Pagi ini

Seperti ada yang menitik ke bumi

Barangkali embun

Atau gerimis sunyi

Atau desah syair sepi

 

Pagi ini

Seperti ada yang bergumam di bumi

Barangkali suaramu

Atau jerit luka

Atau tusukan syairmu

Ke hulu hati

 

Pagi ini

Seperti terdengar kersik angin

Atau percik keringat bumi

Mengguratkan namamu

Di pualam abadi.

 

Sigli, 20 Juli 1986

 

 

LAUT SIGLI

 

Semua keluh kukirim kepadamu

Semua risau kubenam kelaut mu

Rasa kesal dan benci kusampaikan kepadamu

Rasa kawatir dan takut kuceritakan padamu

O, laut Sigli

 

Semua derita ku tumpahkan kepadamu

Semua rindu kunyanyikan untukmu

Rasa sunyi dan nyeri kukirim padamu

Rasa takluk dan menyerah rubuh kepangkuanmu

O, laut Sigli

Izinkan aku memanggilmu

Ibu.


Sigli, 21 Juli 1986

 

 

DI TANGSE

 

Siapa yang masih mendengar suara

Yang bangkit dari rumput

Siapa yang masih mendengar suara

Yang mengalir dari air

Siapa yang masih mendengar suara

Yang menjerit dari tanah

Dari daun

Dari pohon

Dari duri

Dihutan Tangse ini

Suara serak parau

Suara wanita

Yang berkata

Jangan sentuh aku

Jangan

Meski aku haus

Dan kau tawarkan air minum

Jangan sentuh aku

Meski lukaku menganga

Dan kau ingin membalutnya

Jangan

Jangan sentuh kulitku

Kerena kau kafir

Musuhku.

 

Banda Aceh, 2 Agustus 1986

Sastra-indonesia.com/2021/08/puisi-puisi-l-k-ara-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA

KHARAMAH HABIB ALHABSYI:  BISA DENGAR SUARA TASBIH DAN BENDA MATI HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA Habib Ali Alhabsyi nama lengkapnya H...