BERANDA

Senin, 22 Juli 2024

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN BAGIAN 6

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN 
BAGIAN 6

(Oleh : Undang Sumargana)

“Siapa kau kalau berani mendekatlah hadapi aku” Bayu meloncat dengan cepat diikuti Wijana terjadilah pertarungan sengit, sedangkan beberapa penduduk memburu para perampok yang tak tahan merasakan dingin akibat pukulan Bayu.
PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN  BAGIAN 5

rajasastra-us.blogspot.com/ “Siapa kau kalau berani mendekatlah hadapi aku” Bayu meloncat dengan cepat diikuti Wijana terjadilah pertarungan sengit, sedangkan beberapa penduduk memburu para perampok yang tak tahan merasakan dingin akibat pukulan Bayu.

“Hai bocah cilik kau cari mati terimalah sabetan golokku”

Sesepat kilat bayu Samudra menghindari sabetan golok Ki Durga, tiba-tiba dia sudah ada di belakang Ki Durga. Ki Durga herang tiba-tiba lawannya sudah berada di belakang.

“Aku berada di belakangmu Ki Durga” Ki durga terbakar emosinya dengan cepat dia memutarkan sabetan goloknya kea rah lawan, pikirnya sabetan kali ini akan mencingcang Badan Bayu. 

“Setan kau mampuslah kali ini kau!’

“Hemh golokmu sudah berada ditanganku” tanpa terasa golok Ki Durga sudah berada di gengaman Bayu”. Ki Durga Baru sadar bahwa kali ini berhadapan dengan pendekar yang cukup Tangguh. Apa lagi goloknya langsung dibengkokan dengan mudah oleh Bayu.

“Syetan kau, jangan dulu berbesar hati bocah cilik kau akan merasakan senjata andalanku.

Ki durga mengeluarkan pecut, yang terlihat begitu dilecutkan mengeluarkan api seperti sambaran kilat, dan suara menggelegar. Bayu hanya bertahan dengan jurus menahan gelombang Samudra, iahanya sekedar menguji sampai di mana keampuhan pecut itu.

Wut-wut-wut pecut mengarah kea rah Bayu sambil mengeluarkan sambaran api, tapi sambaran api itu malah balik arah menyerang Ki Durga.

“Ki durga makin penasaran ia mengeluarkan pukulan membelah gunung” Bocah syetan matilah kau.

Bayu meloncat sambil meloncat mengarahkan pukulan segaro geni ke tangan Ki Durga

“Ciaat segoro Geni”. Walaupun pukulan itu tidak menggunakan tenaga sepenuhnya tapai membuat tangan Ki Durga kepanasan, hampir saja dia melepaskan cambuknya. Dengan sadar Ki durga menyalurkan tenaga dalamn untuk menyembuhkan lukanya. Bayu hanya tersenyum kalau dia berniat bisa saja Bayu melontarkan pukulan waktu Ki Durga menarik pecutnya. Tapi Bayu tidak bermaksud membinasakan lawannya. Dia hanya  menunggu ki Durga menyembuhkan pukulannya.

“Syetan siapa sebenarnya kau bocah cilik?”

“Namaku Bayu Samudra Pendekar dari Pantai Selatan”.

“Hemh aku Mau tau sampai dimana kekuatanmu, ketahuilahj kau sekarang berhadapan Ki Durga   raja perampok yang turun dari gunung Kawi”.

“Kejahatanmu sudah cukup dikenal, dan hari ini akan kumusnahkan”.

“Jangan dulu sombong bocah cilik, terimalah Ajian ilmu tenung dari rawa lakbok”.

Tiba tiba Ki durga duduk dan merapalkanjampi-jampi yang mengandung kekuatan syetan, tubuhnya bergetar disetai angin yang begitu besar terdengar jeritan jeritan menakutkan yang makin lama makin dekat dan makin mengerikan. Bayu sadar bahwa ia berhadapan dengan ilmu hitam tingkat tinggi, Segera iapun duduk sambil menadahkan dua tangan meminta perlindungan pada Allah. Tiba tiba di sekeliling bayu asap hitam menyelimuti  sekelilingnya dan berubah jadi mahluk mahluk yang menakutkan badanya berbulu hitam matanya menonjol keluar dan taring-taringnya begitu mengerikan. Bayu sadar matanya terpejam memusatkan pikiran sambil membacakan ayat-ayat Alloh.

Yang melihat begitu ngeri dalam pikirnya bayu akan jadi santapan Iblis Rawa Lakbok, sedangkan beberapa perampok telah dilumpuhkan oleh wijana. Tiba-tiba derdengar suara erangan menakutkan dari mahluk mahluk iblis tersebut sambil bersamaan menerjang Bayu, Tapi Apa yang terjadi.

Bayu memutarkan Tasbihnya keluarlah sinar-sinar keperakan dari serratus bilangan tasbih tersebut menuju mahluk-mahluk iblis tersebut. Terdengar jeritan kesakitan yang mengerikan Dari mahluk-mahluk tersebut. Bersamaan dengan itu Ki durga yang tadinya duduk terlempar beberapa meter dan akhirnya terbaring tak berdaya dengan rasa kesakitan yang tiada tara.

Semua penduduk yang melihat kejadian pada saat itu bergembira dan beberapa orang melugas golok memburu Ki durga dan beberapa penjahat.

Bayu cepat mencegahnya dengan suara yang penuh wibawa.

“Jangaaan, jangaan lakukan penganiayaan pada orang yang sudah tidak berdaya, biarkan mereka hidup”. Dihampirinya Ki Durga yang sudah tergeletak,

“Aaampuuun anak muda aku mengaku kalah silahkan bunuh aku”.

“Tiidak Ki Durga aku tak pantas menghabisi nyawamu, kau dan teman-temanmu masih pantas hidup dan ada kesempatan untuk bertobat”.

“Penjahat seperti aku sudah tak pantas untuk diampuni dan diberi kesempatanm hidup.”

“aku dan penduduk di sini memberi kesempatan untuk kau dan teman-temanmu untuk hidup”

“Ka Wijana bawa teman-teman ki Durga untuk berkump[ul di sini”. Setelah berkumpul Bayu merentangkan tangannya dan menebarkan hawa murni untuk menyembuhkan para perampok”. Semua para perampok termasuk Ki Durga sembuh dari kesakitannya, lantas semuanya bersimpuh dihadapan Bayu”.

“Ampun anak Muda segeralah berikan hukuman pada kami”

“Tidak Ki Durga aku mengampunimu semua, tapi dengan satu sarat kau jangan lakukan kejahatan lagi tidak jadi perampok”

“Aku bersumpah tidak akan jadi perampok, dan aku mau hidup layak seperti penduduk biasa, sekarang apa yang harus kulakukan?”

BACAAN LAINNYA:

“Tunggu saja dulu aku mau berunding dengan penduduk dan tua kampung di sini” Bayu berusaha meyakinkan pada tua kampung dan penduduk di sana dan mereka diterima menjadi penduduk di sana untuk hidup berbaur dengan penduduk kampung. Akhirnya keputusan itu disampaikan oleh Bayu kepada para perampok tadi, Bayupun menyampaikan hasil keputusan kepada para perampok, dan para perampokpun memandang bayu dengan rasa segan dan rasa takjub akan budi baik pendekar muda tersebut.

Bayu dan Wijana terpaksa beberapa hari berada di Parungponteng, sambil melihat perkembangan mantan para perampok, setelah tiga hari Berada ditempat itu dan maelihat perkembangan baik yang meyakinkan Bayu dan Wijana berpamitan dan meninggalkan pesan untuk para penduduk dan para mantan perampok. Kegarangan Ki Durga tidaK Terlihat lagi dan ilmu-ilmu aliran hitamnya telah di buang terutama ilmu yang berkaitan dengan Iblis Rawa Lakbok. 

“Ki Durga aku dan Wijana pergi ke Galunggung dan sepulangnya dari sana aku pasti singgah menjumpai penduduk di sini bersama Ki Durga dan teman-teman”.

“Terima kasih Nak Bayu Wijana, kau anak Muda hebat berbudi pekerti aku telah diterima menjadi warga sini dan aku pasti berusaha untuk jadi orang baik,malah aku sanggup menjaga keamanan kampung ini”. Mereka berangkulan meskipun baru beberapa hari bertemu kedekatan hati mereka sudah terjalin. Dan para penduduk kampungpun berteimakasih pada Bayu dan Wijana, Bayu sekali lagi meyakinkan bahwa Ki Durga dan kawan-kawannya betul betul telah insaf. Dia akan tau dari kejauhan apa yang diperbuat mereka. Akhirnya kepergian Bayu diantar dengan rasa sedih dan rasa kekaguman yang begitu mendalam.

“Hemmh dua anak muda hebat, berilmu tinggi, tampan dan berbudi perketi mereka betul-betul malaikat penolong” Tua Kampung berguman dalam hatinya sambil menatap kepergian dua pendekar sakti. KLIK DI SINI

Bersambung ke Bagian 7

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN BAGIAN 5

 PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN BAGIAN 5

Bayu Bersama wijana serta Pak Kades terus mengembangkan perguruan silat itu, para pemuda dan warga lainnya  semakin giat berlatih, penghasilan masyarakat terus meningkat, baik dari hasil pertanian maupun hasil ikan dari laut. Kehidupan Desa Cikawung Ading yang tentram membuat Desa semakin ramai dan mengundang orang utntuk datang ke desa tersebut.

 PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN BAGIAN 5

RAJA SASTRA 

Dalam bagian 4 di kisahkan bahwa jagoan kita Bayu Samudra baru saja bentrok dengan pendekar Sadis dari Gunung Wilis. Dan setelah telah selesai mengadakan upaca Hajat Bumi dan sedsekah laut, dan Bayu diberi gelar sebagai warga kehormatan di Desa Cikawung Ading tersebut.

Mari lanjutkan ceritanya selamat membaca:

Bayu Bersama wijana serta Pak Kades terus mengembangkan perguruan silat itu, para pemuda dan warga lainnya  semakin giat berlatih, penghasilan masyarakat terus meningkat, baik dari hasil pertanian maupun hasil ikan dari laut. Kehidupan Desa Cikawung Ading yang tentram membuat Desa semakin ramai dan mengundang orang utntuk datang ke desa tersebut. 

Bayu Samudra dan Wijana adalah 2 tokoh muda yang dihormati dan disegani masyarakat Desa tersebut, keduanya selalu tampil mengontrol dan mengayomi masyarakat sekitar. Dengan prilakunya yang menjadi teladan, dan kesaktiannya yang begitu tinggi tak ada masyarakat yang berani menentang, disamping itu kedudukan Ayah Wijana sebagai seorang Kepala Desa yang Bijaksana. Bayu telah dianggap sebagai keluarga Kepala Desa. Aruni Adik Wijana  satu satunya putri Kepala Desa yang baru berumur 13 tahunan selalu memperhatikan Bayu dan menyiapkan segala kebutuhan Bayu dengan tulaten. 

4 bulan hampir berlalu tiba saatnya bagi Bayu untuk pergi ke Gunung Galunggung, menemui kakek Adiyaksa sebagaimana janjinya. Bayu pergi Bersama wijana dengan seijin ayahnya, Meskipun kedua orang tuanya merasa sungkan malum anaknya baru kali ini mengembara namun ia percaya Bayu pasti menjaganya, dan anakny pun sudah jadi pendekar yang cukup mumpuni. Dingan diantar oleh tatapan kedua orang tua Wijana serta Aruni gadis kecil dan warga Desa Sindang Kerta Bayu pergi meninggalkan tempatitu.

Setelah agak jauh Bayu berkata pada Wijana. “Kita menungangi Si Belang supaya kita bisa berjalan dengan cepat”. Wijana sangat gembira barukali ini dia mengembara dibarengi pendekar sakti dan menunggangi Harimau besar yang sangat seram.

Meskipun masih ada waktu 1 minggu lagi untuk berada di Gunung Galunggung, biarlah kita singgah di beberapa tempat. 

“Ya aku ikut saja” kata Wijana.

Mereka  berdua menunggangi harimau lodaya, tapi sengaja Bayu menyuruhnyatidak terlalu cepat seupaya menikmati pemandangan akhirnya sampai di daerah sindang, tempat Bayu melatih diri beberapa bulan yang lalu.

“Kita singgah dulu di sini akum au singgah di tempatku dulu”

Kedatangan Bayu rupanya diketahui oleh kera penghuni hutan itu, mereka berdatangan bergelantungan di pohon menyambut Bayu dengan suara riuh”.

Jangan takut Kak, mereka sahabat-sahabatku, ayo kita meloncat ke atas dangau di atas pohon itu. Mereka meloncat ke atas pohon sedangkan harimau yang menjadi tunggangannya pergi kea rah rumpun.

Setelah berada di dalam dangau yang berada di atas pohon tiba-tiba Kera besar yang merupakan pimpinan para kera menjumpai Bayu dan menyodorkan tangan layaknya seperti manusia.

“Perkenalkan ini Kakakku Wijana” kata Bayu berbicara dengan pimpinan Kera. Kera itu menyodorkan tangan dsambil menyeringai, maksudnya kalau manusia tersenyum.  Wijanapunmenyodorkan tangannya, sambal hatinya merasa takjub dan heran.  Tak lama kemudian beberapa kera membawa buah-buahan dan Madu lebah dalam lempengan yang masih seperti aslinya. 

“Terima kasih terima kasih” Bayu berbicara layaknya seperti kepada manusia. 

“malam ini kita tidur di sini, dan kita mandi di danau itu sebelah sana sambil Bayu menunjukkan danau tersebut.

Pengalaman hari itu dan malam itu betul-betul memberikan pelajaran pada Wijana, bahwa hewanpun kalau diperlakukan dengan baik bisa dijadikan sahabat bagi manusia. Dalam hatinya ia makin kagum pada Bayu sahabat mudanya. 

Sorenya mereka membuka perbekalan nasi bungkus dan ikan Udang untuk makankali itu, ditambah buah-buahan dan madun yang di seduh dengan air hangat. 

Subuhnya mereka sudah bangun dan setelah sembahyang subuh melanjutkan perjalanan mengarah ke Desa Bantarkalong melewati hutan terjung yang dihunioleh para perompak yang dipimpin oleh 3 pelontos kembar. Tapi Bayu tidak bermaksud untuk menganggunya teus saja perjalanan dilanjutkan perjalanan meneroboshutan. Sedangkan di atasnya Burung Rajawali mengikuti perjalanan Bayu.

“Peganglah pingganggku Kak, kita suruh si Belangberlari dengan cepat” Melesatlah harimau tunggangannya itu dengan kecepatan yang cukup tinggi. Wijana memegangi pinggang Bayu malum baru kali ini ia mencoba menunggangi harimau. Dan harimau itu seolah-olah sudah tau tempat yang dituju dan memilih jalan yang dilalui. Akhirnya tak lama menjelang tengah hari  mereka sampai di suatu perkampungan yang ternyata itu merupakan wilayah Cibalong. Mereka turun dari si Belang dan menuju tajug tempat sembahyang. 

Perjalanan dilanjutkan dengan menunggangi  Burung Elang Besar yang cukup ditunggangi berdua. Sedangkan si belang terus berlari membarengi terbangnya Elang.

Hari ke dua perjalanan sengaja beristirahat di sebuah warung yangmenjual Nasi. Begitu ramai warung itu. Memang tempatnya strategis tempat orang beristirahat,  namun masyarakat di sana berada dalam kesusahan, karena masyarakat di sana sering didatangi perampok yang merampas harta benda mereka malah adakalanya beberapa nyawa warga dirampasnya juga. Percakapan masyarakat itu sampai juga ke telinga Bayu Samudra dan Wijana. 

BACAAN LAINNYA

“Malam ini Desa ini akan didatangi perampok, Bagaimana pendapatmu Kak?’

“kalau bisa kita bantu untuk menyelamatkan masyarakat”. 

“Ya kita bermalam di sini, menunggu kedatangan para perampok”.

Setelah para pengunjung agak reda, salah seorang penduduk sana menjumpai Bayu dan Wijana.

“Nak mau kemana, kenapa anak berdua berada disini” orang tua itu bertanya penuh curiga.

“Pak tua akum au pergi ke Gunung Galunggung, perkenalkan namaku Bayu Samudra dan ini Kakakku Wijana”.

“Jadi anak Muda ini Pendekar Laut selatan, aku sering mendengar Namanya di sebut-sebut orang”.

“Maapkan pak tua aku orang biasa”

“Anak muda salam hormat saya untuk anak berdua, maafkan kelancanganku”.

Akhirnya yang ternyata orang tua itu kepala Dusun di Desa Parung Ponteng , menceritakan kwkhawatiran ancaman perampok yang akan datang nanti malam, dan katanya kalau penduduk tak mau di celakai harus mengumpulkan kekayaan, berupa ternak dan bahan makanan di lapangan.

“Pak tua pancing mereka untuk datang mengambil harta penduduk di sebuah lapangan” Lalu kita sergap Bersama-sama, biarlah aku dan kakaku akan membantu penduduk disini”

“terima kasih-terima kasih nak, aku sudah dengar kehebatan mu nak dan kehebatan para murid perguruan Maung Lodaya dari Sindangkerta”.

“Pak tua aku tidak sehebat yang kau dengar, kekompakan dan keberanian penduduk dengan perhitungan yang matang tetap diperlukan”.

Akhirnya Tua kampung dan beberapa penduduk dengan petunjuk Bayu dan Wijana mengatur stratergi untuk menyergap perampok. 

Malamnya Kira-kira pukul 11.00 malam para perampok yang dipimpin Ki Durgala kurang lebih 20 orang dan telah ditunjukkan tempat penyimpalkan harta yang dianggap sbagai pemberian upeti dari masyarakat yang harusdisiapkan 2 bulan sekali.

Waktu para perampok telah berada di dekat gunukanharta Bayu melakukan Pukulan Gunung Salju, beberapa perampokmenggigil kedinginan sdang beberapa orang masih bertahan dan mereka sadar bahwa disekitar tempat itu ada orang sakti melontarkan pukulan jarak jauh.

“Siapa kau kalau berani mendekatlah hadapi aku” Bayu meloncat dengan cepat diikuti Wijana terjadilah pertarungan sengit, sedangkan beberapa penduduk memburu para perampok yang tak tahan merasangan dingin akibat pukulan Bayu.

“Hai bocah cilik kau cari mati terimalah sabetan golokku” KLIK DI SINI

Minggu, 21 Juli 2024

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN BAGIAN 4

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN

(Bagian 4)

(Oleh :Undang Sumargana)

Selamat membaca semoga dapat menghibur:  “Ia Pak Kades aku bermaksud mambantu, Hati-hati dengan dia kesadisan dan kekejamannya melebihi ukuran Iblis”.  “KepaLa Desa beserta putranya merasa gembira,

RAJA SASTRA- Baru kali ini aku bisa melanjutkan cerita silat, mohon maaf kepada pembaca, mungkin tertunda karena berbagai kesibukab yang harus di dahulukan. Rupanya Jagoan kita Bayu Samudra, semakin sakti dan semakin menarik, yang penting selain hanya hiburan semata, ada hal baik yang dapat kita ambil

Selamat membaca semoga dapat menghibur:

“Ia Pak Kades aku bermaksud mambantu, Hati-hati dengan dia kesadisan dan kekejamannya melebihi ukuran Iblis”.

“KepaLa Desa beserta putranya merasa gembira, dan Bayu pun merencanakan melatih para penduduk untuk dibekali ilmu kanuragan di Padepokan “Lodaya Gunung” yang dipimpin oleh Kepala Desa.

Bayu mewariskan Gerakan-gerakan “ulin Pa monyet” dan “Ulin Pa macan” sehingga jurus jurus itu cepat dikuasai oleh anggota Padepokan terutama oleh Wijana dan Ayahnya”. 

Jurus-jurus telah di wariskan, kecuali jurus-jurus tertentu hanya Bayu wariskan kepada Wijana dan Ayahnya Pak Kades.

Beberapa bulan Bayu menetap di Desa itu, para penduduk yang menjadi anggota Padepokan telah jauh meningkat penguasaan ilmunya, Bahkah Kepala Desa dan putranya Wijana telah menguasai jurus jurus tertentu yang diajarkan Bayu. Para pamayang hidupnya Makin tentram, smentara para petani pun hasil kebunnya makin meningkat, Kepala desa dan pegawainya selalu berkeliling kalau kalau ada yang kelaparan. Begitu juga Bayu dan wijana persahabatannya makin lengket. Miskipun Bayu usianya jauh di bawah Wijana, Tapi Wijana sangat menghormatinya, malah menganggap Bayu sebagai gurunya, Gusu Silat dan Guru dalam bidang Agama serta olah Rohani. 

Warga Desa pada hari itu sedang sibuk mendirikan Panggung Besar dan belandongan persiapan 2 hari lagi aka nada pesta rakyat menyambut datangnya “Hajar Lembur” Terhadap barokah yang dibelrikan Allah pada Laut dan pada Tanah Desa Cikawung Ading., 

2 Hari kemudian dalam waktu terang bulan dipanggung telah terdengar tabuhan kendang Penca dan goong diiringi terompet menyewrtai ibing silat yang dioentaskan oleh anak-anak Muda murid Padepokan yang dipimpin olwh Pak Kades dan Wijana. Sedangkan Bayu, Pak Kades serta setap Desa lainnya juga Wijana, duduk-duduk di belandongan. Suara Kendang dan terompet smakin gencar adu kebolehanaduketerampilan di panggung semakin seru. 

Tiba-tiba penciuman Bayu mencium bau sesuatu, ini jelas bukan Bau penduduk Desa. Penciuman Bayu sudah tidak asing lagi Pendekar Jahat yang pernah bertemu Pendekar Iblis daru Gunung Wilis, beserta 3 0rang kawannya. Mata batin Bayu dalam sekilas sudah mengetahui di mana posisi tamu tidak diundang itu. 

Bayu berbisik pada Pak Kades “Kita kedatangan Tamu Jahat Pendekar Iblis dari Gunung Wilis, Siapkan kalau-kalau terjadi sesuatu, jangan gentar biarlah nanti kita hadapi Bersama”.Kedatangan Pendekar Iblis telah diketahui oleh beberapa ponggawa Desa dan jugaWijana.

“Biarla Pak Kades kita tunggu apa maunya mereka”. Pendekar Iblis dari Gunung wilis telah dikenal yang selalu menebarkan kejahatan di berbagai tempat.

“Sudahlah Pendekar Iblis aku telah tahu kedatanganmu berempat, Apa Maunya Kau?” Pendekar Iblis merasa heran ada orang yang mengetahui kedatangannya, malah mengirimkan suara lewat tenaga dalam yang cukuptinggi”.

“kedatangan kita berempat sudah di ketahui, Ayo ikuti aku!! Dengan sekilat Pendekar Iblis dan 3 orang temannya telah berada diatas panggung. 

“Hati hati Pak Kades mereka cukup kejam, biarlah pemimpinnya aku yang hadapi, yang 3 orang bagian Pak Kades dan Wijana, Jangan terlalu banyak libatkan orang, kita ber tiga ditambah satu orang lagi sudah cukup”.

“Hahahahaha, mana pimpinannya”:, tiba tiba suara tawa teman si Pendekar Iblis berhenti, ternyata tersumbat btu kecil yang sengaja dijentikan Bayu.

“Setan kau siapa yang mau main main denganku”. Bayu dan 3orang kawannya melesat tapi tidak sampai di atas panggung cukup berjajar di bawah panggung yang luas.

“Pendekar Iblis, kau masih kenal aku, kita pernah bertemu beberapa tahun yang lalu”.

“Bocah kecil rupanya kau masih hidup, dan sekarang hari terakhirmu kau menghisap udara” Pendekar Iblis melayang mengarahkan terkaman kea rah liher Bayu. Bayu hanya ameloncat ke atas, dalam berakan kera meloncat dahan, sambal mencengkramkan dua tangannya.

Pendekar Iblis terperanjat dan tutup kepalanya tak dapat diselamatkan dalam cengkraman Bayu

“setan kau, terimalah jurus Iblis merenggut nyawa”. Kedua tangannya memerah, dengan cepat  mengarah ke ulu hati Bayu.

Bayu Sadar bahwa si Pendekar Iblis bermaksud meranggut nyawanya, dengan cepat ia membentengi dirinya dengan jurus menahan gelombang Samudra. Akibatnya Gerakan Pendekar Iblis berhenti malah terpental cukup keras. Pendekar Iblis cukup heran dan menyulut amarahnya untuk mengunakan jurus-jurus yang berbahaya.

Syetan kau Pendekar Iblis menyerang dengan kecepatan tinggi, Bayu hanya mengimbangi dengan meloncat secepat angin, dan tiba tiba sudah berada di belakang pendekar Iblis. 

“Aku di sini Pendekar sesat” 

“Jangan main-main kau anak muda, sbentar lagi nyawamu melayang”.  Pendekar Iblis telah mencabut sepasang pedang kembarnya mengarah pada leher dan badan Bayu

“Mati kau bocah” yang melihat pada menjerit mungkin nyawa Bayu tak terselamatkan lagi,  Tapi Bayu dengan sekilat mengibaskan tasbihnya sedangkan tangan yang kiri menangkap sabetan pedang yang Melesat, satu pedang dapat ditangkap dengan tangan kiri dan satu lagi pedang meleleh bentrok dengan tasbih yang di pegang dengan tangan kanan. Sedangkan Pendekar Iblis terjungkal beberapa kali  ke belakang. Dan akhirnya duduk tak berdaya. 

Orang-orang yang melihat begitu takjub melihat kehebatan Bayu termasuk Pendekar tua yang duduk mengintip  dari pucuk pohonatan. 

Di perterungan lainnya  Wijana telah berhasil mengalahkan lawanya dengan pukulan Bayu Samudra uyang diwariskan bayu, walaupun belum sempurna tapi cukup buat lawannya tergeletak. Dan  yang 2 orang pun sudah mulai terdesak. 

Melihat keadaan yang tak menguntungkan, pendekar iblis bangun dan segera menyambar kawannya yang tergeletak dan menyuruh kawan yang lainnya Munduuur.

“Muuunnduuur, He bocah kecil  aku belum kalah suatu saat aku akan datang menangtangmu”. 

Bayu hanya tersenyum, dan menghampiri Pak Kades, “Sudahlah jangan dikejar, dan berilah kesempatan kepada mereka untuk bertobat”.

Lagi lagi Pak Kades termasuk putranya dan para ponggawa desa dibuat kagum dengan kepribadian Bayu, yang tak mau membinasakan lawannya. Padahal kalau mau tadi dengan mudah membunuh Pendekat Iblis. 

Bayu Baru menyadari dengan mata batinnya yang tajam serta penciumannya yang luar biasa, Ia menyadari kehadiran Pendekar tua dari Gunung Galungung yang berda di rungkun atas pohon”.

“Kalau kau bermasud baik turunlah kau pendekar tua bergabung dengan Kami”. Secepat kilat pendekar tua itu telah berada dihadapan Bayu, Kepala Desa dan lainnya terperanjat dan mundur.

“Gak Apa-apa Pak Kades ini Perkenalkan sepuhku Pendekar Tua dari Gunung Galunggung”. 

“Maap kehadiranku menganggu kalian, aku hanya singgah kebetulan kalian sedang rebut-ribut dengan Pendekar Iblis, dari tadi aku  yakin akan dapat mengatasinya, terutama kau bayu kau makin hebat”.

“Tidaklah Pendekar tua aku anak muda yang masih bodoh, yang masih banyak belajar”. Lalu tujan lainnya kemana Pak Tua?”

“Aku hanya mengingatkanmu, kau 5 bulan lagi ditunggu di Gunung Galungung, Kebetulan aku juga. Baru bertemu dengan gurumu di Bubujung Cipatujah”., 

“Terma kasih undangannya aku ingat dan insya Allah datang”

“Ayolah duduk-duduk dulu sekalian minum-minum sambal melanjutkan acara yang terganggu tadi”. Ajak Wijana 

Akhirnya Pendekar tua ikut bergabung, sementara hiburan terus berlanjut sampai larut malam” Akhirnya pendekar tua melanjutkan perjalanan, tidakheran bagipendekar yang senang berkelana, tidur di atas pohon pun tak jadi permasalahan.

Paginya begitu membludaknya lautan manusia menyaksikan upacara sacral “hajat bumi dan sedekah pada laut yang telah emberi kehidupan, Berbagai seni tradisonal di gelar, para penjaja makananpun datang dari berbagai penjuru. Para penduduk banyak memperbincangkan kejadian semalam, terutama pembicaraan terpokus pada Bayu dan Wijana dua pendekar Desa yang makin dikagumi masyarakat.

“Wah aku ngeri melihat perkelahian semalam, Dikira anak Muda Bayu akan mati di bunuh pendekar Iblis, tapi malah pendekar Iblis yang Celaka”. 

“Ia aku juga menyaksikannya, Tapi kenapa Pendekar Iblis itu langsung saja di bunuh, padahal pendekar Iblis sudah jatuh tak berdaya”.

“Ya itulah hebatnya pendekar berhati lurus tak sembarang melenyapkan nyawa orang, terhadap orang jahat sekalipun.

BACAAN LAINNYA:

“Wijana juga tak kalah hebat, jurus-jurusnya semakin mumpuni setelah ia bergaul dengan Bayu”, 

“Ya dia memang orang baik tidak menyombongkan kedudukan ayahnya, Pantas suatu saat dia menjadi pengganti ayahnya”.

Percakapan para penduduk itu bercampur baur dengan orang yang menjajakan makanan. Dan hasil bumi serta kerajinan masyarakat.

Akhirnya upacara sacral Hajat Bumi dan sedekahLaut berlangsung dengan hidmat, dan hariiru juga Kepala Desa menganugrahkan gelar warga kehormatan Kepada Pendakar Muda “Bayu Samudra”.

Bayu berjalan kedepan meskipun agak risi dan diaminta ijin pak Kades untuk memanggi dua tungganyannya sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat yang belum banyak tahu. 

“Bapak Kepala Desa berserta para ponggawanya dan Kakaku Wijana, begitu malunya aku diberi gelar kehormatan, padahal yang pantas mendapat gelar itu itu kakakku Wijana dan masyarakat lainnya, Namun dengan penuh rasa randah hati ku terima dan ijinkan aku untuk memanggil tungganganku sekaligus berkenalan dengan warga sekitar. 

Tiba-tiba bayu bersuit dan muncullah seekor harimau dan Burung elang yang bertenger di Pundak harimau.

“Jangan terkejut ini tungganganku sengaja ku dia kusuruh untuk tidak sering menampakkan diri, dan sejak sekarang jadikanlah dia sebagai para sahabatmu wahai warga Desa Cikawung Ading” 

Semua warga semakin kagum dan menaruh hormat kepada pendekar mud itu dan mereka tidak takut lagi pada arimau dan elang tungangan  sekaligu pengawal Bayu Samudra.

KLIK DI SINI

BERSAMBUNG KE BAGIAN 5

Sabtu, 20 Juli 2024

BUAT SI KUTU LONCAT YANG MENEBARKAN BAU BUSUK

BUAT SI KUTU LONCAT 

YANG MENEBARKAN BAU BUSUK 

Kutu loncat adalah binatang yang menebarkan bau busuk, tapi yang dimaksud kutu loncat di sini adalah ditujukan kepada politisi yang tidak teguh pendirian. Kadang kadang pemilihan sebelumnya berada di partai A pemilu berikutnya berada di partai B. Dia tidak punya pendirian ber[pindah pindah mana yang dianggap menguntungkan bagi dirinya bukan bagi kepentingan rakyat.
BUAT SI KUTU LONCAT YANG MENEBARKAN BAU BUSUK

Pengantar Puisi:

rajasastra-us.blogspot.com/- Kutu loncat adalah binatang yang menebarkan bau busuk, tapi yang dimaksud kutu loncat di sini adalah ditujukan kepada politisi yang tidak teguh pendirian. Kadang kadang pemilihan sebelumnya berada di partai A pemilu berikutnya berada di partai B. Dia tidak punya pendirian ber[pindah pindah mana yang dianggap menguntungkan bagi dirinya bukan bagi kepentingan rakyat. Hal ini banyak dilakukan oleh politisi politisi Indonesia bermanuper tidak mempunyai rasa idealis politik. Kutu loncat tersebar di mana-mana, singgah ditempat yang sekiranya menguntungkan dirinya. Tak peduli bau busuk yang tercium orang lain yang penting dirinya beruntung, dia terus meloncat dari satu ranting ke ranting lain, akhirnya singgah dan terus memberi janji manis demi mendapatkan kepercayaan.

BACAAN LAINNYA:

 BALADA

Balada adalah salah satu jenis puisi baru yang berisi tentang sebuah kisah atau cerita tertentu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Puisi Balada adalah puisi sederhana yang mengisahkan cerita rakyat yang mengharukan terkadang berupa dialog. Di bawah ini penulis mencoba menyajikan puisi balada yang berisi sindiran/kritikan.

BALADA SI  KUTU LONCAT

(Undang Sumargana)

Bau busuk mulai menebar

Kau mulai bermanuper dengan bacotmu

dari mimbar ke mimbar

Suara lantang janjikan kebahagiaan

Si kutu loncat kutu busuk kutu kupret

Loncat sana loncat sini

Jilat sana jilat sini


Kutu loncat, kutu kupret, kutu busuk

Mencari makan dari ocehan

Mencari muka dari sang raja

Janjinya manis tak pernah ditepati

Mukanya ramah hatinya dengki

Tugas menjaga malah mencuri


Kutu loncat, kutu kupret, kutu busuk

Gayanya politikus sejati

Hatinya kau sengkuni

Kutu loncat ulat negri suka khianat

Kutu kupret ulat negeri tukang korupsi.


Kutu loncat, kutu kupret, kutu busuk

Bahasanya putih hatinya pekat

Kutu loncat kutu sejati

Meloncat lima tahun sekali.


Tasik Selatan,  19 Maret 2023

KLIK DI SINI

4 MANUSIA YANG PERNAH MASUK SURGA SEBELUM KIAMAT

4 MANUSIA YANG PERNAH MASUK SURGA 

SEBELUM KIAMAT
  

ilustrasi surga

RAJA SASTRA- Surga dan Neraka adalah balasan yang akan diterima manusia  setelah ditentukan di alam masyar, melalui pengadilan Allah yang MahaAdil.

Setelah kehidupan dunia berakhir dengan terjadinya kiamat, seluruh manusia kemudian melanjutkan kehidupan di akhirat. Manusia akan dibangkitkan lalu berkumpul di padang Mahsyar untuk menentukan apakah ia akan masuk surga atau neraka.

4 manusia pernah masuk surga  sebelum kiamat. walaupun serangkaian tahap yang perlu dilalui manusia untuk mencapai tujuan akhirnya yaitu neraka atau surga, tapi sebenarnya sudah ada orang yang lebih dahulu pernah masuk surga. Orang ini bahkan disebutkan dalam Al-Qur'an. Siapakah dia?

Orang yang Pernah Masuk Surga Sebelum Kiamat

1. Nabi Adam AS

2. Hawa (istrinya Nabi Adam)

3. Nabi Muhammad SAW

4. Nabi Idris AS

Dalam kitab Al-Jannah wan Naar, Umar Sulaiman Al-Asyqar mengungkapkan bahwa manusia yang pernah masuk ke dalam surga sebelum terjadinya kiamat adalah 

Hal ini sebagaimana kalam Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 35, yang berbunyi:

وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ - 35

Artinya: "Kami berfirman, "Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!"

Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan karunia-Nya kepada Adam AS dengan memperkenankannya untuk tinggal di surga di bagian mana saja yang ia suka, hingga memakan makanan yang lezat lagi baik di dalamnya.

Menurut konteks ayat tersebut, diketahui kalau Hawa diciptakan sebelum Adam AS masuk ke surga. Dan barulah setelah Hawa tercipta, Allah SWT memperbolehkan keduanya untuk masuk ke dalam sana.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah juga menafsirkan ayat tersebut dengan, "..."Wahai Adam, diamilah dengan tenang (sebagaimana dipahami dari makna kata 'uskun') - engkau dan istrimu - berdua saja tidak bersama anak cucumu karena kamu tidak akan beranak cucu di surga ini...".

BACAA YANG LAIN

Surga yang Disinggahi Nabi Adam

Perihal surga yang didiami oleh Adam AS bersama istrinya, para ulama berbeda pendapat apakah surga itu berada di langit atau di bumi. Jumhur ulama berpendapat bahwa surga yang disinggahi Adam AS berada di langit, yaitu Surga al-Ma'wa.

Ibnu Katsir dalam kitab Qashash Al-Anbiya memaparkan bahwa huruf alif dan lam pada kata "al-jannah" (surga) dalam Surat Al-Baqarah ayat 35 menunjukkan bahwa surga tersebut tidak bersifat umum, dan ialah Surga Ma'wa.

Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah RA juga disebutkan menjadi bukti kuat dan jelas yang menunjukkan bahwa surga yang ditempati Adam AS adalah Surga Al-Ma'wa.

Namun, sebagian ulama lain mengatakan bahwa surga yang disinggahi Adam AS bukanlah Surga Al-Ma'wa yang abadi (jannah al-khulud). Mereka berpendapat demikian lantaran Adam AS diperintahkan untuk tidak memakan buah dari sebuah pohon. Ia juga pernah tertidur di dalamnya dan dikeluarkan dari sana, serta bahkan iblis bisa masuk ke dalamnya.

Kedua pendapat mengenai surga yang ditempati Adam AS turut dipaparkan Al-Qadhi Al-Mawardi dalam kitab Tafsirnya, "Perbedaan pendapat tentang surga yang ditempati oleh keduanya -yaitu Adam AS dan Hawa- mengerucut pada dua pendapat."

"Pendapat pertama mengatakan, 'Sesungguhnya surga itu adalah surga yang kekal (jannah al-khulud)'. Sementara itu pendapat kedua mengatakan, 'Surga tersebut adalah surga yang sengaja disediakan oleh Allah SWT untuk Adam AS dan Hawa. Surga itu sebagai tempat ujian bagi keduanya, bukan surga abadi yang disediakan sebagai tempat pembalasan'."

Manusia Lainnya yang Pernah Masuk Surga

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Hadil Arwah ila Biladil Afrah yang diterjemahkan oleh Zainul Maarif mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah masuk ke dalam surga sebelum hari kiamat terjadi.

Ia bersandar pada sabda Nabi SAW yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, "Semalam aku masuk surga. Di sana aku melihat seorang perempuan wudhu di samping istana." (HR Bukhari dan Muslim)

Imran bin Hushain RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: "Aku melihat ke dalam surga, maka kulihat penghuninya adalah orang miskin. Dan aku melihat ke dalam neraka, maka kulihat penghuninya adalah kaum perempuan."

Selain itu, Nabi Idris AS pernah pula masuk ke dalam surga. Ini disebutkan dalam kisah Idris AS yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbih sebagaimana dikutip Hamid Ahmad Ath-Thahir Al-Basyuni dalam Shahih Qashashil Qur'an yang diterjemahkan Muhyiddin Mas Rida dan Muhammad Khalid Al-Sharih.

Wallahu a'lam. KLIK DI SINI

Sunber bacaan detikHikmah

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN BAGIAN 3

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI 
PANTAI  SELATAN BAGIAN 3

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI  PANTAI  SELATAN BAGIAN 3

RAJA SASTRA- Kehadiran Bayu di surau menarik perhatian orang yang ada di sekitar. Terutama rompi dan ikat Kepala dari kulit harimau membuat terlihat Bayu Samudra  lebih tampan dan berwibawa. 

Tak jauh dari sana ada pertunjukkan hiburan di depan Rumah Kepala Desa. Sekedar hiburan ibing pencak silat dan jenis seni lainnya ditampilkan. Beberapa orang telah membawakan Ibing Pencak Silat, dilanjutkan dengan peragaan kemaheran dari jurus jurus silat. Akhirnya sampailah adu ketangkasan diantara murid-murid pedepokan “Lodaya Gunung” Kepala Desa ketua pedepokan itu dan Bersama sama putra lelakinya mengelola pedepokan tersebut, Padepokan itu cukup disegani dan dihormati penduduk Desa itu, sehingga perampok dari manapun segan untuk melakukan kejahatan di desa tersebut. Mula-mula jalannya acara berjalan lancer, tapi selang beberapa lama berkelebat seseorang melesat ke atas panggung dengan memperlihatkan kepongahannya. Seorang kepala plontos telah berdiri di atas panggung dengan menantang pimpinan perguruan tersebut. 

“Aku mau bertarung dengan pimpinan pedepokan ini, aku mau tahu sampai di mana kehebatannya”. Dia menantang dengan sipat pongahnya. Tentu saja putra Kepala Desa yang bernama Wijana merasa panas ada orang yang menantang ayahnya. Terjadilah pertarungan hebat, beberapa jurus belum ada yang kalah, dari tempat lain dua  orang pelontos lainnya memperhatikan, dan tiba-tiba melihat temannya terdesak dia melemparkan belati kecil mengarah ke putra Kepala Desa. Untung saja Bayu melihat kejadian tersebut dilemparnya belati kecil yang sedang melesat dengan batu kerikil dan belati itu jatuh di atas tanah, melihat kejadian tersebut Kepala Desa sebagai pimpinan pedepokan tersebut, merasa khawatir keselamatan putranya dan mengucapkan sukur atas pertolongan yang tak dapat diduga. Bersamaan dengan itu orang berambut plontos yang berada di panggung terhuyung huyung kena tendangan kaki wijana, dan dua orang temannya yang sama berambut plontos sudah melesat ke atas belati dengan mengenggam sepasang belati. Disusul Kemudian dengan Kepala Desa yang telh melesat membantu putranya. Sukurlah akhirnya ketua pedepokan yang kunantikan datang juga.

“Hemh tiga kembar pelontos dari Hutan Terjung.” Cepatlah kau bersujud di telapak kakiku sebelum belati beracun ini merobek perutmu”.

“Tidak usah sesumbar tiga kembar botak”, Kau beleum tentu dapat mengalahkanku”

Akhirnya pertarungan beralih ke luar panggung  2 orang melawan tiga orang, selang beberapa lama Kepala Desa dan putranya makin terdesak, dan disaat -saat kritis bayu meloncat dengan maksud menyelamatkan Kepala Desa dan putranya. 

“Hemh Bocah ingusan, mau apa kau ke sini?” Cukup saja aku seorang menghadapi kau tiga plontos dari hutan terjung, Maapkan Bapak Kades tak perlu kau turun tangan menghadapi 3 orang ini istrirahatlah kau Bersama putramu terlalu kotor menghadapi orang-orang jahat seperti ini. Kepala Desa dan putranya berpandangan, lgi pula Kepala Desa tersebut yakin bahwa yang menolong putranya adalah pemuda tadi akhirnya mereka melesat Kembali ke tempat duduk tadi, 

3 kembar plontos memuncak amarahnya dihadapi oleh anak muda yang masih tangung,

 “Enyahlah kau dari sini sebelum ususmu ku robek dengan belatiku”

“Jangan sesumbar kawan segera kau lakukan kalau mampu?”

“Tiga orang tersebut menusukan belatinya untuk mencingcang badan Bayu Tapi Bayu dalam sekejap sudah berpindah tempat berada di belakang mereka. Lagi pula Bayu tak ingin lama-lama segera menyelesaikan pertarungan tersebut, pukulan segara geni yang mengandung hawa panas kea rah mereka tapi hanya menggunakan seperdelapan tanaganya Bayu tak ingin membuat lawannya Binasa, ke tiga lawannya terlempar jauh dengan merasakan hawa panas yang tiada tara, Akhirnya mereka melarikan diri mencari selamat.

Anak Kepala Desa dan Kepala Desa yang kena sedikit goresan belati 3 kembar plontos mulai merasakan tubuhnya panas membara akibat racun yang menjalar, Segera Bayu menghampirinya dan menaburkan bubuk penangkal racun di tangan kepada Desa serta di Pundak putranya. 

“Terima kasih Nak Siapa kau sebenarnya?, kau telah menyelamatkan putraku dan menyembuhkan Lukaku dan putraku”

“Tuhanlah yang menyelamatkan Bapak dan kakak berdua, aku ini hanya anak kecil yang tak sengaja singgah di tempat ini”

“Perkenalkan namaku Bayu Segara” Kepala Desa melongo mendengar nama tersebut, karena nama Bayu segara mulai jadi pembicaraan orang, karena kesaktian dan budinya yang luhur.

“Salam hirmat Kami anak muda, maapkan aku yang bodoh ini ternyata tuhan mempertemukan aku dengan pendekar muda yang agung ini”.

“Janganlah berlebihan Pak Kades, aku ini orang biasa yang masih muda ptutlah kiranya kau anggap orang tua dan kakakku. Maapkan kehadiranku menganggu dan merepotkan di sini”.

“Tidaklah Nak kita duduk saja dulu disini sambal melanjutkan menonton pagelaran di panggung”. 

“Istirahatlah di sini, malah merasa terhormat bila Nak Bayu tinggal lama di Desa ini”. 

Kehadiran Bayu di Desa itu menjadikan bahan perbincangan, apalagi kalau berbicara kehebatan ilmu Kanuragannya kadang-kadang dilebih-lebihkan, Kepasihan bayu dalam melantunkan Alqur’an membuat orang berdecak kagum Keakraban Bayu dengan keluarga Kepala Desa apa lagi dengan putranya Wijana membuat keluarga itu semakin ceria, Bayu yang rendah hati membuat warga masyarakatpun tak segan berbincang dengan bayu, sewaktu-waktu bayu mendatangi padepokan sehingga pedepokan tersebut dalam waktu singkat terus berkembang.Jurus-jurus tertentu bayu ajarkan ke Kepala Desa dan putra lelakinya, membuatpak Kades dan putranya merasa hormat dan menganggap bayu Gurunya. 

Enam Bulan Bayu berada di sana walaupun Bayu masih betah tapi ada tugas utama yang harus diembanya yaitu mengembara membasmi kejahatan, maka sudah cukup waktunya meninggalkan Desa tersebut. Pak Kades dan putranya serta masyarakat tak bisa menghalanginya, mereka merelakan kepergian Bayu walau dengan perasaan sungkan, mereka sadar Bahwa Bayu Satria muda yang harus mengembara. Tujuan Bayu Kali ini menuju tem[pat sepi di tengah hutan, untuk menyempurnakan ilmu yang telah dimilikinya, Dia menjauhi laut masuk ke pedalaman terus menyusuri belantara merambah hutan yang jauh dari jangkauan manusia. Akhirnya sampailah di sebuah telaga kecil yang pinggirnya ditumbuhi pohon-pohon besar. Bayu segara membangun tempat tidur di atas  dahan sederhana tapi cukup nyaman ditempati. Sedangkan untuk bahan makanan banyak buah-buah dan umbia-umbian yang dapat dimakan yang tumbuhdi sekitar hutan.

Malam pertama ia berada sendirian di tengah hutan dalam tempat sederhana yang di bangun di atas pohon. Setelah ia tertidur cukup pulas, ia terkejut kakinya ada yang mengoyang goyangkan. Penghuni hutan yang ternyata kera besar berbulu hitam kecoklatan, bayu cepat bangun dengan sigap, tapi kera tersebut hanya menyodorkan tangan, tandanya ia cukup bersahabat, bayu hanya tersenyum menerima persahabatan dari mahluk tersebut. 

“Sudahlah ini hari masih malam, aku mau sembahyang malam, kita bertemu lagi besok pagi” Kera itu seperti yang mengerti ia mengangguk dan langsung pergi meloncat dari dahan ke dahan. Sedangkan bayu meloncat melayang ke pinggir dana terus mandi untuk melaksanakan sholat malam.

Baru saja pagi tiba, didahan-dahan pohon dekat  tempat bayu istirahat sudah terdengar riuh beratus ratus kera dipimpin oleh kera besar yang mendatangi tadi malam. Rupanya mereka datang untuk menjalin persahabatan, malah diantara kera banyak yang membawa bermacam buah buahan yang terus disimpan di tempat bayu.  Bayu Kagum dan terus dia berbicara menggunakan Bahasa binatang.

“Semua rombongan Kera , sejak hari ini kita bersahabat, dan pimpinan Kalian kuanggap sebagai teman, Pimpinan kera yang berbadan besar mendekati Bayu dan langsung menletakkan tangannya di Pundak Bayu, sedangkan kera yang lain bersuara riuh terlihat seperti bertepuk tangan segala, seperti penyambutan dengan penuh kegembiraan.

Kejadian pagi itu memang kejadian aneh kalau dari kacamata manusia sekarang, tapi ternyata binatangpun menginginkan kedamaian seperti alam kehidupan manusia, malah kemurnian hati Binatangkadang lebih bersih dari hati manusia, Ini menjadi catatan bagi Bayu sebagai Pendekar muda yang perlu terus ditempa pengembaraan.

Hari demi hari bayu lakoni dengan melatih ilmu kanuragan yang telah dia kuasai, dan malamnya diisi dengan melatih ketajaman batinnya. Dalam waktu singkat kermampuan Bayu telah mengalami kemajuan yang pesat, malah kemampuan meloncat dari dahan ke dahan melebihi kera-kera yang berada di sekitar Bayu, sehingga sambal melatih kemampuannya ia kadang bermain dengan kera-kera di atas dahan, sehingga   semua gerak derik kera tak luput dari pengamatannya, bahkan semua kesigapan kera telah ia kuasai, maka terciptalah jurus-jurus yang di sebut “Ulin Pa Monyet” (monyet itu artinya kera dalam Bahasa Sunda. Sebagai penerang cukup menggunakan tasbeh Batu giok warisan gurunya.

Selain dengan kera Bayu pun bersahabat dengan binatang binatang lain seperti Harimau, ular dan burung. Malah Bayu telah menciptakan jurus jurus Harimau yang di padukan dengan penggunaan tenaga dalam yang Dahsyat, jurus jurus ular yang ia padukan dengan kelincahan kera. Dalam waktu singkat jurus-jurus hebat telah tercipta disertai kemampuan ilmu batin yang telah mencapai tahap kesempurnaan, Mungkin dalam ukuran manusia saat itu sulit untuk mendapatkanlawan yang sepadan. Bahkan kemampuannya untuk terbang seperti burung dengan merentangkan kedua tangannya rasanya spertia hal mustahil, tapi Bayu menguasainya dengan hebat. Hampir 1 tahun setengah Bayu dari mulai turun Gunung Dari Bubujung Cipatujah, sampai menempati Hutan yang berada di daerah Sindang sekarang masuk wilayahKecamatan Cipatujah. 

BACA YANG LAINNYA:

Kalau bepergian Bayu selalu di kawal Harimau kadang jadi tunggangannya dan di atas Elang besar yang selalu mengikutinya, malah sekali- sekali Bayu mengunggangi harimau, atau berada dipunggung Elang untuk Bersama terbang.

Hari itu adalah hari terakhir Bayu berada di Hutan Sindang, ia berpamitan dengangan sahabat sahabatnya binatang penghuni hutan, Bayu telah menjadikan keadamian di Hutan itu, binatang binatang di sana hidup dengan berdampingan. Akhirnya Bayu telah berada dipunggung Elang terbang di atas wan, sedangkan di bawahnya harimau sahabatnya mengikuti ke mana arah Elang terbang. Sampailah di sebuah lapangan di desa tempat Bayu terakhir sebelum ke hutan.

Kedatangan Bayu cukup menggemparkan masyarakat sekitar, malah banyakyang ketakutan, melihat tunggangannya Elang yang begitu besdar, dan di bawahnya pengawalan Harimau yang begitu menakutkan. Penampilan Bayu dengan mengenakan Rompi dan celana dari kulit harimau dan Alas kaki berupa sepatu dari kulit Manjangan, ditambah ikat Kepala dari kulit harimau yang di hiasi Bulu Merak yang indah. Masyarakat pada ngumpet meloihat dari kejauhan, sedangkan Wijana yang berada tak jauh dari tempat Bayu menatapnya dengan heran, Tapi akhirnya Ia hapal bahwa itu Bayu yang pernah menolongnya. 

“Bayuu”

“ Oh Wijana, Maap kedatanganku meresahkan masyarakat sekitar, ia menyuruh kedua binatang pengawalnya untuk bersembunyi.”

“Syukurlah Kau Bayu mau datang lagi ketempatku”

“Maap- sekali lagi maaf, kalau membuat resah penduduk”.

“Tak apalah Bayu ayo kita bergegas menemuai Ayahku”

Pertemuan Bayu dengan Keluarga Kepala Desa dan penduduk di sana membawa kebahagiaan, Bayu yang tumbuh semakin tampan serta tingkahnya yang selalu merendah, menjadikan Kepala Desa dan keluarganya menjadi segan. Apa lagi dikalangan penduduk Nama Bayu sudah tak asing lagi ia menjadi Idola masyarakat yang sangat di segani.

“Nak Bayu aku mohon dengan sangat, kau bisa tinggal di sini untuk beberapa saat, Akhir-akhir ini di desa-desa lain telah merajalela perampokan yang dipimpin Raja Iblis dari Gunung Burangrang dan bergelar Pendekar Sadis”

Bayu terkejut, dan iapun berniat membantu Kepala Desa dan penduduknya KLIK DI SINI

BERSAMBUNG KE BAGIAN 4

SIMFONI INDAH DALAM GEMERCIK AIR SUNGAI CIJALU

 SIMFONI INDAH DALAM GEMERCIK AIR SUNGAI CIJALU



RAJA SASTRA KLIK di sini  rajasastra-us.blogspot.com Sungai menjadikan inspirasi bagi kita bahwa kita tidak bisa hanya menikmati dan menjaganya saja. Akan tetapi kita harus mulai membangun keindahan alam indonesia ini, meskipun hanya dengan memulai dari menanam satu pohon saja. Keberadaan sungai, yang memberikan berkah kehidupan bagi manusia, perlu terus dipelihara dijaga jangan sampai tercemar, jangan sampai debit air dari gunung mnegering karena keserakahan kita. Sungai akan memberikan kehidupan kepada manusia tatkala manusia itu sendiri bertindak dengan rasa cinta dan memrasa memilikinya. Karena kalau berlaku serakah, misalnya membuang sampah sembarangan, pengambilan batu dan pasir di kali yang berlebihan, sungai  akan murka memporak prandakan penduduk di sekitarnya.

Di sini penulis mencoba menggambarkan keindahan sungai Cijalu yang melintas membelah perkampungan di Desa Bantarkalong, Kec. Cipatujah Kab. Tasikmalaya, dan bermuara di laut Cipatujah.

Mari kita mengaspirasi  puisi berikut dengan menekankan daya ekspresi, bertolak dari diksi yang ditulis


BACAAN LAINNYA


SIMFONI INDAH DALAM GEMERCIK AIR SUNGAI CIJALU

(Undang Sumargana)


Ada simfoni indah dalam germercik air sungai Cijalu

seutas kenangan berjatuhan luruh dalam di beningnya air kali

berderai lepas dalam gemuruh ingatan yang tak pernah padam

ada gemerisik daun bambu yang mengalun sepanjang tepi

terus mengalir menerpa batu-batu meliuk  menuju samudera 


sepanjang sungai cijalu

percikan  air bercerita tentang hutan yang masih perawan

nyanyian angin  berirama dipucuk-pucuk daun          

rumput rumput menari di sela rimbun pepohonan

serta kicauan burung disambut embun pagi di dedaunan


Sepanjang bantaran sungai Cijalu

ada rindu  yang menapak di tumpukan  batu batu

Ada bayangngan yang  nampak  di jernihnya air A

air yang mengalir ke samudra

ombak yang menjemput di muara

adalah cinta yang dibangun dari rasa setia

di satukan dalam gelora sunyi lautan duka


Di cekungan  aliran sungai

ada rindu yang bertaut dilurung kalbu

ada cerita yang menapak di masa kanak

bermain semburan air

berenang menikmati kesejukan

meloncat penuh ketangkasan

klik di sini

Tasik Selatan, April 2023

Featured Post

HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA

KHARAMAH HABIB ALHABSYI:  BISA DENGAR SUARA TASBIH DAN BENDA MATI HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA Habib Ali Alhabsyi nama lengkapnya H...