BERANDA

Rabu, 24 Juli 2024

CARA YANG TEPAT MEMPERSIAPKAN SISWA UNTUK MENGIKUTI LOMBA BACA PUISI

CARA YANG TEPAT MEMPERSIAPKAN SISWA
UNTUK MENGIKUTI LOMBA BACA PUISI

(Penulis: Undang Sumargana)


 
rajasastra-us.blogspot.com   Puisi adalah kristalnya kata-kata atau kata pilihan yang ditulis pengarang, membaca puisi adalah mendendangkan kata-kata agar dapat dimengerti dan dimaknai oleh khalayak pendengar, sesuai dengan maksud pengarang. Sebelum  pendengar memahami puisi  yang dibawakan si pembaca, tentu saja agar dibawakan dengan baik,  terlebih dulu harus memahami isi puisi yang akan dibacakan di khalayak. Meskipun  yang paling tahu tentang isi puisi yang dimaksud tentu saja pengarangnya sendiri yang membuat puisi, namun setidaknya dengan berpedoman pada teori- dan tahapan untuk memahami puisi setidaknya pemahaman si pembaca bisa mendekati bahkan  sampai pas sesuai dengan yang dimaksud pengarang.

    Sebagai pengetahuan WS. Rendra merupakan salah seorang penyair terkenal dan sekaligus pembaca puisi yang cukup terkenal bahkan sampai mendunia, sehingga dia dijuluki “Si Burung Merak” hal ini karena kepiawaianya dalam melantunkan puisi, karena keindahannya dalam membawakan puisi-puisinya, sehingga dimasanya ia selalu dinanti-nantikan dan kadang membuat penonton histeris mengelu-ngelukannya. Bahkan dialah yang mempelopori seni baca puisi, sebab pada masa-masa lalu puisi biasa dibawakan tanpa teks, terkadang lebih menekankan  seni acting. Puisi puisi pada masa WS. Rendra bacaannya umumnya Panjang Panjang, sehingga tak mungkin dalam waktu singkat dapat dihapal untuk dilantunkan di depan khalayak dalam masa itulah dikenal dengan seni deklamasi. Berangkat dari hal itulah Ws. Rendra ”Si Burung merak” mempelopori seni baca puisi, yang sampai sekarang sering dilakukan para penikmat puisi.

    Kegiatan membaca puisi secara lisan di khalayak pendengar merupakan salah satu bentuk komunikasi. Dengan demikian pembaca perlu memperhitungkan unsur -unsur keakbraban antara dirinya dengan sebagai penutur/pembaca dengan khalayak sebagai pendengar.

Hal-hal yang dapat menumbuhkan keakraban antara penutur/pembaca puisi  adalah sebagai berikut:

1.   Penciptaan kontak lewat pandagan mata.

2.   Pengaturan posisi tubuh

3.   Gerak gerik posisi tubuh

4.   Keluwesan sikap dan kewajaran.                                              

   Bagian terakhir dari hal di atas ditentukan oleh kepribadian masing masing. Pembaca yang gampang mengalami demam pangkung, tidak mampu menguasai dirinya sendiri, dapat dipastikan tidak dapat menampilkan kesan yang menarik bagi pendengar. Kunci utama untuk menumbuhkan rasa simpatik baik terhadap diri sendiri yaitu percaya sendiri  dan tidak mencurigai khalayak.

 Kembali kepada hal yang berkaitan dengan judul bacaan di atas, seorang guru untuk mempersiapakan siswanya mengikuti lomba baca puisi untuk seleksi siswa dapat melakukan tahapan hal-hal berikut:

Baca Judul Lainya

1.  Siapkan teks puisi puisi  yang akan menjadi bahan bacaan puisi      dalam lomba.

  (kalau perlu bagikan foto copi tks puisi tersebut pada siswa)

2. Beri kesempatan kepada siswa untuk menentukan puisi                   pilihannya.

3. Sebelum siswa memilih beri arahan banhwa puisi tersebut               nantinya untuk dibacakan di depan khalayak.

4. Setelah siswa menentukan salah satu puisi, siswa disuruh             menuliskan isi puisi dalam kalimat-kalimat biasa sesuai dengan       kemampuan siswa masing-masing.

5. Setelah menuliskan isi puisi suruh siswa untuk membaca puisi         pilihannya sesuai dengan kemampuan dan penafsiran masing           masing.

Hal ini bisa dilakukan oleh guru di kelas masing-masing misalkan yang akan diikutkan lomba. Untuk jenjang SD dari kelas 3 s.d kelas 5. laksanakan penilaian,  ambil umpamanya 5 terbaik dari tiap kelas. Setelah terkumpul 15 peserta, salah seorang guru yang ditunjuk, mengarahkan siaswa pada bahan-bahan puisi untuk lomba.

Berilah pengertian pada siswa bahwa puisi merupakan suatu wacana utuh yang terdiri  dari satu tema. Bentuk wacana dari  puisi tersebut terdiri dari:

a. larik  (baris) tiap larik  mungkin satu kalimat mungkin pula   lompat  ke larik lain,

b. Bait (kumpulan beberapa larik yang mengandung satu pikiran       utama), kalu  dalam bentuk prosa  bisa disebut paragraf.

c. Wacana dalam bentuk  puisi bisa terdiri dari beberapa bait atau   hanya satu bait.

    Langkah selanjutnya berilah penjelasan pada  siswa untuk  memberi tanda pada tiap larik pada puisi agar lebih memudahkan membacanya , tanda tanda tersebut yaitu :

a.    / untuk jeda berhenti sejenak

b.   = kata yang  dirangkaikan larik  ke  larik selanjutnya atau disebut lompat larik.

c.    // untuk berhenti atau kalau    dalam bacaan prosa tanda . (titik)

d.  Tandailah kata-kata yang perlu mendapat penekanan dalam pembacaannya.

Setelah semua siswa menandai puisi tersebut, cobalah siswa tersebut untuk membacakannya. Lakukan penilaian waktu siswa membacakan puisi tersebut dengan kriteria penilaian yang menjadi aspek penilaian dalam lomba baca puisi.  Ambillah 3 s.d 6 orang yang terbaik dari cara membaca puisi sesuai dengan hasil penilaian yang telah dilakukan.

Setelah guru mendapatkan 3 atau 6  peserta puisi yang terbaik, perdalam untuk mengupas isi puisi tersebut, kalua  perlu puisi tersebut diprafasekan oleh siswa Bersama-sama dengan guru. Tekankan pada siswa untuk membacakan puisi dengan baik perlu modal suara yang baik vocal yang tepat, intonasi yang baik serta memahami kata yang ada pada puisi tersebut. Tekankan pula pada siswa  bahwa kata kata dalam puisi kebanyakan mengandung makna konotasi, untuk itu cari dan ungkapkan kata tersebut.  Selain dengan vocal dan intonasi yang tepat, gambarkan makna yang dibacakan dengan  pandangan mata, posisi tubuh, gerak-gerik tubuh, keluwesan sikap dan kewajaran. Jangan bersikap berlebihan atau diam tidak ada ekspresi sama sekali. 

Baca puisi yang ditekankan adalah cara membacanya, meskipun seorang pembaca puisi di depan khalayak, telah hapal isi puisi tersebut, jangan meninggalkan teks bacaan puisi demi memngejar peragaan acting dari kalimat yang diucapkan, tetapi jangan terlalu terfokus pada teks bacaan berkomunkasilah dengan khalayak yang mendengarkan, sehingga si pendengar mengikuti arus si pembaca puisi dan mampu memahami isi puisi tersebut sesuai dengan yang diharapkan pengarang dan si pembaca puisi tersebut.

Selanjutnya tugas guru menententukan siswa 1 atau 2 orang untuk peserta lomba  baca puisi di kecamatan misalnya. Sesuaikan dengan juknis lomba yang mungkin telah disebarkan kalau ketentuannya 1 orang Wanita dan 1 orang pria pilih terbaik dari wanita dan pria. Peran guru selanjutnya  membimbing siswa tersebut,  bimbinglah dengan baik untuk terus  memahami cara membacakan puisi dengan baik , Carilah contoh seorang guru yang bisa membacakan dengan baik, jangan terlalu mamaksakan diri untuk memberikan contoh membacakan puisi di depan calon peserta kalau  sekiranya tidak mampu. Ingat seorang penulis puisi yang baik  belum tentu bisa membacakan puisinya dengan bagus dan dapat memukau pendengar, meskipun ia sendiri paling tahu apa makna puisi yang ia tulis. Sebab ada hal lain yang menjadi   pendukung yang menyebabkan puisi tersebut dapat memukau pendengarnya. Misalnya suara,  penguasaan seni aktingnya dan hal-hal lain sesuai dengan uraian di atas. Jika perlu carilah contoh contoh pembaca puisi yang baik,  di perdengarkan dari Yautobe

Sampai di sini rupanya pembahasan yang penulis kemukakan semoga ada manfaat bagi guru-guru terutama yang mempersiapkan siswanya sabagai calon peserta pembaca puisi dalam lomba.

KLIK DI SINI RAJA SASTRA 

Tasik Pakidulan, 19 Pebruari 2023

                    Penulis          

Selasa, 23 Juli 2024

MEMBACA PUISI SEBAGAI BENTUK PERJALALAN BATIN PADA PEMAHAMAN DIRI YANG LEBIH DALAM

MEMBACA PUISI SEBAGAI BENTUK PERJALALAN BATIN PADA PEMAHAMAN DIRI YANG LEBIH MENDALAM DALAM 

Membaca puisi sebagai bentuk perjalanan batin pada pemahaman diri yang lebih dalam, sehingga kita dapat merefleksi diri dan mendapat pengalaman estetika. Membaca puisi berperan  penting dalam menggali kekayaan jiwa dan meresapi keindahan bahasa. Puisi bukan sekadar kata-kata di atas kertasm tapi puisi adalah cara untuk menyelami kekayaan jiwa dan membuka diri terhadap keindahan yang tersirat dalam setiap bait.
MEMBACA PUISI SEBAGAI BENTUK PERJALALAN BATIN PADA PEMAHAMAN DIRI YANG LEBIH DALAM 

rajasastra-us.blogspot.com  Membaca puisi sebagai bentuk perjalanan batin pada pemahaman diri yang lebih dalam, sehingga kita dapat merefleksi diri dan mendapat pengalaman estetika. Membaca puisi berperan  penting dalam menggali kekayaan jiwa dan meresapi keindahan bahasa. Puisi bukan sekadar kata-kata di atas kertasm tapi puisi adalah cara untuk menyelami kekayaan jiwa dan membuka diri terhadap keindahan yang tersirat dalam setiap bait. Aktivitas membaca puisi melibatkan pemahaman mendalam, refleksi, dan penghayatan akan ungkapan yang terkandung dalam setiap baris.

Membaca puisi sebagai bentuk perjalanan batin pada pemahaman diri yang lebih dalam, Namun, membaca puisi tidak semudah yang dibayangkan. Ada beberapa teknik yang perlu dipahami dan dikuasai agar seseorang mampu membacakan puisi sesuai keinginannya. Puisi diketahui merupakan jenis karya sastra yang memiliki irama, rima, penyusunan larik dan bait. Alhasil, teknik membaca puisi menjadi penting untuk memunculkan berbagai unsur tersebut menjadi sesuatu yang indah

Membaca puisi sebagai bentuk perjalanan batin pada pemahaman diri yang lebih dalam, Aktivitas ini melibatkan pemahaman mendalam, refleksi, dan penghayatan akan ungkapan yang terkandung dalam setiap baris.

Beberapa Pendapat Pentingnya Membaca Puisi 

Para ahli sastra dan humanis terkemuka di dunia telah memberikan pandangan mereka tentang pentingnya membaca puisi sebagai cara untuk memperkaya jiwa dan memberikan perspektif yang mendalam terhadap kehidupan.

Robert Frost,

  • Sebagai salah satu sastrawan terkenal abad ke-19, Robert Frost, pernah berkata, "Puisi bekerja seperti es. Jika kau memanaskannya, kau akan merasakan kehidupan dan mengalir darinya."
  • Pernyataan ini mencerminkan esensi membaca puisi sebagai proses yang memerlukan pemahaman yang mendalam dan pencernaan untuk mendapatkan makna yang sebenarnya.
  • Dalam setiap bait puisi, terdapat lapisan makna yang dapat membuka jendela ke dalam kekayaan jiwa dan memperdalam pengalaman manusia.

T.S. Eliot

  • Pendapat T.S. Eliot, seorang penyair dan kritikus terkenal, juga menyoroti kekayaan jiwa yang dapat ditemukan dalam membaca puisi.
  • Eliot percaya bahwa puisi dapat memberikan bentuk ekspresi yang paling mendalam dan intens, menciptakan ruang untuk introspeksi dan refleksi pribadi. Ia menggambarkan puisi sebagai sarana untuk memahami dan mengatasi kompleksitas kehidupan manusia.

Maya Angelou 

  • Penyair dan pemikir ulung Maya Angelou memberikan perspektif yang serupa. Baginya, puisi adalah "bahasa yang melampaui kata-kata," dan membaca puisi memberikan akses ke dimensi-dimensi kehidupan yang sering kali sulit diungkapkan dengan bahasa biasa.
  • Angelou memandang puisi sebagai cara untuk menyelami kedalaman perasaan dan pengalaman manusia.
BACAAN LAINNYA:

Ralph Waldo Emerson

  • Seorang filsuf dan penulis, Ralph Waldo Emerson, mengeksplorasi peran mendalam membaca puisi dalam menggali kekayaan jiwa.
  • Menurutnya, puisi memampukan individu untuk menyatu dengan alam semesta, menghubungkan diri dengan esensi kehidupan, dan merasakan keindahan yang tersembunyi di dalamnya. Ia menganggap puisi sebagai jembatan menuju pemahaman spiritual dan kebijaksanaan.

Mary Oliver

  • Pendekatan yang lebih modern dari Mary Oliver, seorang penyair Amerika yang meraih penghargaan Pulitzer, menekankan pentingnya meresapi kehidupan sehari-hari melalui puisi.
  • Oliver menyatakan, "Puisi memberikan kehidupan, kehidupan yang benar-benar hidup, untuk kita rasakan dan di dalamnya merayakan."
  • Dalam pandangannya, puisi tidak hanya menjadi sarana introspeksi, tetapi juga perayaan kehidupan dalam segala kompleksitasnya.

Alice Walker

Puisi juga memiliki peran yang signifikan dalam pengembangan empati dan pemahaman terhadap pengalaman orang lain. Dalam konteks ini, Alice Walker, penulis dan aktivis terkenal, 

  • melihat puisi sebagai bentuk seni yang memungkinkan kita merasakan dan memahami perspektif orang lain, bahkan jika mereka berbeda dengan kita sendiri.
  • Walker melihat ke dalam puisi sebagai cermin bagi kehidupan manusia yang universal dan bersifat inklusif.

Carl Jung

  • Dari sudut pandang psikologi, Carl Jung, seorang psikolog terkenal, melihat membaca puisi sebagai cara untuk menghubungkan diri dengan arketipe dan kebijaksanaan kolektif manusia.
  • Jung percaya bahwa puisi bisa menjadi saluran untuk mengakses kedalaman bawah sadar dan menghadirkan makna tersembunyi yang mungkin sulit dijangkau oleh pikiran rasional.

Dengan merangkum pandangan para ahli ini, kita dapat memahami bahwa membaca puisi adalah suatu bentuk perjalanan batin yang mengarah pada pemahaman yang lebih dalam, refleksi diri, dan pengalaman estetika yang mendalam.

Puisi bukan sekadar kata-kata di atas kertas; ia adalah cara untuk menyelami kekayaan jiwa dan membuka diri terhadap keindahan yang tersirat dalam setiap bait. Klik Di Sini

SUMBER : TINEMU.COM -

4 PUISI PUISI RAEDU BASHA PENYAIR JEBOLAN PESANTREN

MENGENAL PUISI PUISI RAEDU BASHA
PENYAIR JEBOLAN PESANTREN

Raedu Basha adalah penyair jebolan pesantren. Raedu Basha, nama pena dari Badrus Shaleh (Basha), biasa dipanggil Raedu. Lahir di Sumenep, Madura, 3 Juni 1988. Pendidikan santrinya dimulai dari Pondok Pesantren Darussalam Bilapora Ganding Sumenep, kemudian Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, Pondok Pesantren MUS Sarang Rembang Jawa Tengah. Saat itu Raedu beraktifitas sebagai peneliti dan pelajar departemen antropologi budaya Universitas Gadjah Mada sambil mengelola Ganding Pustaka.

RAJA SASTRA- Raedu Basha adalah penyair jebolan pesantren. Raedu Basha, nama pena dari Badrus Shaleh (Basha), biasa dipanggil Raedu. Lahir di Sumenep, Madura, 3 Juni 1988. Pendidikan santrinya dimulai dari Pondok Pesantren Darussalam Bilapora Ganding Sumenep, kemudian Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, Pondok Pesantren MUS Sarang Rembang Jawa Tengah. Saat itu Raedu beraktifitas sebagai peneliti dan pelajar departemen antropologi budaya Universitas Gadjah Mada sambil mengelola Ganding Pustaka. Pernah diundang mengisi program-program sastra seperti Ubud Writers & Readers Festival 2015, Festival Kebudayaan Islam Universitas Negeri Sebelas Maret 2015, Festival Kesenian Yogyakarta 2014, dll. Raedu menjadi kurator tetap beberapa program sastra mahasiswa sejak 2014-sekarang, seperti Festival Sastra UGM, Bulan Bahasa UGM, Festival Kebudayaan Arab UGM, Etnika Festival, dll. Buku puisinya berjudul Matapangara (Ganding Pustaka, 2014), novel Melting Snow (Diva Press, 2014) dan album pembacaan puisi Yang Gemetar di Bibirmu (2016). Raedu memenangkan penghargaan sastra, antara lain, Piala Rektor IAIN Purwokerto sebagai pemenang cipta puisi se-ASEAN (2017), 

Raedu Basha adalah penyair jebolan pesantren. Ia pemenang puisi Qur’ani Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) (2016), pemenang esai sastra nasional oleh Pesantren Mahasiswa An-Najah Banyumas (2016), pemenang menulis cerpen PCINU Maroko & Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Maroko (2016), pemenang utama cipta puisi TV9 & Muktamar 33 Nahdlatul Ulama (2015), pemenang Anugerah Seni dan Sastra Universitas Gadjah Mada (2014), pemenang cipta puisi Jurnal Sajak Jakarta (2014), pemenang cerpen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (2012), pemenang cipta puisi Piala Walikota Surabaya (2007), juara baca puisi tiga bahasa Al-Amien Prenduan (2007), hadiah puisi IPB (2007), pemenang cipta puisi Taman Budaya Jawa Timur (2006), pemenang sayembara puisi Pusat Bahasa Depdiknas RI (2006), dan lain-lain. Puisi, cerpen, esai, ditayangkan media massa dalam dan luar negeri: Horison, Basis, Media Indonesia, Jawa Pos, Republika, Indopos, Utusan Malaysia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Solopos, Sumut Pos, Riau Pos, Fajar Sumatera, Fajar Makassar, Cakrawala Makassar, Rakyat Sumbar, Merapi Pembaruan, Bende, Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Radar Sukabumi, Radar Madura, Koran Madura, Kabar Madura, Kuntum, Tebuireng, NU Online, Sidogiri, Sabili, Kanal, kompas.com. 

Raedu Basha adalah penyair jebolan pesantren. Buku bersama yang memuat karyanya: Requime Tiada Henti (100 sajak penyair ASEAN, 2017), Dari Gentar Menjadi Tegar (Komisi Pemberantasan Korupsi, 2016), Sepotong Kisah dari Sudut Pesantren (Kedutaan Besar Republik Indonesia Maroko, 2016), Seratus Puisi Qurani (Persaudaraan Muslimin Indonesia, 2016), Satu Cerita dalam Satu Malam (Cerpen Pilihan Suara Merdeka, 2016) Ketam Ladam Rumah Ingatan (Lembaga Seni Sastra Reboeng, 2016) Surabaya Memory (Perpustakaan Universitas Kristen Petra, 2016), Gelombang Puisi Maritim (Dewan Kesenian Banten, 2016), 17.000 Islands of Imagination (Ubud Writers & Readers Festival 2015), Jalan Remang Persaksian (Tembi Rumah Budaya & Lembaga Perlindungan Saksi Korban, 2015), Memo untuk Presiden (Forum Sastra Surakarta, 2014), Puisi di Jantung Tamansari (Festival Kesenian Yogyakarta, 2014), dan terbitan sebelumnya sejak tahun 2003.


Puisi-Puisi Raedu Basha

arsippenyairmadura.com, 13 Mar 2017


1. Ternyata Sudah Sangat Malam


ternyata sudah sangat malam

aku bersama waktu

bertukar sepi bertukar mimpi

detik-detik menghantarkan alur menungku

ke segala penjuru, melaju

sedayu daun kering dalam sepoi angin

kuragah asa mungkin rembulan rapatkan cahaya

kejora berkilap di dada

kupecut jantung berdegub kencang

ya malika kulli hal

aku ksatria yang terluka dalam perang

aku tak ingin mati sebelum menang

membunuh musuh di dalam diri…

nurani dan birahi

bercakap tentang gairah yang bergelombang

hati dan pikiran berkeluh:

ke mana hendak melangkah, o, ke mana

hendak melangkah?

ke arah angin berseling siul seruling

ataukah ke udara perkasa menerompa lautan

kemudian menantang badai?

bunyi katak bercumbu di tengah sawah

kerikan jangkrik mengalun di semak sebelah

kurasakan pekat sangat burat

gelap teramat gelap

jiwa suram ibarat purnama terburam awan

ternyata sudah sangat malam…

2007


2.Menatap Las Vegas

menatap Las Vegas

bangunan-bangunan menjulang

mencakar langit atmosferku

emosi karam di antara gemerlap lampu

berdecaklah jagad kuldesak

sambil kueja mantra-mantra Sakera

sekedar membuang ketir dan gemuruh

yang ranggas di dalam otak

seperti inikah Madura kelak

posmodernism

megapolitan disajikan bagi anakputuku

hidangan dunia yang gila

di mana tak kudengar

nyanyian sumbang kakek lugu

seperti tembang kae menjelang tidurku

masihkah garam tetap asin

bila bir bertumpahan di lautan

kesunyian terhantam

akal menjadi kekuatan

birahi di atas nurani!

menatap Las Vegas

bagai kupandang bebukitan

Payudan hingga Sinongan tersulap tol

jembatan gantung

goa-goa menjelma terowong jalan

mengusir para pertapa

gelora perjalanan matahari di asa

kacong-cebbingku

di dada sawah, bola-bola golf berhamburan

asap mesin polusi perkasa

mencabuli semerbak tembakau

tempat eppa’ dan embu’ meremas keringat

membingkai senyum di garis-garis ritmis

Madura!

celurit yang dulu kau asah

bergeletakan sudah…

2006


3. Radarparana

tersimpan di manakah degubmu

aku mencarinya sedalam lautan

dengan segenap keraguan yang berpacu

setiap batu kuketuk, sepanjang karang kutelusuk

hanya derak yang bisu, selebihnya

gelembungan luka sisa siksa.

sedetak melecut, engkau menyemakku

tapi degubmu menyekam seperti rahasia dalam rahasia

aku melangkah ke hutan mungkin di sana ia tersimpan

dari Boerneo sampai Amazon, udara hanya mengurai

daun kering, bintang cuma bermain debu

hingga aku membakar pepohon dan pepucuk mata angin.

dalam kegalauan aku bertanya

di manakah kiranya tanda jantungmu

yang tak pernah kusua di saban dada

yang tak pernah ada selain milikmu yang misteri

pernah kumengira setiap semerbak bunga

adalah gaharu degubmu. pernah kumenyangka

segala bisik cempaka adalah ruang parut rasamu.

setelah terus kutilik baru aku mengerti

tangkai akan lesup tetapi degubmu sepanjang hidup

aku pergi ke langit barangkali degubmu di situ

yang menurunkan hujan saat sembilu

kiranya kedip kilat atau purnama-surya

yang kemilau-bercahaya adalah warna tenguknya

tapi o lagi-lagi, hanya setumpuk awan tanpa tenaga

cuma sengat halilintar yang menambah carut tanya

terkadang aku merasa degubmu seumpama sepi

yang diterawang lewat kontemplasi

dunia yang tersentuh namun tak tersentuh

legat pikiran laksana mimpi bertemu Tuhan

2012

Bac yang lainnya

BACA JUGA

4. Mayat Sepi

1

aku bukan dia yang mati di dalam pembakaran

tapi aku mayat di dalam sepi

menanggung berat kesunyian

dan pahala pada sebuah diam

jika waktu terlalu silau memandang rembulan

maka bacalah deritaku di antara lubang dada

huruf-huruf tereja bersama

nyanyian jantung

rentap

2

aku bukan dia yang mati membawa api

tapi aku mayat di dalam janji

yang disulut matahari

menggantung mimpi

di dalam langit pikiran

jika ruang terlalu sempit buat menumpahkan isi hati

maka keluarlah dari angan

kepada harapan demi harapan

sampai kata-kata akan tersemat kala senja

terlalu berat untuk tenggelam

2006

KLIK DI SINI

BEJA TI BASISIR LAUT KIDUL

 






BEJA TI SISI LAUT  KIDUL

(Undang Sumargana)

Cikalong ngajajar leuwi anyar

Liang tapak ngukuy keusik

Nu nyesa hampasna nu patulayah 

Sareukseuk pangdeuleu ngonang hariwang


Cidadap basisirna burakrakan

Karang Bayawak tinggal bangkarak nu patulayah

Nu nyesa kebul kapeurih karisi datang tsunami

Kasarakahan geus meulit na hate

Manusa iblis bangsat lingkungan


Pamayang, Sindang Kerta, Cipatujah

Sapanjang basisisir geus diturih Ku mesin kasarakahan 

Pasir beusi jadi saksi  Jadi bancakan bagi bagi

Nu hasil  pengusaha jugala, pereman jeung para pejabat basilat

Rakyat leutik ngegel curuk kur kabagi kebul jeung leutakna

Emh dedeuh teuing…..!


Tasik Pakidulan 2023


KIYAMAH

( Undang Sumargana)

Ting burisat cahya kilat

Ngalentab ngahuru jagat

Ngageleger sora gugur

Langit genjlong bumi eundeur

Hujan rongkah, 

caah bedah teu katadah


Bumi ngaplak  taya sisi

Lautan pindaha kadarat

Pangeusina ting koceak

Jeritna mapakan langit

Tinggal raga taya nyawa

Ngagulung nyarah jeung runtah


Langit rungkad. 

Ngalingkup murulukeun  bentang

Muragkeun bulan, ngabahekeun panon poe

Jagat ancur nggulung jadi lautan

Taya sesa sakabeh anu nyawaan

Sukmana geus ting belasat  ngabaliur kabuana

Tinggal raga patulayah nyangkere geus jadi bangke


Reup jagat simpe rehe

Nunggu hudang digebrag kumpul di alam masyar

Balitungan panungtungan, tinimbangan maha adil

Rek beurat  kamana timbangan urang?

Katuhu alamat surga sumber lana kabagjaan

Atawa Kenca

Alamat nandang tunggara nngarasa  siksa naraka

Wallahu Alam

Gumantung ka pepelaakan dina lampah kahirupan.


Tasik Pakidulan, 5 April 2016

BACAAN LAINNYA:

 DEMO RAKYAT

(Undang Sumargana)


Ngageleger sora gugur meupeuskeun reueuk

Tingbarasat cahya kilat ngalentab mega

Ngahuru amarah silalatuan

Ngempur hurung na tungtung emun-emunan

Rahayat kahuru dimangfaatkeun ku kabingung


Ting porongos ting jorowok

Nusurak eak-eakan, nu demo gogorowokan

Turuhkeun harga! Turunkeun harga!

ceuk sora lalaki nu igana ragas, matana celong.

Turunkeun BBM, turunkeun BBM

Eh, BBM geus turun, tapi hahargaan malah ngajaul

Nu ngagorowok  latam-letem kaeraan


“Saudara-saudaraku” Ceuk pimpinan demo

Anu tadi turun tina mobil mewah

Bajuna perlente, erloji bermerk, 

Sapatu buatan luar negeri

“Kita terus berdemo-kita gempur istana”

Amarah rakyat kasundut 


Nu demo beuki  ngangseg 

Budal  omongan teu kawadahan

“Hidup pimpinan kita! Hidup pimpinan kita”

Ceuk rakyat nyumangetan pimpinan demo


Rakyat ngangseg maju, pulisi bedah amarah 

Bukbek peureup jeung peureup, 

Panakol jeung panakol

Pimpinan demo ngolesed lalaunan

Akhirna ngabiur pangheulana

Ngadius na mobil mewah muru hotel

Arek otel  jeung bikang paneretan


Rakyat jadi korban ti jalma 

Nu pundung teu kapeto jadi pimpinan

Sarta teu ngasaan diuk na amisna korsi Dewan


Tasik Pakidulan, Kamis 31 Maret 2016

KLIK Di  Sini

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SDELATAN (Seri Sepasang Rajawali Sakti Dari Gunung Galunggung Bagian 1)

SEPASANG RAJAWALI SAKTI 
DARI GUNUNG GALUNGGUNG

(Bagian 1)
Kehadiran Bayu di Gunung Galunggung memberikan warna tersendiri dan kegembiraan bagi semua anggota Padepokan Jejer Galunggung, mereka merasa bangga dengan kehadiran sepasang Pendekar Kembar yang di juluki Sepasang  Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung. Dan nama Padepokan Jejer Galunggung telah tersiar ke mana-mana, membuat para pendekar dari luar berdatangan terutama mereka penasaran ingin menguji kesaktian Sepasang Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung.

Cuplikan Akhir Cerita Yang Lalu

rajasastra-us.blogspot.com Selanjutnya giliran Ayu lestari memeragakan jurusnya, kebetulan dalam jarak 20 meter ada pohon besar yang berdiri, ayu menyuruh semua menjauh dari pohon tersebut, setelah aman Ayu Lestari merentangkan tangannya ke depan tak lama kemudian ia melontarkan pukulan jarak jauh kea rah pohon tersebut, sinar panas keluar dari tangannya.

“Pukulan Galura Laut Kidul” Dari tangannya melesat sinar warna kebiruan menuju pohon besar, pohon itu sampai rantingnya hangus dan selang beberapa detik merosot ke bawah jadi gunukan abu halus, semua yang hadir terbelalak melihat semua pohon jadi keprulan debu yang halus, mereka pada yakin Ayu lestaripun bukan gadis sembarangan. Pantas saja dia diberi gelar sepasang “Rajawali Sakti” KLIK DI SINI 

“Para Pembaca yang Budiman cerita selanjutnya bersambung dalam Episode

“Sepasang Rajawali Sakti Dari Gunung Galungung (Bagian 1)”

SEPASANG RAJAWALI SAKTI 
DARI GUNUNG GALUNGGUNG

(Bagian 1)
Kehadiran Bayu di Gunung Galunggung memberikan warna tersendiri dan kegembiraan bagi semua anggota Padepokan Jejer Galunggung, mereka merasa bangga dengan kehadiran sepasang Pendekar Kembar yang di juluki Sepasang  Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung
SEPASANG RAJAWALI SAKTI  DARI GUNUNG GALUNGGUNG

Kehadiran Bayu di Gunung Galunggung memberikan warna tersendiri dan kegembiraan bagi semua anggota Padepokan Jejer Galunggung, mereka merasa bangga dengan kehadiran sepasang Pendekar Kembar yang di juluki Sepasang  Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung. Dan nama Padepokan Jejer Galunggung telah tersiar ke mana-mana, membuat para pendekar dari luar berdatangan terutama mereka penasaran ingin menguji kesaktian Sepasang Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung. Dan hari itu Padepokan Jejer Galungung di datangi 2 pendekar yang ngakunya datang dari pulau sebrang dari Gunung Krinci, kedatangan mereka dengan cara baik-baik dan bertingkah sopan, sehingga disambut para penghuni Padepokan dengan sopan juga.

“Maaf Ki sanak aku ingin bertemu dengan pendekar yang bergelar Sepasang Rajawali Sakti. 

“Untuk apa kau bertemu dengan tuanku?”

“Antarkan saja jangan banyak tanya!”

Kebetulan pada waktu itu Bayu sedang berada dekat pintu gerbang Padepokan, segera menghampirinya”.

“Tuan ingin bertemu dengan Pendekar Rajawali Sakti?”

“Ya Bocah, segera antarkan aku!”.

“Baik tuan yu aku tunjukkan”.

Kedua Pendekar itu dibawa ketempat pertemuan, dia tidak menyadari bahwa orang itulah yang dia tanyakan. Setelah menempatkan kedua tamu itu Bayu segera menghampiri adiknya Ayu Lestari, dan keduanya telah berdandan mengenakan pakaian yang dianugrahkan pada waktu pemberian gelar.

Kedua tamu itu telah dijamu dengan makanan dan minuman tradisonal yang menjadi ciri khas Gunung Galunggung. Sayat Bayu Samudra dan Ayu Lestari menghampirinya, dia tidak percaya bahwa sala satu pendekar yang ia temui adalah yang mengantarkannya tadi.

“Pagi Ki Sanak berdua, maafkan akua gak lambat menemuinya”.

“Pagi Pendekar, benarkah kau orang yang aku tuju?” dua pendekar itu merasa tidak percaya karena Pendsekar yang bergelar Sepasang Rajawali Sakti dari Gunung Galunggung begitu muda, namunn kewibawannya dan pancaran kesaktiannya sudah mulai terasa.

“Perkenalkan aku Bayu Samudra, dan ini adikku Ayu Lestari, yang mendapat gelar Sepasang Rajawali  dari Gunung Galunggung”.

“Perkenalkan aku Angga Dipa dan ini adiku Wisnu Dipa dari Gunung kerinci, orang menyebutku Sepasang Cameti api dari gunung Kerinci , langsung saja pada pokok masalah, kehebatan Sepasang Pendekar  Rajawali  dari Gunung galunggung sudah banyak didengar di sebrang aku penasaran ingin mencoba sampai dimana kehebatannya”. Dia berkata dengan sopan tapi tersimpan rasa kepongahan dan merendahkan lawan bicaranya. 

“Oh begitu, tidakah ad acara lain tak usah menjajal kehebatan masing-masing?”

“Sudahlah tak usah basa-basi, ikut saja kelapangan yang luas?”.

Rupanya teman yang satunya sudah tidak sabar, dia meloncat menuju lapangan diikuti oleh lawan bicaranya.  Bayu Samudra dan Ayu pun sudah meloncat dengan seperti terbang dengan kecepatan yang luar biasa. Sehingga ia terlebih dulu telah berada di lapangan yang luas.

Melihat lawannya telah berada di lapang terlebih dahulu, dua Pendekar dari Gunung Kerinci, sudah bisa dipastikan bahwa lawannya bukan pendekar sembarangan.

“Terimalah seranganku?” dia menyerang dengan kecepatan tinggi, tapi hanya mengenai angin, sebab Bayu lawannya menghilang dan sudah tertawa di belakangnya.

“Jangan tergesa-gesa sobat, nih aku ada dibelakangmu”. Bayu hanya berkelit dengan kecepatan yang tak dapat diikuti oleh mata.

Lawannya melakukan serangan susulan dengan menebarkan hawa panas, sebaliknya Bayu membendungnya dengan menggunakan jurus Badai Salju menimpa Bumi, akibatnya Hawa panas yang tadi ditebarkan musnah dan hawa dingin menyelimuti pendekar dari Gunung kerinci.

Ditempat lain Ayu lestari sedang diserang lawan habis-habisan, tapi ia bergerak lincah jangankan serangan itu menyentuhnya, malah membuat lawannya kesal dan emosi.

“Hemh gadis Jelita, jangan terus berkelit, terimalah jurusku Rahwana merangkul Sinta”, lawan Ayu berubah badannya jadi besar dan tangannya terpentang lebar, melihat keadaan lawannya Ayu Lestari tidak panik, Ia cepat menggunakan jurus pernahanan “Karang menahan Gelombang, akibatnya lawannya terpental dengan keras ke Belakang beberapa meter dan akhirnya jatuh dengan posisi terlentang, badannya Kembali ke semula dan merasakan sakit akibat terbanting tadi”.

“Hahaha…kau seperti anak kecil yang minta peremen malah berguling di tanah” Ayu lestari memanas-manasi lawan.

Lawan Bayu yang baru saja mengatasi rasa dinginnya, langsung saja menyerang dengan Jurus Harimau kerinci menerkam lawan, desertai dengan auman yang keras dengan pengerahan tenaga dalam yang tinggi, membuat orang yang sudah pada menyaksikan bergidik ketakutan. Badannya berubah menjadi harimau besar dengan taring dan kuku yang tajam. 

“Auummm”, terkaman itu begitu cepat tapi bayu hanya menghindar dengan jurus raja kera mengecohlawan.

BACAAN LAINNYA:

“Auum” Kembali menerkam dengan cepat, kali ini bayu hanya diam sambil meletakan telapak tangannya di dada. Semua orang mengira bahwa kali ini badan Bayu akan dikoyak-koyak oleh taring dan kuku tajam dari harimau jelmaan pendekar dari Gunung kerinci. Tapi yang terjadi sebaliknya Harimau itu mental beberapa  meter, seolah menabrak benda keras, dalam keadaan jatuh tertelungkup dan meringis kesakitan. Akhirnya harimau itu berubah ke wujud semula dan meringis kesakitan. 

“Sudahlah kawan tak perlu ada pertumpahan darah diantara kita”

“Hemmh jangan dulu sombong kau anak muda, apa kau ketakutan?”

“Maaf taka da rasa takut pada diriku kecuali oleh Allah, hanya yang tak kuharapkan pertarungan yang sia-sia”.

“Baik pertarungan ini kuhentikan, hanya kau berikan adikmu untuk ku jadikan istri”.

“Bangsat tiba-tiba Ayu lestarti yang sudah melumpuhkan lawannya langsung menyerang, Dengan Jurus Gelombang Samudra menghantam karang?” Untung saja Bayu segera menyelamatkan lawannya dengan cara menyambar dengan kecepatan 3 kali kecepatan badai. Serangan tersebut hanya mengenai batu besar yang akibatnya batu tersebut melorot jadi keprulan debu. 

Melihat kehebatan jurus tersebut kedua pendekar dari kerinci itu nyalinya jadi ciut, ia sadar bahwa ke dua pendekar itu bukan tandingannya. Apa lagi ia telah diselamatkan oleh Bayu lawannya tadi.

Akhirnya kedua pendekar itu menunduk lesu dengan rasa malu dan rasa segan yang menyelimuti hatinya.

“Terima kasih pendekar kau telah selamatkan nyawaku, aku sekarang yakin bahwa gelar Sepasang Rajawali Sakti dari Gunung galunggung bukan omong Kosong, tapi sepasang pendekar hebat yang sulit tandingannya”.

“Kakak kenapa kau selamatkan pendekar bermulut busukitu?”

“Sudahlah Ayu tak perlu berlebihan, biarlah mereka untuk menikmati hidupnya” Ayu Lestari akhirnya emosinya surut, mendengar kata bijak kakaknya”. 

“Ialah Ayu biarlah mereka menjadi sahabat kita” Wijana menimpalinya, dan mendengar perkataan Wijana akhirnya menyejukkan Kembali hati Ayu”

Akhirnya kedua pendekar itu di bawa ke balai Padepokan, luka-luka di badan mereka diobati sehingga sembuh dengan cepat. Kedua pendekar itu malah dijamu dan disediakan tempat peristirahatan.

Meraka pada mengumpat dalam hati

“Sepasang Pendekar Muda yang hebat, berbudi luhur, jauhdari kesombongan, apa lagi dengan kemampuan ilmunya yang begitu hebat dengan usianya yang masih belia. Hal itu membuat hatinya bagitu tulus dan malu karena selama ini merasa dirinya paling kuat.

“Dik selama ini kita terlalu sombong terlalu membanggakan kemamampuan diri kita, padahal dibandingkan 2 Pendekar Rajawali kita taka da apa-apanya”.

“Ya, Kak malu aku merasakan keluhuran budi mereka dan keramahankeramahan penghuni padepokan ini. KLIK DI SINI

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN BAGIAN 8

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN 

BAGIAN  8

(Undang Sumargna) 

Dari seja habis magrib semua murid Padepokan sedah pada berkumpul, panggunbesar belandongan sudah berdiri dengan kokoh di setiap penjuru dipasang obor-obor besar membuat suasana menjadi terang. Para pendekar lain  dari berbagai penjuru mulai berdatangan, mereka pada ingin meyaksikan pemberian gelar di Padepokan Jejer Galunggung  yang katanya diberikan pada sepasang  pendekar muda yang sakti. Terutama mereka ingin menjajal kehebatan dua pendekar tersebut, mereka pada penasaran sehebat apa sepasang pendekar tersebut.
PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN 

rajasastra-us.blogspot.com/Dari seja habis magrib semua murid Padepokan sedah pada berkumpul, panggunbesar belandongan sudah berdiri dengan kokoh di setiap penjuru dipasang obor-obor besar membuat suasana menjadi terang. Para pendekar lain  dari berbagai penjuru mulai berdatangan, mereka pada ingin meyaksikan pemberian gelar di Padepokan Jejer Galunggung  yang katanya diberikan pada sepasang  pendekar muda yang sakti. Terutama mereka ingin menjajal kehebatan dua pendekar tersebut, mereka pada penasaran sehebat apa sepasang pendekar tersebut. 

Waktu isa telah berlalu, para murid padep[okan Jejer Galungung sudah pada berkumpul, para undanganpun para pendekar dari berbagai padepokan sudah pada datang. Akhirnya Acara dimulai dan dimulai dengan peragaan jurus jurus dari murid-murid Padepokan Jejer Galounggung, Sebelum pemberian gelar Ayu lestari dan Bayu Naik ke atas Panggung, mereka berpakaian kulit harimau dan sepatu kulit manjangan dan ikat Kepala dari kulit harimau pula diselipi Bula raja Wali hanya yang membedakan Ayu diselipi bulu Rajawali berwarna putih sedangkan Bayu berwarna Hitam. Keduanya berdiri dengan kecantikan dan kegagahannya.

“Saudara-saudaraku ini muridku yang akan diberi gelar sepasang Pendekar  Rajawali dari Gunung Galungung, Kedua putraku ini telah dididik dengan guru Yang berbeda meskipun satu aliran. Bila ada diantara kalian ingin mencoba menjajal kehebatannya silakan, tapi ingat hanya sekedar menjajal tanpa saling mencelakai”.

Para pendekar yang sudah penasaran dari tadi sudah pada meloncat tapi dibatasi seorang seorang. Pendekar bertubuh hitam berbadan besar lebih dulu meloncat keatas pangung sambil senyum seolah-olah mencibir. 

“Hemh aku sutarsa dari Garut siapa yang mau meladeni aku” Bayu telah berdiri tapi terlebih dulu Ayu lestari telah mendahuluinya.

“Biarlah kakang aku terlebih dulu mencobanya “ kata Bayu lestari memberi hormat pada kakaknya.

“Apa tidak sebaiknya kalian maju berdua” Sutarsa berbicara dengan congkaknya

“Kau pantas jadi istriku gadis mu.., “Tapi sebelum bicaranya selesai karena kesal atas omongannya Ayu sudah menyerangnya secepat kilat.

“Nih tahan seranganku” serangan Ayu kali ini mengenai pipi sutarsa meskipun hanya menggunakan tenaga kecil cukup membuat sutarsa sempoyongan, dia merasa malu dan terbakar emosinya.

“Nih tahan seranganku gadis cilik” Secepat kilat Ayu sudah berada di belakang membuat Sutarsa hampir saja jatuh dari atas panggung besar, dan disoraki pendekar dan penongton lainnya. Dia makin emosi maka melakukan serangan lagi dengan kecepatan tinggi”

“hiiiaaat serangan beruntun mengarah ke badan serta kepala Ayu, Lagi lagi Ayu memperlihatkan kehebatanya, dia mensahanya dengan jurus menahan gelombang, akibatnya sutarsa terpental jauh keluar panggung dan jatuh tertelungkup sejauh 4 meter, akhirnya dia mundur dengan merasakan kesakitan dan sadar bahwa Ayu lestari pendekar wanita yang betul-betul berilmu tinggi.

BACAAN LAINNYA

Beberapa pendekar yang berdatangan Sebagian mulai ciut nyalinya, tapi banyak juga yang penasaran, sudah 9 orang mencoba dilayani oleh Ayu dan bergantian dengan Bayu. Dan giliran ke 10 orang tersebut meloncat dengan cepat di atas panggung kali ini Bayu Samudra yang melayani.

“Perkenalkan anak muda aku Ki Wongso  dari Banten, ingin mencoba menjajal kehebatanmu, tapi kalau kau kalah harap adikmu kau serahkan untuk jadi istriku” 

Ayu wajahnya memerah saking kesalnya, tapi Bayu menasehatinya.

“Biarlah Ayu giliranku untuk melayaninya”. Kiwongso langsung mengirimkan jurus yang Cukup berbahaya,  Bayupun tahu bahwa lawannya kali ini cukup Tangguh, beberapa jurus telah berlalu, namun Bayu belum menggunakan tenaga sepenuhnya, Membuat Ki Wongso merasa di atas angin.

“Anak muda aku tunggu kau di bawah” sambil meloncat dari atas panggung. Bayupun  mengikutinya. 

Ki Wongso tiba tiba mencabut senjata goloknya yang cukup besar dan kuat.

“Nih anak muda keluarkan senjatamu” 

“Tidak Ki Wongso cukup kulayani dengan tanganku saja”

“Jangan menyesal bila badanku tercabik cabik dengan golokku” dengan tenangnya Bayu bergerak menghindari golok dengan kecepatan tinggi, Ki Wongso makin penasaran sabetan goloknya selalu menyambar tempat kosong, sudah beberapa jurus ia memainkan goloknya, tapi semakin cepat ia menyerang semakin ia kecapaian.

“Nih terimalah jangan dulu merasa menang anak muda” Golok Ki Wongso berputar seperti baling-baling baling dengan kecepatan tinggi, merangsak kea rah Bayu seolah-olah tak memberi ruang gerak. Semua yang hadir sudah pada khawatir melihat keadaan bayu yang terdesak, tapi Ayu malah melihat dengan tenang karena ia tau Kakaknya belum menggunakan jurus-jurus tingkat tinggi.

“Mati kau anak mudaa” dengan kecepatan tinggi golok Ki wongso terus merangsek kearah badan Bayu semua yang menyaksikan yakin badan Bayu akan tercabik-cabik.

”Waduuuh”, tiba tiba jerit kesakitan dari tengah pertarungan. Orang pada pada melihat dan yakin yang menjerit itu Bayu, Tapi ternyata Bayu sedang berdiri sambil memagang Golok Ki Wongso.  Sedangkan Ki Wongso berada sekitar 2 meter dari Bayu jatuh terlentang.

“Kau Hebat anak Muda. Aku menyerah dan mengakui keunggulanmu, Sambil memegang Bahunya yang melepuh terkena Pukulan Sagara Geni dari Bayu.

“Sudahlah bangunlah Ki Wongso, taburkanl;ah bubuk ini untuk mengobati luka bakarmu” Ki wongso memberi hormat dan bayupun menyalami sambil memeluknya dan menyerahkan Kembali golok Ki Wongso

“Terima kasih anak muda, sudah sepantasnya gurumu hari ini akan menganugrahkan gelar” . Ki Wonso pergi ke tempat duduk tadi, sedangkan Bayu cepat meloncat Kembali di atas panggung. Dan akhirnya ditunggu beberapa menit tidak ada lagi yang berani maju.

Akhirnya Ki Adiyaksa dan Abiyaksa telah berada di atas pangung, setelah itu ki Adiyaksa dan maju berbicara dengan lantang.

“Saudara-saudaraku, kita lupakan pertarungan yang tadi saatnya aku menganugrahkan gelar kepada putra-putriku yaitu Bayu Samudra dan putriku Ayu Lestari sejak saatini mereka bergelar Sepasang Rajawali dari Gunung Galunggung” 

Tiba tiba Adiyaksa bersuit dua kali dan berdatanganlah Rajawali Hitam  dan Rajawali putih disusul dua harimau yang satu harimau lodaya dengan bulu loreng dan yang satu harimau putih, keduanya sudah berada dipanggung sedangkan kedua Rajawali masing masing berada dipundak Bayu Samudra dan Ayu Lestari, yang menyaksikan Sebagian merasa takut dengan kehadiran harimau itu.

“Saudara-saudaraku ini tunggangan mereka masing-masoing binatang-binatang ini akan selalu menjadi teman mereka waktu bepergian, Dan ini rompi dari Kulit manjangan akan selalu di pakai mereka, rompi ini tidak akan tembus dengan senjata tajam apapun karena telah dipagari dengan ramuan kesaktian Sembilan wali. Semua menjadi terkagum-kagum apalagi Rompi tersebut telah di pakai dan dicoba dengan senjata tajam.

Akhirnya pesta hari itu diakhiri dengan ramah tamah dan mencicipi makanan, semua yang hadir pada bergembira dan Wijana Bayu Samudra sera Ayu Lestari selalu duduk bertiga. Ki Wongso yang tadi bertarung dengan Bayu mendekati Bayu.

“Pendekar maapkan perkataanku yang kasar tadi, dan terima kasih untuk obat luka bakarnya, obat itu betul-betul mujarab”.

“Oh Ki Wongso, sudahlah anggap diantara kita tak terjadi apa-apa, ayolahduduknya di sini dekat aku”

“Perkenalkan ini Sahabatku Wijana dari Padepokan Maung Lodaya di tepi pantai Cikawung Ading”

“Hemh kau pasti pendekar hebat lah”

“Sahabatku ini Bayu yang hebat, aku taka da apa-apanya”. Akhirnya mereka mengobrol begitu akrab, dan Ki Wongso mengundangnya ke Banten kalau ada waktu. Ki Wongso merasakan keramahan dan kerendahan hati mereka dan timbul kekaguman dalam hatinya. Selesai makan-makan dipanggung diisi dengan berbagai hiburan peragaan peragaan jurus yang telah dikuasai dan Bayu didaulat untuk meragakan salah satu jurus andalannya

“Semua yang hadir di sini saya akan memperagakan jurus Badai Salju menimpa bumi bertahanlah kalian dari pengaruh jurus tersebut” Bayu merentangkan tangannya di atas tiba-tiba hawa dingin keluar dari tangannya, semua yang hadir menahan hawa dingin yangterasa menerpa tubuhnya, ada perasaan dingin yang menimpa mereka bahkan ada yang sudah tak tahan merasakan hawa dingin yang menyengat, selang 10 menit Bayu menarik lagi jurusnya dan hawa dingin itu lenyap seketika, semua orang pada kagum dan jika dibiarkan beberapa lama mungkin darah mereka akan membeku akibat hawa dingin yang ke luar dari tangan Bayu. Semua yang hadir pada kagum begitu juga para pendekar yang hadir saat itu mereka semua yakin bahwa Bayu pendekar mumpuni yang sulit untuk mencari tandingnya.

Selanjutnya giliran Ayu lestari memeragakan jurusnya, kebetulan dalam jarak 20 meter ada pohon besar yang berdiri, ayu menyuruh semua menjauh dari pohon tersebut, setelah aman Ayu Lestari merentangkan tangannya ke depan tak lama kemudian ia melontarkan pukulan jarak jauh kea rah pohon tersebut, sinar panas keluar dari tangannya.

“Pukulan Galura Laut Kidul” Dari tangannya melesat sinar warna kebiruan menuju pohon besar, pohon itu sampai rantingnya hangus dan selang beberapa detik merosot ke bawah jadi gunukan abu halus, semua yang hadir terbelalak melihat semua pohon jadi keprulan debu yang halus, mereka pada yakin Ayu lestaripun bukan gadis sembarangan. Pantas saja dia diberi gelar sepasang “Rajawali Sakti” KLIK DI SINI 

“Para Pembaca yang Budiman cerita selanjutnya bersambung dalam Episode

“Sepasang Rajawali Sakti Dari Gunung Galungung”

Senin, 22 Juli 2024

PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN BAGIAN 7

 PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN 
BAGIAN  7

(Undang Sumargna) 

Pendekar Bayu Samudra dan Wijana akhirnya pergi menuju Gununt Galunggung, setelah hampir sampai di Kaki Gunung Galungung, Bayu agak kesulitan untuk menentukan arah, akhirnya diputuskan untuk menunggangi Burung Rajawali, Beberapa saat dia mengintai tempat kediaman Kakek tua Adiyaksa, akhirnya dia menemukan sebuah pedepokan diputuskannya untuk turun, dan berjalan beberapa saat, tapi baru berejalan beberapa Langkah Bayu dan Wijana dihadang oleh beberapa orang.
PENDEKAR SAKTI BAYU SAMUDRA DARI PANTAI SELATAN  BAGIAN  7

rajasastra-us.blogspot.com-   Dalam kisah masa lalu diceritakan bahwa Bayu Samudra dan Wijana berhasil mengalahkan penjahat yang memeras kehidupan Desa Parungponteng, dia berhasil membuat para perampok itu insap. beberapa hari menetap disana dan akhirnya meneruskan perjalanannya ke Gunung Galunggung.

Ayo mari ikuti cerita selanjutnya!

--Pendekar Bayu Samudra dan Wijana akhirnya pergi menuju Gununt Galunggung, setelah hampir sampai di Kaki Gunung Galungung, Bayu agak kesulitan untuk menentukan arah, akhirnya diputuskan untuk menunggangi Burung Rajawali, Beberapa saat dia mengintai tempat kediaman Kakek tua Adiyaksa, akhirnya dia menemukan sebuah pedepokan diputuskannya untuk turun, dan berjalan beberapa saat, tapi baru berejalan beberapa Langkah Bayu dan Wijana dihadang oleh beberapa orang.

“Hai Anak muda mau ke mana kau?, sembarang saja masuk pedepokan tanpa ijin”.

“Aku mau bertemu dengan pemimpin pedepokan ini kakek  Adiyaksa”.

“Sembarang saja kau mau bertemu dengan guruku”

“Pulang saja atau kupenggal kepalamu”

“Sabarlah Ki Sanak katakan saja kepada gurumu Aku Bayu Samudra dan temanku Wijana dari Laut selatan”.

Beberapa orang yang menghadang nyalinya begitu ciut mendengar nama Bayu Samudra, sebab dia sudah diberitahukan oleh gurunya akan kedatangan Pendekar muda dari Laut Selatan”

“Maaf-maaf pendekar aku tidak mengira bahwa yang datang Pendekar Sakti dari Laut Selatan, tidak disangka bahwa pendenkar masih belia dan berwajah tampan”.

“Tidak apa-apa aku hanya orang biasa yang mendapat undangan dari Kakek Adiyaksa, bisakah kau menunjukan tempat gurumu”

“Ya pendekar aku antar, maafkan perlakuan kasar tadi”

“Sudahlah tak perlu dipersoalkan, kamu hanya menjalankan tugas”

Akhirnya sampailah ditempat Kakek Adiyaksa, setelah dia menunggu sebentar di bale tempat pertemuan, akhirnya Kakek Adiayaksa menemuinya.

“Selamat datang ditempatku anak muda, terimakasih terima kasih kau telah memenuhi undanganku”.

“Maafkan Kek kedatangan kami merepotkan, dan kami ditemani dengan Kakaku Wijana, Putra dari Pemimpin perguruan Lodaya Gunung”

“Salam kenal anak muda” Kata Kakek Adiyaksa sambil merangkulnya.

“Istirahat dulu biar nanti kita bicara hal-hal yang penting setelah penatmu reda”.

“Tidak lama kemudian, datang seorang gadis belia seumuran Bayu, membawa air dan beberapa makanan”. Yang diherankan wajah gadis itu mirif  Bayu, Wijana mencuri pandang, dan gadis itu kebetulan menengoknya, wijana malu dan ada perasaan lain dalam hatinya”.

“Perkenalkan ini Cucuku Ayu lestari”. Gadis itu memberi hormat dan  tersenyum.

“Biarlah nanti menunggu kedatangan gurumu Bayu Adik seperguruanku Abiyasa kita bicara panjang lebar".

“Jadi Kakek Abiyasa Guruku akan datang juga Kek”

“Yah aku sudah berjanji dengan Abiyasa untuk berkumpul hari ini”

BACAAN LAINNYA

Dalam hati Bayu merasa gembira yang luar bniasa, sedangkan Wijana, merasa heran memikirkan kesamaan paras Gadis tadi dengan Bayu Samudra, tak kalah pentingnya memikirkan kecantikan dan senyumannya tadi.

Setelah beberapa lama mengobrol akhirnya kedatangan Abiyasa yang dinanti-nanti tiba juga. Begitu datang Bayu langsung memeluknya, merasakan kerinduan setelah beberapa taun tak jumpa.

“Sudahlah Bayu meskipun kita tak pernah jumpa aku terus mengawasi gerak-gerikmu baik secara langsung maupun berita dari adik  seperguruanku Adiyaksa”

“Jadi-jadi Kakek Adiyaksa itu paman guruku, ya begitulah biar nanti kita cerita panjang,”

“Biarkan gurumu istirahat dulu nanti kita  sebelum bercerita Bayu ”. Kata adiyakya sambil memeluk adik seperguruannya.

Setelah beberapa lama beristirahat akhirnya, Kakek Adiayaksa memanggil Cucunya Ayu Lestari dan beberapa orang muridnya.

Setelah berkumpul akhirnya Kakek Adiyaksa bercerita

“Kakakku Abiyasa dan Kau Nak Bayu serta Nak Wijana serta murid muridku yang pada hadir, sengaja kami berkumpul untuk mengemukakan  hal yang dianggap rahasia dan sangat penting, yang pertama Bayu Gurumu adalah Kakak seperguruanku, yang waktu muda selalu Bersama-sama, lalu yang tak kalah pentingnya Cucuku Ayu Lestari, kau dan Bayu kuselamatkan Bersama-sama dengan Kak Adiyaksa desebuah rumah waktu itu kau nak Ayu dan Bayu berada dalam pelukan ibu yang mati ditangan perampok, maaf aku dan Kakang Abiyaksa tak bisa menyelamatkan ibu dan ayahmu, karena kedapatan ibumu telah dibunuh perampok, dan menurutketerangan penduduk itu Nak Bayu dan Cucuku Ayu, adalah anak kembar Kakak beradik”.Sementata Kakek Adiyaksa menghentikan pembicaraan dan melirik kepada Bayu dan Ayu”

Tiba-tiba Ayu Lestari menghampiri Bayu sambil menangis dipangkuannya

“Kakaaaak, kau-kau ternyata kakakku”. Keduanya tak mampu melanjutkan berkata kata hanya tangis yang mengharukan dan mereka saling berpelukan semua yang menyaksikan ikut larut dalam rasa haru yang memilukan.

Stelah Bayu dan Ayu lestari melepaskan rasa harunya, kemudian kakek Adiyaksa melanjutkan percakapanya.

“Kang Abiyasa, sabagaimana kita telah kita rundingkan bahwa kita merencanakan memberikan Gelar kepada dua murid-murid kita yaitu Bayu Samudra dan adik kembarnya Ayu Lestari. Mereka akan mendsapatkan Gelar sepasang Elang Sakti dari Gunung Galunggung. Kebetulan Bayu sudah mempunyai tunggangan Elang Hitam dan Ayu Lestari mempunyai tunggangan Elang Putih, Juga mereka sudah diwariskan masing-masing tasbih dari batu Giok yang mempunyai kekuatan yang luar biasa, dan nanti malam mereka akan disaksikan oleh murid muridku semua memperagakan jurus-jurus sakti yang telah dimilikinya.

Wijana yang mendengarkan percakapan tersebut, sekarang yang ada dalam pikiranya terjawab tuntas, dia semakin hormat pada Bayu, dan mengharapkan jadi kaka iparnya.

Setelah selesai percakapan tersebut dan menceritakan pengalaman Bayu pada gurunya dan bertemu dengan paman gurunya, mereka pada melanjutkan obrolan masing-masing, Bayu terus melanjutkan obrolan dengan adiknya disertai Wijana kakek Abiasa dan Kakek Adiyaksa ngobrol dengan murid murid Paman Adiyaksa.

Selanjutnya Bayu mengenalkan lebih dalam teman akrab yang telah dianggap saudaranya. Ayu Lestari begitu hormat pada Wijana, dan di hati Ayu ada rasa simpati yang mendalam pada Wijana.

“Kak-kak ajak dong Ayu ke tempat Kakak” Ayu berkata dengan manja merajuk pada Kakaknya.

“Ya tergantung Wijana, mau enggak Ajak adiku yang cerewet itu?”

Wijana dan Ayu memerah pipinya, ada rasa malu dan gembira yang disembunyikan.

Di luar murid murid Kakek Adiyaksa sedang beramai-ramai mempersiapkan belandongan untuk upacara penmberian gelar nanti malam, dan Ayu mengajak jalan-jalan melihat situasi diluar. Setibanya mereka di luar hampir semua orang memberi hormat kepada 3 pendekar muda itu

“Slam hormat kami pendekar”. Perwakilan murid memberi hormat diikuti oleh teman-temannya yang lain.

“Sudahlah kalian tak perlu berlebihan, kalian semua kuanggap saudaraku, bersikaplah seperti biasa pada teman sendiri”. Bayu berkata dengan rendah hati diikuti saling bersalaman dengan bayu dan Wijana. Sedangkan Ayu Lestari menatap dari dekat sambil memuji kerendahan hati kakak dan temannya Wijana. Ayu terus membawa Bayu dan wijana menyelusuri padepokan yang diberi nama padepokan “Jejer Galunggung”. Dalam sehari hari padepokan tersebut dikelola oleh Ayu dan beberapa muridnya, karena kakeknya sering berkelana meninggalkan padepokan tersebut. Sehari iru mereka menyelusuri sekitar padepokan dan Bayupun memperkenalkan elang hitam kepada tunggangan Ayu Elang Putih. Mereka berduapun terlihat mudah akrab, sepertinya kedua binatang itu tau bahwa tuannya kakak beradik. Sedangkan Sibelang dperkenalkan kepada murid-murib perguruan Jejer Galunggung. Akhirnya setelah mereka berkeliling dilanjutkan dengan pesta makan Bersama, dengan menikmati sate Manjangan yang berhasil diburu. Terus ngobrol-ngobrol dan beristri rahat menunggu malam untuk pemberian Gelar pada dua Pendekar muda.

KLIK DI SINI

Bersambung ke bagian 8

Featured Post

HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA

KHARAMAH HABIB ALHABSYI:  BISA DENGAR SUARA TASBIH DAN BENDA MATI HABIB ALI ALHABSYI DENGAN KAROMAHNYA Habib Ali Alhabsyi nama lengkapnya H...